this is on us.
Selama puluhan tahun, dalam reruntuhan rumah banyak tangisan anak-anak, banyak doa-doa yang menggantung di langit yang penuh debu. dan…
this is on us.
Selama puluhan tahun, dalam reruntuhan rumah banyak tangisan anak-anak, banyak doa-doa yang menggantung di langit yang penuh debu. dan sejak dulu gw mikir terus terusan…
“ini kenapa kita diem aja (ga nolong langsung)? kenapa orang2 yg sekarang punya kekuasaan ini ga ngurus hal ini padahal kita juga dulu latar belakangnya gini, harusnya ada dorongan usaha biar penjajahan ngga terjadi lagi kan? trus kenapa? kenapa orang2 di negara yang terdekat juga gaada yang peduli? ini udah terjadi dari 1948 dan kenapa gada yang urus hal ini sampe bener2 dibebaskan? kenapa sih? kenapa manusia dan sesama muslim gabisa ngapa ngapain? kenapa muslim dipandang lemah dan ketika mau melakukan sesuatu dan harus ketemu sama orang2 atau sistem2 yang sangat bertentangan sama prinsip2 kita. kenapa kita cuman bisa ngasih donasi yang nyatanya banyak juga yang disalahgunakan atau disana susah banget untuk disalurkan ke warga palestina sendiri. kenapa kita selemah ituu… kenapaaa?”
seiring berjalannya waktu, gw nemu beberapa jawabannya;
- Faktor diri sendiri:
seberapa sering kita ngehighlight palestina di kehidupan sehari2 kita?jujur rasanya gw susah untuk ngelepas beberapa barang yang udah nyaman dan terbiasa untuk dipake sehari2, tp skrg harus ngeboikot, kadang lupa, kadang ah yaudahlah pake yg ini aja dulu (semoga bisa istiqomah gapake barang2 yang mensupport tindakan kejahatan maksimal. kalo kata uti “ini latihan buat dukhon:(” (krn bakal minim kan persediaan saat itu)
lanjut, seberapa sering kita doain sodara semuslim kita disana? jangankan yang jauh, untuk diri kita sendiri aja kadang suka nggak, habis solat langsung cabut, lgsg aktivitas yg lain lagi, waktu sholat juga belum tentu khusyuk, astaghfirullah, dasar aku. ternyata masih banyak hal2 yang harus dibenahi dari unit terkecil sebelum ngomongin tingkatan sosial yg lebih besar lagi. dari pondasinya aja lemah, pasti akan susah untuk punya bangunan besar yang kuat. yuk kita bareng2 nyusun dan konsumsi informasi2 yang sesuai dengan tujuan kita; pembebasan Masjidil Aqsa.
- Faktor lingkungan:
lingkungan yang kita tempatin sekarang, apakah sudah support? kalau belum, kita bantu untuk menyuarakan dan mengubah persepsi masyarakat tentang hal yang seharusnya di suarakan sebagai sesama manusia, bukan cuman muslim atau berlandasakan agama aja, tapi ini perihal kemanusiaan, perasaan untuk membela isu kemanusiaan harusnya tetep ada di dalam diri setiap orang yang masih punya hati. lingkungan yang support untuk terus menyuarakan tentang palestine juga hal yang penting untuk menjaga api semangat bela palestina kita yang sering banget redup.
kalau kita udah ada dalam lingkungan tersebut, tolong stay. sesusah apapun, sejauh apapun obrolannya. tolong tetep pertahanin lingkungan itu yaa. Walaupun belum terlalu vokal, semoga Allah memampukan kita untuk berani menyuarakan palestina. Kalau belum, CARI! bisa mulai dengan follow @smart171 hehe
- Faktor kekuasaan
di akhir zaman gini, kekuasaan yang timpang, kebungkaman dunia, dan ketidakadilan yang mengakar udah jadi lifestyle bagi para penguasa, pejabat (apapun sebutannya) diluar sana. ngga cuman di indonesia, tapi banyak kepentingan politik dan ekonomi yang dibawa dan faktor ini sangat berhubungan erat dengan sejarah. Bakal panjang sih kalau diceritain. Kekuasaan yang dipegang kendali oleh suatu sistem terbesar di dunia sulit ditembus sama rakyat biasa spt kita. Untuk mempengaruhi banyak orang terkait isu di palestina, harus ada seseorang atau sistem baru yang bisa mengalahkan sistem skrg: sistem yang membungkam, memutarbalikkan fakta, dan menanamkan narasi bahwa penjajahan adalah “pertahanan diri”. Sistem politik internasional yang dikuasai oleh negara-negara besar, yang memilih diam karena kepentingan ekonomi dan diplomasi. Begitu jahatnya dunia yang kita tempatin.
