By Your Side — Chapter 2
VÆLGE
By Your Side — Chapter 2

Meet You
Dentingan nyaring menghilangkan kilasan indah berduri di kepala gadis yang kini tengah duduk bersandar dengan memeluk lututnya. Sebelah tangannya meraba lantai setelah merangkak ke depan, mencoba meraih sebelah sepatu pingainya yang bernoda darah di sudut sana.
Setelah berkelut dengan balutan gaun, sepasang tungkai kakinya berhasil melangkah keluar dari lift yang menjadi saksi bisu perasaan rindu pada sosok yang selalu memenuhi pikirannya. Tubuh yang hampir kehilangan nyawa itu tidak mampu mengendalikan hatinya, yang selama ini terus memohon untuk bertemu.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya saat jemari kakinya menyentuh lantai lobi hotel, ia berusaha menahan rasa dingin yang menjalar di sana.
“Nona Im Sol.”
Suara pelan yang terdengar tegas, membuat Im Sol terdiam. Ia mundur selangkah saat netranya melihat sepasang sepatu hitam mendekat. Wajahnya terangkat, menatap lurus pada lelaki bersetelan jas abu-abu yang menundukkan kepalanya singkat.
“Tuan Ryu, memerintahkan saya untuk memberikannya pada anda.”
Nama itu, mampu menghilangkan keraguan Im Sol untuk mengulurkan sebelah tangannya yang sedikit gemetar, menerima payung hitam dan mantel cokelat dari sosok asing di hadapannya.
Membungkukkan setengah badannya, Im Sol membalas pamitan undur diri dari lelaki yang memegang benda kecil di telinganya setelah berbalik badan seolah sedang melaporkan sesuatu.
Im Sol kembali melanjutkan langkah gontainya keluar gedung, menatap sendu ke arah langit yang seakan menangisi kisahnya hari ini. Tetes demi tetes air hujan membelai telapak tangannya, diiringi suara rintik yang mengalun pilu di telinga.
Memilih tidak menggunakan apapun pemberian Sunjae, Im Sol berlari menerobos derasnya air yang jatuh menghujam bumi. Buliran asin yang bercampur tawarnya air hujan, membasahi wajahnya yang pucat.
Im Sol memijak cahaya lampu jalan yang memantul di genangan, menciptakan percikan air yang berkilau. Ia terdiam sejenak melihat gemerlap lampu kendaraan yang muncul di jalanan, sebelum memasuki taksi setelah berhasil melambai untuk menghentikannya.
Buliran air hujan yang melekat pada kaca mobil, membuatnya terhanyut dalam bayangan masa kecil saat ia datang bersama kedua orangtuanya ke sebuah acara ulang tahun yang sangat mewah. Senyumnya memudar saat menyadari, bahwa itu adalah acara terakhir yang mereka datangi dengan penuh tawa kebahagiaan sebelum dirinya terbangun di kasur rumah sakit.
Menegakkan tubuhnya, Im Sol segera keluar setelah membayar taksi yang ditumpanginya berhenti di sekitar gedung apartemen yang sudah ia tempati sejak memilih keluar dari panti untuk melanjutkan kuliahnya. Bahkan ia menepati janjinya, lulus dengan nilai tertinggi. Bibirnya mengulas senyum saat mengingat perkataan Sunjae yang hampir semuanya benar terjadi.
Telapak kaki yang masih setia menyentuh aspal itu memperlambat langkahnya, ketika siluet mobil yang sangat ia kenali terparkir tidak jauh dari sana.
“Selamat malam.” Im Sol menyapa dengan membungkukkan setengah badannya setelah mendekat ke arah mereka yang baru saja keluar dari mobil.
Suara salah satu diantara mereka tertahan, saat melihat Im Sol mengalihkan pandangan saat beradu tatap dengannya.
“Aku tahu maksud kalian mendatangiku malam ini. Aku juga paham maksud dari tatapanmu, Taesung-ssi. Tapi sekarang, aku tidak dalam kondisi yang baik untuk melaporkan sesuatu, tubuhku terlalu lelah untuk melakukannya. Aku mohon pengertian dari kalian semua. Aku pamit undur diri. Terima kasih.” Setelah mengatakannya, Im Sol membungkuk sopan dan berjalan gontai melewati mereka menuju apartemennya.
