Ukiran Langkah untuk Masa Depan di Tengah Pandemi
Cerpen dibuat berdasarkan kejadian nyata di pedalaman Kalimantan Tengah.
Ukiran Langkah untuk Masa Depan di Tengah Pandemi
Cerpen dibuat berdasarkan kejadian nyata di pedalaman Kalimantan Tengah.
Hawa panas nan menyengat di desa mengusik wanita paruh baya yang kini sibuk memikirkan pekerjaannya. Ia bergemuruh gusar menyadari semua yang terjadi menambah beban untuk kepalanya. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan ke luar gerbang sekolah, menatap penjaja camilan yang setia berjualan di bawah terik matahari. Seorang anak kecil lewat di hadapannya membawa plastik berisi es kelapa seraya tersenyum, dia pun tersenyum balik pada anak kecil tersebut. Es kelapa itu terlihat sangat segar, segera ia menuju ke arah sang penjual es.
“Mang, es kelapa satu gak ditambah gula ya, terima kasih.” Ucapnya sambil memberikan uang senilai 5000 rupiah pada penjual es kelapa.
“Baik Bu, minggu depan kata Pak Syarif sekolah libur ya? Waduh bagaimana ya nasib keuangan saya.” Sang penjual itu menyahut sekaligus bertanya, memastikan sesuatu.
“Iya, anak-anak belajar daring untuk sementara waktu. Covid-19 sudah masuk ke Indonesia nih, Amang juga jangan lupa jaga Kesehatan ya. Kata Covid-19 bisa membunuh loh!” Jelas beliau pada penjual es.
“Jaga Kesehatan memang nomor satu Bu, tapi harus ada uang juga supaya tetap sehat. Doakan saya agar jualannya laris manis setiap hari ya… Ini Bu es kelapanya.” Penjual menyerahkan plastik bening berisi es kelapa kepada wanita itu dengan senyum hangat.
Wanita itu pun menerima dengan wajah tersenyum pula, tak lupa beliau mengucap terima kasih dan mendoakan sang penjual.
Sudah beberapa minggu semenjak obrolan singkat antara Wanita paruh baya dan penjual es. Ada banyak masalah yang hadir selama proses belajar daring. Kebanyakan siswa yang diajarnya tidak mengisi presensi dan mengabaikan tugas yang diberikan. Ia pun sudah bertanya, beberapa alasan telah terdengar ke telinganya. Ada yang sakit, ada yang tidak mengetahui informasi, ada pula yang lupa. Namun, alasan yang paling membuatnya mengusap dada ialah mereka yang tak peduli dengan tugas, mereka menganggap ini hanya libur sekolah.
Hari ini ia mendatangi salah satu rumah siswanya, ia berharap dapat membuka pikiran siswanya yang tak peduli pada tugas yang ia berikan. Guru ini telah sampai, terlihat rumah panggung dengan kayu ulin itu sangat sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
“Assalamualaikum, Pito, ini Ibu Husnul.” Ia mengucap salam seraya mengetuk pintu rumah tersebut. Tak lama, sesosok anak kecil membuka pintu, ia tersenyum dam mempersilahkan gurunya masuk.
“ Rumahmu sepi sekali, kemana orang tuamu?” Ucap sang guru.
“Oh, iya Bu, Mama sama Abah pergi ke ladang, jadi saya sendiri di rumah.” Jelas anak laki-laki yang hanya menggunakan singlet usang warnanya.
“Wah begitu, kamu kenapa beberapa hari ini tidak hadir sekolah daring?” Beliau Kembali bertanya.
“Saya tidak punya handphone Bu, saya juga tidak tahu harus meminjam kepada siapa. Kata Mama, saya tidak perlu ikut belajar. Saya hanya perlu mengantar makanan ke ladang di siang hari dan membantu Mama serta Abah di ladang pada sore hari.” Pito menjelaskan pada Bu Husnul dengan wajah semringah, ia tidak menyadari jika hal itu adalah hal yang salah.
Beliau menggelengkan kepala, “Pito… tidak seperti itu. Kamu dapat melapor pada sekolah, sekolah pasti bantu.”
Pito menyerit tak percaya, apakah benar yang dikatakan oleh gurunya? “Masa sih Bu? Teman-teman yang lain pun mengatakan tak apa jika tak hadir, mereka kebanyakan memilih bekerja mencari emas agar dapat uang. Katanya sekolah hanya menyusahkan.” Ibu itu terkejut mendengar pengakuan dari Pito.
