← Back to list

Penulis ((kecil)) harus menulis kecil

Sebagai penulis kecil, saya tidak perlu takut mati. — Saya hanya harus mau menulis kecil

Andi Alfitra Putra Fadila in Berbagi & Berdampak · 2026-06-24 13:14 · 415 claps · 2.9 min read paywalled
#penulis-indonesia #kepenulisan #berbagi-dan-berdampak #writers-block #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing

Penulis ((kecil)) harus menulis kecil

Sebagai penulis kecil, saya tidak perlu takut mati. — Saya hanya harus mau menulis kecil

gambar ilustrasi. Sumber : Pinterest.

gambar ilustrasi. Sumber : Pinterest.

Beberapa bulan terakhir kepala saya berkutat dengan sebuah konflik batin: Sebenarnya, apa yang saya kejar dari menulis?

Klik di sini untuk baca gratis.

Saya menerbitkan tulisan di medium terakhir kali di tanggal 8 Februari 2026 – 4 bulan dan 16 hari sebelum tulisan ini saya tulis. Tulisan saya pada waktu itu lumayan memuaskan. Saya bangga dengan gagasan saya di dalamnya. Saya cinta dengan gagasan saya di dalamnya.

Barangkali, karena besarnya rasa bangga dan cinta saya akan tulisan itu, saya merasa saya harus terus menulis jika dan hanya jika saya menemukan ide lain dengan kedalaman yang sama. Saya tidak ingin kualitas gagasan saya menurun. Sayang ide itu tidak kunjung muncul. Setelah menerbitkan tulisan itu, saya memasuki masa writer’s block.

Syukurnya, selama masa writer’s block, saya menjadi lebih banyak membaca. Tumpukan buku dengan plastik pembungkus di rak pustaka pribadi saya kini perlahan menipis. Di Medium, alih-alih menggulir laman home dan menaruh tanda markah di hampir setiap artikel teratas yang muncul, kini saya langsung membuka artikel yang menarik mata saya dan membacanya saat itu juga. Saya juga menjadi lebih pemilih dalam menekan tombol repost di instagram. Kini saya membaca unggahan carrousel dengan tuntas sebelum menentukan apakah unggahan itu layak saya amplifikasikan di akun pribadi saya, atau tidak.

Setelah sekian lama tidak menulis apapun, saya mulai menyerah dan merasa dunia kepenulisan sepertinya bukan untuk saya. Saya seorang ASN, statistisi, dengan rutinitas yang padat dan dipenuhi dengan koordinasi, kolaborasi dan diplomasi. Mungkin dunia saya bukanlah dunia aksara, melainkan dunia lisan. Mungkin saya adalah speaker dan debater alih-alih pemikir ulung yang menuangkan pemikirannya di dalam karya. Mungkin saya bukan Tan Malaka, Bung Hatta, atau juga Pramoedya Ananta Toer, meskipun saya begitu mengidolakan mereka. Mungkin saya lebih dekat ke Soekarno, atau bahkan Prabowo.

Mungkin saya hanya sejenis manusia yang banyak bicara.

Kemelut tanya ini mulai terpecahkan ketika saya membaca novel terjemahan berjudul “Yellow Face” karya R.F. Kuang. Novel ini memaksa saya menelusuri logika pikir yang konyol, aneh, dan egois dari si June Hayward, tokoh utama novel ini. June Hayward adalah seorang penulis kecil yang hampir menyerah bertahan di industri kepenulisan. Ia kemudian mencuri naskah kawannya sendiri, seorang penulis yang bergelimang kesuksesan, karena rasa iri dan “penasaran” akan bagaimana rasanya menjadi penulis sukses.

Sebagai seorang mantan calon penulis, membaca novel dengan tokoh utama penulis yang mencuri karya orang lain, apalagi dengan sudut pandang orang pertama, membuat saya berada dalam sudut pandang yang sangat aneh. Saya merasa aneh membaca kata “aku” yang mencuri naskah. Lebih aneh lagi membaca kata “aku” yang memermak identitas rasialnya demi meraup pembaca. Saya merasa jijik dan mual membaca novel itu karena saya tidak pernah bisa bersimpati pada jalur pikir kriminalnya.

Meskipun saya berjuang mati-matian menuntaskan novel ini, pada akhirnya saya bisa memahami beberapa sudut pandang dari si tokoh utama. Ketika June Hayward pada akhirnya diadili massa, dijauhi penerbit, dan dianggap seolah sampah masyarakat, pergolakan yang ingin ia pecahkan pada akhirnya hanyalah persoalan “tulisan apa yang akan saya tulis selanjutnya”.

Meskipun saya tidak bisa membenarkan keputusan dan tindakan si tokoh utama hampir di sepanjang novel itu, namun saya bisa memahami nalurinya yang ingin tetap menulis, dalam bentuk apapun itu.

Pada akhirnya saya menyadari bahwa fase yang June Hayward hadapi mirip dengan fase yang saat ini saya alami. Kami berusaha menghasilkan suatu tulisan dalam standar yang terlalu kaku, hingga tanpa sadar mematikan kreativitas kami sendiri.

Lalu saya membaca medium.

Saya membaca series **#Tiba-TibaDewasa **yang bercerita tentang refleksi namun mendalam kehidupan mbak dhea.m yang memasuki fase dewasa. Saya menemukan tulisan kak Sera Sera, Rahasia Menghidupkan Buku Harian, yang turut mengingatkan saya bahwa pada awalnya saya menulis untuk mengurai proses berpikir dan emosi dalam diri.

Saya membaca tulisan mas Rudi Widiyanto, **Surat Terbuka untuk Jiwa-Jiwa yang Berkelana**, dan menemukan kutipan menarik:

Sebab saya belum pernah bertemu seorang pengelana yang mengetahui seluruh peta sebelum berangkat.

Diilhami kutipan dan bacaan-bacaan itu, saya memutuskan tidak perlu menemukan jawaban dari apa yang saya kejar dari menulis. Saya hanya perlu menulis.

Demikianlah hingga akhirnya saya mulai menuliskan artikel ini dengan bermodalkan satu kalimat: penulis ((kecil)) harus menulis kecil. Saya tidak tahu apa yang saya ingin tuliskan. Saya membiarkan kepala saya menari-nari dan tangan saya berpikir dengan sendirinya.

Sebagai penulis kecil, saya tidak perlu takut mati. Saya hanya harus mau menulis kecil.


메타데이터
post_id
a938ba29fef0
slug
penulis-kecil-harus-menulis-kecil-a938ba29fef0
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/penulis-kecil-harus-menulis-kecil-a938ba29fef0
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/penulis-kecil-harus-menulis-kecil-a938ba29fef0
author_url
https://medium.com/@bayupangampareng
status
ok
fetched_at
2026-06-28 10:39:35