Taesung menahan langkahnya mendekati Im Sol saat melihat mata sembab yang baru terlihat jelas setelah gadis itu melewati lampu jalan. Netranya masih setia mengikuti kepergian Im Sol yang masuk ke dalam gedung dengan tidak beralaskan apapun. Hela napasnya terdengar berat saat menggelengkan kepala, mengabaikan rasa herannya terhadap penampilan Im Sol yang terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.
Taseung mengalihkan pandangannya pada mereka yang tengah mengerutkan kening, menatap dirinya dan Im Sol secara bergantian. Mata mereka seolah sedang menanyakan apa yang sebenarnya sudah terjadi.
Taesung mengangkat kedua bahunya sebagai balasan, membalikkan badannya dan memasuki mobil dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan.
Tangannya mengerat pada kemudi mobil saat hatinya tidak mampu menjelaskan apa yang dirasakannya sekarang. Rasa yang baru ia sadari keberadaannya. Rasa yang saat ini, tengah mengendalikan emosinya. Ia memejamkan matanya sejenak, sebelum pergi meninggalkan apartemen Im Sol.
Suara jam yang berdering, mengusik ketentraman gadis yang tengah duduk bersandar di sofa. Ia tertidur setelah menangis semalaman sambil memeluk mantel dan sebuah kalung yang terasa dingin di antara jemari tangannya.
Kelopak mata Im Sol perlahan terbuka, menampilkan manik jernihnya yang bersembunyi di bawah sana. Tubuhnya menggeliat, berusaha menegakkan duduknya dari sandaran sofa. Sebelah tangannya meraih gelas di atas meja kecil, setelah berhasil menyimpan kalung di lacinya. Meminunnya sebentar, sebelum rintihan ringan keluar dari mulutnya. Ia memutar kepalanya perlahan sambil memijit salah satu pundaknya, berharap rasa pegal itu segera menghilang.
Mata yang kembali terpejam itu terbuka cepat saat bayangan wajah rekan-rekan kerjanya muncul di kepala. Bahkan tubuhnya sedikit tersentak, saat tidak sengaja melihat jam di atas nakas tempat tidurnya.
Im Sol berdiri tegak setelah meletakkan kembali gelasnya di samping sofa. Langkahnya tergesah-gesah saat berusaha secepat mungkin membawa tubuhnya ke dalam kamar mandi.
Suara detak jantung, mengiringi gerakaannya dalam mempersiapkan diri, menerima segala resiko dari masalah yang ia sebabkan semalam.
Bahkan, detakkan itu masih menggema di telinganya saat berusaha membuka pintu apartemen. Langkah kakinya tertahan, setelah matanya melihat sebuah kardus kecil berwarna cokelat, tergeletak di depan unitnya.
Im Sol mengulurkan tangannya setelah mengunci pintu apartemen, untuk meraih kardus itu. Wajahnya terangkat setelah membaca alamat yang tertulis di sana. Matanya menatap lurus pintu bernomorkan ‘35–1’ di seberang unitnya.
Sepasang tungkai kakinya maju mendekati unit itu, meletakkannya di sana, sebelum melanjutkan langkahnya menuju halte terdekat.
Im Sol berjalan cepat, mencoba mengejar waktu yang terbuang karena mengurusi paket orang lain. Ia segera menaiki bus yang datang sesaat setelah dirinya tiba di pelataran halte.
Mengalihkan pandangannya ke jendela, Im Sol menatap jalanan dengan pikiran yang bercabang. Ia terlihat gelisah, hatinya merasa akan mendapatkan sesuatu yang membuatnya menyesal, tidak melaporkan apapun pada Taesung.
Kepala kecil itu terus dipenuhi kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi padanya nanti, sampai tidak menyadari sebuah mobil silver sedang mengikutinya.
Mobil yang mengikuti Im Sol sejak keluar dari apartemen, menghilang setelah gadis itu memasuki sebuah gedung di sebrang jalan raya.
Ketukan sepatu hak tinggi berwarna hitam, menggema nyaring di lorong menuju pintu yang dijaga oleh lelaki berbadan besar lengkap dengan seragamnya.
