Banjir Palembang Bukan Sekadar Hujan, Melainkan Krisis Ekologis yang Terabaikan
Setiap kali hujan deras mengguyur Kota Palembang selama beberapa jam, pemandangan yang hampir selalu muncul adalah genangan air di…
Banjir Palembang Bukan Sekadar Hujan, Melainkan Krisis Ekologis yang Terabaikan
Setiap kali hujan deras mengguyur Kota Palembang selama beberapa jam, pemandangan yang hampir selalu muncul adalah genangan air di jalan-jalan utama, permukiman warga yang terendam, kemacetan lalu lintas, hingga terganggunya aktivitas ekonomi dan pendidikan. Kondisi ini seolah telah menjadi rutinitas tahunan yang diterima sebagai sesuatu yang wajar. Narasi yang sering muncul dari berbagai pihak pun hampir selalu sama: hujan terlalu deras, drainase tersumbat, atau kapasitas saluran air tidak mampu menampung debit air yang meningkat. Namun, apakah persoalan banjir di Palembang sesederhana itu?
Sudah saatnya masyarakat dan pemerintah melihat banjir dari perspektif yang lebih luas. Banjir yang terjadi berulang kali di Palembang bukan semata-mata akibat faktor cuaca, melainkan merupakan akumulasi dari berbagai persoalan ekologis yang berkembang selama puluhan tahun. Kota Palembang pada dasarnya dibangun di atas kawasan rawa dan lahan basah yang secara alami berfungsi sebagai daerah resapan dan penyimpan air. Akan tetapi, perkembangan kota yang begitu pesat telah mengubah banyak kawasan rawa menjadi permukiman, pusat bisnis, jalan raya, dan berbagai infrastruktur perkotaan lainnya. Akibatnya, ruang alami yang sebelumnya mampu menahan limpasan air semakin menyempit.
Dalam banyak kesempatan, pemerintah cenderung membingkai banjir sebagai persoalan teknis yang dapat diselesaikan melalui pembangunan drainase, kolam retensi, pompa air, maupun normalisasi sungai. Tentu saja langkah-langkah tersebut penting dan perlu dilakukan. Namun, pendekatan yang terlalu berorientasi pada infrastruktur sering kali hanya menyelesaikan gejala, bukan akar persoalan. Sebesar apa pun kapasitas drainase yang dibangun, risiko banjir akan tetap tinggi apabila pembangunan kota terus mengorbankan kawasan resapan air dan ruang terbuka hijau.

GlobalPlanet.News
Di sisi lain, media massa memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk persepsi publik mengenai penyebab banjir. Sayangnya, pemberitaan sering kali lebih berfokus pada peristiwa banjir itu sendiri daripada mengupas faktor-faktor struktural yang melatarbelakanginya. Akibatnya, masyarakat lebih mudah menyalahkan cuaca ekstrem daripada mempertanyakan bagaimana kebijakan tata ruang, pengelolaan lingkungan, dan pembangunan perkotaan berkontribusi terhadap meningkatnya risiko banjir. Padahal, perubahan lingkungan yang terjadi secara perlahan justru menjadi faktor yang paling menentukan tingkat kerentanan suatu kota terhadap bencana.
Persoalan banjir juga menunjukkan bahwa pembangunan perkotaan tidak selalu berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan lingkungan. Dalam banyak kasus, pertimbangan ekonomi jangka pendek lebih dominan dibandingkan kepentingan ekologis jangka panjang. Kawasan rawa yang seharusnya dipertahankan sebagai penyangga lingkungan justru berubah fungsi menjadi kawasan komersial dan permukiman. Ketika banjir terjadi, biaya sosial dan ekonomi yang harus ditanggung masyarakat sering kali jauh lebih besar dibandingkan keuntungan pembangunan yang diperoleh sebelumnya.
Oleh karena itu, sudah waktunya banjir di Palembang dipahami sebagai bencana ekologis, bukan sekadar bencana hidrometeorologis. Perubahan cara pandang ini sangat penting karena akan memengaruhi arah kebijakan yang diambil pemerintah. Jika banjir hanya dipahami sebagai masalah teknis, maka solusi yang muncul akan selalu berkutat pada pembangunan infrastruktur. Sebaliknya, jika banjir dipahami sebagai krisis ekologis, maka perhatian akan bergeser pada perlindungan lahan rawa, pengendalian alih fungsi lahan, peningkatan ruang terbuka hijau, serta penegakan kebijakan tata ruang yang lebih ketat.
Ke depan, tantangan terbesar Kota Palembang bukan hanya bagaimana mengalirkan air hujan dengan lebih cepat, tetapi bagaimana membangun kota yang mampu hidup berdampingan dengan karakter ekologisnya sebagai kota rawa. Konsep pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan terbukti tidak mampu menjawab persoalan banjir secara berkelanjutan. Sebaliknya, pembangunan yang menghormati fungsi ekologis kawasan akan memberikan perlindungan yang lebih efektif bagi masyarakat.
Banjir adalah pesan dari lingkungan yang selama ini mungkin kurang didengar. Ketika rawa semakin menyempit, ruang hijau semakin berkurang, dan permukaan tanah semakin tertutup beton, alam menunjukkan responsnya melalui genangan yang terus berulang. Oleh sebab itu, solusi terhadap banjir tidak cukup hanya dengan membangun lebih banyak drainase atau pompa air, tetapi juga dengan membangun kesadaran bahwa keberlanjutan lingkungan merupakan fondasi utama ketahanan kota. Jika perspektif ini tidak segera diadopsi, maka Palembang akan terus menghadapi siklus banjir yang sama, meskipun berbagai proyek pengendalian banjir terus dilakukan dari tahun ke tahun.
Penulis: Ibrahim Mifthafariz Mirza
메타데이터
- post_id
- a8d00a9fa902
- slug
- banjir-palembang-bukan-sekadar-hujan-melainkan-krisis-ekologis-yang-terabaikan-a8d00a9fa902
- url
- https://medium.com/@ibrahim.mifthafariz/banjir-palembang-bukan-sekadar-hujan-melainkan-krisis-ekologis-yang-terabaikan-a8d00a9fa902
- canonical_url
- https://medium.com/@ibrahim.mifthafariz/banjir-palembang-bukan-sekadar-hujan-melainkan-krisis-ekologis-yang-terabaikan-a8d00a9fa902
- author_url
- https://medium.com/@ibrahim.mifthafariz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 08:38:57