Chapter 1 : Pesanan yang Sama
Kota Sementara, Rindu Setelahnya
Chapter 1 : Pesanan yang Sama
Kota Sementara, Rindu Setelahnya
Mesin kopi sudah menyala sejak pagi tadi, sebelum aku memulai shift sore hari ini. Aroma biji yang telah digiling bercampur dengan wangi susu hangat yang mulai perlahan naik dari dapur kecil di belakang bar, menciptakan aroma yang selalu membuatku merasa berada di tempat yang sama, di jam yang sama, setiap harinya. Jam dinding menunjukkan pukul lima lewat sedikit, waktu di mana kafe belum terlalu ramai tapi tak juga lagi sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa sedang duduk dengan laptop terbuka, sementara ada dua orang pelanggan lama berbincang pelan di sudut ruangan.
Aku berdiri di balik meja bar bersama Rani. Ia sedang menyusun ulang gelas sambil bersenandung pelan, entah lah apakah lagu yang sudah diputar atau hanya lagu yang berputar di kepalanya sendiri. Kami memang sudah cukup lama kenal, hingga tak perlu banyak bicara untuk saling mengerti.
“Butterscotchnya tinggal dikit ini,” kata Rani sambil melirik botol sirup. “ Iya, nanti aku isi ulang,” jawabku, tanpa benar-benar menoleh.
Butterscotch memang salah satu menu andalan di caffeshop ini. Kombinasi rasa gula yang manis dan mentega yang gurih menciptakan rasa yang balance — minuman yang jarang ditolak. Bahkan aku sudah hafal takaran manisnya di luar kepala, sehingga tahu kapan harus menambah sirup dan kapan harus menguranginya.
Pintu cafe terbuka membuat angin sore masuk bersamaan dengan seseorang yang belakangan ini mulai terasa familiar, meskipun aku belum pernah benar-benar menyadarinya secara sengaja. Ia masuk tanpa tergesa, seperti seseorang yang tak terburu-buru dikejar waktu. Kemeja kerjanya pun tampak rapi meski aku tahu sudah dipakai seharian penuh, tas diselempangkan di bahu kanan, dan wajahnya menyimpan ekspresi tenang yang tak meminta perhatian. Ia berdiri di depan meja kasir, menatap layar menu sebentar -atau mungkin hanya formalitas- setelahnya berkata dengan suara rendah,
“Butterscotch panas, less sugar.”
Aku mengangguk sambil memasukkan pesanan ke dalam mesin kasir. Pesanan yang tak pernah berubah. Selalu panas. Selalu less sugar. Bahkan sebelum pena ini menyentuh cup coffee, aku sudah tahu apa yang akan ia pesan.
Rani melirik ke arahku sambil tersenyum kecil. “Yang itu lagi?” bisiknya. Aku menganggukan kepala pelan. “Iya.”
Lelaki itu kemudian berjalan menuju kursi dekat jendela, tempat yang entah sejak kapan menjadi miliknya, meski hal tersebut tak pernah kami sepakati sebelumnya. Dari meja kasir, aku bisa melihat punggungnya sedikit condong ke depan, seperti seseorang yang duduk dengan nyaman, bukan hanya sekedar menunggu.
Aku menuangkan susu ke dalam pitcher , memanaskannya perlahan, lalu menuangkannya ke dalam cup sembari menambahkan sirup butterscotch lebih sedikit dari takaran seharusnya. Ada pelanggan yang menyukai rasa manis yang kuat, bahkan tak jarang meminta tambah. Ia termasuk yang sebaliknya, seseorang yang seolah ingin menikmati rasa tanpa benar-benar ditenggelamkan olehnya -manis-.
“Less sugar nya konsisten ya,” kata Rani sambil melihat gerak tanganku. “Kelihatan.” Jawabku singkat. “Kayanya orang yang ngga suka ribet, iya ga sih?.” Tambahnya, lalu tertawa kecil sebelum kembali ke pekerjaannya. Aku tak menanggapi, tapi entah kenapa kalimat itu tertinggal sedikit lebih lama di kepala.
Setiap saat aku menyerahkan cangkir itu kepadanya, selalu diiringi ucapan terima kasih singkat dan anggukan kecil. Seperti biasa, ia tak langsung meminumnya. Ia selalu membiarkan uang tipis yang di permukaannya hilang perlahan dengan mendiamkannya sejenak di depanya. Ponselnya diletakkan di samping cangkir, dengan layar menghadap ke bawah, dan buku novel di genggamannya — seolah ia datang bukan untuk sibuk, melainkan untuk berhenti sejenak.
