Gerbong dan Cerita Akhir Pekan
Jakarta, 28 Agustus 2025
Gerbong dan Cerita Akhir Pekan
Jakarta, 28 Agustus 2025
Terjadi peristiwa kemanusiaan di tengah-tengah rakyat yang sedang menyuarakan aspirasi menentang kenaikan tunjangan DPR RI. Alih-alih di dengar justru mereka yang di tuntut malah menjadikan aksi ini tontonan belaka. Aparat bertindak semakin represif, menurut mereka menyerbu masa denga rantis adalah bentuk pembelaan untuk membubarkan masa yang kian anarkis. Ratusan manusia tentu saja akan tetap kalah dengan satu kendaraan terbuat dari baja dan akan lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Aparat tidak mau tau, manusia manapun yang menghalangi jalannya akan dilabas tanpa ampun. Konotasi yang kemudian menjadi realita, seorang Affan Kurniawan yang hendak mengatarkan pesanan makanan daring tak sengaja terjebak dalam kerumunan masa yang sedang menghindari rantis. Kakinya tak sengaja tersandung kaki yang lain tepat di depan rantis aparat dan seorang Affan dilindas ditempat. Rakyat marah, seolah harga sebuah nyawa di negeri ini tidak berharga. Focus teralihkan, rakyat tak lagi membahas tuntutan pada DPR tapi menyerang aparat. Aparat arogan menyebut itu adalah aksi bela diri. Semua pejabat sibuk meminta maaf atas nyawa yang hilang malam itu, tapi mereka lupa kejadian itu bersumber dari mereka. Rakyat dan aparat dikorbankan untuk melegalkan kepentingan memperkaya diri sendiri. Belum lagi narasi sumpah serapah dari para dewan yang (tidak) terhormat menyebut rakyat yang dengan sebutan tolol dan kata kata kasar lainnya. DPR artinya Dewan Perwakilan Rakyat lantas rakyat mana yang mereka wakilkan sebenarnya
Bandung, 1 Setember 2025
Minggu-minggu belakangan ini rasanya kepalaku penuh sekali. Negeri sedang tidak baik baik saja dan sepertinya aksi masa saat ini adalah puncak dari segala kekecewaan.
Fyuh
Aku menarik nafas dalam, melihat pemberitaan di kanal media sosial membuat hati semakin dagdigdug tak karuan. Ada marah, kesal dan tentu saja sedih dengan kondisi ini, terbayang akan jadi apa negeri ini di masa depan. Apakah negeri ini akan tetap bisa jadi tempat yang layak untuk generasi berikutnya? Ah semoga saja hanya ada dalam fikiranku
Pukul 6.30 aku sudah tiba di Stasiun Rancaekek untuk menaiki kereta Commuterline Bandung Raya. Rutinitas yang sudah kujalani kurang lebih 3 tahun ini, menuju tempatku bekerja di Kota Bandung. Bersama 500 orang lainnya kami beradu cepat agar bisa mendapatkan tempat duduk di dalam kereta. Commuterline Bandung Raya masih menggunakan rangkaian kereta yang tempa duduknya berhadap hadapan dengan kofigurasi 2–2 dan 3–3 atau mudahnya lutut bertemu lutut ketika duduk hehe
Kereta; moda transportasi umum yang bisa dibilang masih cukup diminati oleh warga pinggiran Kota Bandung. Selain karena harga tiketnya yang masih sangat terjangkau, kereta juga mampu mempersingkat waktu tempuh menuju pusat kota tanpa harus bermacet-macetan.
Masinis meniup peluit panjang tanda kereta siap di berangkatkan. Siap membawa kami para penjemput rezeki menuju tempat kami bekerja. Menurutku, kereta adalah cerminan rakyat yang setara tanpa memandang status sosial. Bersama-sama duduk dan tentu saja berdesakan tanpa memandang rendah satu sama lain. Tidak ada yang di istimewakan tapi empati mengalir dengan sendirinya. Saling berbagi kursi meskipun hanya mendapat tempat duduk sedikit, saling berkelakar bertukar cerita kehidupan dan terkadang saling berbagi makanan kecil. Banyak canda tawa juga obrolan dari gurauan sampai serius terjadi di kereta.
Pagi ini suasana dikereta cukup lengang dan sedikit hening. Tidak terdengar canda tawa dan hanya sesekali terdengar obrolan pelan dari para penumpang. Beberapa penumpang terlihat menatap kosong keluar jendela dan seorang bapak yang menyalakan suara di handphone nya agak keras. Suaranya terdengar oleh satu gerbong. Beliau sedang mendengarkan berita berita tentang aksi unjuk rasa yang ricuh dimana mana. Terdengar hembusan nafas dalam dari orang disebelahku, mungkin dia lelah dengan apa yang sedang terjadi. Percakapan mengenai aksi unjuk rasa mulai terdegar, kebanyakan orang mendukung dan berterimakasih pada masa aksi yang sudah meluangkan waktunya untuk menyuarakan keresahan rakyat. Aku hanya jadi pendengar dan tidak sedang ingin berkomentar apa-apa, bukan karena apatis tapi tidak tahu harus berkomentar apa.
Ingatanku menyelam ke masa lalu, saat pertama kali di perkenalkan tentang bagaimana politik bekerja dan bagaimana proses sampai akhirnya aksi unjuk rasa bisa terjadi. Sebagai orang yang dulu lantang turun ke jalan rasanya jiwa pemberontak ini muncul kembali, tapi saat ini cukup jadi berisik di media sosial. Peristiwa kemanusiaan yang terjadi di Jakarta kemarin cukup membuat nyali menciut untuk kembali turun kejalan. Bukan karena jadi pecundang tapi hari ini ada manusia lain yang dunianya hanya aku. Hari ini aku sedang mempersiapkan pemuda masa depan yang lantang pada kebenaran agar tidak ada lagi Affan-Affan lain yang jadi korban para manusia rakus yang berlindung di balik kata “wakil rakyat”
Tidak terasa kereta tiba di stasiun tujuanku. Aku dan banyak orang lainnya turun dari kereta dan bersiap kembali menjalani hari ini dengan berusaha semangat. Hidup hari ini tidak mudah tapi aku dan rakyat yang lainnya tidak akan berhenti hidup hanya karena di pecundangi orang-orang licik itu.
Segera pulih negeriku, sungguh aku tidak membencimu.
메타데이터
- post_id
- aa467403efda
- slug
- gerbong-dan-cerita-akhir-pekan-aa467403efda
- url
- https://medium.com/@raran.ranti/gerbong-dan-cerita-akhir-pekan-aa467403efda
- canonical_url
- https://medium.com/@raran.ranti/gerbong-dan-cerita-akhir-pekan-aa467403efda
- author_url
- https://medium.com/@raran.ranti
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01