← Back to list

Icon Pan, Wasit Berlisensi C2 Dengan Segudang Gebrakan

Setiap orang mungkin bermental baja, tetapi tidak semua orang berani mengambil risiko untuk mengendalikan sebuah kegiatan yang menghadirkan…

Erik Jumpar · 2026-04-29 01:01 · 50 claps · 5.2 min read
#pssi #sepakbola-indonesia #tarkam #nusa-tenggara-timur #manggarai-timur
Open on Medium ↗

Icon Pan, Wasit Berlisensi C2 Dengan Segudang Gebrakan

Setiap orang mungkin bermental baja, tetapi tidak semua orang berani mengambil risiko untuk mengendalikan sebuah kegiatan yang menghadirkan massa.

Icon Pan saat memimpin pertandingan di Hubertus Cup 2026.

Icon Pan saat memimpin pertandingan di Hubertus Cup 2026.

Setiap orang mungkin bermental baja, tetapi tidak semua orang berani mengambil risiko untuk mengendalikan sebuah kegiatan yang menghadirkan massa. Misalnya untuk memimpin pertandingan sepak bola. Apalagi belum memiliki lisensi sebagai wasit, sesuatu yang tentu saja dapat membahayakan keselamatan diri sebagai hakim utama pertandingan.

Tensi permainan sepak bola yang dapat berubah selama 90 menit dapat mengancam wasit sebagai hakim utama dalam pertandingan. Bila tidak hati-hati dalam mengambil keputusan selama pertandingan, bisa saja bukan wasit yang menghakimi pertandingan, ia yang dihakimi oleh pemain dan suporter.

Jumlah orang yang mengambil jalan lain seperti pada paragraf pembuka di atas dapat dihitung dengan jari. Salah satu di antaranya ialah Benediktus Yakimi Pan. Pria kelahiran Liang Leso, Manggarai Timur, 2 Februari 1997 ini pernah memimpin pertandingan saat ia baru belajar memahami aturan sepak bola, saat ia belum memiliki lisensi sebagai wasit seperti saat ini.

“Hobi saya sepak bola, tetapi tidak dapat bermain sepak bola. Saya memilih untuk belajar menjadi wasit,” jelasnya dalam percakapan di WhatsApp.

Semenjak duduk di Kelas XI SMA Negeri 1 Borong, ia mulai belajar untuk memimpin pertandingan secara otodidak. Setiap pertandingan akhir pekan di lapangan SDK Golo Mongkok, Desa Watu Mori Kecamatan Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur, ia merelakan dirinya untuk memimpin pertandingan.

Pada tahun 2015, usai menamatkan pendidikan SMA, ia memimpin kontingen sepak bola dari Kampung Golo Mongkok. Tim ini terlibat dalam laga tarkam (tarung antara kampung) dalam turnamen untuk memeriahkan perayaan Paskah di Kampung Woa, Desa Koak Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai.

Saat tiba di tempat turnamen, panitia mengalami kekurangan perangkat pertandingan. Jumlah wasit berlisensi pada masa itu tidak sebanyak sekarang. Anggota kontingen dari Kampung Golo Mongkok menawarkan pada panitia agar pria yang dipanggil Icon ini diberi mandat untuk menjadi hakim utama pertandingan.

“Panitia memberi kepercayaan untuk menjadi wasit utama,“ jelasnya.

Tanpa mengabaikan kesempatan di depan mata, ia memilih untuk memanfaatkannya. Selama turnamen berlangsung ia terlibat aktif menyukseskan jalannya pertandingan. Beruntung ia berhasil menjalankan tugas dengan baik.

Tantangan terberatnya saat memimpin pertandingan tersebut hanya berkutat dengan usaha untuk melawan ketakutan di dalam diri, usia yang masih remaja dan kemampuan mengelola pertandingan yang masih minim. Namun panitia menaruh kepercayaan besar untuknya.

“Mereka mendukung sepenuh hati, itu mendongkrak kepercayaan diri saya,” lanjutnya.

