← Back to list

Efisiensi yang Menghancurkan Ketahanan Internet

Medium error ? Belum tentu salah Medium

Wima S.Y in Berbagi & Berdampak · 2026-06-12 05:31 · 210 claps · 5.2 min read
#bahasa-indonesia #internet-outage #berbagi-dan-berdampak #esai #technology
Open on Medium ↗

Efisiensi yang Menghancurkan Ketahanan Internet

Medium error ? Belum tentu salah Medium

Photo by Christian Wiediger on Unsplash

Photo by Christian Wiediger on Unsplash

Apakah ada yang menyadari, beberapa hari atau minggu yang lalu Medium terasa lambat dan kesulitan menampilkan gambar ?

Atau sering di pagi hari, Medium perlu di refresh karena muncul kode 500 pada saat membuka aplikasi.

Permasalahan itu bisa jadi bukan dari Medium secara langsung. Medium tidak secara langsung melakukan pengiriman data ke laptop atau hp kita.

Sang Kurir : Content Delivery Network (CDN)

Medium menggunakan jasa CDN atau Content Delivery Network untuk mengirimkan konten ke pengguna yang tersebar di seluruh dunia.

CDN adalah infrastruktur global yang bertugas mendistribusikan konten dan aplikasi dari server pusat ke pengguna di berbagai sisi dunia dengan cepat.

Cara kerjanya, Medium cukup membuat server di satu lokasi saja, lalu menyewa jasa CDN. CDN ini yang bertugas mengirimkan konten-konten ke user yang tersebar di lokasi berbeda.

Perusahaan CDN memiliki infrastruktur yang masif, tersebar di seluruh dunia, dan biasanya mereka sengaja meletakan aset mereka, di lokasi operator atau ISP lokal yang digunakan baik di rumah, kantor atau HP.

Keuntungannya, pengguna akan merasa akses Medium sangat cepat, dan Medium tidak perlu punya infrastruktur secara global yang mahal untuk keperluan akses pengguna.

Konsep Sederhana Content Delivery Network

Konsep Sederhana Content Delivery Network

Lalu perusahaan CDN apa yang digunakan oleh Medium ?

Untuk memeriksanya cukup mudah, buka saja aplikasi Terminal, pada Windows dengan ‘cmd’ atau Terminal untuk MacOS. Lalu jalankan ‘ping medium.com

IPv6 medium.com

IPv6 medium.com

IPv4 medium.com

IPv4 medium.com

Dua gambar di atas, menunjukan alamat IP dari medium.com. Karena saya menggunakan ISP yang mendukung IP versi 6, IP yang ditampilkan adalah IP versi 6 [2606:4700:7::a29f:9804], tapi kalau ISP atau operator yang digunakan hanya mendukung IP versi 4, alamat IP yang keluar seperti gambar di bawah [162.159.152.4]

Alamat IP ini akan berubah-rubah, tidak selalu sama, tapi sekarang kita coba cari CDN yang digunakan Medium.

Caranya dengan membuka website bgp.he.net, kemudian copy paste IP yang didapatkan dari hasil ping, ke kolom search.

Halaman whois bgp.he.net

Halaman whois bgp.he.net

Halaman whois bgp.he.net

Halaman whois bgp.he.net

Alamat IP tersebut dimiliki oleh Cloudflare dan Medium menggunakan jasa CDN Cloudflare.

Jadi selama ini kita tidak berhubungan langsung dengan server Medium, tapi dengan server Cloudflare.

Dan masalah gambar Medium yang tidak muncul atau pesan 500, disebabkan Cloudflare beberapa kali mengalami gangguan.

Ketika Semua Bertumpu pada Satu Tiang

Penggunaan CDN, Cloud dan menyewa infrastruktur sudah menjadi standar umum oleh penyedia konten, bukan hanya Medium, Canva, Discord, X, ChatGPT, dan lain lain juga menggunakan jasa CDN.

Pembuat konten, menghilangkan server fisik, dan memilih untuk tidak mempunyai infrastruktur sendiri, untuk alasan efisiensi.

Mereka memilih menyerahkan infrastrukturnya ke perusahaan penyedia cloud dan cdn, seperti Amazon, Azure, Google Cloud, dan lain sebagainya, termasuk Akamai, Cloudflare dan Fastly.

Dari sisi bisnis, mereka tidak membeli infrastruktur, tapi mereka membeli hasil infrastruktur. Cloudflare, AWS, Google Cloud, sudah membangun dengan skala yang tidak bisa ditandingi oleh siapapun saat ini dan karena skalanya yang masif, harganya justru lebih murah. Ini adalah economies of scale dalam bentuk paling murni.

Menurut data CDN07, saat ini sekitar 50% dari seluruh lalu lintas internet global melewati gabungan Akamai dan Cloudflare. Amazon Web Service, meng-host sekitar sepertiga dari seluruh infrastruktur cloud dunia.

Karena itu pilihan paling masuk akal bagi hampir setiap perusahaan untuk melakukan efisiensi.

Tapi itu membuat satu masalah baru, masalah ketergantungan terhadap satu perusahaan.

Pola yang Berulang

Dulu Google, sebelumya AWS, Akamai, dan barusan saja Cloudflare dan Fastly

Internet lumpuh, manusia panik, banyak aplikasi dan website penting tidak dapat di akses.

