← Back to list

Sindoro Ora Sepele

Seminggu sebelum mendaki gunung sindoro, aku sempat di patah sambungkan oleh rasa percaya diri. Bagaimana tidak, lha wong aku belum pernah…

Adinda Fitratunnisa Aulia · 2024-08-05 00:37 · 2 claps · 5.8 min read
#mountain #sindoro #pendaki #hiking
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🏔️ · Outdoor & Adventure

Sindoro Ora Sepele

Seminggu sebelum mendaki gunung sindoro, aku sempat di patah sambungkan oleh rasa percaya diri. Bagaimana tidak, lha wong aku belum pernah mendaki gunung sama sekali. Iseng-iseng aku meminta pendapat ke temanku yang sudah pernah mendaki gunung sindoro. Inti percakapannya begini:

“Aku dijak tek tok sindoro ahir bulan iki ng koncoku, menurutmu piye?”

Temanku yang tau betul bahwa aku belum pernah mendaki gunung sama sekali seketika kaget, benar-benar kaget.

“Awakmu ngerti artine tek tok gak seh, din?”

“Yo ngerti, munggah njuk langsung mudun to?”

“Aku lho wingi ngecamp ng sindoro ae sikile wes koyok mati rasa, opomeneh tek tok. Awakmu gabakal kuat wes to din”

Ibarat ranting yang potek, harapanku bisa mendaki gunung sindoro pun patah begitu saja. Untuk bisa mendobrag rasa-rasa takut yang menggelantung di pikiran, ahirnya aku memutuskan untuk rutin jogging selepas shubuh dan membaca artikel-artikel yang berkaitan dengan pendakian gunung sindoro. Ternyata upaya kecil-kecilan tersebut membuat ke-siap-an dan rasa percaya diriku semakin bertumbuh perlahan. Hingga tibalah saatnya aku dan hari pendakianku dipertemukan.

BERANGKAT DARI JOGJA

Dari kami ber-6, hanya aku seorang yang belum memiliki pengalaman mendaki gunung sama sekali. Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri bagiku untuk membuktikan bahwa aku pasti bisa. Aku berangkat dari stasiun Jogja ke stasiun Sumpiuh sendiri, 4 orang lainnya menungguku di stasiun Sumpiuh, sementara satunya lagi berangkat dari Semarang. Perjalanan dari Sumpiuh ke Temanggung memakan banyak waktu karena terkendala hujan lebat. Lambat ataupun cepat, pada akhirnya kita pasti sampai di tempat, begitu bukan? Kami menginjakkan kaki di basecamp gunung sindoro via kledung tepat pada saat tarhim sebelum maghrib dikumandangkan.

BASECAMP

Begitu tiba di basecamp, kami langsung menggelar tikar. Aku menghela nafas panjang, perasaan deg-degan tiba-tiba menjalar begitu saja, mungkin karena perjalanan pendakian sudah menganga di depan mata.

gambar I basecamp sindoro via kledung

gambar I basecamp sindoro via kledung

Kesempatan di basecamp kami gunakan untuk istirahat, sholat, makan, membeli barang dan logistic yang di perlukan, menyewa beberapa alat pendakian seperti trecking pole, headlamp, sepatu hiking, sekaligus mengurus simaksi (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi). Untuk perkiraan biaya, mungkin bisa mencari informasi lebih detail saja ya di tulisan-tulisan lain, karena disini aku hanya ingin membagikan gambaran pengalaman pendakian saja, barangkali ada pembaca yang sedang membutuhkannya, hehe.

POS 1 (1600 Mdpl)

Kurang lebih jam 12.30 malam kami mulai summit. Untuk memangkas waktu, kami memutuskan naik ojek dari basecamp ke pos 1. Karena jika di tempuh dengan berjalan kaki bisa sampai 2 jam, sedangkan ojek 15 menit saja sudah cukup.

Di sinilah perjalanan pendakian yang semestinya benar-benar di mulai. Selain langkah kaki dan hembusan nafas, tidak banyak suara terdengar. Kami hanya mengandalkan headlamp masing-masing sebagai penerang jalur. Sesekali kami berhenti sebentar untuk minum, kemudian lanjut jalan lagi. Perjalanan dari pos 1 ke pos 2 membutuhkan durasi waktu sekitar 1 jam.

POS 2 (2120 Mdpl)

Gambar II Background Gunung Sumbing

Gambar II Background Gunung Sumbing

Dengan menggunakan tenaga yang masih lumayan full, kami sampai di pos 2 sekitar jam 01.30 WIB. Sambil istirahat, kami di suguhkan dengan pemandangan indah gunung sumbing oleh alam. Seperti tamu, pemiliknya selalu berusaha menampilkan dan memberikan pelayanan yang indah bagi tamunya. Senyum sumringahpun mekar di wajah kami, seolah-olah alam menyambut kedatangan kami dengan gembira.

POS 3 (2315 Mdpl)

Perjalanan pos 2 ke pos 3 bukanlah perjalanan yang mudah. Memakan waktu cukup lama pula, kurang lebih sekitar 1,5 jam. Hawa dingin dan keringat saling bergelutan. Siapa sangka, rasa mual ternyata ikut andil juga. Aku tidak ingin menyiksa dan membohongi keadaan tubuh yang sebenarnya, setiap mual menyerang, aku langsung break. Tiduran di jalur, menyandar ke pepohonan sambil mengatur nafas, sesekali memejamkan mata untuk me-rilekskan diri. Rasa capek di jalur ini terimbangi dengan rayuan pemandangan ber paras sangat menawan. Langit yang mulai menguning di padukan dengan gagahnya gunung sumbing menciptakan komposisi yang pas untuk di nikmati. Ditambah dengan taburan bintang yang menyebar di langit ibarat menjadi topping suguhan malam itu.

