Welcome Home.
Mingyu merasa jika ia sedang bermimpi. Ini adalah kali pertama ketika ia membuka pintu, Minghao menyambutnya dengan senyuman yang begitu…
Welcome Home.

Mingyu merasa jika ia sedang bermimpi. Ini adalah kali pertama ketika ia membuka pintu, Minghao menyambutnya dengan senyuman yang begitu lebar. Menghampiri sembari dengan tiba-tiba memeluknya erat, “Welcome home, Migu!” serunya dengan nada riang. Pikirannya melayang, siapa yang sedang cintanya itu tunggu? Dua porsi sate ayam, atau dirinya?
ㅤㅤㅤ
“Kok malah diem?” tanyanya mengurai pelukan.
ㅤㅤㅤ
Laki-laki yang ditanya malah tersenyum, meletakkan satu kantong plastik berisi makan malam mereka. Menarik pelan tangan Minghao agar lebih dekat untuk ia peluk lebih erat, “Aku lagi mimpi gak?”
ㅤㅤㅤ
Si kecil dalam pelukan erat itu tertawa, membalas pelukan Mingyu sembari menggoyang-goyangkan badannya, “Emang kalau mimpi kenapa?”
ㅤㅤㅤ
“Kalau mimpi aku enggak mau bangun.”
ㅤㅤㅤ
“Kenapa enggak mau bangun?”
ㅤㅤㅤ
“Ya enggak apa-apa, aku mau kayak gini terus soalnya.”
ㅤㅤㅤ
Minghao yang mengurai pelukan mereka, tersenyum begitu hangat dan mencubit kedua pipi tirus si jangkung, “Ngapain mimpi kalau bisa kayak gini beneran?”
ㅤㅤㅤ
Yang dicubit hanya tersenyum dengan begitu lebar hingga memperlihatkan kedua gigi taringnya, tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika menyadari jika semua memang benar adanya. Ini adalah hal yang selalu Mingyu tunggu selama bertahun-tahun dan ketika ikrar pernikahan diucapkan oleh keduanya.
ㅤㅤㅤ
Minghao terlihat begitu cantik jika di lihat dengan jarak sedekat ini, tahi lalat di sudut bibir, netra cokelat, bibir berwarna merah muda dan kulit wajah yang terlihat begitu sehat. Suaminya sangat lihai merawat diri.
ㅤㅤㅤ
“Ada apa di wajahku?”
ㅤㅤㅤ
“Enggak ada apa-apa kok.”
ㅤㅤㅤ
“Terus kenapa liatinnya begitu banget.”
ㅤㅤㅤ
Si jangkung tersenyum, tangannya bergerak untuk mengusak pelan rambut halus sang suami, “Enggak boleh ya?”
ㅤㅤㅤ
“Migu.” Panggilnya.
ㅤㅤㅤ
“Kenapa, Myung—” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Mingyu tiba-tiba merasakan ada bibir lain mengecup miliknya. Hanya seperkian detik tapi nyaris menghilangkan setengah kesadarannya.
ㅤㅤㅤ
“Katanya mau cium?” Tanyanya sembari tersenyum jahil dan membuat jarak antara mereka. Mengambil plastik berisi sate dan mengarahkan ke arah Mingyu, “Makan dulu ah, laper.” Ucapnya sembari melangkah ke arah dapur.
ㅤㅤㅤ
Mingyu, laki-laki yang baru saja dikecup bibirnya itu masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Mereka berdua sama-sama membuat kesepakatan perihal kontak fisik setelah pernikahan harus atas izin keduanya. Namun yang baru saja Minghao lakukan bukannya melanggar janji mereka? Ini sebuah pertanda baik atau buruk? Mingyu masih termenung, hingga netranya melihat sang suami berjalan semakin jauh ke arah dapur.
ㅤㅤㅤ
Bergerak menghampiri si cantik dengan langkah besar, menarik tangan Minghao agar berhenti melangkah. Mingyu berdiri tepat di hadapan sang suami sembari tersenyum kemudian melepaskan kantong plastik berisi sate ayam dari genggaman tangan Minghao.
ㅤㅤㅤ
“Kenapa Migu?”
ㅤㅤㅤ
Mingyu tersenyum, “Ciuman tuh kayak gini, Myungho.” Ucapnya sembari mengikis jarak di antar mereka berdua dengan tangan kanan Mingyu menyentuh pipi si cantik.
ㅤㅤㅤ
Menyatukan kedua bibir mereka dengan sentuhan lembut perlahan menyatu seolah-olah mencari irama yang sempurna. Sentuhan itu terasa hangat, penuh kerinduan yang tertahan. Bibir mereka bergerak selaras, menyampaikan perasaan yang tak terucapkan. Tangannya bergerak, mengalungkan di leher jenjang sang kasih ketika mulai merasa ciuman yang semula terasa lembut dan hati-hati berubah menjadi menuntut.
ㅤㅤㅤ
Berulang kali menyesap bibir bagian bawah sang suami yang terasa begitu manis, ciuman mereka semakin bergairah. Bahkan ketika kedua mulutnya saling terbuka perlahan dan membelitkan lidah. Mingyu tidak bisa menahan dirinya lagi.
ㅤㅤㅤ
Kedua tangannya menyusuri pinggang ramping sang kasih, ketika lidah mereka menjelajahi satu sama lain dengan kehati-hatian yang penuh gairah. Gerakan itu terasa intens namun lembut, menciptakan sensasi panas dan menggebu-gebu. Napas keduanya semakin memberat dan tepukan pelan Minghao di dadanya memberi sebuah tanda jika lelaki itu kesulitan bernafas.