Ketika AWS down, internet seperti kembali ke jaman kegelapan. Ketika Cloudflare down, jutaan web tidak dapat di akses. Ketika Google down, internet seperti kehilangan arah.

Mungkin kalimatnya sedikit retoris, tapi memang terjadi.

Bulan Juni 2021, Fastly down sekitar 49 menit, dan melumpuhkan Reddit, NYT, BBC, secara bersamaan.

Bulan Nopember 2025, X, Spotify, ChatGPT, Medium terganggu akibat kesalahan bot manajemen Cloudflare.

Terlihat sekali, bahwa internet sangat rapuh, infrastruktur internet modern, tersentralisasi secara masif kepada beberapa entitas saja.

Tapi ini bukan tanpa di sengaja, ini adalah bagaimana internet modern bekerja, berevolusi secara strategis membangun jaringan internet.

Mengapa memilih menjadi rapuh ?

Masalah utamanya adalah segelintir perusahaan tersebut memiliki teknologi yang berhasil memecahkan masalah dasar internet, yaitu skalabilitas, kehandalan dan kemudahan akses.

Penyedia konten seperti Medium, melihat ini sebagai sebuah solusi yang sangat rasional.

Skala Ekonomi yang Murah

Mereka membangun infrastruktur yang sangat kompleks dengan skala masif secara global, membuat mereka belum tertandingi untuk masalah performa, efektifitas, biaya dan kelebihan kelebihan lain.

Itu membuat mereka menjadi pilihan utama, karena lebih murah menyewa infrastruktur dibandingkan memiliki sendiri.

Layanan yang dimiliki oleh AWS dan Cloudflare, begitu beragam dan bermacam-macam, dan sangat dibutuhkan oleh perusahaan internet, yang akan menjadi sangat mahal dan sulit jika mereka ingin membangun sendiri.

Membangun data center, dan investasi pada perangkat server, storage, network, security dan bandwidth internet dengan kapasitas besar, sangat mahal dan tidak praktis.

Cloudflare dan AWS, sudah membangun sejak awal, dengan skala ke ekonomisan yang sangat tinggi, sehingga menyewa layanan mereka adalah pilihan paling murah.

Pemindahan Risiko

Selain faktor efisiensi biaya, Google Cloud, AWS dan Cloudflare menawarkan security yang sangat baik untuk layanan-layanan mereka.

Pengawasan aktif 24 jam, deteksi real time, mitigasi keamanan dengan berbagai standard security dengan spesifikasi tertinggi, menjadi kelebihan yang tidak bisa dicapai oleh entitas lain.

Bila perusahaan membangun infrastruktur mereka sendiri, semua masalah yang menimbulkan gangguan akan menjadi tanggung jawab mereka sendiri, dan perusahaan tidak menyukai kondisi ini.

Secara bisnis, lebih layak jika semua risiko tersebut dipindahkan kepada pihak lain, seperti Cloudflare dan AWS.

Tapi semua kelebihan-kelebihan itu bukan tanpa konsekuensi. Perusahaan cloud dan CDN, menjadi titik konsentrasi resiko dan masing-masing menjadi sumber risiko sistemik.

Beberapa komunitas internet, ahli keamanan internet, dan pembuat kebijakan, menganggap ini adalah risiko sistemik terbesar yang bisa melumpuhkan internet.

Secara teknis, ada beberapa pendekatan untuk mengatasi ini. Beberapa penyedia konten mulai menggunakan multi cloud dan multi cdn.

Tapi faktor ekonominya melawan semua itu. Multi cloud dan multi cdn lagi-lagi menjadi mahal. Kemungkinan kejadian yang sangat kecil dibanding biaya yang besar, membuat efektifitas multi cloud dan multi cdn dipertimbangkan kembali.

Selama itu benar, konsolidasi akan terus terjadi, bukan karena ada yang memaksanya, tapi karena itulah yang terjadi ketika jutaan aktor independen membuat keputusan yang sama-sama rasional.

Ketergantungan kepada Cloudflare dan AWS, berisiko membuat internet menjadi sebuah sistem tersentral yang sangat rapuh, dimana kesalahan kecil, dari salah satu entitas akan berpengaruh kepada kondisi internet global secara umum.

Dunia bisnis memilih efisiensi, skalabilitas, dan kehandalan, dan menukarnya dengan risiko single point of failure ke sedikit entitas.

Pertanyaan besarnya sekarang, apakah kita sebagai pengguna, pembuat kebijakan, atau pengelola layanan, sudah cukup sadar dengan kerapuhan tersembunyi ini ? dan sudah siap dengan konsekuensinya ?

Internet modern adalah jaringan yang didesain dengan sistem desentralisasi, untuk tahan terhadap perang nuklir, kini justru berevolusi menjadi sistem yang tersentralisasi yang rentan terhadap gangguan di satu kantor di sebuah kota mungkin di New York, Virginia, atau Mumbai.

Itu ironi yang perlu kita sadari dan mungkin, sekarang mulai diperhitungkan.


메타데이터
post_id
aa2ae84bfcda
slug
efisiensi-yang-menghancurkan-ketahanan-internet-aa2ae84bfcda
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/efisiensi-yang-menghancurkan-ketahanan-internet-aa2ae84bfcda
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/efisiensi-yang-menghancurkan-ketahanan-internet-aa2ae84bfcda
author_url
https://medium.com/@wimasy
status
ok
fetched_at
2026-07-09 00:50:33