Ia datang lagi keesokan harinya. Dan hari setelahnya. Dengan pesanan yang sama, di jam yang hampir sama pula. Serta aku yang mulai mengenal kehadirannya bukan dari namanya, melainkan dari pengulangan-pengulangan kecil yang tak pernah benar-benar kusadari sebelumnya. Cara ia selalu memesan pesanan yang sama. Cara ia selalu duduk di kursi yang seakan sudah hak miliknya. Cara ia memegang cangkir dengan kedua tangan ketika cuaca memberi sinyal lebih dingin. Cara ia selalu menghabiskan butterscotchnya tanpa sisa, tak peduli seberapa lama ia duduk di sana.
Terkadang ia menatap keluar jendela. Di waktu lain, ia juga hanya diam, memandangi meja kayu di depannya seperti sedang menyusun pikirannya sendiri. Bekerja di cafe mengajarkanku bahwa tidak semua orang datang untuk mencari percakapan, sebagian memang hanya ingin ruang untuk bernafas.

“Pelangganmu itu jarang banget ngobrol ya,” kata Rani suatu sore ketika sedikit lengang. “Pelanggan kita,” jawabku cepat. Rani langsung tertawa kecil. “Iya, iya. Pelanggan cafe.”
Percakapanku dan lelaki itu memang selalu singkat. Sekedar ucapan terima kasih darinya yang diikuti anggukan kecil dariku. Tidak pernah lebih. Namun, di sela rutinitas itu, aku mulai merasakan perubahan kecil. Shift sore tak lagi sepenuhnya terasa sama. Jam tetap berjalan seperti semestinya, tetapi perhatianku sesekali tertahan pada pintu masuk, pada kursi dekat jendela, dan pada cangkir butterscotch panas dengan gula yang selalu dikurangi.
Suatu sore, ia datang sedikit lebih lambat dari biasanya. Kursi dekat jendela tersebut kosong lebih lama dari yang seharusnya, dan aku mendapati diriku menatap ke arah pintu lebih sering. Rani bahkan sempat berkata, “Kamu nunggu siapa sih?” Aku hanya menggeleng dan pura-pura sibuk.
Tetapi, saat akhirnya ia masuk, aku tidak tersenyum atau tidak menyapanya lebih dulu. Tapi, aku menghela napas kecil, seperti baru saja meletakkan sesuatu yang sempat terangkat.
Pesanannya tetap sama.
Saat aku mengantarkan cangkir ke mejanya, jari kamis cari bersentuhan. Bukan, ini bukan layaknya momen besar dan adegan romantis seperti di drama Korea, bahkan mungkin tidak akan berati apa-apa jika aku ceritakan pada siapa pun. Tetapi, entah mengapa aku menarik tanganku sedikit terlalu cepat dan ia mendongak sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu, sebelum akhirnya hanya ucapan terima kasih yang terlontarkan seperti biasanya.
Aku kembali ke balik meja bar dan membiarkan sore itu berakhir dengan tenang. Ketika malam datang, Rani pamit terlebih dulu dan aku mulai membersihkan sisa pekerjaan serta menghitung uang kembalian di laci kasir. Kesadaran kecil muncul, kesadaran yang datang terlalu dini dan terlalu jujur.

Aku telah hafal detail kecil seseorang, meski hanya pesanan minuman : butterscotch panas, less sugar. Yang padahal sebelumnya pasti banyak pelanggan yang sama, namun tak kuhafalkan, meski ini juga tidak dengan sengaja aku menghafalkannya. Bahkan, seseorang yang bahkan belum kukenal namanya.
Dan sejak hari itu, aku tahu ini bukan lagi tentang kopi.
Thank you for ur reading guysss Can u guess what will happen in Chapter 2?
Semoga kalian suka dan dapat menemani hari libur kalian yaaa Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar >< with love, sev
메타데이터
- post_id
- a99433b8b9d4
- slug
- chapter-1-pesanan-yang-sama-a99433b8b9d4
- url
- https://medium.com/@sevplace/chapter-1-pesanan-yang-sama-a99433b8b9d4
- canonical_url
- https://medium.com/@sevplace/chapter-1-pesanan-yang-sama-a99433b8b9d4
- author_url
- https://medium.com/@sevplace
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 11:06:28