Capeknya Berkendara di Pantura Demak-Semarang
Berpindah satu kabupaten ke kabupaten lainnya sangat menguras energi, apalagi jika melewati jalur Pantai Utara (Pantura) Demak-Semarang…
Capeknya Berkendara di Pantura Demak-Semarang

Kendaraan roda empat mengantre di Jalan Pantura Demak-Semarang. (Dokumentasi: Alisa Qottrun)
Berpindah satu kabupaten ke kabupaten lainnya sangat menguras energi, apalagi jika melewati jalur Pantai Utara (Pantura) Demak-Semarang. Kesabaran dan kelihaianmu dalam berkendara akan diuji.
Ketika melewati Pantura, kamu akan menemui hal-hal aneh yang bikin macet sampai beratus-ratus meter bahkan berkilo-kilo meter. Misalnya, ada truk yang memutar jalur maka dapat dipastikan di belakangnya akan macet beberapa ratus meter. Kemudian, perbaikan jalan yang tiada henti. Perbaikan jalan ini bikin macet sampai berkilo-kilo meter. Lalu, pembangunan tol, pembangunan jembatan, dan pembangunan jalan lainnya2 yang bikin kemacetan mengular sampai berkilo-kilo meter. Cobaan pengguna Pantura Demak-Semarang tidak hanya pembangunan jalan, tetapi juga banjir rob yang menggenangi jalanan di Sayung.
Mari, kita bahas satu-satu permasalahan yang bikin macet di Pantura Demak-Semarang. Setiap tahun perbaikan jalan hampir selalu dilakukan di Pantura Demak-Semarang, tetapi tetap saja masih terdapat bagian-bagian yang rusak. Perbaikan jalan juga mencakup peninggian jalan supaya banjir rob tidak merangsek ke jalanan Pantura. Perbaikan tersebut biasanya menutup setengah lajur sehingga kendaraan akan mengantre mengular ke belakang.
Tidak hanya itu, kemacetan di Pantura juga disebabkan oleh genangan air rob yang sampai menyentuh jalanan Pantura. Biasanya, banjir rob akan terjadi di Kecamatan Sayung — fyi, Sayung sepertinya akan tenggelam karena banjir rob. Ketinggian banjir rob dapat mencapai 50 sentimeter. Tingginya genangan air membuat kendaraan kesulitan untuk melewatinya bahkan mogok di tengah jalan.

Jalan Pantura di Sayung, Demak menjadi langganan tergenang banjir rob. (Dokumentasi: Alisa Qottrun
Kemacetan diperparah dengan jumlah kendaraan pribadi, transportasi publik, dan kendaraan berat mencapai ribuan. Sementara itu, tol Demak-Semarang diperkirakan memiliki angka Lalu-lintas Harian Rata-rata (LHR) sebesar 16.934 kendaraan. Membludaknya jumlah kendaraan ditambah dengan pembangunan jalan yang rutin dilakukan serta banjir rob maka tidak heran jalanan Pantura Demak-Semarang sering macet apalagi di waktu-waktu sibuk.
Salah satu cara untuk menekan jumlah kendaraan pribadi, yakni dengan menggunakan transportasi publik. Namun sayangnya, transportasi publik yang menghubungkan Demak-Semarang tidak cukup memadai. Jumlah bus dari Demak ke Semarang atau sebaliknya cenderung berkurang. Jika sepuluh tahun lalu, kita dapat berpapasan dengan bus-bus di jalanan Pantura Demak-Semarang maka sekarang ini akan jarang melihatnya. Bus-bus tersebut membantu siswa dan masyarakat lainnya dalam bermobilitas meskipun jam kedatangannya tidak pasti.
Bus-bus tersebut juga tidak memiliki titik pemberhentian yang pasti. Mereka dapat berhenti di mana saja, asal penumpang berdiri mencegatnya. Bus yang berhenti secara serampangan membahayakan pengguna jalan di belakangnya. Motor atau mobil yang melaju dengan cepat akan kesulitan untuk mengendalikan laju kendaraan sehingga berpotensi untuk menabrak bus. Kecelakaan lalu lintas tersebut tidak jarang menyebabkan korban jiwa.
