ASI: Cinta Pertama Ibu untuk Bayi, Rahasia di Balik Pentingnya Menyusui
Menyusui adalah masa yang paling penting dan berharga bagi ibu dan bayi. Menyusui merupakan proses pemberian air susu ibu (ASI) kepada bayi…
ASI: Cinta Pertama Ibu untuk Bayi, Rahasia di Balik Pentingnya Menyusui

Menyusui adalah masa yang paling penting dan berharga bagi ibu dan bayi. Menyusui merupakan proses pemberian air susu ibu (ASI) kepada bayi sejak lahir yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Berdasarkan Riskesdas, di Indonesia, 17,7% balita mengalami gizi buruk dan kurang, 30,8% balita sangat pendek dan pendek, 10,2% balita sangat kurus dan kurus, dan 8% balita gemuk. Hal ini sangat berkaitan erat dengan pemberian ASI pada bayi. Faktanya, di Indonesia, hanya 1 dari 2 bayi berusia di bawah 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif, dan hanya sedikit lebih dari 5% anak yang masih mendapatkan ASI pada 23 bulan. Pentingnya kesadaran ibu dalam pemberian ASI dipengaruhi oleh pengetahuan pada ibu, keluarga, dan masyarakat. Banyak penyebab kegagalan dalam pemberian ASI sejak dini seperti, ibu tidak punya waktu menyusui karena harus bekerja, ASI tidak keluar dan digantikan dengan susu formula, memberikan tambahan makanan padat, maraknya promosi susu pengganti ASI di media massa, lingkungan sosial budaya, pendidikan, pengetahuan rendah pada ibu serta kurangnya dukungan dari suami. Padahal salah satu hal penting yang harus diketahui oleh setiap ibu, termasuk keluarga, adalah pentingnya menyusui. Menyusui bukan hanya memberi nutrisi terbaik bagi bayi, tetapi juga memberikan manfaat bagi ibu dan bayi. Ketahui selengkapnya di sini.
Bagaimana proses produksi dan pengeluaran ASI?
Secara alamiah bergantung pada kerja hormon dan refleks menyusui. Terdapat peran hormon prolaktin dan oksitosin. Setelah melahirkan, prolaktin dilepaskan dari kelenjar hipofisis anterior, dan oksitosin dilepas oleh kelenjar hipofisis posterior karena adanya hisapan bayi yang merangsang puting susu saat menyusui sehingga terjadilah produksi dan pengeluaran ASI.
Apakah emosi mempengaruhi produksi ASI?
Ya, emosi ibu dapat mempengaruhi produksi ASI. Hormon oksitosin sangat dipengaruhi oleh emosi ibu. Oksitosin akan meningkat saat ada rangsangan pada puting susu ibu, kemudian saat ibu melihat atau memperhatikan bayi, mendengar suara bayi, perasaan tenang, nyaman, serta perasaan sayang antara ibu dan bayi. Hal ini menyebabkan hipotalamus yang memerintah hipofisis posterior akan melepaskan oksitosin, sehingga terjadi kontraksi mioepitel, yang memaksa ASI masuk ke dalam dinding alveolus dan keluar melalui puting.
Sebaliknya, perasaan cemas, stres, takut, sakit, kurang percaya diri, dan perasaan negatif lainnya dapat menghambat pelepasan hormon oksitosin, yang berperan penting dalam proses produksi dan pengeluaran ASI.
Salah satu faktor ibu inilah yang menjadi masalah dalam pemberian ASI dan pengeluaran ASI. Masalah pengeluaran ASI setelah melahirkan juga dapat disebabkan oleh berkurangnya rangsangan hormon oksitosin. Fakta menunjukkan bahwa kerja hormon oksitosin dipengaruhi kondisi psikologis.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan beberapa metode dikembangkan salah satunya untuk memicu pengeluaran hormon oksitosin melalui pijat oksitosin dan pijat laktasi yang merupakan salah satu cara untuk memperlancar produksi dan pengeluaran ASI dihari-hari pertama setelah melahirkan. Pijat laktasi adalah teknik pemijatan yang dilakukan pada daerah kepala atau leher, punggung, tulang belakang, dan payudara yang bertujuan untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin.
ASI yang pertama keluar harus dibuang karena merupakan ASI basi, kotor dan tidak baik untuk bayi?
Dalam beberapa hari pertama setelah melahirkan, hormon prolaktin akan memegang peran membuat kolostrum. Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali keluar berwarna agak kekuningan mengandung zat kekebalan 10–17 kali lipat lebih banyak dibandingkan ASI matang, jadi sangat baik untuk bayi. Namun, masih sering terjadi kesalahpahaman mengenai ASI pertama atau kolostrum untuk diberikan kepada bayi baru lahir. Banyak keluarga beranggapan, bahwa ASI yang diproduksi pertama kali ialah susu basi yang tidak layak dikonsumsi bayi dan dapat mengakibatkan bayi terserang diare atau penyakit lainnya.
