← Back to list

Salam Terakhir Sebelum Pulang

Untuk Mereka yang Sedang Belajar Memeluk Kekalahan: Bahwa Satu Kegagalan Tidak Akan Mendefinisikan Masa Depan

Affa Esens · 2026-06-21 05:40 · 12 claps · 4.1 min read
#education #teaching #self-reflection #life-lessons #inspiration
Open on Medium ↗
Wiki topics: CRY · Crypto & Web3 EDU · Education & Learning CUL · Culture & Media ✨ · Lifestyle · General 😂 · Humor & Satire

Salam Terakhir Sebelum Pulang

Untuk Mereka yang Sedang Belajar Memeluk Kekalahan: Bahwa Satu Kegagalan Tidak Akan Mendefinisikan Masa Depan

Setoran baca makna

Setoran baca makna

Hari ini adalah salam terakhir saya kepada anak didik saya di kelas VII A1 sebelum mereka pulang. Tahun ajaran depan, mereka semua sudah naik kelas. Tentu saya sangat bangga. Bahkan, di hadapan wajah-wajah polos dan riuh itu, tepat sebelum pembagian rapor kenaikan kelas tadi, saya tegaskan satu hal: “Saya sangat bangga kepada kalian!.”

Ada kelegaan, tetapi juga ada jejak panjang yang tertinggal. Jika ditarik mundur, banyak sekali cerita tentang bagaimana struggle-nya belajar memahami masing-masing dari mereka. Menghadapi manusia-manusia yang sedang tumbuh ini jelas bukan perkara mudah. Salah satu upaya yang paling intens saya lakukan adalah meliterasi diri dengan hal-hal yang berbau pendidikan. Saya rakus menelan podcast, dan terutama buku-buku; mencari tahu bagaimana menjadi guru yang ideal, bagaimana membangun pola komunikasi yang baik, dan bagaimana merespons berbagai macam spektrum perilaku anak yang kadang di luar nalar.

Mengingat proses itu, saya jadi tersenyum sendiri. Tidak mudah memang. Terlebih ketika mendapati betapa super aktifnya rekan-rekan kecil saya ini. Ada Ghalib yang kelakuannya sangat absurd dan nggak kene’an, Yulkhan dengan tingkahnya yang selalu ada-ada saja, Jamal, Aldani Bagus, Mickdam, Mu’adz dan semuanya.

Oh, ya, tentu saja tidak lupa Mas Husin, sang Ketua Kelas kita. Ha ha. Termasuk yang paling sering saya panggil ketika saya masuk kelas: Adhim, Ahmad Falah Al-Ghaz, Stiven, Bily. Saya ingin memastikan mereka ada, jangan sampai tidak masuk tanpa keterangan lagi. Khawatir saya, ha ha.

Nama-nama lain yang terbilang aman, selagi terlihat di dalam kelas, meskipun tidak kedengaran suaranya, insyaAllah berarti baik-baik saja.

Usia mereka barangkali memang sedang aktif-aktifnya. Ini adalah masa eksplorasi sejati, fase sibuk-sibuknya mencari jati diri. Saya jadi teringat dengan pandangan Maria Montessori. Dalam kacamata Montessori, anak-anak di usia ini memiliki energi kosmik yang melimpah; mereka butuh bergerak, butuh menyentuh, butuh mencoba segala hal untuk membangun pemahaman mereka tentang dunia. Energi itu tidak bisa disumbat, ia hanya butuh disalurkan.

Dan benar saja. Pernah suatu ketika, saat jam istirahat, salah seorang dari mereka datang tergopoh-gopoh ke ruang guru. Ia melapor bahwa ada salah satu temannya yang melubangi papan tulis kelas.

Wah, saya tentu heran dan sedikit kaget. Melubangi papan tulis gimana ceritanya?

Setelah saya bergegas naik ke kelas di lantai 4, misteri itu terpecahkan. Ternyata mereka habis bergurau, saling lempar sapu ala gladiator, dan nahasnya salah satu gagang sapu mengarah tepat pada papan tulis. Berlubanglah akhirnya papan tulis itu.

Sungguh unik. Tentu saya sedikit marah sekaligus geli. Di titik ini, saya seolah sedang mempraktikkan filosofi Ki Hajar Dewantara tentang Tut Wuri Handayani. Bahwa tugas pendidik pada hakikatnya adalah membersamai, memberi ruang bagi kodrat alamiah anak untuk tumbuh, sambil menjaga agar mereka tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain. Saya tidak tahu kenapa, tapi saya sangat menikmati proses yang chaotic itu. Capek, memang, tapi sangat senang. Saya tidak tahu bagaimana mendefinisikannya dengan kata-kata. Namun, belajar teori pendidikan lalu langsung mempraktikkannya di lapangan ternyata mampu menguarkan nuansa baru yang melegakan.