Im Sol membuka pintu dengan perasaan cemas. Wajah manis yang dilengkapi oleh buliran keringat dingin itu menatap seseorang yang kini sedang duduk membaca berkas yang ada di mejanya.
Membungkuk sopan saat memberi salam, Im Sol duduk di kursi kosong yang tersedia di hadapannya. Ia menegakkan tubuhnya di kursi, saat lelaki itu mulai membuka suaranya.
“Sekarang, jawab pertanyaanku. Apa yang membuatmu tidak langsung melaporkan situasi di hotel semalam?”
“Anting dan ponselku hilang. Aku tidak bisa menemukannya, terlalu banyak orang di pesta itu, Taesung-ssi.” Im Sol tidak berbohong. Ponselnya memang hilang ketika berusaha meraih anting yang biasa ia gunakan untuk berkomunikasi saat bertugas, terlepas dari telinganya.
Saat itu, Im Sol tidak sengaja terdorong ke arah meja yang penuh dengan makanan. Ia menjatuhkan hampir semua benda kaca yang menumpuk indah di atas sana.
Im Sol mengangkat sedikit sebelah ujung bibirnya saat mengingat bahwa kejadian itu adalah awal mula ia hampir kehilangan nyawa.
“Seorang agen seperti mu, bisa melakukan hal ceroboh seperti itu?” Sebelah alis Taesung terangkat, meragukan jawaban Im Sol yang terasa aneh di telinganya. Ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. “Baiklah. Sekarang, laporkan padaku mengenai misimu semalam.”
“Aku tidak menemukan hal aneh di sana. Aku juga tidak menemukan siapapun yang menjadi target dari misi yang kujalani. Selain kehilangan semua alat komunikasi, inilah alasanku tidak melaporkan apapun padamu. Tidak ada yang bisa kulaporkan, kecuali aku yang menyebabkan pesta itu sedikit berantakan.” Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, Im Sol seakan enggan membicarakan kejadian tragis yang terjadi di sana.
“Kau pikir aku percaya? Apa kau masih bisa berkata seperti itu saat melihat laporan kepolisian pagi ini?” Sebelah sudut bibir Taesung terangkat saat memberikan beberapa berkas yang sempat ia baca, sebelum Im Sol datang.
Manik Im Sol membulat sempurna, tangannya bergetar saat membalik halaman demi halaman dari berkas yang ada di tangannya.
Puluhan orang hilang, serentak dilaporkan dari berbagai daerah oleh wali dari masing-masing terlapor, dengan keterangan lokasi dan tujuan yang sama sebelum mereka menghilang, Shelton Hotel.
Im Sol tahu, ia sangat mengetahui keadaan semua orang yang ada di dalam daftar ini. Im Sol masih mengingat dengan jelas sensasi dingin dari mata pisau yang membelai rahang dan lehernya di tengah aula mewah hotel itu.
“Aku akan membantu mereka mencarinya. Kali ini aku akan menyelesaikannya dengan benar, tanpa menyebabkan masalah lagi. Jangan alihkan misi ini pada siapapun. Aku mohon.” Im Sol bertekad penuh, hatinya tidak mengizinkan ada agen lain yang mengambil misi ini.
“Kau yakin? Misi kali ini berkemungkinan masih terhubung dengan misimu yang sebelumnya. Kau yakin akan menemukan mereka dan mendapatkan info untuk menyelesaikan misi yang gagal kau lakukan?” Menganggukkan kepalanya dengan pasti, Im Sol mencoba meyakinkan ketua timnya itu agar diizinkan kembali bertugas.
“Sekali lagi aku ingatkan. Kelompok yang gagal kau temui di misi sebelumnya, bukan seperti penjahat yang biasa kau tangani. Tidak ada informasi apapun mengenai targetmu kali ini, selain pergerakannya yang sangat terorganisir. Seperti kasus orang hilang, yang baru saja di laporkan. Kau harus berhati-hati, Im Sol-ssi.” Tatapan penuh selidik dan keraguan terpancar dari netra Taesung saat menatap wajah Im Sol yang saat ini terlihat menganggap mudah misi yang akan ia jalani.