ㅤㅤㅤ
Mengurai ciuman yang penuh rasa rindu dan nafsu, Mingyu tersenyum. Mengusap pelan sisa-sisa saliva yang tertinggal di bibir tebal sang kasih. Nafas keduanya masih tersengal, saling bertemu tatap yang menciptakan gelak tawa kecil.
ㅤㅤㅤ
“Cium nya semangat banget, Migu.”
ㅤㅤㅤ
“Harus, 'kan ciumannya sama kamu.”
ㅤㅤㅤ
“Kalau sama orang lain enggak semangat berarti?” Tanyanya.
ㅤㅤㅤ
Mingyu memicingkan kedua matanya sembari menggeleng, “Ya, kalau sama orang lain mah enggak mau. maunya sama kamu.”
ㅤㅤㅤ
“Perez banget.”
ㅤㅤㅤ
“Bener loooh,” Jawabnya sembari mendekatkan wajahnya dan menggesekan hidung miliknya dan milik Minghao, “Mau ciuman lagi?”
ㅤㅤㅤ
Minghao mendengus, mendorong wajah sang suami menggunakan jari telunjuknya sembari mengurai jarak diantara mereka, “Aku laper Migu.”
“Habis makan ciuman lagi berarti?”
ㅤㅤㅤ
“Di kepala mu isinya ternyata ciuman doang ya?” Jawabnya sembari tertawa.
ㅤㅤㅤ
Mingyu mengangguk, menyelaraskan langkah mereka ke arah dapur sembari membawa kantong plastik yang tadi ia singkirkan dari genggaman tangan Minghao, “Aku kalau gapunya etika, udah ku cium kamu dari dulu.”
ㅤㅤㅤ
“Jorok banget pikirannya.”
ㅤㅤㅤ
“Sama suami sendiri ini.” Ledeknya.
ㅤㅤㅤ
Minghao tertawa ketika mendengar bagaimana nada bicara Mingyu yang menyebalkan. Lelaki ini juga tidak pernah menduga jika mereka akan berada di situasi sekarang.
ㅤㅤㅤ
“Not that bad, i guess.” pikirnya
Menyelesaikan agenda makan malam dengan sate ayam tepat pukul jam 2 dini hari. Hari ini adalah hari yang berat untuk Minghao, merusak dan memperbaiki hubungan yang sudah ada.
ㅤㅤㅤ
Kini keduanya tengah sibuk bergelung di bawah selimut yang sama, saling bertukar hangat dengan pelukan yang begitu terlihat sangat nyaman. Mingyu merasakan bagaimana dadanya berdegup kencang sembari menghirup aroma badan Minghao yang begitu lembut dan menenangkan.
ㅤㅤㅤ
Sama hal seperti Minghao, ia menelesupkan hampir seluruh wajahnya ke ceruk leher jenjang sang suami. Jantungnya tidak berdebar sekencang Mingyu, namun ia menyadari jika rasa nyaman mulai menghilangkan gelisahnya hari ini.
ㅤㅤㅤ
“Myungho, tidur...” Titahnya sembari bergumam dan mengusap pelan rambut halus sang kasih.
Yang dititah hanya menggeleng, semakin mengeratkan pelukan miliknya dengan tubuh besar Mingyu.
ㅤㅤㅤ
“Aku enggak pernah nyangka bisa tidur sambil meluk kamu kayak gini,” jedanya dan mengecup pelan puncak kepala Minghao, “aku udah punya mimpi ini lama banget, bisa meluk dan cium kamu. Bisa denger suara dengkur nafas pas kamu tidur, atau liat kamu bangun tidur.”
ㅤㅤㅤ
“Aku enggak tau kamu sadar atau enggak tapi setiap hari, selama ini aku selalu bangun lebih pagi cuman buat liat wajah kamu. Kamu tidur kayak bayi, Myungho.”
ㅤㅤㅤ
Minghao mengangkat kepalanya dari ceruk leher sang suami, “Memang iya?”
ㅤㅤㅤ
“Iya, aku bisa lihat kamu tidur lima belas sampe dua puluh menit. Terus kamu punya kebiasaan ngucek mata sebelum bangun tidur, jadi waktu kamu ngelakuin hal itu kadang aku pura-pura tidur lagi atau langsung bangun.”
ㅤㅤㅤ
“Kok aku enggak pernah sadar?”
ㅤㅤㅤ
“Aku juga tau kamu enggak bakalan bisa tidur kalau ada cahaya di kamar, atau suara-suara kecil yang gak tau darimana asalnya.”
ㅤㅤㅤ
Minghao mengurai pelukan mereka berdua, sedikitnya terkejut pada rasa tahu yang dimiliki Mingyu, “Kok kamu tau?”
ㅤㅤㅤ
Mingyu tertawa pelan, mengikis jarak diantara mereka lagi dengan saling berpelukan di bawah lampu kamar yang sudah gelap, “I’m trying to find out more about you, Myungho.”
— Natsueisa
메타데이터
- post_id
- a8dbb92736d7
- slug
- welcome-home-a8dbb92736d7
- url
- https://medium.com/@natsueisa/welcome-home-a8dbb92736d7
- canonical_url
- https://medium.com/@natsueisa/welcome-home-a8dbb92736d7
- author_url
- https://medium.com/@natsueisa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 17:34:17