← Back to list

Melanglang di Ranah Minang

Rinai hujan menyapa lembah Harau, membasahi tanahnya dengan lembut, sementara langit masih enggan melepas selimut abu-abu yang menggantung…

Berliannisa Farah · 2026-03-10 16:06 · 0 claps · 4.8 min read
#travel-writing #padang #west-sumatra
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✈️ · Travel

Melanglang di Ranah Minang

Rinai hujan turun dengan ritme yang tenang, menyapa permukaan tanah Harau yang haus dan membasuh dedaunan hingga nampak hijau berkilauan. Di atas sana, langit sore masih enggan beranjak dari peraduannya, bersikukuh menyelimuti cakrawala dengan hamparan kelabu yang menggantung rendah. Di balik kaca mobil yang mulai berembun, aku dan keluarga besar merajut asa, membayangkan kehangatan sebuah vila yang akan menjadi muara istirahat kami malam nanti. Namun, pesona Lembah Harau di akhir pekan bukanlah rahasia yang tersimpan rapat. Realitas keramaian pun menyergap; jalur berkelok yang seharusnya sunyi kini berubah menjadi panggung antrean panjang. Mobil yang kami tumpangi terpaksa merayap, berjuang inci demi inci di antara deretan kendaraan besi yang seolah memiliki satu denyut nadi yang sama: menuju jantung lembah yang megah.

Suasana vila di dekat Lembah Harau. (Koleksi pribadi penulis)

Suasana vila di dekat Lembah Harau. (Koleksi pribadi penulis)

Hujan turun kian deras saat kami tiba di pelataran vila. Satu per-satu dari kami pun turun dari mobil, bergegas menepi dari tirai hujan yang belum juga reda. Mas Uzi, kakak iparku, segera menuju resepsionis untuk melakukan check-in sekaligus memastikan kondisi vila. Namun, semesta seolah enggan berkompromi; padamnya listrik seketika menyisakan temaram yang mencekam, sementara anak tangga menuju lantai atas yang terpapar hujan telah menjelma menjadi titian licin yang mengancam — sebuah kejadian yang benar-benar di luar bayangan kami. Mas Uzi mencoba meminta tambahan keset atau alas agar tangga tidak terlalu licin, harapannya sederhana: sekadar menjaga keselamatan. Sayangnya, permintaan itu justru disambut dengan nada menyolot. Pihak vila menolak dengan sikap yang terasa dingin, bahkan menilai kami terlalu menuntut. Yang disebut-sebut sebagai pemilik pun ikut bersuara keras, melontarkan kata-kata yang menyiratkan bahwa kami tak dianggap berarti — bahkan menyarankan kami mencari penginapan lain jika tidak puas. Kecewa dan lelah yang beradu membuat suasana kian getir. Alih-alih memaksakan diri dalam ketidaknyamanan, kami sekeluarga sepakat untuk berbalik arah. Malam yang semula kami bayangkan akan hangat oleh canda tawa, kini justru dimulai dengan perjalanan panjang mencari tempat berteduh yang baru.

Kala mentari telah terlelap di balik cakrawala dan mobil kami perlahan meninggalkan sunyinya Harau, secercah harapan tiba-tiba muncul membasuh ragu. Seorang kerabat berbaik hati meminjamkan rumahnya yang ada di Bukittinggi sebagai tempat kami berteduh. Namun, perjalanan ke sana bukanlah perkara mudah; di tengah riuhnya arus mudik lebaran, kami pun merayap dalam kemacetan menuju kota itu.

Sebelum sampai di rumah tujuan, kami sempatkan waktu untuk singgah di Pasar Ateh dan Jam Gadang. Riuhnya pedagang kaki lima dan penjual mainan di sana membangkitkan memori akan suasana Alun-Alun Kidul Yogyakarta — hidup, hangat, dan penuh warna. Malam itu, kami menutup hari dengan sederhana: menikmati pemandangan kota Bukittinggi ditemani renyahnya kerupuk kuah yang melegenda.

Jam Gadang pada malam hari. (Koleksi pribadi penulis)

Jam Gadang pada malam hari. (Koleksi pribadi penulis)

Kerupuk kuah khas Padang. (Koleksi pribadi penulis)

Kerupuk kuah khas Padang. (Koleksi pribadi penulis)

Keesokan paginya, kami kembali ke Pasar Ateh di bawah sengatan matahari yang garang. Para tetua ingin membeli oleh-oleh, katanya. Ribuan manusia berdesakan, menciptakan suasana yang cukup overwhelming. Namun, semua itu terbayar saat kami berdiri bersama di depan Jam Gadang yang ikonik untuk mengabadikan momen. Monumen jam itu memiliki dua wajah yang berbeda; magis di bawah lampu malam, namun tampak megah dan anggun saat dipeluk cahaya siang.