Pada nyatanya kolostrum mengandung IgA dengan kadar sampai 5000 mg/dL yang cukup untuk melapisi permukaan saluran cerna bayi terhadap bakteri pathogen dan virus. Zat kekebalan yang terdapat pada kolostrum dapat melindungi bayi dari penyakit diare dan menurunkan kemungkinan bayi terkena penyakit infeksi telinga, batuk, pilek, dan penyakit alergi.
Sumber : https://l1nk.dev/uUxgO
Apakah susu formula sama baiknya dengan ASI?
Beberapa komponen dalam ASI tidak dimiliki susu lainnya. Kandungan pada susu sapi atau kambing diatas memiliki tambahan zat-zat lain yang tidak sama kandungannya dengan ASI. Salah satunya kandungan kasein dalam susu sapi atau kambing lebih banyak dibanding pada ASI. Kasein adalah protein utama dalam susu sapi yang dapat membentuk gumpalan di lambung, dapat menjadi penyebab gangguan pencernaan (diare) pada bayi karena reaksi alergi. Gumpalan ini lebih sulit dicerna dibandingkan kasein ASI, yang membentuk gumpalan lebih lembut sehingga aman untuk bayi.
Jika bayi baru lahir tidak diberikan kolostrum maka akan memiliki masalah pada sistem kekebalan tubuh yang dibentuk secara alami. Mengingat kandungan yang terdapat pada kolostrum memiliki zat-zat gizi tinggi dibandingkan dengan ASI matur ataupun susu formula (Ciselia, 2023). *World Health Organization (WHO) mengungkapkan bahwa dengan diberikannya kolostrum pada bayi, dapat menolong 22% kematian bayi karena pembentukan imunitas yang lebih baik dan pencegahan terhadap serangan infeksi yang dapat terjadi pada bayi. Dan data lain dari WHO* mengungkapkan ada 170 juta anak mengalami gizi kurang, dan sebanyak 3 juta anak meninggal setiap harinya, kematian ini disebabkan oleh infeksi, saluran pernapasan akut, diare, dan campak, yang sebenarnya dapat dihindari dengan cara memberikan kolostrum pada bayi baru lahir. Selain itu, dengan memberikan ASI mulai dari 1 jam pertama kelahiran hingga berlanjut sampai ASI eksklusif yaitu usia bayi 6 bulan adalah upaya untuk mengurangi statistik gizi kurang di dunia.
Organisasi UNICEF juga menyatakan bahwa inisiasi menyusui sejak dini sangat penting bagi bayi sehingga menyebutnya sebagai vaksin pertama bayi (UNICEF, 2016).
Didukung oleh rekomendasi yang diberikan oleh World Health Organization (WHO) yang tertulis dalam Rekomendasi IDAI tentang pemberian ASI adalah menyusui bayi sedini mungkin, sejak 1 jam pertama bayi lahir dilakukan pemberian kolostrum, dengan meletakkan bayi dengan posisi telungkup di dada ibu, dan membiarkannya mencari puting hingga menyusu, lalu berlanjut hingga 6 bulan pertama untuk pencapaian ASI eksklusif, dan berlanjut hingga usia 2 tahun atau lebih.
Manfaat lain menyusui terpenuhinya kebutuhan bayi dalam hal
- Kepuasan fisik : ASI mengandung nutrien perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan, serta zat kekebalan melindungi dari penyakit.
- Kepuasan psikis : rasa aman, nyaman, serta tenang, merasa diperhatikan dan dilindungi untuk kembangkan kualitas perilaku dan kepribadian serta kemampuan dirinya.
- Proses belajar : bayi yang baru lahir berjuang menyesuaikan mulutnya dengan puting susu ibu.
Manfaat menyusui untuk ibu
- Memberi kesempatan bagi ibu untuk mencurahkan kasih sayang dan berinteraksi sehingga hubungan bayi dan ibu lebih erat
- Ibu merasa puas, bangga dan bahagia
- Dari hasil riset dapat mengurangi risiko co mammae (kanker payudara) : Risiko kanker payudara dapat berkurang 4,3% setiap 12 bulan menyusui. Menurut WHO, pemberian ASI dapat mencegah 20.000 kematian ibu akibat kanker payudara.
- Menghasilkan hormon oksitosin meredakan stres pada ibu.
- Membantu mengurangi berat badan
- Metode kontrasepsi alami dikenal sebagai Metode Amnore Laktasi (MAL).
- Mempercepat pemulihan setelah melahirkan.
Berdasarkan Kemenkes, sebuah studi menunjukkan bahwa tidak menyusui berhubungan dengan kerugian ekonomi sekitar 302 miliar dollar atau kurang lebih 0,49% dari Pendapatan Nasional Bruto setiap tahunnya karena meningkatnya risiko kematian ibu dan balita.