tapi ada satu hal lagi, setelah gw ngejabarin beberapa faktor yang jadi penyebab palestina belum merdeka sampe sekarang, dan setelah semua pertanyaan gw diawal, kenapa kenapa dan kenapa? jawabannya: manusia itu emang lemah. bukan manusia yang bisa ngebebasin palestina, emang cuman Allah yang maha besar, maha kuasa, maha segala-Nya. kita ini kecil banget, cuman bisa donasi dan doa aja (ini juga minta ke Allah kan?) kita tuh bisa apa sih? gabisa apa apa. cuman Allah yang bisa.
Pun orang yg punya kuasa tadi, terlepas dari dia menjalankan amanahnya dengan baik atau tidak, kekuasaan mereka tu kecil pengaruhnya, melawan sistem yang lebih besar lagi, nah sistem yang paling besar di seluruh negara ini, yang bahkan semua orang dan semua negara tunduk sama dia, yang mensponsori amerika untuk jadi negara terkuat, sistem itupun kecil di mata Allah, gaada apa-apanya bagi Allah. Dan balasan untuk mereka cuman bisa dikasih sama Allah, cepat atau lambat. tugas kita (manusia) mau mahasiswa, dosen, orang kantoran, freelancer, pejabat, anak presiden, wakil presiden(eh, sama ya?), tukang siomay, abang cendol dll (selama masih manusia, berarti sama di mata Allah) adalah berdoa (ke Allah kan ujungnya) dan menyuarakan ttg palestina.
“trus ma, kita tu mohon ke Allah biar allah ngasih pertolongan ke sana? knp Allah ga langsung aja sih? emang harus berapa orang yg berdoa biar Allah bisa bantu palestina?”
Sebenernya Allah cuman mau liat kita dipihak mana guys, ini bukan tentang apa yang akan Allah lakuin ke israhell, tp ini ttg kita yang ada di pihak mana dan kita yang mau nggak bantu (menyuarakan, mengubah persepsi) kita ke palestina. dan itu yang akan di lihat Allah, terlepas dari balasan dari Allah itu kapan. karena sejatinya, yang terjajah itu sebenarnya kita, bukan cuman warga palestina. yap betul, kita terjajah oleh pemikiran. Kita diarahin untuk mikir kalau kita gabisa bantu, gabisa menghentikan perang, bahkan gabisa menjamin juga kalau suara kita akan didengar. Tapi satu hal yang harus kita jaga: jangan sampai hati ini ikut mati. Jangan biarkan dunia yang bobrok ini membentuk kita jadi manusia yang biasa saja saat melihat ketidakadilan, karena Allah cuman mau lihat di mana kita berdiri.
Intinya, semua faktor manusia ini gaakan bisa membebaskan palestina, kalau kitanya masih ngerasa itu bukan hal yang penting. Donasi itu penting, tapi pemikiran kita akan pentingnya palestina itu juga penting.
Kalau ngomongin sejarahnya, bakal lebih panjang lagi sepertinya, tapi untuk nimbulin perasaan in-group sebagai sesama muslim, baca sejarahnya sangat membantu. karena sebenernya yang mereka butuhkan itu orang2 yang berpihak pada palestina, orang2 yang punya persepsi ini adalah penjajahan, bukan perang, bukan konflik antar agama.
ini G E N O S I D A. Sejak 77 tahun yang lalu.
Sedangkan bagi kita ini perang pemikiran guys, semoga kita bisa menang melawan pemikiran2 yang bertentangan, dan melawan rasa males kita buat bersuara akan palestina, semoga kita ngga jadi villain yang gak pegang senjata, semoga kita selalu berusaha untuk selalu menyuarakan palestina. karena diamnya kita bukan netral, diam adalah sikap keberpihakan. Semangat untuk terus berisik, ya!
메타데이터
- post_id
- a8ada63a5491
- slug
- this-is-on-us-a8ada63a5491
- url
- https://medium.com/@xiemao/this-is-on-us-a8ada63a5491
- canonical_url
- https://medium.com/@xiemao/this-is-on-us-a8ada63a5491
- author_url
- https://medium.com/@xiemao
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 16:05:00