Jam Gadang pada siang hari. (Koleksi pribadi penulis)

Jam Gadang pada siang hari. (Koleksi pribadi penulis)

Kami tidak menghabiskan banyak waktu di sana, perjalanan pun berlanjut menuju Puncak Lawang di Kabupaten Agam. Di sini, alam menyuguhkan kontras yang luar biasa. Jika Jam Gadang terasa gerah, Puncak Lawang menyambut kami dengan pinus yang menjulang dan selimut kabut yang tenang. Aroma petrikor yang khas meresap ke indra penciuman, memberi kesegaran instan bagi jiwa yang lelah. Meski harus menapaki ratusan anak tangga demi menyapa “negeri di atas awan”, rasa lelah itu seketika luruh saat kepulan uap dari semangkuk mi instan panas dan gorengan menemani kami di tengah hawa dingin yang menusuk. Sebuah kenikmatan yang jujur, tiada tanding.

Suasana di Puncak Lawang, Kabupaten Agam. (Koleksi pribadi penulis)

Suasana di Puncak Lawang, Kabupaten Agam. (Koleksi pribadi penulis)

Senja mulai merayap turun, melukis semburat jingga yang menandakan waktu kami di Agam telah usai. Mengingat perjalanan lintas kabupaten menuju Kota Padang yang cukup menyita waktu, kami pun bergegas memacu kendaraan, berkejaran dengan kepadatan arus lalu lintas demi bisa merebahkan diri lebih awal. Sekitar pukul sembilan malam, roda mobil akhirnya berhenti di pelataran sebuah hotel, tempat kami beristirahat malam ini. Bangunannya yang apik dan suasananya yang tenang seketika menjadi penawar lara — sebuah kompensasi yang manis atas drama kegagalan menginap di Lembah Harau kemarin.

Namun, alih-alih langsung terlelap dalam buaian mimpi, salah satu ruang kamar kami justru berubah menjadi panggung keriuhan. Sebelum raga menyerah pada penat, sebuah rencana besar telah menanti: permainan gacha keluarga. Sederet tali panjang telah disiapkan, menjulur misterius menuju tumpukan amplop dan bingkisan. Di ujung tali-tali itu, nasib kami dipertaruhkan; ada amplop tebal berisi lembaran uang dengan nominal beragam, ada amplop kosong yang hanya berisi harapan, dan ada pula camilan bagi yang kurang beruntung. Permainan ini murni tentang ketajaman insting dan besarnya dukungan dewi fortuna pada kami.

Suasana kamar yang semula sunyi kini pecah oleh tawa dan sorak-sorai yang riuh. Ketegangan saat menarik tali berganti menjadi ledakan tawa setiap kali isi amplop terungkap. Aku sendiri, dengan sisa-sisa keberuntungan hari itu, berhasil membawa pulang amplop berisi dua belas ribu rupiah. Meski nominalnya sederhana, gelak tawa yang menyertainya jauh lebih berharga — hitung-hitung sebagai tambahan THR yang manis untuk menutup hari yang panjang. Di tengah canda tawa itu, segala lelah perjalanan seolah luruh, tergantikan oleh hangatnya kebersamaan yang tak ternilai harganya.

Foto bersama keluarga setelah bermain games. (Koleksi pribadi penulis)

Foto bersama keluarga setelah bermain games. (Koleksi pribadi penulis)

Usai keriuhan permainan gacha mereda, kami pun beranjak kembali ke peraduan masing-masing. Namun, tepat sebelum kantuk menjemput, kakakku melontarkan tawaran yang mustahil untuk ditolak: memesan Sate Padang melalui aplikasi daring. Tentu saja tawaran itu kusambut dengan binar di mata — sebab apalah arti singgah di Kota Padang tanpa menyesap keaslian rasa Sate Padang di tanah asalnya? Mengingat lambung ini terakhir kali terisi saat senja di Puncak Lawang, kepul asap dari seporsi Sate Padang yang tiba dalam waktu singkat itu terasa seperti anugerah di tengah malam yang kian lengang.

Hari yang penuh warna ini pun kututup dengan khidmat, menikmati tiap tusuk sate yang kaya cita rasa ini sebagai simbol paripurna dari petualangan kami di Ranah Minang. Sungguh, perjalanan keluarga kali ini telah terukir menjadi salah satu memori paling berkesan bagi diriku; di balik segala keriuhan, canda tawa, hingga kejutan-kejutan tak terduga yang mewarnainya, terselip rasa syukur yang mendalam karena telah menjadi bagian dari kepingan cerita ini. Aku pun melangitkan doa dalam hati, semoga di waktu mendatang, semesta kembali merestui langkah kami untuk merajut kisah-kisah perjalanan baru yang tak kalah menyenangkan. Aamiin.


메타데이터
post_id
aa6fce4a4d20
slug
melanglang-di-ranah-minang-aa6fce4a4d20
url
https://medium.com/@berliannfarah/melanglang-di-ranah-minang-aa6fce4a4d20
canonical_url
https://medium.com/@berliannfarah/melanglang-di-ranah-minang-aa6fce4a4d20
author_url
https://medium.com/@berliannfarah
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13