← Back to list

Birokr(e)asi Avatar : Senandika Perimba Aut_Altru

100 th/seabad penantian Avatar

muh arba'in mahmud · 2025-05-25 14:44 · 0 claps · 3.3 min read
#birokrasi #avatar #puisi #kreasi #buku
Open on Medium ↗
Wiki topics: BIZ · Business Strategy 📋 · Product Management

Birokr(e)asi Avatar : Senandika Perimba Aut_Altru

  1. 100 th/seabad penantian Avatar

pada zaman dahulu kala…hiduplah seorang petapa di bola salju, tinggal selama 100 tahun…

Itulah kalimat pembuka film kartun Avatar, The Legend of Aang, yang disiarkan Nickeldon dan telah menjadi tontonan keluarga kami selama hampir empat tahun di Manado dan enam tahun di Ternate.

Menanti bagi sebagian orang adalah pekerjaan melelahkan, apalagi menanti sesuatu tak pasti. Maka, agar penantian tak melelahkan, perlu kita buat ‘kepastian’ yang dinanti, entah namanya : cita-cita, asa dan mimpi, yang tampak absurd hingga objek ataupun subjek yang nyata (sosok, figur, tempat, lokasi, ruang waktu). Untuk memastikan cita-cita, asa dan mimpi tersebut adalah dengan menulis/mencatatkan, agar tak mudah menguap mimpi tersebut karena hanya sekadar angan-angan atau bualan lisan semata. Verba volant scripta manent, yang terucap akan lenyap dan yang tersurat akan abadi. Begitu pepatah Yunani menyebutkan perihal urgensi menulis. Media tulis dapat berupa buku harian (diary), potongan kertas ditempel pada dinding kamar/daun pintu layaknya azimat dan sticknote di layar komputer maupun sekadar status di media sosial dan perangkat gawai lainnya. Kadang potongan apdetan status medsos (WA/FB/IG) pun bisa di-skrinsut dan disimpan sebagai ‘tabungan ide’.

Penantian yang panjang, jika diisi dengan karya-karya kreatif, pada akhirnya tak terasa kejenuhan ataupun kehampaan. Selama masa penantian, kadang kita perlu mengidentifikasi diri pada ‘sosok’yang relevan dengan kehidupan kita, entah tokoh faktual maupun tokoh fiksi. Penulis menabalkan diri sebagai Avatar, karena tokoh fiksi yang jadi hiburan keluarga penulis selama satu dekade di tanah rantau. Pun karena Penulis, di tempat kerja sebagai salah satu fungsional dengan nama jabatan ‘Pengendali Ekosistem Hutan/PEH’(sejak 2002–2022) yang identik dengan pekerjaan Avatar : pengendali api, air, tanah dan udara. Bahkan Penulis menyebut profesi PEH tersebut sebagai Avatar Plus, karena selain empat elemen di atas, masih harus mengendalikan anasir kehidupan lain : satwa, tumbuhan, dan manusia, termasuk potensi biofisik lainnya.

Kaitannya dengan asa-mimpi dan cita-cita, Penulis pernah mencatat mimpi dalam bentuk puisi pada status FB, berjudul : *antara kursi, buku dan batu hitam (10–2–2014). Puisi tersebut menyiratkan sebuah asa simultan tiga hal; menulis kitab/buku, menjadi pelayan birokrasi dan merindu ibadah ke Tanah Suci (Mekkah) yang identik dengan batu hitam/Hajar Aswad*.

Akhirnya? Alhamdulillah, satu per satu asa terwujud. Penulis bisa menerbitkan buku pertama tahun 2015, setelah mendapat hadiah sebagai Pemenang Lomba Menulis Artikel Pelestarian Hutan dan DAS di Indonesia, Tahun 2014, Juara III Nasional, Kategori B (Pegawai lingkup Ditjen PDASPS). Uang hadiah tersebut, sebesar tiga juta rupiah, Penulis gunakan untuk menambah tabungan haji dan menerbitkan tesis bertajuk Gender dan Kehutanan Masyarakat (Deepublish, Yogyakarta, 2014), hingga cetakan kedua (2017). Sejak itu, Penulis semakin giat di dunia literasi, selain pekerjaan sebagai ASN KLHK, dan menerbitkan buku-buku lain yang hingga akhir 2024, terkumpul hampir sepuluh buku, baik secara mandiri (3 buku) maupun kolaborasi dengan penulis lain (7 buku).

