Memaknai IFP sebagai Momentum Transformasi Pembelajaran
Oleh: Farida Wardah Yudela
Memaknai IFP sebagai Momentum Transformasi Pembelajaran
Oleh: Farida Wardah Yudela
Sudah tidak asing lagi bagi murid melihat benda kotak besar yang terpampang di depan kelas. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menuntaskan distribusi Interactive Flat Panel (IFP) ke sekitar 288 ribu satuan pendidikan per awal 2026, sebagai bagian dari program Digitalisasi Pembelajaran. Integrasi teknologi dan pendidikan ini sangat berpotensi untuk memberikan pengalaman belajar bermakna di setiap jenjangnya.
IFP sering dipersepsikan sebagai simbol “kelas modern”: layar besar, sentuhan interaktif, audio visual jernih, konektivitas internet, integrasi aplikasi pembelajaran, dan kemampuan presentasi multimedia. Secara visual, kelas tampak lebih hidup. Dulu, guru menerangkan dengan papan tulis. Sekarang, guru menerangkan dengan layar sentuh 75 inci. Dulu, guru harus membuat media pembelajaran dengan kertas dan spidol, sekarang guru cukup menampilkan template digital, animasi, dan video interaktif. murid selalu menanti apa kegiatan belajar yang sudah disiapkan oleh gurunya, entah hanya untuk bermain game edukatif atau bahkan mempresentasikan produk hasil riset mereka.
Dengan tersalurkannya IFP oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, lembaga pendidikan memiliki peluang untuk selangkah lebih maju dalam memenuhi kebutuhan belajar murid. Terlebih, murid yang dihadapi saat ini merupakan generasi yang tumbuh dan terbiasa dengan teknologi, sehingga pendekatan pembelajaran pun perlu menyesuaikan karakteristik mereka. Di sisi lain, kami para guru juga harus segera menyadari bahwa inilah waktunya untuk terus meningkatkan kualitas mengajar, sehingga terhindar dari praktik surface-level digital teaching.
Dari segi bahasa, surface sendiri dapat diterjemahkan sebagai “permukaan”. Lebih detailnya, surface-level digital teaching merupakan praktik pembelajaran digital yang hanya menekankan penggunaan teknologi di permukaan, tetapi tidak menyentuh transformasi pedagogi dan proses berpikir murid secara mendalam. Fenomena tersebut dapat menimbulkan ilusi “pembelajaran efektif dan bermakna” saat mengintegrasikan konten materi dan teknologi, padahal secara substansi belum tentu terjadi perubahan pada partisipasi murid, stimulus untuk berpikir kritis, maupun lingkungan belajar berpusat pada murid.
Sebagai gambaran, alih-alih menampilkan ilustrasi proyek yang membantu murid untuk mengonstruksi pengetahuan, guru justru hanya menggunakan IFP untuk membuat kuis yang penuh dengan distraksi animasi. Apakah ada perbedaan yang benar-benar “bermakna” dengan kuis paper-based selain aspek visualnya? IFP dan teknologi lainnya terlalu mahal jika hanya digunakan sebatas transformasi media. Pada akhirnya, kami paham bahwa perlu adanya pemahaman antara technology adoption dan pedagogical transformation. Sebelum masuk pada teori, perlunya mengetahui dimana letak posisi kami sesuai kuadran di bawah:
Dapat disimpulkan dari kuadran tersebut, lembaga kami pada dasarnya berada pada posisi 3 dan 4 karena telah memiliki IFP sebagai teknologi pembelajaran yang memadai. Namun, posisi akhirnya tetap ditentukan oleh kualitas pedagogi yang diterapkan guru. Ketika IFP diintegrasikan dengan pedagogi yang efektif sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang aktif, bermakna, dan berpusat pada murid, maka pembelajaran bergerak menuju kuadran 4, yaitu media bermakna dan berdampak.
Di sinilah relevansi kerangka Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) menjadi sangat penting. TPACK menekankan bahwa teknologi akan efektif jika guru mampu mengintegrasikan tiga domain berbeda, yaitu Technological Knowledge (TK), Pedagogical Knowledge (PK), dan Content Knowledge (CK).
Kerangka TPACK dapat digunakan untuk mengambil keputusan terkait rencana pembelajaran dengan integrasi teknologi. Untuk memahami bagian-bagian dari TPACK, kami biasanya memulai dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang biasa muncul ketika guru merancang pembelajaran.
“Apa konteks atau materi yang akan dipelajari murid hari ini?” Jawaban dari pertanyaan tersebut berada pada ranah Content Knowledge (CK). CK berkaitan dengan pemahaman guru terhadap materi ajar yang akan disampaikan. Seorang guru matematika, misalnya, harus benar-benar memahami konsep pecahan, operasi hitung, atau statistika sebelum mengajarkannya kepada murid.
