← Back to list

Menjadi Perempuan

Apakah perempuan adalah sesuatu yang sudah jadi?

Kiya · 2026-04-21 01:53 · 102 claps · 2.2 min read
#hari-kartini #perempuan #women #simone-de-beauvoir #feminism
Open on Medium ↗
Wiki topics: SOC · Sociology & Politics ✊ · Equality & Identity

Menjadi Perempuan

Apakah perempuan adalah sesuatu yang sudah jadi?

Ataukah dia adalah sesuatu yang terus dibentuk?

Dalam pemikiran Simone de Beauvoir, perempuan tidak dilahirkan, melainkan menjadi. Kalimat ini sering dikutip, kok. Sebab jika perempuan adalah sesuatu yang “menjadi”, maka ia bukan esensi tetap. Ia adalah hasil dari proses panjang yang melibatkan norma, budaya, relasi kuasa, dan cara pandang masyarakat terhadap tubuh dan peran.

Kalau begitu, Kartini memperjuangkan apa?

Apakah ia memperjuangkan perempuan sebagai identitas yang sudah jelas, atau justru membuka kemungkinan bagi perempuan untuk mendefinisikan dirinya sendiri?

Surat-surat R.A. Kartini sering dibaca sebagai jeritan kebebasan dari keterbatasan zamannya. Ia berbicara tentang pendidikan, tentang ruang berpikir, tentang keinginan untuk keluar dari kungkungan tradisi. Namun yang jarang disadari adalah bahwa perjuangan itu bukan hanya tentang akses.

Kartini tidak sekadar ingin perempuan belajar. Ia ingin perempuan menjadi subjek dari hidupnya sendiri. Dan di sinilah persoalan mulai terasa lebih dekat.

Jika perempuan adalah sesuatu yang “menjadi”, maka siapa yang selama ini membentuknya?

Sejak kecil, perempuan diajarkan untuk menjadi hal-hal tertentu sepertilembut, patuh, tidak terlalu keras, tidak terlalu terlihat. Bahkan dalam bentuk yang lebih modern sekalipun, standar itu tidak benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk, menjadi lebih halus, lebih sulit dikenali.

Perempuan boleh bebas, tetapi tetap harus “pantas”. Perempuan boleh bersuara, tetapi tidak boleh “terlalu”. Perempuan boleh hadir, tetapi tidak sepenuhnya menentukan.

Maka menjadi perempuan bukanlah kondisi alami yang netral. Ia adalah proses yang penuh negosiasi. Dan jika saya kembali pada Hari Kartini, saya mulai mempertanyakan sesuatu yang lebih sederhana:

Apakah kita sedang merayakan kebebasan perempuan, atau hanya merayakan versi perempuan yang sudah disetujui oleh sistem?

Karena ada kemungkinan bahwa perayaan itu sendiri sudah menjadi bagian dari struktur. Memberi ruang, tetapi juga membatasi bentuk ruang itu. Mengizinkan perempuan untuk tampil, tetapi dalam kerangka yang tetap dapat diterima.

Dalam konteks ini, Kartini bisa saja dibaca secara aman. Dijadikan simbol tanpa harus mengganggu struktur yang lebih dalam. Beliau dihormati, tetapi tidak selalu dipahami secara radikal. Padahal jika gagasan perempuan sebagai proses menjadi benar-benar diambil serius, maka konsekuensinya tidak sederhana.

Berarti membuka kemungkinan bahwa perempuan tidak memiliki bentuk tunggal. Bahwa tidak ada satu cara yang benar untuk menjadi perempuan. Bahwa setiap definisi yang dipaksakan berpotensi menjadi bentuk pembatasan baru.

Jadi, saya mulai melihat bahwa perjuangan Kartini mungkin belum selesai. Bukan karena perempuan belum memiliki ruang sama sekali, tetapi karena ruang itu masih sering memiliki batas yang tidak terlihat. Batas yang tidak selalu datang dalam bentuk larangan, tetapi dalam bentuk ekspektasi.

Ekspektasi untuk tetap sesuai. Ekspektasi untuk tetap dapat diterima. Ekspektasi untuk tidak terlalu jauh menyimpang.

Jika demikian, maka pertanyaan yang lebih jujur bukan lagi “apa yang sudah dicapai perempuan”, melainkan… Seberapa bebas perempuan untuk menentukan dirinya sendiri, tanpa harus terlebih dahulu memenuhi definisi yang sudah ada?

Barangkali yang paling radikal dari pemikiran Beauvoir bukanlah kritiknya terhadap laki-laki, melainkan kritiknya terhadap konsep perempuan itu sendiri. Diamembongkar asumsi bahwa perempuan adalah sesuatu yang stabil, sesuatu yang bisa dijelaskan sekali lalu selesai.

Dan jika itu benar, maka merayakan Kartini seharusnya bukan tentang mengulang apa yang sudah ia katakan, tetapi tentang melanjutkan pertanyaan yang ia mulai.

Melainkan tentang mempertanyakan, terus-menerus, siapa yang menentukan arti dari “menjadi perempuan” itu sendiri. Dan mungkin, di titik itu, Hari Kartini tidak lagi menjadi sekadar perayaan. Malah berubah menjadi gangguan kecil dalam cara kita memahami diri.

Oh, dan terima kasih kepada Sarah, sebagai orang pertama yang mengucapkan “selamat Hari Kartini” kepada saya.

Barangkali, di antara segala definisi yang terus dipertanyakan, ada bentuk lain dari kehadiran yang tidak perlu dijelaskan terlalu jauh.


메타데이터
post_id
a9878e89d857
slug
menjadi-perempuan-a9878e89d857
url
https://medium.com/@adzkiyajs/menjadi-perempuan-a9878e89d857
canonical_url
https://medium.com/@adzkiyajs/menjadi-perempuan-a9878e89d857
author_url
https://medium.com/@adzkiyajs
status
ok
fetched_at
2026-06-27 07:40:21