Pencapaian tersebut dijadikan sebagai titik awal untuk melangkah ke tangga hidup selanjutnya. Berkat dukungan dari kedua orangtuanya, ia diutus untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

“Tahun 2016, saya mulai kuliah di jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi,” jelas lulusan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Budi Utomo, Malang ini.

Selama mengenyam pendidikan di Kota Apel itu, ia memilih untuk memanfaatkannya dengan baik. Selain belajar dengan tekun untuk menjadi Guru, ia tetap merawat mimpi saat masa remaja, menjadi wasit sepak bola profesional.

“Saya mengikuti kursus wasit C3 di Kota Malang pada tahun 2020,” lanjutnya.

Dikutip dari Tempo.co, lisensi C3 diadakan oleh Asosiasi PSSI Kabupaten atau Kota, wasit diberikan pelatihan mengenai hal-hal yang mendasar. Lisensi C3 biasa digunakan sebagai modal untuk memimpin pertandingan tingkat amatir.

Kiprahnya sebagai wasit C3 selama berada di Kota Malang berdampak besar dalam ziarah hidupnya. Ia pernah diberi kepercayaan untuk memimpin pertandingan di kota tersebut, tim yang bertanding dari Kota Malang melawan tim dengan pemainnya dari Asosiasi Kota (ASKOT) PSSI Kota Malang.

Di dalam tim ASKOT tersebut diisi oleh pemain dari kumpulan wasit-wasit senior. Mereka yang malang melintang dalam dunia sepak bola, sebagian besar wasitnya pernah memimpin Liga 1 dan Liga 2.

“Yang membuat saya bangga, mereka bukan sembarangan wasit,” jelas pria yang mengidolakan wasit dunia berkebangsaan Italia, Pierlugi Collina ini.

Perantauannya berakhir setelah menamatkan pendidikan tinggi. Kepercayaan dari kedua orangtuanya dibuktikan dengan penuh tanggung jawab. Dua tahun lalu ia kembali ke kampung halamannya, memilih pulang ke tempat di mana tembuninya dikuburkan oleh kedua orang tuanya.

“Sekarang saya memilih untuk tinggal di kampung,” lanjutnya.

Kehadirannya selama menetap di kampung memberi dampak yang cukup besar. Akhir pekan ia rutin mendorong anak-anak muda untuk menghidupkan sepak bola. Buntut dari pandemi Covid-19, sepak bola di Kampung Golo Mongkok, tanah kelahirannya, mati total. Ia terlibat aktif menghidupkan sepak bola dan terlibat sebagai wasit sepanjang pertandingan berlangsung.

“Setiap Hari Minggu kami membuka turnamen,” lanjutnya.

Langkah baik ini demi melayani hobi dari anak muda yang doyan memainkan si kulit bundar. Animo sepak bola yang sangat besar berakibat pada banyaknya tim-tim yang ikut pertandingan. Tim-tim yang terlibat bukan hanya dari kecamatannya saja, ada pula tim-tim dari kecamatan lain, seperti dari Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kecamatan Lamba Leda Timur, Kecamatan Borong dan Kecamatan Kota Komba.

“Inisiatif untuk membuka turnamen resmi pun bermunculan dalam perbincangan dengan orang tua di sini,” lanjutnya.

Di kemudian hari, percakapan untuk membuat turnamen GM CUP I bersama panitia lokal di kampungnya dipikirkan dengan serius. Sejak Bulan Desember tahun 2021 sampai Bulan Januari 2022, mereka merintis turnamen Golo Mongkok Cup I. Turnamennya diikuti oleh 32 tim. Timnya berasal dari berbagai kecamatan di tanah Lawe Lujang ini.

“GM CUP I sukses, meski masih ada kekurangan,” jelasnya.

Tidak puas dengan pencapaian di turnamen GM CUP I, ia memilih untuk merancang turnamen di tempat lain. Dengan niat untuk memajukan sepak bola lokal, ia mencoba membangun komunikasi dengan pemangku kepentingan di Paroki Santo Hubertus Sok, Keuskupan Ruteng.

“Turnamen Amal Santu Hubertus Cup I pun berjalan,” lanjutnya.

