Buat Apa Bekerja?
Sudah pasti setiap orang yang membutuhkan uang akan memiliki keinginan untuk mencari uang tersebut.
Buat Apa Bekerja?
Sudah pasti setiap orang yang membutuhkan uang akan memiliki keinginan untuk mencari uang tersebut.
Kalau tidak ada uang, bagaimana makan.
Kalau tidak ada uang, bagaimana berkeluarga.
Kalau tidak ada uang, bagaimana beraktivitas lainnya.
Seolah-olah uang merupakan aset yang membuat semua aktivitas jadi memungkinkan.

Sumber : http://www.financialsumo.com/am-i-investing-in-a-business-or-a-job/
Sedikit ingin membahas mengenai dunia perbisnis-an.
Pada gambar di atas terlihat bahwa terdapat empat kuadran bagaimana memperoleh uang. Bisa menjadi employee (pekerja), self-employed (bekerja untuk diri sendiri), business owner (pemilik bisnis), dan investor (penanam bisnis).
Banyak teman Penulis yang sudah bergelut dalam dunia perbisnis-an, seperti menjadi business owner terkait properti rumah, employee terkait agent bisnis pabrik, self-employed terkait menjadi CEO bisnis alat kimia, bahkan investor terkait emas dan saham.
.
Sebagai manusia yang mempunyai metode berpikir berbeda, alias terlalu idealis dan filosofis, untuk apa sebenarnya Penulis bekerja?
Tujuan murni apakah dibalik semua itu?
Saya mengerti kalau saya bekerja untuk mencari uang demi kelancaran aktivitas saya termasuk membahagiakan orang tua, calon istri, anak, dll, tetapi apakah hanya sebatas itu? Sebatas mencari kesenangan dan kepuasan dunia? Lalu what is in the end of it?
.
Segala puji syukur bagi Tuhan yang telah memberikan spoiler melalui kitab-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)
Potongan ayat di atas telah menjawab pertanyaan sejuta filosofis-filosofis di luar sana yang bahkan sampai meninggal mereka belum menemukan jawabannya. Tujuan hidup semurni-murninya untuk beribadah kepada-Nya.
Beribadah ada berbagai macam bentuk. Ibadah utama kita sesuai rukun islam yakni Melaksanakan Syahadat, Shalat, Puasa, Dzakat, Haji. Ibadah tersebut harus didasari karena rukun iman, yakni iman kepada Allah, Malaikat, Rasul, Kitab-Nya, Kiamat, dan Takdir.
Kalau tidak ada kepercayaan atas itu semua berarti sama saja kita tidak percaya dengan Islam, sesederhana itu.
Dunia sendiri bukan tempat yang dipandang kotor karena kegemerlapannya. Terkadang manusia yang baru mendalami agama, memandang kalau dunia terlalu banyak sia-sianya, apalagi memandang remaja dan orang dewasa jaman sekarang.

Kemaksiatan yang dilakukan, kekotoran yang ditebarkan dan kejelekkan yang diumbarkan membuat saya muak ketika memperhatikan dunia dan terlibat di dalamnya.
Namun jika memperhatikan lebih dalam lagi, untuk apa kita diturunkan ke dunia jika tidak ada tujuan? Tidak mungkin tidak ada tujuan.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “ Aku hendak menjadikan khalifah*) di bumi “ Mereka berkata, “ Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “ Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Q.S. Al Baqarah ayat 30)
Potongan ayat di atas lagi-lagi telah menjawab tujuan kita di dunia sebagai manusia, yakni menjadi khalifah.
Apa itu Khalifah?