“Ibu selalu bilang pada kalian kalau belajar itu penting, pendidikan pada usia kalian wajib. Sekarang juga musimnya sakit, kenapa malah bekerja di tempat ramai?” Anak itu hanya diam sambil menatap lantai kayu rumahnya. Ia tak berkutik, tak tahu harus berbuat apa.
Terdengar suara pintu rumah terbuka. Seorang Wanita dengan bakul dipunggungnya memasuki rumah tersebut.
“Ya Allah Pito, kamu lupa ya hari ini harus mengantar makanan ke ladang. Mama dan Abah sudah kelaparan.” Ibu Pito belum menyadari jika ada tamu di rumahnya.
“Eh, Pito tak lupa, tetapi masih ada Ibu Husnul bertamu.” Mendengar jawaban itu, sang Ibu menoleh ke arah mereka.
“Oh Bu Husnul, tumben sekali kemari Bu, ada perlu apa ya?” Sang guru pun menjelaskan maksud kedatangannya, ia meminta agar anak-anak tetap belajar walau di tengah keterbatasan.
“Saya sih kalau anaknya mau belajar tidak masalah, tetapi tetap harus membantu di ladang. Kami sedang kekurangan orang, pak Zamzam yang biasa di ladang tak bisa bekerja, beliau terserang Covid-19 di kota, jadi tak bisa Kembali ke desa.” Jelas Ibu Pito pada guru anaknya.
Ibu Husnul pun mengangguk paham.
“Itu jika saya, kalau orang tua yang lain belum tahu. Saya dengar-dengar sih mereka lebih memilih anaknya bekerja dan bermain saja daripada boros. Penggunaan Hp itu mahal biayanya, apalagi karena kita di desa, harga paket data dua kali lipat daripada di kota.” Lanjut Ibu Pito seraya duduk berseberangan dengan Ibu Husnul.
“Oh begitu ya Bu, Nanti bagaimana jika anak-anak setiap pagi berkumpul di dangau saja?” Mendengar ucapan guru, Pito pun tersenyum, berharap dapat belajar bersama.
“Saya mengizinkan asalkan tak sampai siang ya Bu.” Sang guru pun mengangguk, berakhirlah percakapan mereka di rumah Pito.
Selanjutnya beliau mengunjungi rumah Dama, dari jendela terlihat seorang Wanita menggendong bayi yang terlelap. Ibu Husnul pun mengetuk pintu dan memberi salam. Wanita tersebut mempersilahkan Bu Husnul duduk di tikar yang telah disediakan.
“Apa kabar Bu Husnul? Lama tak berjumpa ya.” Sang guru tersenyum.
“Kabar baik Mama Dama, Dama tidak ada di rumah ya?” Wanita yang disebut Mama Dama pun mengangguk.
“Iya, Dama beberapa hari ini ikut Ayahnya pergi mencari emas. Lumayan lah Bu untuk tambahan sehari-hari, apalagi kan si Dama baru punya adik.” Jelas Wanita itu.
Ibu Husnul bingung harus menjelaskan bagaimana. Dengan nada lembut dan perlahan, ia pun menjelaskan maksud tujuan kunjungan ini. Ia berharap Mama Dama mengizinkan anaknya kembali belajar.
“ Jujur saja ya Bu, menurut saya sih Covid-19 itu gak ada. Sekolah berlebihan sih sampai mengadakan apa itu namanya? daring-daring itu. Kampung kita ini aman-aman saja padahal, pemborosan sekali mengikuti kegiatan dari kota. Kebanyakan orang desa mana punya yang namanya ponsel, haduh Bu. Mending anak saya ikut bapaknya cari emas lah Bu.” Ibu Husnul sudah menebak hal ini akan terjadi, ia berusaha menjelaskan pentingnya pendidikan pada orang tua siswa, tak lupa beliau menjelaskan rencana kumpulnya anak-anak setiap pagi di dangau.
“Loh, kan katanya covid-19 tidak boleh kumpul-kumpul. Tidak konsisten ini, bagaimana sih?” Sahut Mama Dama lagi.