Bibir Im Sol berkedut saat menyadari, bahwa Taesung sedang memperingatinya agar menyerah dari misi ini. Tapi Im Sol tidak bisa, ia tidak bisa melepasnya setelah bertemu Sunjae di sana. Melihat kebencian Taesung dan ambisinya yang besar untuk menghancurkan kelompok ini, Im Sol menjadi takut. Ia takut jika Sunjae terlibat dengan kelompok yang Taesung incar selama ini.
Setelah menerima izin dan surat tugas dari Taesung, Im Sol melangkahkan kakinya keluar dari gedung. Ia berbalik dan melihat ke atas, menatap penuh arti logo IC yang di tengahnya tertulis Intelligent Center.
Tarikan napas panjangnya, mengiringi kepalan tangan Im Sol yang mengerat di udara. Ia seolah tengah menyemangati dirinya sendiri, sebelum memutar kembali badannya menuju halte bus terdekat.
Entah sudah berapa kali Im Sol terdiam saat menyadari beberapa mobil terparkir di sekitar gedung apartemennya. Keningnya berkerut setelah lelaki bersetelan jas lengkap itu berdiri di sana, dengan beberapa orang di belakangnya yang menundukkan kepala saat Im Sol mendekat.
“Nona Im Sol. Izinkan saya memperkenalkan diri sebagai asisten pribadi tuan Ryu, Park Dong Seok. Saya diperintahkan menjemput anda, untuk makan siang bersama di kediamannya.” Suara itu terdengar dari lelaki yang kini membungkukkan badannya singkat, setelah maju selangkah mendekatinya.
Im Sol sempat manahan langkah nya saat mencurigai mereka yang mengetahui alamatnya, tapi sepasang tungkai kaki itu memilih masuk ke dalam mobil hitam dengan pintu yang sudah dibuka oleh lelaki yang sama dengan lelaki yang memberinya payung dan mantel semalam.
Selain karena rasa lapar yang menerpa, hatinya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bertemu lagi dengan Sunjae.
Gerbang berukuran besar yang terlihat sangat kokoh dan mewah itu terbuka sendiri setelah mobil yang ditumpangi Im sol mendekat.
Manik Im Sol tidak bisa lepas dari pemandangan di luar jendela yang menampilkan halaman luas dengan pepohonan rindang di sekelilingnya. Berayun, melambaikan daunnya saat tersentuh angin, seakan sedang menyambut kedatangannya. Netra yang masih menatap kaca mobil itu seakan terpaku pada mansion besar dan megah yang berdiri kokoh di tengah halaman.
Im Sol melangkah keluar dari mobil, menundukkan kepalanya singkat sebagai ucapan terimakasih pada seseorang yang sudah membuka pintu untuknya.
Im Sol melanjutkan langkahnya secara perlahan, saat mengikuti Dong Seok menaiki tangga dan masuk ke dalam mansion yang terlihat luas dan mewah dengan tangga besar melingkari lampu yang menggantung indah di atas sana.
Tatapan heran terpancar dari netra Im Sol, saat beberapa pelayan yang dilewatinya berhenti sejenak dengan menundukkan kepala.
Mengabaikan rasa canggungnya saat membalas mereka dengan senyuman, kini keningnya sedikit berkerut saat matanya tidak sengaja melihat beberapa hiasan mansion, terasa familiar di ingatannya.
“Silahkan.” Suara itu menyadarkan Im Sol dari keheningan, saat berusaha mengingat kapan dan dimana ia pernah melihatnya.
Dong Seok mempersilahkan Im Sol masuk setelah membuka pintu di hadapannya. Ia segera keluar dari sana setelah memberitahukan kedatangan Im Sol, pada sosok lelaki yang saat ini, sedang duduk di belakang meja kayu berukuran kecil, menghadap jendela.
Celana dan kaos putih yang dipadukan dengan sweater cokelat, melekat indah di tubuh lelaki yang saat ini tengah sibuk membolak-balikkan buku kecil di atas meja.
Manik jernih Im Sol bergerak gelisah, ia melirik sekelilingnya, menunggu respon sang lelaki yang saat ini masih setia terdiam menatap lurus pada kaca jendela di hadapannya.
Keheningan yang cukup lama itu terpecah setelah suara kursi dan lantai saling bersentuhan saat lelaki itu berbalik dengan perlahan, diikuti mata Im Sol yang terpejam erat seolah tidak siap untuk bertatap muka dengannya.
