Suatu Hari Bersama Teman-teman
Saya ceritakan tentang hari itu
Suatu Hari Bersama Teman-teman
Saya ceritakan tentang hari itu
Photo by Liana S on Unsplash
Di suatu malam, saya dan teman-teman saya duduk disebuah kursi dekat parkiran dengan bermaksud menunggu hujan reda. Sebagai konteks, sebelumnya kami sudah membuat janji untuk bermain, dan hari itu kami bermain dari jam 2 siang. Dari jam 2 siang hingga malam, kami belum makan, selama bermain kami hanya minum, dan itu cukup menahan perut kami untuk tidak lapar. Walaupun begitu, minum saja tidak cukup kuat untuk menahan lapar lebih dari 5 jam. Kami merencanakan untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang, namun kami juga harus menunggu hujan reda terlebih dahulu.
Ketika hujan sudah mulai reda, kami mulai membicarakan mau makan apa dan di mana? Cukup lama kami mendiskusikannya, akhirnya makan Mie Gacoan jadi pilihannya. Tidak, tulisan ini tidak disponsori oleh Mie Gacoan, tapi kalau Mie Gacoan mau, boleh.
Pada saat itu sebenarnya saya tidak terlalu pengin makan Mie Gacoan, hanya saja saya tidak bilang kepada teman-teman saya. Bukan karena Mie Gacoan tidak enak, tapi karena saya tidak mau menunggu lama-lama buat dapetin makanannya, karena sudah cukup lapar. Sebab, dulu ketika makan Mie Gacoan di tempat, harus antre dulu cukup panjang menurut saya, dan belum lagi harus menunggu makanannya datang setelah dipesan.
Namun, pada akhirnya, saya ngikut teman-teman saya saja, karena saya tidak punya banyak referensi tempat makan. Selain itu, dilihat dari wajahnya, teman-teman saya juga sepertinya memang lagi pengin makan Mie-Miean. Sepertinya.
Beranjaklah kami dari kursi menuju motor kami masing-masing, dan berangkatlah kami menuju Mie Gacoan. Mie Gacoan yang pertama kami kunjungi penuh dan antre sangat panjang, juga tidak ada meja kosong untuk kami makan di sana, akhirnya kami pindah ke Mie Gacoan di cabang yang lain. Saya tidak tahu ada berapa cabang Mie Gacoan di kota saya, karena saya jarang makan mie Gacoan ke tempatnya langsung dan jarang keliling kota juga. Tapi yang jelas, sekarang saya tahu ada setidaknya dua cabang Mie Gacoan di kota saya.
Cabang Mie Gacoan yang kami kunjungi berikutnya tidak terlalu ramai, walaupun antreannya menurut saya tetap panjang, tapi setidaknya ada meja kosong untuk kami makan di tempat.
Sejujurnya saya sudah cukup lapar ketika masih menunggu hujan reda di kursi dekat parkiran, dan ketika harus berpindah tempat dari cabang Mie Gacoan satu ke cabang yang lain membuat saya jadi sangat lapar. Entah apa yang ada pikiran teman-teman saya, sedang lapar-laparnya malah memilih tempat yang jelas-jelas kita tidak akan mendapat makanan dengan cepat. Padahal sebenarnya bisa saja kita makan nasi goreng di pinggir jalan atau makan indomie di Warmindo, kita akan mendapatkan makanan lebih cepat disitu.
Mungkin hanya saya saja yang berpikiran seperti itu, karena saya orangnya emang gak mau ribet, atau malas ngantre ya sebenernya? Mungkin kalau bukan karena teman, keluarga, pacar (sekarang si belum punya), dan pengin-pengin bangetmah, saya tidak mau makan di tempat yang antrean pesanannya panjang. Ada yang bisa didapetin cepat kenapa harus yang lama. Ya.. walaupun rasanya pasti berbeda, tapi setidaknya rasa lapar kita cepat teratasi.
Setelah lumayan lama menunggu, mungkin sekitar 30 atau 40 menitan dari teman saya mulai mengantre sampai makanan diantarkan, akhirnya kami bisa menyantap makanannya. Tidak perlu waktu lama bagi kami untuk menghabiskan makanannya, mungkin hanya sekitar 10–15 menitan. Karena malam sudah mulai larut, selepas makan, kami langsung berpisah pulang.
메타데이터
- post_id
- aa78fdcadc7b
- slug
- suatu-hari-bersama-teman-teman-aa78fdcadc7b
- url
- https://medium.com/@ammarjaelani/suatu-hari-bersama-teman-teman-aa78fdcadc7b
- canonical_url
- https://medium.com/@ammarjaelani/suatu-hari-bersama-teman-teman-aa78fdcadc7b
- author_url
- https://medium.com/@ammarjaelani
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 22:23:26