Meski tak berurutan, seperti judul puisi di atas, penulis bisa mewujudkan asa kedua, yakni mendaftar haji (sejak 2018) dari menyisihkan pendapatan yang jelas dan relatif bersih, yakni honor-honor dan sebagian gaji. Alhamdulillah, batu hitam hampir di genggaman, dan yang pasti sudah masuk ke hati. Terakhir, asa ‘kursi’penulis raih secara tak langsung, usai meraih prestasi di dunia literasi, yakni Juara Nasional I Kategori Pria, Lomba Penulisan Artikel Quran, MTQ Korpri VI di Padang, tahun 2022. Meski tampak kurang relevan dengan ‘kursi’ tersebut, yang pasti sejak menerima penghargaan tersebut, penulis kian dikenal dan mendapatkan kepercayaan sebagai salah satu Rimbawan/Perimba, ASN Berprestasi di KLHK.

Demikianlah, penantian Penulis selama duapuluh tahun mengabdi. Perlu kesabaran, kreatifitas dan ketekunan belajar untuk mengisi waktu penantian tersebut. Kesabaran bukanlah sekadar killing time, tak bergerak sama sekali atau pun bergerak asal, dalam bahasa anak-anak muda sekadar ‘gabut’, (makan) gaji buta. Kesabaran dalam artian positif, bergerak positif (progresif), diam positif (waspada) hingga mundur positif, undur selangkah tuk sekadar mengalah. Penulis ingat pesan Ibu di tanah Jawa, “Le… nang paran kepara ngalah! (Nak, di rantau lebih baik mengalah!). Pesan tersebut terus didengungkan Ibunda pada setiap batelpon penulis. Ya, itulah amalan Penulis dalam masa penantian: ngalah, ngalih, ngAllah (mengalah, menyingkir dan pasrah kepada Tuhan).

Kreativitas di masa penantian sangat diperlukan, agar tidak ‘gabut’, baik dalam aktivitas diri, lingkungan/tempat kerja maupun sosial (masyarakat). Kreatifitas diri bisa dikembangkan sesuai kompetensi, hobi dan potensi lainnya, baik menyangkut kerja ataupun hal-hal sederhana lainnya. Semisal, berolah sastra indie, olahraga murah (lari, jalan sehat di car free day / CFD) maupun olah ruhani (mengaktifkan diri di giat keagamaan). Jika menyangkut pekerjaan, sesekali suasana kerja diciptakan dan disalurkan dalam dunia hobi tersebut: berpuisi, bernyanyi, free diving dan diskusi ringan dengan komunitas.

antara kursi, buku dan batu hitam

jangan terlalu berharap dengan makhluk

kebajikan mereka (kadang) sampai di itikad

kebatilan mereka pun sekadar sesaat

maka pun jangan terlalu cemas

mencinta kursi, maka zatnya kan rapuh dirayapi zaman

menulis buku, maka hikmat tersirat takkan surut diserati waktu

mendamba batu hitam, maka kerinduan itu abadi diedari kaki-kaki suci

kursi ada penguasa Singgasana, Sang ‘Aziz, layak dihibai

buku ada penyerat Lauh Mahfuz, Sang ‘Alim, layak digurui

batu hitam ada penjaga Rumah Kubus, Sang Muhaimin, layak ditamui

kursi, buku, batu hitam

kalo boleh memilih :

aku susun batu hitam, pertama,

di atas buku,

di tengah kursi

untuk kutaruh di ruang keluarga

wahai Sang,

kalo pun tak boleh

aku pasrah bongkokan kepada Sampeyan

bismiKa!


메타데이터
post_id
aae29a6d565f
slug
birokr-e-asi-avatar-senandika-perimba-aut-altru-aae29a6d565f
url
https://medium.com/@m.niabra/birokr-e-asi-avatar-senandika-perimba-aut-altru-aae29a6d565f
canonical_url
https://medium.com/@m.niabra/birokr-e-asi-avatar-senandika-perimba-aut-altru-aae29a6d565f
author_url
https://medium.com/@m.niabra
status
ok
fetched_at
2026-07-19 18:13:15