“Kau memilih datang ke sini?” Suara itu membuatnya perlahan membuka mata. Tatapan dingin yang Im Sol rasakan dari lelaki itu, membuat ia menyesal tidak menolak saat Dong Seok menjemputnya.
Namun hati Im Sol berkata lain, ia masih mencari sosok yang pernah mengisi relungnya, seakan pertemuan mereka semalam sama sekali tidak bisa mengobati rindu yang dirasakannya. Sekarang Im Sol hanya berharap, lelaki itu tidak mendengar jantungnya yang berdetak tidak normal.
“K-kenapa? Bukankah kau sendiri yang menyuruh asistenmu untuk menjemputku? Tapi kalau kau tidak suka, aku bisa pergi sekarang.” Suara Im Sol yang sedikit tersendat, semakin menghilang saat melihat lelaki itu berdiri dan mendekatinya.
“Tidak perlu. Aku hanya bertanya.” Lelaki itu sempat menyampirkan sebagian rambut yang tergerai di pundak Im Sol, saat berjalan melewatinya. Namun setelah dua langkah, lelaki itu berbalik menghadap Im Sol. “Hari ini, kau terlihat tidak memakai kalung. Kenapa?”
“Aku meninggalkannya. Kalung pemberianmu itu tidak berfungsi. Kau sudah membohongiku selama ini. Ryu Sunjae-ssi.” Emosi yang ia rasakan, mengalahkan segala kebingungannya.
Im Sol membalikkan badannya, dengan kantung mata yang memerah menahan genangan air mata saat mengingat bahwa ia telah ditipu selama belasan tahun. Tidak ada suara apapun yang keluar dari sana setiap kali ia menekan tombolnya. Tapi dengan bodohnya Im Sol masih terus mencoba setiap kali merindukan Sunjae, seolah sudah menjadi rutinitasnya sebelum tidur.
“Ternyata, kau tidak mengetahui apapun. Kau masih belum mengenalku, Im Sol-ssi.” Suara berat dan dengusan Sunjae yang tengah menarik sebelah bibirnya terdengar seperti sedang meremehkan Im Sol.
Sunjae membalikkan badannya setelah menyerahkan sapu tangan yang ia keluarkan dari saku celananya. “Sebaiknya hapus air matamu sekarang dan ikuti aku. Kita akan makan siang bersama.”
Im Sol menggigit bibir dalamnya saat perasaan sedih itu selalu muncul setelah melihat manik kelam Sunjae. Ia benci setiap kali mereka bertemu, tubuhnya tidak bisa dikendalikan. Seperti kaki Im Sol yang saat ini, memilih mengikuti langkah Sunjae, menuju pintu besar yang sudah terbuka dengan seseorang bersetelan jas hitam di kedua sisi yang menundukkan kepalanya saat melihat Sunjae dan Im Sol mendekat.
Suasana hening mengiringi langkah mereka sejak melewati lorong mewah yang di penuhi dengan lukisan dan beberapa hiasan indah lainnya, sampai hembusan suara sumbang melewati telinganya.
“Jadi, ini saksi mata yang menjadi targetmu selanjutnya?”
“Apa kau sudah meminta izinku untuk berbicara, Dahye-ssi?” Mendengar nada dingin dari Sunjae, membuat Dahye terdiam. Wanita itu melipat tangan ke depan tubuhnya dengan bersandar di kursi, menahan malu atas balasan Sunjae di hadapan mereka semua.
Im Sol bergerak ke samping, saat pandangannya terhalang punggung lebar Sunjae. Ia sangat terkejut melihat beberapa orang, sudah duduk saling berhadapan dibatasi meja penuh dengan makanan dan hiasan mewah yang menyisakan dua kursi kosong di sana.
Sunjae melangkahkan kakinya ke kursi di ujung meja, meninggalkan Im Sol yang tengah bingung dengan situasi menegangkan ini. Mata Sunjae mengarah ke arah pelayan yang setia berdiri di sudut pintu, seakan memberi perintah untuk menuntun Im Sol ke kursi kosong di sebelah kanannya.