Gambar III Pos 3

Gambar III Pos 3

Karena dirasa cukup lapar, dan kebetulan di pos 3 ada tempat untuk melipir, kami memutuskan untuk makan nasi rames yang telah kami siapkan sedari di basecamp. Setelah makan, kami langsung melanjutkan perjalanan kembali.

SUNRISE CAMP

Gambar IV Sunrise Camp

Gambar IV Sunrise Camp

Sebelum menginjakkan kaki di pos 4, kami rehat sejenak di sunrise camp. Merupakan tempat luas yang memang digunakan para pendaki untuk menggelar tenda. Entah berapa puluh kali bibirku terus mengucapkan kalimat pujian terhadap ciptaan Tuhan yang begitu indah. Oiya, dari pos 3 ke sunrise camp kami memerlukan waktu kurang lebih 1,5 jam. Pas sekali, kami rehat sejenak di sunrise camp pada saat sunrise mulai bersolek di atas sana. Suasana yang begitu syahdu membuat jiwa indie-ku bergejolak, ingin sekali aku menulis bait-bait puisi. Tapi cukup ditulis dalam hati saja, tidak apa-apa.

POS 4 — WATU TATAH (2838 Mdpl)

Dari sunrise camp menuju pos 4 merupakan perjalanan paling melelahkan. Entah memang benar adanya atau hanya perasaanku saja. Musabab trek yang bisa dibilang sedikit bonusnya alias jauh dari kata landai mungkin masuk akal jadi alasannya. Surga tidak ada di dunia, tapi percikannya nampak jelas di depan mata, begitulah kiranya kalimat yang pantas di sandang oleh pagi ini di pos 4 watu tatah gunung sindoro. Lautan awan yang terbentang luas mengitari gunung sumbing membuatku terpana, ternyata aku jatuh cinta pada tigaribu mdpl pertama.

Gambar V Watu Tatah

Gambar V Watu Tatah

Matahari tidak terus diam saja, perlahan posisinya berada lebih tinggi dari sebelumnya. Kami melanjutkan perjalanan ke puncak agar tidak terlalu siang berada di sana. Karena sesuai peraturan yang ada, jam 10.00 WIB tidak boleh ada pendaki yang menginjakkan kaki di puncak sindoro. Katanya sih, belerang di sana sangat berbahaya, bahkan bisa sampai merenggut nyawa.

Gambar VI

Gambar VI

PUNCAK SINDORO (3153 Mdpl)

Wah ini, trek yang bikin aku mengkis dua. Dari pos 4 ke puncak memakan waktu 2 jam. Nada bicaraku sudah mulai sedikit melemas disini, karena puncak terlihat sangat jelas, tapi trek panjangnya membuat lututku bergetar hebat. Sedikit-sedikit berhenti, sedikit-sedikit duduk dan melamun ke arah gunung sumbing. Aku membawa cermin, tapi aku tidak berani melihat kondisi wajahku saat itu. Bisa saja sudah sangat gosong dan acak-acakan. Belum lagi rambut yang keluar tak beraturan. Bayangkan saja seberapa gembelnya aku saat itu. Haha

Gambar VII Jalur Ke Puncak

Gambar VII Jalur Ke Puncak

Perjalanan menyusuri hutan dari pos ke pos bukan hal mudah bagiku, apalagi ini adalah pengalaman pertama pendakianku. Di beri kesempatan bisa menapakkan kaki di puncak sindoro membuatku terharu. Seperti setengah menyangka setengah tidak menyangka. Ini lebih nyata dari kenyataan, aku benar-benar berdiri di ketinggian 3153 Mdpl dengan perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ternyata bukan aku saja yang terharu melihat ‘aku’ berhasil mendaki gunung sindoro tanpa remidi. Teman-teman pendakianku pun ikut merasakannya. Siapa sangka, mereka semua berhasil membawaku sampai di puncak gunung sindoro. Salah satu dari mereka bilang begini, “Ngomong-ngomong soal korek, mba Dinda joss rek”.

Gambar VIII

Gambar VIII

Dari pengalaman pendakian pertamaku, bisa di ambil beberapa pelajaran penting yang dapat dijadikan bekal untuk mendaki bagi para pembaca yang ingin mendaki gunung tapi belum pernah mendaki gunung sama sekali, antara lain :

  1. Harus selektif memilih teman pendakian. Karena berhasil atau tidaknya pendakian kita bergantung pada mereka.

  2. Jangan sampai cashless. Usahakan memegang uang tunai yang cukup. Karena kehabisan uang di jalur pendakian sedikit merepotkan.

  3. Langkah yang di ambil saat mendaki jangan terlalu lebar. Karena nanti bakal cepet capek. Mending melangkah kecil-kecil dan tetap stabil.

  4. Apapun yang dirasakan saat pendakian, utarakan saja ya teman-teman. Misal capek, kedinginan atau mual. Jangan diam saja. Karena nanti bisa berakibat fatal.

Ya jadi begitulah sekiranya gambaran perjalanan pendakian pertamaku. Bagi para pembaca yang ingin mendaki gunung dan masih ragu karena belum pernah mendaki gunung sama sekali, lawan perasaan itu. Disana banyak lukisan Tuhan yang perlu di nikmati, yang perlu di syukuri.


메타데이터
post_id
aaf0cdf3a35f
slug
sindoro-ora-sepele-aaf0cdf3a35f
url
https://medium.com/@byadinda/sindoro-ora-sepele-aaf0cdf3a35f
canonical_url
https://medium.com/@byadinda/sindoro-ora-sepele-aaf0cdf3a35f
author_url
https://medium.com/@byadinda
status
ok
fetched_at
2026-07-23 05:31:19