“Yah, kita tidak bisa memaksakan Bu. Dana dari sekolah juga kurang kalau semuanya meminjam gawai dari sekolah. Jadi saya berusaha semaksimal mungkin dengan cara ini, nanti akan saya buat sesi agar tidak berkumpul sekaligus.” Dengan berat hati, Mama Dama pun setuju pada ucapan Bu Husnul.
Namun ternyata tidak secepat itu, “Bu, bagaimana jika Dama hanya hadir tiga kali seminggu. Saya ingin ia tetap pergi bersama Ayahnya, bagawi mancari amas kada sehari tuntung soalnya.” Ibu Husnul berpikir sejenak, setelah merasa yakin, beliau pun mengizinkan. Setidaknya Dama tetap mendapat ilmu, pikirnya. Setelah Mama Dama mencapai kesepakatan, sang guru pun pergi dari rumah Dama.
Langit berwarna jingga, Ibu Husnul telah tiba pada tujuan terakhirnya. Rumah panggung berwarna hijau dengan jemuran kayu di depannya. Rumah Julaiha. Tak jauh darinya, Wanita dengan masker dari kain bekas berjalan ke arahnya. Terlihat bahwa beliau membawa bakul dengan sayur segar di tangan kanannya. Sesampainya di depan rumah, Wanita itu menyapa Bu Husnul dengan ramah dan membuka pintu.
“Baru balik dari kebun ya Mama Jul?” Tanya Bu Husnul.
“Benar Bu, hari ini kami panen. Bu Husnul boleh cuci kaki tangan dulu ya di belakang, mari Bu.” Ajak Mama Julaiha pada Ibu Husnul.
Setelah membersihkan kaki dan tangan, mereka berbincang di meja makan ditemani secangkir teh hangat dan sepiring biskuit.
“Wah, kebetulan kami memang tak punya ponsel, tetapi saya lihat Julaiha mengerjakan tugas di kamar setiap hari kok Bu. Katanya ia mendapat informasi dari Mirah.” Ibu Husnul pun bingung, Mirah tidak menyampaikan kondisi Julaiha padanya, Mirah pun hanya mengumpulkan tugas miliknya.
“Begitu ya Bu, sebenarnya saya punya rencana untuk mengajak anak-anak mengerjakan tugas bersama di dangau. Apa Ibu tidak keberatan?” Tanya sang guru hati-hati.
Mama Julaiha terdiam, ia ragu menjawab. “Saya takut anak saya sakit, dengar kabar dari Pak Rahman tetangga depan, Covid-19 semakin meningkat, ada kemungkinan desa kita juga terjangkit. Saya mengizinkan jika hanya Ibu Husnul, saya percaya kalau Bu Husnul pasti menjaga kesehatan dan menjaga kebersihan. Namun orang lain terutama anak desa yang seringnya bermain di sungai bersama anak remaja yang kerjanya bolak-balik dari kota ke desa tentu saya kurang percaya.” Mama Julaiha menarik napas, bersiap melanjutkan pembicaraannya,
“sepertinya Pak Rahman, Mama Mirah, Haji Jamal pun juga setuju dengan saya. Kami takut anak kami dalam bahaya jika berkumpul. Bagaimana jika Ibu saja yang datang kemari setidaknya untuk menilai tugas anak saya.” Jelasnya pada Ibu Husnul.
Mendengar hal itu, segera beliau setuju. Tak apa, ini demi masa depan anak-anak, pikirnya.
“Oh iya, kabar Pak Johan bagaimana? Baik-baik saja kah?” Mama Julaiha memulai topik baru, bertanya mengenai kabar suami dari Ibu Husnul.
“Alhamdulillah, baik Bu. Sejauh ini masih sehat, walau ke kota, beliau tetap jaga kesehatan secara ketat.” Jelas Ibu Husnul. Setelah puas berbincang, Ia pun berpamitan dengan Mama Julaiha.
Minggu selanjutnya secara resmi Ibu Husnul mengajar di dangau, anak-anak yang tidak memiliki gawai hadir dengan wajah riang. Beberapa hari sekali pun ia menemui Mirah dan anak-anak lain yang tidak diizinkan berkumpul. Semua berjalan dengan baik walau sangat melelahkan.