Ibu yang berada dalam masa menyusui dianjurkan minum setiap kali menyusui, dan menjaga kebutuhan kalori yang cukup dan kebutuhan hidrasi minimal 3 liter setiap hari.
Langkah menyusui yang benar
Rulina Suradi, mengungkapkan seringkali kegagalan menyusui disebabkan karena salah posisi dan melekatkan bayi. Puting ibu menjadi lecet sehingga ibu jadi segan menyusui, produksi ASI berkurang dan bayi menjadi malas menyusu, sehingga seorang ibu harus tahu langkah menyusui yang benar sebagai berikut.
- Cuci tangan dengan air bersih yang mengalir.
- Perah sedikit ASI dan oleskan ke puting dan areola sekitarnya. Manfaatnya adalah sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu.
- Ibu duduk dengan santai kaki tidak boleh menggantung dan badan tidak membungkuk.
- Posisikan bayi dengan benar
- Bayi dipegang dengan satu lengan. Kepala bayi diletakkan dekat lengkungan siku ibu, bokong bayi ditahan dengan telapak tangan ibu.
- Perut bayi menempel ke tubuh ibu.
- Mulut bayi berada di depan puting ibu.
- Lengan yang di bawah merangkul tubuh ibu, jangan berada di antara tubuh ibu dan bayi. Tangan yang di atas boleh dipegang ibu atau diletakkan di atas dada ibu.
- Telinga dan lengan yang di atas berada dalam satu garis lurus.
-
Bibir bayi dirangsang dengan puting ibu dan akan membuka lebar, kemudian dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dan putting serta areola dimasukkan ke dalam mulut bayi.
-
Cek apakah perlekatan sudah benar
- Dagu menempel ke payudara ibu.
- Mulut terbuka lebar.
- Sebagian besar areola terutama yang berada di bawah, masuk ke dalam mulut bayi.
- Bibir bayi terlipat keluar.
- Tidak boleh terdengar bunyi decak, hanya boleh terdengar bunyi menelan.
- Ibu tidak kesakitan.
- Bayi tenang.
Pengalaman menyusui bagi seorang ibu bukan lagi menjadi hal yang menakutkan, tapi menjadi momen yang paling indah dan menyenangkan bagi ibu dan bayi, karna akan ada kenangan yang terukir dalam jiwa ibu dan bayi tercinta. Seorang ibu akan melakukan yang terbaik untuk bayinya, karena ibu adalah sosok yang hebat dan luar biasa.
“Menyusui bukan hal mudah, tapi penuh makna. Yuk, dukung ibu menyusui! Karena ASI adalah hadiah terbaik untuk awal kehidupan”.
Referensi
- Jaclyn Pillay; Tammy J. Davis. (2023). Physiology, Lactation. Sumber: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499981/
- Aprilia, D., & Krisnawati, A. M. (2019). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelancaran Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum. Sember: http://jurnal.stikeswilliambooth.ac.id/index.php/Keb/article/view/199
- InfoDATIN Kemenkes. (2018). Menyusui sebagai Dasar Kehidupan. Kementerian kesehatan RI.
- Ciselia, D. (2023). Pengaruh Status Gizi Ibu Hamil Trimester III dalam Pengeluaran Kolostrum. Sumber: https://doi.org/10.54816/jk.v10i1.584
- Kemenkes. (2018). Manfaat ASI Eksklusif untuk Ibu dan Bayi. Sumber: https://promkes.kemkes.go.id/manfaat-asi-eksklusif-untuk-ibu-dan-bayi.
- Wulandari, R. C., Pujiati, P., & Ginting, A. S. B. (2023). Perbandingan Pijit Oksitoksin Dan Pijit Marmet Payudara Terhadap Pengeluaran Asi Pada Ibu Post Partum Primipara Tahun 2022. Sumber: https://doi.org/10.55681/sentri.v2i7.1181
- Rulina Suradi. (2023) Posisi dan Perlekatan Menyusui dan Menyusu yang Benar. Sumber: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/posisi-dan-perlekatan-menyusui-dan-menyusu-yang-benar
메타데이터
- post_id
- a9d43d06ccf6
- slug
- asi-cinta-pertama-ibu-untuk-bayi-rahasia-di-balik-pentingnya-menyusui-a9d43d06ccf6
- url
- https://medium.com/@arlinaparintak/asi-cinta-pertama-ibu-untuk-bayi-rahasia-di-balik-pentingnya-menyusui-a9d43d06ccf6
- canonical_url
- https://medium.com/@arlinaparintak/asi-cinta-pertama-ibu-untuk-bayi-rahasia-di-balik-pentingnya-menyusui-a9d43d06ccf6
- author_url
- https://medium.com/@arlinaparintak
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-01 19:12:49