← Back to list

Impotensi Intelektual

Saya akan mengawali tulisan kali ini dengan pertanyaan, “Masih layakkah seorang terdidik disebut sebagai kaum intelektual ketika di dalam…

Chrizeva · 2026-05-18 19:05 · 4 claps · 1.5 min read
#kritik-sosial #indonesia #politik #politik-indonesia
Open on Medium ↗

Impotensi Intelektual

Saya akan mengawali tulisan kali ini dengan pertanyaan, “Masih layakkah seorang terdidik disebut sebagai kaum intelektual ketika di dalam lubuk hatinya dan sudut-sudut pikirannya tidak tersisa sedikit pun rasa emansipatoris?”

Bukankah, kita yang terdidik ini — yang menempuh pendidikan formal maupun informal — secara tidak langsung “dipaksa” oleh dunia untuk berperilaku adil? Atau mungkin asumsi tersebut datang dari kebodohan saya dalam memahami fungsi dari pengetahuan?

Kita belajar apa pun, entah ilmu sosial maupun eksakta, selalu diajari untuk berpikir runtut dan berupaya menuju kebenaran. Dari kebiasaan berpikir yang runtut itu, semestinya tumbuh kemampuan untuk bersikap adil, setidaknya adil dalam bidang kita masing-masing, yakni mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dalam konteks ini, kita tidak serampangan dalam menilai persoalan, tidak tergesa-gesa menghakimi orang lain, tidak mempermainkan data, dan tidak menyusun argumen secara asal-asalan hingga terjebak dalam sesat pikir.

Sikap semacam inilah yang dapat disebut sebagai keadilan epistemik, yakni keadilan dalam memperlakukan pengetahuan, data, argumen, dan kenyataan sebagaimana mestinya. Dengan cara itu, kita sebenarnya sedang belajar berlaku adil terhadap pengetahuan, terhadap diri sendiri, dan terhadap bidang yang kita tekuni.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kita tidak gelisah ketika kita sudah berusaha istiqomah adil dalam skala kecil, lalu melihat ketidakadilan di luar diri kita terus berlangsung, bahkan sering kali dibiarkan seolah-olah bukan persoalan? Alasan saya menanyakan seperti ini karena saya banyak orang-orang terdidik yang seolah-olah tidak gelisah akan ketidakadilan.

Seharusnya, keadilan epistemik yang mereka miliki tidak berhenti pada kemampuan berpikir runtut dan memperlakukan pengetahuan secara jujur. Keadilan semacam itu semestinya menjadi pintu masuk menuju keadilan emansipatoris, yakni kesadaran untuk tidak hanya lihai membongkar persoalan dalam bidangnya sendiri, tetapi juga berani mengarahkan pikiran dan nuraninya untuk membaca, mengkritik, serta membongkar belenggu sosial, politik, ekonomi, maupun kultural yang menindas manusia.

Mereka yang terdidik dan pintar, tetapi enggan mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah, saya sebut sebagai pengidap Impotensi Intelektual. Sebab, bagi saya, kerja intelektual seharusnya ditujukan untuk mentransformasikan peradaban, sekalipun kebenaran yang disuarakan terasa menyakitkan bagi penguasa.

Merekalah yang pandai membaca realitas tetapi gagal menghadirkan sikap pembebasan terhdap struktur yang dominasi yang menindas manusia. Merekalah yang mungkin tidak mempunyai nalar kritis sehingga dalam dirinya tidak ada keberanian transformatif. Merekalah orang-orang yang duduk tenang menikmati imajinasi tentang negara yang indah, padahal keindahan itu kerap hanya tumbuh di kepala mereka sendiri, bukan di tubuh rakyat yang disayat oleh penindasan.


메타데이터
post_id
aa243c0aae8f
slug
impotensi-intelektual-aa243c0aae8f
url
https://medium.com/@Chrizeva/impotensi-intelektual-aa243c0aae8f
canonical_url
https://medium.com/@Chrizeva/impotensi-intelektual-aa243c0aae8f
author_url
https://medium.com/@Chrizeva
status
ok
fetched_at
2026-07-13 20:46:58