Turnamen ini dilaksanakan dari tanggal 13 Februari sampai 31 Maret 2022, tujuannya untuk menggalang dana pembangunan Gereja Paroki Santo Hubertus Sok. Di dalam turnamen ini ada 32 klub yang terlibat. Stadion Sok, Desa Compang Ndejing Kecamatan Borong, jadi tempat untuk menjamu tim-tim yang bertanding. Tim-tim tersebut menyuguhkan penampilan terbaik hingga partai pamungkas.

Perputaran uang selama turnamen ini cukup besar. Berbagai lapak menyuguhkan jenis jualan. Meski tidak punya data yang valid, tapi bisa diukur dari banyaknya lapak para pedagang, apalagi setiap harinya jumlah penonton amat banyak, hal yang sama pula terjadi saat turnamen GM CUP I.

“Kita mendorong pelaku UMKM untuk terlibat selama pertandingan,” lanjutnya.

Seakan tidak mau iklim sepak bola lekas layu dan berkat dukungan dari ASKAB PSSI Manggarai Timur, mereka kembali mengadakan turnamen GM CUP II. Turnamen ini diadakan dari tanggal 1 Juni sampai tanggal 31 Juli 2022, ada 32 tim yang terlibat. Mereka berasal dari berbagai kecamatan. Lapangan SDK Golo Mongkok jadi saksi dari adu fisik para pencinta si kulit bundar ini.

Dua kali membuat turnamen di kampung halamannya, ia merasa bahwa itu pencapaian yang berharga. Bagi penulis, kiprahnya sebagai wasit yang mau merepotkan diri untuk mengurus pertandingan dari babak penyisihan hingga partai final termasuk pencapaian yang patut diacungi jempol.

“Ada kepuasan setelah turnamen sukses dilaksanakan,” lanjutnya.

Sama seperti tujuan dalam Turnamen Amal Santu Hubertus Cup I, kemudian mereka merintis Turnamen Amal Santu Hubertus Cup II. Turnamen ini baru saja diadakan, diadakan sejak tanggal 12 Februari sampai 12 Maret 2023, ada 39 tim yang terlibat dalam turnamen ini.

“Rencananya turnamen Amal Hubertus Cup ini jadi agenda tahunan,” jelasnya.

Animo sepak bola di daerah ini sedang bergerak ke arah yang lebih baik. Energi positif ini perlu digarap dengan serius. Sayangnya, kita masih berurusan dengan suporter yang belum dewasa, seperti kericuhan dari suporter yang kerap terjadi dalam turnamen-turnamen yang ada. Dua kali Turnamen Amal Santu Hubertus Cup dan Turnamen GM CUP pun tak luput dari keributan di luar lapangan.

“Semoga ke depannya suporter bola di tanah ini semakin dewasa,” harapnya.

Pria yang aktif di perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) ini baru saja mengikuti kursus wasit C2. Ia mengikuti kursus yang diadakan di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Kursus ini diadakan oleh Asosisasi Provinsi (ASPROV) PSSI Sulawesi Selatan.

“Terima kasih kepada Bapak Bupati Manggarai Timur yang telah menanggung tiket keberangkatan dan kepulangan saat saya mengikuti kursus C2 di Luwu Timur,” lanjutnya.

Di bagian akhir percakapan, ia menyampaikan harapan besar untuk kemajuan sepak bola lokal. Baginya, laga-laga tarkam turut merambat ke berbagai sektor kehidupan yang lain, seperti ekonomi, sosial dan budaya.

“Harapannya semakin banyak laga tarkam di Manggarai Timur,” tutup lelaki yang amat mengidolakan Cristiano Ronaldo ini.


메타데이터
post_id
a9eb2d7b9d20
slug
icon-pan-wasit-berlisensi-c2-dengan-segudang-gebrakan-a9eb2d7b9d20
url
https://medium.com/@erikjumpar/icon-pan-wasit-berlisensi-c2-dengan-segudang-gebrakan-a9eb2d7b9d20
canonical_url
https://medium.com/@erikjumpar/icon-pan-wasit-berlisensi-c2-dengan-segudang-gebrakan-a9eb2d7b9d20
author_url
https://medium.com/@erikjumpar
status
ok
fetched_at
2026-06-23 03:48:11