Muak Dibohongi Pemimpin Sendiri
Jejak ke-171, mencabut tabir sopan santun palsu.
Muak Dibohongi Pemimpin Sendiri
Jejak ke-171, mencabut tabir sopan santun palsu.

Foto oleh Jametlene Reskp di Unsplash
Saya kira seluruh rakyat Indonesia sepakat bahwa Gedung DPR berisi para pembohong. Setiap ucapan mereka terasa seperti kepalsuan. Dibalut kata-kata muluk yang terkesan mulia, padahal kasar luar biasa.
Anggapan itu lantas menjadi stigma. Politisi dari partai apa pun akan dipukul rata sebagai penipu ulung. Mereka yang beruntung hingga lolos ke kursi wakil rakyat. Sebagian yang apes dikejar utang dan stres saat kalah pemilihan legislatif.
Baca gratis di sini.
Mungkin ada segelintir manusia yang baik di sana. Jika biasanya oknum disematkan pada mereka yang anomali, kali ini sebaliknya. Justru orang baik yang sedikit itu susah ditengarai. Hanya rekam jejaklah yang jadi penentu. Itupun belum pasti.
Socrates pernah mengucapkan bahwa kebohongan sejati dibenci dewa dan manusia. Dalam The Republic, kalimat tersebut menjadi dialog yang abadi. Sampai zaman luar angkasa menjadi medan perang saat ini, manusia di bumi bisa mengaminkan perkataan Socrates itu.
Kemuakan demi kemuakan itu kemudian turun seperti air hujan yang deras. Menyiram kekeringan yang diakibatkan gelombang panas PHK, pengangguran meningkat, hingga tarikan pajak hingga ke Masyarakat Berpenghasilan Rendah.
Sisanya kita tahu sendiri, demonstrasi menggulung berkali-kali. Lagi-lagi seolah tiada arti, yang dituntut perubahan justru masih berjoget. Alih-alih menenangkan massa, mereka justru berbondong-bondong pesiar ke luar negeri.
Orang yang dijarah koleksi mainan seharga ratusan juta saja disebut tengah umrah. Tindakan agamis setelah dia membakar kemarahan rakyat dari Sabang sampai Merauke. Pertanyaan paling masuk akalnya adalah di mana hati nurani mereka, ‘kan?
Jangankan untuk berempati, bersimpati pun tidak. Semua tulisan dari ilmiah sampai caption media sosial bernada satir dianggap angin lalu. Mereka hanya peduli pada dirinya sendiri. Teman mereka sendiri saja ditumbalkan. Dinonaktifkan ketika terbukti merusak kredibilitas partai.
Di sisi lain, Plato juga membanggakan orang-orang yang berani menyatakan kebenaran. Mereka adalah orang yang selalu dibenci para penikmat kebohongan. Sekarang ini, para pemengaruh ini adalah aktivis dengan jemari dan lisannya.
Pendengung dikerahkan untuk mengalihkan topik obrolan daring. Ketika tidak berhasil, jemputan tengah malam pun dilakukan. Pola yang pernah muncul ketika 1998 didera angin panas.
Kita tidak kaget lagi ketika ide-ide diberangus dengan sepatu bersol keras. Ucapan kebenaran dibalas pukulan hingga tengkorak retak. Walhasil, ia yang bersuara lantang lantas koma dan meninggal. Kata tidak dibalas kata, ia dilindas murka tanpa nama.
Simpang siur isu pun bermunculan. Penggembosan aksi hingga teori darurat militer berseliweran. Konspirasi beradu argumentasi dengan opini. Para pakar bersuara, ratusan wakil rakyat diam seribu bahasa.
Mereka yang seharusnya bertanggungjawab justru menghilang tak tentu rimbanya. Diburu untuk dimintai laporan soal kinerja. Selama ini dianggap hanya tidur dan bersantai tanpa menghasilkan karya nyata.
Padahal ada rumus jitu dari ribuan tahun silam. Aristoteles berkata seperti ini:
“Dengan kebenaran, semua fakta yang diberikan harmonis; tetapi dengan kepalsuan, kebenaran cepat berakhir dengan nada yang salah.” -Aristoteles dalam Etika Nikomakhos.
Mereka yang sekarang ini tengah digugat tinggal memaparkan kebenaran. Selama ini sudah berbuat apa, di mana, dengan siapa bekerja sama. Semudah menjawab pertanyaan dari pasangan yang posesif.
Jika semua dijawab dengan jujur, tentu melanjutkan mencari jalan tengah akan lebih mudah. Ringan tanpa beban prasangka yang terus datang bertubi-tubi. Sayangnya, mereka justru blundder. Berputar-putar seperti anjing mengejar ekornya sendiri.
Sakit hati dikhianati akan berbuah simpulan sederhana: apapun yang mereka ucapkan adalah kebohongan. Ruang buntu itu lahir karena ketiadaan komunikasi. Kebisingan prasangka menjadi komandan yang memaksa dituruti.
Di situlah batu-batu beterbangan menemukan takdirnya. Kobaran api dan asap membumbung atas segala pencetus. Entah ia luapan keputusasaan, atau memang umpan untuk memancing peluru karet melesat.
Situasi mencekam itu pun berbuntut panjang ketika pihak eksekutif justru berlepas tangan. Mereka dengan santai menitipkan negara pada para penjaga. Ia sibuk melancong ke luar negeri. Melihat karnaval senjata kubu yang kini tengah di atas angin.
Kita hanya bisa berharap kebenaran akan menang. Tidak dengan kebrutalan melalui penjarahan atau pengrusakan. Percayalah, jika bukan tikus besi, mereka adalah warga yang tersihir pesona keroyokan. Selagi banyak orang, logika tunduk pada spontanitas aksi saja.
Jika kepalsuan masih terus menerus dijajakan di depan kamera, rakyat tidak bisa seperti kemarin-kemarin. Mustahil damai sejahtera dengan hiburan murah yang dipertontonkan media massa.
Entah mantan gubernur dan wanita simpanannya, atau hal di luar nalar lainnya, siap tidak dipedulikan. Rakyat sudah tahu cara bangun dan melawan. Dengan jemarinya, dengan gesturnya, dan dengan sepenuh raganya.
Bara api itu akan terus menyala. Tidak lagi seperti terkungkung dalam sekam. Teknologi membuat hembusan angin selembut apapun bisa berdampak mematikan. Dari sudut Pati berujung membakar satu negeri.
Pemerintah dan wakil rakyat harus berbenah. Pejabat juga harus tahu tempat. Rakyat sudah kehabisan batas kesabaran. Tidak digubris berarti siap berhadapan dengan teriakan disertai tangis.
Kebenaranlah yang akan menemani sepanjang perjalanan. Bukan lagi kepalsuan atas nama adab sopan santun. Toh, pemimpin tertinggi kita dengan mudah mengumpat di forum kenegaraan, kan? Kita bisa berkilah hanya meniru teladan yang telah ia berikan.
메타데이터
- post_id
- a89e2fb22962
- slug
- muak-dibohongi-pemimpin-sendiri-a89e2fb22962
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/muak-dibohongi-pemimpin-sendiri-a89e2fb22962
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/muak-dibohongi-pemimpin-sendiri-a89e2fb22962
- author_url
- https://medium.com/@ihdasoduwuh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-17 18:58:55