Sungai yang Semakin Diam: Jejak Kerusakan Ekologi di Mimika
Air Sungai Ajkwa pagi itu tampak lebih pekat dari biasanya. Warna cokelat gelapnya bergerak lambat, seolah membawa sesuatu yang berat. Di…
Sungai yang Semakin Diam: Jejak Kerusakan Ekologi di Mimika

Air Sungai Ajkwa pagi itu tampak lebih pekat dari biasanya. Warna cokelat gelapnya bergerak lambat, seolah membawa sesuatu yang berat. Di tepian Kampung Iwaka, Yohana Kogoya berdiri sambil menggulung lengan bajunya. “Dulu kami minum dari sini. Sekarang mandi saja bikin gatal,” katanya sambil memperlihatkan bekas iritasi di siku. Ia tahu air itu tak lagi sama, tetapi pilihan warga terbatas. Sumur-sumur di kampung pun mulai mengeluarkan bau logam.
Selama beberapa pekan penelusuran di beberapa titik wilayah Mimika, perubahan sungai terlihat jelas: dasar sungai makin dangkal, aliran bercabang, dan gundukan sedimen membentuk pulau kecil yang sebelumnya tidak ada. Warga menyebutnya “tanah tumbuh”, tanda bahwa laju sedimentasi meningkat. “Ini baru muncul dua tahun lalu,” ujar Markus Tekege, nelayan sekaligus pencari kepiting. “Ikan makin sedikit, kepiting pun menjauh.”
Dokumen pemantauan lingkungan menunjukkan bahwa aktivitas tambang emas di kawasan hulu menghasilkan volume tailing yang sangat besar. Pada masa produksi tertentu, debit limbah yang dialirkan ke sistem pengendalian tailing tercatat bisa mencapai 200 ribu ton per hari, angka yang pernah disebut dalam laporan lembaga lingkungan internasional. Volume ini menjadikan Mimika sebagai salah satu wilayah dengan produksi tailing terbesar di Asia Pasifik.
Sedimentasi masif itu mengubah pola aliran sungai dan menghancurkan habitat biota air. Kajian BRIN tahun 2023 menemukan bahwa keanekaragaman ikan di Sungai Ajkwa menurun lebih dari 40 persen dibandingkan dua dekade lalu. Spesies asli yang sensitif terhadap perubahan kualitas air, seperti ikan pelangi Papua, sudah jarang terlihat di hilir sungai. Data dari WALHI Papua juga menunjukkan bahwa tutupan hutan di sekitar jalur sungai menyusut hingga 3.000 hektare sejak 2019 akibat pembukaan area penunjang tambang dan perluasan jalur transportasi.
Kerusakan hutan memperburuk situasi. Tanah terbuka menjadi lebih rentan terkikis, terutama saat hujan ekstrem. Dalam lima tahun terakhir, BMKG mencatat peningkatan curah hujan tinggi di Papua Tengah sebesar 20–30 persen. Ketika hujan deras turun, lumpur dan sedimen dari area hulu terbawa masuk ke sungai, menyebabkan perubahan warna air dan penumpukan material. “Kalau hujan beberapa jam, air langsung berubah cokelat tua,” kata seorang pemuda Iwaka yang ikut mengantar saat meninjau lokasi.
Perusahaan tambang mengklaim bahwa sistem pengelolaan tailing sudah sesuai standar. Mereka menyebut pemantauan kualitas air dilakukan secara berkala dan hasilnya tidak menunjukkan kondisi berbahaya. Namun beberapa akademisi meragukan transparansinya. Seorang peneliti hidrologi dari Universitas Cenderawasih menyatakan bahwa publik hanya menerima data yang sudah dirangkum oleh pihak perusahaan. “Tidak ada verifikasi independen yang benar-benar bisa diakses,” katanya.
Di level pemerintah, kewenangan pengawasan lingkungan sebenarnya ada. Namun laporan audit dan evaluasi kualitas air beberapa tahun terakhir belum dipublikasikan secara lengkap. Seorang pejabat di Dinas Lingkungan Hidup Papua Tengah mengakui bahwa kemampuan laboratorium daerah masih terbatas. “Untuk memeriksa logam berat, kami harus mengirim sampel ke luar daerah,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan itu, warga mulai membangun pemantauan mandiri. Sekelompok pemuda di beberapa kampung mencatat perubahan sungai menggunakan ponsel: warna air, kedalaman, dan titik-titik sedimentasi baru. Semua data mereka arsipkan untuk keperluan dialog dengan pemerintah. “Ini satu-satunya cara kami menjaga kampung,” kata Samuel, koordinator kelompok pemantau sungai.
Gerakan warga belum cukup untuk mendorong perubahan kebijakan. Pada awal 2024, sedikitnya tiga kampung mengirimkan surat keberatan kepada pemerintah daerah. Mereka meminta audit pembuangan tailing dan publikasi hasil uji kualitas air secara terbuka. Hingga kini, permintaan itu belum mendapat respons berarti.
Di sisi lain, para ahli memperingatkan potensi kerusakan jangka panjang. Sedimentasi ekstrem bisa mengubah jalur sungai sehingga aliran asli hilang. Rawa pesisir — yang menjadi tempat berkembang biak ikan, udang, dan kepiting — berisiko mati tertutup sedimen. Ketika rawa kehilangan fungsi ekologisnya, ketahanan pangan masyarakat ikut terancam. “Pemulihan ekosistem seperti ini bisa memakan waktu puluhan tahun, bahkan sebagian mungkin tidak kembali seperti semula,” kata peneliti hidrologi itu.
Bagi masyarakat Mimika, sungai adalah pusat kehidupan. Mereka tumbuh dengan bergantung pada air, ikan, sagu, dan rawa-rawa pesisir. Hilangnya sungai berarti hilangnya bagian dari identitas. “Kami tidak menolak tambang,” ujar Markus. “Tapi kalau sungai mati, bagaimana kami hidup?”
Menjelang senja, air Sungai Ajkwa mengalir lambat, membawa butiran sedimentasi yang tak pernah berhenti. Yohana memandangi permukaan air yang kusam. “Kami hanya ingin sungai kembali seperti dulu,” katanya. Di antara suara aliran yang berat itu, harapan warga mengalir perlahan — berjuang agar tidak lenyap bersama lumpur yang terus datang dari hulu.
메타데이터
- post_id
- aa9fb25a586d
- slug
- sungai-yang-semakin-diam-jejak-kerusakan-ekologi-di-mimika-aa9fb25a586d
- url
- https://medium.com/@revianarisqiafianti/sungai-yang-semakin-diam-jejak-kerusakan-ekologi-di-mimika-aa9fb25a586d
- canonical_url
- https://medium.com/@revianarisqiafianti/sungai-yang-semakin-diam-jejak-kerusakan-ekologi-di-mimika-aa9fb25a586d
- author_url
- https://medium.com/@revianarisqiafianti
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 17:46:58