Namun suatu ketika, permasalahan muncul. Malam itu suami Ibu Husnul merasa tidak enak badan. Ibu Husnul pun memanggil mantri ke rumahnya. Mantri mengatakan bahwa Pak Johan hanya kelelahan. Beberapa hari setelah mantri datang, kesehatan Pak Johan tak kunjung membaik. Ibu Husnul berinisiatif membawa Pak Jihan ke kota. Pagi hari sebelum berangkat, Ibu Husnul mengabari rekan kerjanya, Ibu Tika untuk menggantikannya mengajar, Ibu Tika pun setuju. Tak lupa pula Ibu Husnul mengabari anak-anak bahwa Bu Tika akan menggantikannya untuk sementara waktu.
Sesampainya di rumah sakit kota, Pak Johan dan Ibu Husnul didiagnosis terinfeksi covid-19. Ibu Husnul mengabari semua orang di desa bahwa mereka terinfeksi covid-19. Ibu Tika memberikan ucapan semangat dan mendoakan beliau. Hari terus berjalan, Ibu Husnul kembali membaik. Namun Pak Johan malah kian memburuk, tak ada tanda-tanda sembuh dari beliau. “
Sayang, amun aku kada sembuh jua, tolong lah kena kubur akan aku di kampung, betatai dengan kuburan Mama.” Ucap sang suami, hari itu dengan perasaan kalut Ibu Husnul menyetujui ucapan suaminya. Saat Pak Johan tertidur, Ibu Husnul selalu menangis. Ia bahkan sampai lupa menanyakan kabar anak-anak yang diajarnya.
Malam Jumat di pertengahan tahun, Pak Johan dikabarkan meninggal dunia karena covid-19. Orang yang meninggal karena covid-19 dilarang untuk dikubur secara bebas. Permintaan terakhir sang suami tak dapat ia kabulkan. Sebulan penuh Ibu Husnul berduka hingga ia menyadari bahwa hidupnya harus tetap berjalan.
Keesokannya, Ibu Husnul yang merasa cukup berenergi Kembali menjalani hari normalnya. Sebelumnya ia sudah mengabari Ibu Tika bahwa ia sudah dapat Kembali bekerja dan berterima kasih kepada Ibu Tika.
Sesampainya di dangau ia bingung, tidak ada satu pun siswanya yang biasa hadir di dangau datang. Lima belas menit ia menunggu, tak jua ada kabar kedatangan. Ia bertanya pada Ibu Tika melalaui private chat di WhatsApp. Ternyata, selama ini Ibu Tika hanya memberikan tugas kepada anak didiknya melalui group WhatsApp, tidak ada pertemuan langsung maupun zoom meet yang dilakukan oleh Ibu Tika. Ibu Husnul berusaha meredam amarahnya, segera ia memutar otak dan Kembali berkunjung ke rumah para siswanya.
Semenjak hari itu, Ibu Husnul Kembali berjalan dari rumah ke rumah untuk mengajar perserta didiknya. Ini pun ia lakukan untuk mengurangi angka covid-19, ada trauma mendalam yang membekas dalam benaknya, ia senantiasa berdoa agar tidak ada lagi orang disekitarnya yang terinfeksi bahkan hingga Kembali kepada Tuhan. Semoga Covid-19 segera usai, agar hidup barunya berjalan lebih ringan.
Catatan kaki untuk bahasa daerah dan kosakata baku yang jarang digunakan
- Mang: Kependekan dari Amang, Bahasa Banjar artinya Paman
- Abah: Bahasa Banjar artinya Ayah
- Dangau: Rumah kecil di sawah atau di ladang tempat orang berteduh untuk menjaga tanaman
- bagawi mancari amas kada sehari tuntung soalnya: Kerja mencari emas tidak cukup jika hanya sehari
- Sayang, amun aku kada sembuh jua, tolong lah kena kubur akan aku di kampung, betatai dengan kuburan Mama: Sayang, jika aku tidak kunjung sembuh, tolong kuburkan aku di kampung. Bersebelahan dengan kuburan Mama.
메타데이터
- post_id
- a9cdb6387fcf
- slug
- ukiran-langkah-untuk-masa-depan-di-tengah-pandemi-a9cdb6387fcf
- url
- https://medium.com/@khalwa/ukiran-langkah-untuk-masa-depan-di-tengah-pandemi-a9cdb6387fcf
- canonical_url
- https://medium.com/@khalwa/ukiran-langkah-untuk-masa-depan-di-tengah-pandemi-a9cdb6387fcf
- author_url
- https://medium.com/@khalwa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-29 23:05:25