Khalifah adalah gelar yang diberikan untuk pemimpin umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (570–632). Kata “Khalifah” (خليفة Khalīfah) sendiri dapat diterjemahkan sebagai “pengganti” atau “perwakilan”. Pada awal keberadaannya, para pemimpin Islam ini menyebut diri mereka sebagai “Khalifat Allah”, yang berarti perwakilan Allah (Tuhan). Akan tetapi pada perkembangannya sebutan ini diganti menjadi “Khalifat rasul Allah” (yang berarti “pengganti Nabi Allah”) yang kemudian menjadi sebutan standar untuk menggantikan “Khalifat Allah”. Meskipun begitu, beberapa akademisi memilih untuk menyebut “Khalīfah” sebagai pemimpin umat Islam tersebut. (Sumber : http://santdres.blogspot.com/2012/06/apakah-yang-dimaksud-khalifah-dalam.html))
Sudah jelas bahwa Khalifah bertugas untuk berdakwah.
Apa itu berdakwah?
Definisi tersebut khususnya di Indonesia, sudah pasti bersifat asing dan aneh bagi beberapa manusia. Dakwah bisa dikaitkan dengan khotbah di mimbar, atau mengangkat2 poster di jalan, atau bahkan ngebom diri sendiri untuk ber’jihad’.
Padahal, makna dakwah itu sangat luas.
Secara etimologi Dakwah berasal dari bahasa Arab yang دعا-يدعو menjadi bentuk masdar دعوة yang berarti Seruan, Ajakan, atau Panggilan. Seruan yang digunakan dalam Dakwah bertujuan untuk mengajak seseorang baik dalam melakukan sesuatu kegiatan atau dalam merubah pola serta kebiasaan hidup. Dari kata Seruan, Dakwah memiliki banyak arti yang bisa digunakan secara luas tidak hanya dalam Agama, dimana kata Dakwah sering digunakan namun Seruan yang diberikan bisa dimaknai dalam hal positif maupun negatif. (Sumber : https://www.eurekapendidikan.com/2015/11/pengertian-dakwah-dalam-pandangan-hukum.html))
Dakwah ada banyak bentuknya;
Berperilaku baik, ramah, dan sabar itu termasuk berdakwah. Menunjukkan kalau sesungguhnya Islam adalah agama yang bermoral, dengan tujuan untuk semakin mendekatkan orang-orang dengan Tuhan.
Bekerja seharian dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat agar mereka bisa makan, minum dan beribadah, itu juga termasuk berdakwah, dengan tujuan untuk mendekatkan orang-orang dengan Tuhan.
Bekerja sebagai tukang masak dalam rangka memenuhi kebutuhan makan orang agar bisa beribadah, itu juga termasuk berdakwah, dengan tujuan untuk untuk mendekatkan orang-orang dengan Tuhan.
Membuat tulisan tentang agama untuk mencegah kekeliruan yang dibuat media, itu juga termasuk berdakwah, dengan tujuan untuk semakin mendekatkan orang-orang dengan Tuhan.
Apalagi menolong orang yang membutuhkan di rumah sakit, panti asuhan, pedesaan, dan dimanapun, itu juga termasuk berdakwah, dengan tujuan untuk semakin mendekatkan orang-orang dengan Tuhan.
Apakah polanya disini sudah kelihatan?
.
.
Konklusi :
Sampai tahap ini, kita dapat menghubungkan garis antara berdakwah dan bekerja.
Apapun pekerjaan yang kita dapatkan sesuai usaha kita, harus ditujukan dalam rangka untuk berdakwah karena Tuhan. Berdakwah dalam arti memperkenalkan Tuhan dan memudahkan manusia agar semakin mengenal Tuhan-nya. Hanya saja jangan lupa berniat untuk melakukan pekerjaan tersebut hanya karena Allah SWT.
.
Pontianak, 3 Agustus 2018
ditulis oleh Penulis yang membutuhkan tujuan untuk bekerja.
메타데이터
- post_id
- aa98bb03f07d
- slug
- buat-apa-bekerja-aa98bb03f07d
- url
- https://medium.com/@afadius/buat-apa-bekerja-aa98bb03f07d
- canonical_url
- https://medium.com/@afadius/buat-apa-bekerja-aa98bb03f07d
- author_url
- https://medium.com/@afadius
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-30 01:32:40