“Sunjae, apa aku boleh bicara dengannya? Kita harus memperkenalkan diri terlebih dahulu, agar dia merasa nyaman, kan?” Suara riang dari lelaki yang duduk di hadapan Im Sol menghilangkan keheningan saat ia berhasil duduk di sisi kanan Sunjae yang saat ini sedang menatap lurus ke depan. Dengan menyatukan kedua tangannya menopang dagu, Sunjae memejamkan matanya singkat sambil mengangkat kedua alisnya sebagai jawaban.
Merasa mendapatkan izin, tangan lelaki yang hendak terulur ke hadapan Im Sol tertahan setelah mendapat tatapan tajam dari Sunjae. Tidak ingin mencari masalah, ia memilih melambaikan tangan dari kursinya. “Hai, Namaku Baek Inhyuk, yang di sebelahku namanya Imgeum dan yang di sebelahmu bernama Lee Hyunjoo.”
Im Sol menerima senyuman lembut dari wanita yang ada di sampingnya. Mengulurkan tangan ke samping, ia membalas salaman hangat yang di berikan Hyunjoo, kemudian menganggukan kepala ke arah dua lelaki di hadapannya. “Selanjutnya, manusia menyebalkan di sebelah Imgeum hyung bernama Jay. Dan yang di sebelah Hyunjoo noona namanya Hyunso-”
“Kenapa kita harus memperkenalkan diri pada wanita yang sebentar lagi akan kehilangan nyawanya?” Perkataan tajam dari lelaki di sebelah Hyunsoo memotong cepat ucapan Inhyuk. Mengundang tatapan tajam Sunjae dan membuat suasana hening kembali.
“Apa maksudmu? Kau tidak bisa berbicara seperti itu, hyung.” Jay menghentikan ucapannya sejenak saat melihat jam yang ada di tangan kirinya. “Kita berkumpul di sini untuk makan siang bersama, walaupun sudah beberapa jam yang lalu kita melewa-.”
“Kenapa? Bukankah wanita itu sudah menjadi saksi hidup atas pembunuhan massal yang kita lakukan semalam? Kalian tidak melupakan fakta bahwa organisasi kita sedang menjadi buronan negara, kan? Dengan membawanya ke sini, melihat wajah dan mengetahui nama asli kalian masing-masing, apa kalian pikir wanita itu tidak akan melapor ke polisi? Bukankah sebaiknya saksi seperti itu harus dibun-”
“KIM HYUNG GU!” Bentakan Sunjae, membuat tubuh Im Sol membeku. Ia juga terkejut dengan ucapan dari Hyung Gu. Netranya seakan bergetar menatap wajah Sunjae yang saat ini masih menatap lurus ke arah Hyung Gu dengan guratan urat yang tercetak jelas di leher dan pelipisnya.
Menundukkan kepala, Im Sol menatap remasan tangan pada bajunya yang mengerat dengan keringat dingin menghiasi wajahnya. Ketakutannya mengenai Sunjae terlibat dengan kelompok yang Taesung incar menjadi kenyataan.
Setelah berkelut dengan pikirannya, Im Sol mengangkat wajahnya menatap manik kelam Sunjae. Mereka seakan tenggelam dalam guliran bola mata masing-masing.
Menemukan keberadaan Sunjae memang menjadi alasan kuat saat Im Sol mendaftar dan menjalani tes yang sangat sulit untuk bisa menjadi agen khusus orang hilang di Intelligent Center, tapi ia tidak menyangka akan bertemu dengan Sunjae dalam keadaan yang seperti ini.
Keheningan mengiringi Im Sol dalam memutuskan sesuatu yang akan menentukan takdir hidupnya.
Benar.
Ini adalah keputusannya.
Berada di sisi Sunjae, adalah pilihannya.
‘By Your Side, It’s My Choice’

Meet them
💙Happy Tuesday💛
💛Happy Woohyeday💙
💙Don’t forget to be happy💛
💛Terimakasih yaa sudah membaca cerita ini 🫂🥰💙
메타데이터
- post_id
- aade83ac8661
- slug
- by-your-side-chapter-2-aade83ac8661
- url
- https://medium.com/@Rj./by-your-side-chapter-2-aade83ac8661
- canonical_url
- https://medium.com/@Rj./by-your-side-chapter-2-aade83ac8661
- author_url
- https://medium.com/@Rj.
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 07:27:38