Di samping perkara yang telah saya sampaikan ditas, ada hal lain yang memberatkan dada saya hari ini. Ada sesak yang diam-diam mengendap dalam tempurung kepala.

Beberapa anak kelas 9 memilih boyong setelah lulus MTs ini. Dan yang paling membuat saya terpukul: beberapa anak didik yang biasanya belajar bareng di balkon kamar saya, yang rutin mengantre setoran hafalan, ternyata ada yang tidak naik kelas.

Ada dari mereka memilih bertahan, sementara yang lain memilih untuk pindah sekolah, yang berarti otomatis ikut boyong.

Jujur, betapa tidak baik-baik saja pikiran saya saat ini. Mendapati bagaimana ego dan perasaan mereka tergores oleh kenyataan akademis sungguh membuat saya ikut terluka. Imam Al-Ghazali pernah berpesan bahwa seorang guru harus memosisikan dirinya layaknya orang tua yang penuh kasih sayang (rahmah) kepada murid-muridnya; menyayangi mereka tanpa syarat, dan mengutamakan keselamatan jiwa mereka. Melihat mereka sedih karena tinggal kelas, batin saya sebagai orang tua di madrasah ini ikut tergores. Saya tahu persis bagaimana rapuhnya hati mereka di usia mereka saat ini ketika menerima kegagalan.

Namun, di tengah kecamuk perasaan itu, saya perlahan menyadari satu hal yang tidak kalah esensial: tentang betapa pentingnya sebuah sudut pandang. Bagaimana kita bisa memaknai peristiwa, inilah yang akan menentukan langkah selanjutnya. Kegagalan akademis tidak seharusnya menjadi vonis bagi identitas mereka yang masih bertumbuh.

Pikiran saya kemudian melayang pada sebuah catatan menarik dari Eric Weiner dalam bukunya yang memukau, The Geography of Bliss. Membicarakan perihal kegagalan, Weiner mengutip sebuah filosofi hidup yang sangat indah dari masyarakat Islandia:

“Gagasan bahwa kegagalan itu tidak apa-apa adalah hal yang sangat penting. Di Islandia, jika Anda gagal, Anda tidak dicap sebagai pecundang. Anda justru dianggap sebagai seseorang yang telah mencoba sesuatu dan itu tidak berhasil. Titik.”

Kutipan itu seolah menepuk pundak saya pelan. Ya, anak-anak didik saya yang hari ini menunduk lesu bukanlah pecundang. Mereka sama sekali bukan produk gagal. Mereka hanyalah anak-anak hebat yang telah berusaha mencoba beradaptasi, mencoba menaklukkan pelajaran, dan kebetulan cara itu belum berhasil. Titik. Tidak ada label lain yang berhak menempel pada diri mereka selain itu.

Tugas saya sekarang barangkali bukan meratapi rasa sakit mereka, melainkan membantu mereka memakai kacamata itu; meyakinkan mereka bahwa satu kegagalan di atas kertas rapor tidak akan pernah mendefinisikan siapa dan bagaimana mereka di masa depan. Semua punya jalan, semua punya waktu, dan tidak ada langkah yang benar-benar sia-sia.

Pada akhirnya, saya harus merelakan. Begitulah kehidupan berputar. Patah hati ini, baik bagi mereka maupun bagi saya, adalah bagian dari kurikulum kehidupan yang sesungguhnya.

Semua punya jalan dan tujuannya masing-masing. Tugas saya hanyalah memastikan bahwa, ke mana pun mereka melangkah atau seberat apa pun kegagalan yang mereka hadapi hari ini, mereka tahu bahwa pernah ada seorang guru yang selalu bangga kepada mereka. Di kelas VII A1, Kelas Takror VIII A2, di balkon kamar, dan di mana saja.

“InsyaAllah, doa saya tidak lepas buat kalian, sampai kapanpun”

Tabik,

Pembagian rapor kenaikan kelas, VII A1 Madrasah Fattah Hasyim 2025/2027 (21/06/2026)

Pembagian rapor kenaikan kelas, VII A1 Madrasah Fattah Hasyim 2025/2027 (21/06/2026)


메타데이터
post_id
a883243e2f6e
slug
salam-terakhir-sebelum-pulang-a883243e2f6e
url
https://medium.com/@affaesens/salam-terakhir-sebelum-pulang-a883243e2f6e
canonical_url
https://medium.com/@affaesens/salam-terakhir-sebelum-pulang-a883243e2f6e
author_url
https://medium.com/@affaesens
status
ok
fetched_at
2026-07-14 16:11:24