Terdapat berbagai macam jenis bus yang melintasi jalanan Pantura Demak-Semarang, yakni bus satu pintu (biasanya hanya melayani rute Demak-Semarang atau sebaliknya), bus Semarang-Jepara (bus dengan dua pintu berukuran besar), serta bus besar yang melayani rute perjalanan Semarang-Surabaya, Semarang-Kudus, dan Semarang ke arah Timur. Bus-bus besar tidak terlalu mengkhawatirkan karena jarang sekali mau berhenti di sembarang tempat, mereka memiliki titik tertentu untuk berhenti. Sedangkan, bus satu pintu dan Semarang-Jepara sangat meresahkan. Beberapa sopir bus mengendarai dengan ugal-ugalan.
Namun, bus paling ugal-ugalan jatuh kepada bus rute Semarang-Jepara. Pantura Demak-Semarang sering kali macet dan tidak bisa bergerak sama sekali. Bus tersebut memiliki 1001 cara untuk keluar dari kemacetan. Cara gila yang ditempuhnya adalah, melewati jalur tanah antara sungai dan jalanan Pantura. Jika sopir salah menempatkan posisi setir maka bus tersebut dapat terperosok ke sungai atau menyerempet kendaraan di samping kanannya. Ketika menjadi penumpang bus ini, yang bisa dilakukan hanya merapalkan berbagai doa supaya selamat dan tidak kekurangan satu apapun.
Melewati Pantura Demak-Semarang dengan kendaraan pribadi atau transportasi publik sama-sama mengesalkan. Jalur Pantura Demak-Semarang harus berbenah diri. Transportasi publik yang tersistem harus segera diwujudkan. Bus yang memiliki halte serta waktu kedatangan yang tepat dapat menjadi solusi. Jika pemerintah memiliki dana yang cukup, kereta rel listrik (KRL) dapat dibangun. Transportasi publik yang memadai akan sedikit demi sedikit mengubah kebiasaan pekerja, siswa, serta masyarakat lainnya untuk menggunakan kendaraan pribadi beralih menggunakan transportasi publik.
Tidak hanya itu, kawasan pesisir sepanjang Demak-Semarang juga harus dibangun secara tepat supaya daerah tersebut tidak semakin tenggelam. Mila Karmilah, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Sultan Agung menilai bahwa kawasan pesisir Demak semakin tenggelam karena adanya penurunan muka tanah yang dipicu oleh masifnya pembangunan di wilayah pesisir. Rob yang menggenangi kawasan pesisir Demak juga disebabkan oleh perubahan arus air laut yang–salah satunya–dipicu oleh reklamasi yang dilakukan di Kota Semarang.
Mila memberikan saran kepada pemerintah dalam membangun kawasan pesisir Demak, yakni setelah pembangunan tanggul laut, pemerintah juga perlu untuk menanam mangrove. Hal tersebut bertujuan memberikan proteksi tambahan jika suatu saat tanggul rusak atau jebol.
Ketika kawasan pesisir telah dibangun dengan baik maka PR selanjutnya untuk pemerintah adalah berbenah sistem transportasi publik. Transportasi publik yang layak dan tepat waktu jam keberangkatannya akan mempermudah mobilisasi masyarakat di jalur Pantura Demak-Semarang. Adanya transportasi publik yang layak dan nyaman dapat membantu mengurai kemacetan. Namun, suksesnya transportasi publik harus didukung oleh kedua pihak, yakni pemerintah dan masyarakat. Pemerintah harus memperbaiki fasilitas transportasi publik dan masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.
메타데이터
- post_id
- ab0d64fde4ce
- slug
- capeknya-berkendara-di-pantura-demak-semarang-ab0d64fde4ce
- url
- https://medium.com/@alisaqottrun15/capeknya-berkendara-di-pantura-demak-semarang-ab0d64fde4ce
- canonical_url
- https://medium.com/@alisaqottrun15/capeknya-berkendara-di-pantura-demak-semarang-ab0d64fde4ce
- author_url
- https://medium.com/@alisaqottrun15
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 11:13:48