Setelah memahami materi, guru kemudian mulai memikirkan bagaimana cara menyampaikannya. Muncullah pertanyaan, “Bagaimana cara terbaik agar mengajar murid pada karakteristik tertentu?” Di sinilah Pedagogical Knowledge (PK) berperan. PK berkaitan dengan pengetahuan guru mengenai strategi mengajar, pengelolaan kelas, metode pembelajaran, asesmen, dan karakteristik murid. Guru juga memikirkan bagaimana membangun keterlibatan murid agar pembelajaran tidak hanya berpusat pada penjelasan guru.
“Teknologi apa yang bisa saya gunakan untuk mendukung pembelajaran?” Pertanyaan ini akan dijawab pada ranah Technological Knowledge (TK). TK berkaitan dengan kemampuan guru memahami dan menggunakan teknologi, baik perangkat keras maupun perangkat lunak. Contohnya seperti penggunaan IFP, Canva, Quizizz, simulasi PhET, atau aplikasi pembelajaran lainnya. Namun TK bukan hanya tentang kemampuan teknis mengoperasikan teknologi, namun juga memahami fungsi, potensi, dan keterbatasannya dalam pembelajaran.
Ketika guru mulai menghubungkan materi dengan strategi pembelajaran, maka terbentuklah Pedagogical Content Knowledge (PCK). PCK muncul saat guru bertanya, “Bagaimana cara terbaik mengajarkan materi tertentu agar mudah dipahami murid?” Sebagai contoh, konsep pecahan mungkin lebih mudah dipahami menggunakan benda konkret atau visual pizza dibanding sekadar penjelasan abstrak. Dalam pelajaran bahasa, teks argumentasi mungkin lebih efektif diajarkan melalui debat dibanding ceramah.
Kemudian, guru mulai memikirkan hubungan antara teknologi dan materi. Pertanyaan yang muncul adalah, “Teknologi apa yang paling membantu murid memahami konsep ini?” Inilah yang disebut Technological Content Knowledge (TCK). Pada tahap ini, guru memilih teknologi yang benar-benar mendukung pemahaman konsep, bukan sekadar membuat pembelajaran terlihat modern. Misalnya, Google Earth dapat membantu murid memahami bentang alam secara lebih konkret. TCK membantu guru menentukan teknologi yang paling relevan untuk memperjelas materi.
Selanjutnya, guru juga perlu mempertimbangkan hubungan antara teknologi dan strategi pembelajaran. Pertanyaannya menjadi, “Bagaimana teknologi dapat mendukung cara saya mengajar?” Jawaban dari pertanyaan ini berada pada ranah Technological Pedagogical Knowledge (TPK). Contohnya, guru menggunakan Mentimeter untuk membangun diskusi interaktif, Padlet untuk kolaborasi ide, atau Quizizz untuk asesmen formatif cepat. Pada tahap ini, teknologi digunakan untuk memperkuat interaksi, partisipasi, dan proses belajar murid. Guru juga mulai memahami kapan teknologi membantu pembelajaran dan kapan teknologi justru berpotensi menjadi distraksi.
Pada akhirnya, semua komponen tersebut berpadu dalam TPACK. Kami mulai merefleksikan, “Bagaimana kami dapat mengintegrasikan materi, strategi pembelajaran, dan teknologi secara bermakna?”
Last but not least, integrasi teknologi harus bersifat kontekstual dan spesifik, karena tidak ada satu pendekatan teknologi yang cocok untuk semua situasi pembelajaran. Teknologi yang efektif di satu kelas belum tentu efektif di kelas lain.
Dukungan pemerintah melalui distribusi Interactive Flat Panel (IFP) merupakan langkah besar dalam mendorong transformasi pendidikan di Indonesia. Murid di berbagai daerah memiliki kesempatan yang lebih setara untuk merasakan pembelajaran berbasis teknologi. Namun, pemerataan fasilitas perlu diiringi dengan peningkatan kompetensi guru agar teknologi benar-benar menghadirkan pembelajaran yang aktif, bermakna, dan berpusat pada murid. Di sinilah semangat gotong royong era digital menjadi penting, ketika guru saling berbagi praktik baik, belajar bersama, dan berkolaborasi untuk memaksimalkan pemanfaatan teknologi dalam pendidikan.
메타데이터
- post_id
- ab6df4d95ab6
- slug
- memaknai-ifp-sebagai-momentum-transformasi-pembelajaran-ab6df4d95ab6
- url
- https://medium.com/@faridawardaah/memaknai-ifp-sebagai-momentum-transformasi-pembelajaran-ab6df4d95ab6
- canonical_url
- https://medium.com/@faridawardaah/memaknai-ifp-sebagai-momentum-transformasi-pembelajaran-ab6df4d95ab6
- author_url
- https://medium.com/@faridawardaah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 13:01:02