← Back to list

CLARITY

Julian’s POV

RINA · 2024-02-26 14:45 · 5 claps · 8.2 min read
#jungkook #yeri #alternative-universe #jungri #bts
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space

CLARITY

Julian’s POV

Waktu menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit, pagi ini aku pergi untuk mengunjungi apartemen Miss raya, lagi. Kali ini, dengan langkah yang lebih berat, lebih mendebarkan, berdegup kencang, lebih membuatku khawatir dan kepikiran terus dengannya selama di jalan.

Miss Raya yang selalu bermain tarik ulur dalam hubungan ini, dan aku — anak kecil yang terus menerus merengek padanya, seperti sedang meminta izin dibelikan mainan padanya, tapi tentu saja perasaanku bukan mainan.

Aku hanya masih terbebani dengan semua ini, aku butuh kepastian yang jelas. Dulu, aku tidak pernah menyangka bahwa Miss Raya memang tidak tertarik dengan komitmen yang jelas dalam sebuah hubungan, nyatanya ia pernah menjadi kekasih Mas Ganindra Gani terhormat itu, kan?

Entah apa yang ada di benak Raya selepas putus dengan lelaki itu, sehingga aku melihat kehidupannya terlampau bebas, maksudku bukan berarti dia seorang wanita murahan — enggak pernah aku sampai berpikiran ke sana, tapi, mana mungkin seorang teman, apalagi aku, selaku mantan murid lesnya, kami berdua sudah saling mencumbu satu sama lain, menyentuh area tersensitif satu sama lain, dan apa iya kami bukan apa-apa?

Bolehkah aku melabeli diri ini sebagai partner kesenangannya saja? Partner one night stand? Tapi, jika aku memang partner ons-nya, mana mungkin hampir setiap hari kami cuddling. Ons biasanya hanya berlaku satu malam, tidak saling mengenal, dan tidak ada kontak setelahnya.

Entahlah, aku bingung.

Hari ini, kami akan mendiskusikan hal itu secara matang, dari hati ke hati dan juga secara terbuka satu sama lain. Semoga, semesta merestui jalannya diskusi kami, sehingga aku bisa benar-benar memantapkan hati Miss Raya untuk menjadi milikku seutuhnya, dalam arti berkomitmen.

Tak terasa, lamunanku buyar setelah sampai di depan pintu apartemen Raya Kenindya, perempuan yang selama kurang lebih tiga minggu ini selalu aku prioritaskan dengan sepenuh hati.

Suara musik yang sedang ia dengarkan di dalam unit apartemen terdengar sampai dengan keluar, sedikit dengar aku bisa langsung tahu kalau ini lagu berjudul “The Night Is Still Young,” milik penyanyi tersohor Nicki Minaj.

Suara itu kemudian bersahutan dengan suara nyaring Miss Raya, entah sedang apa perempuan manis itu. Suaranya terus menerus bernyanyi, ia menekankan beberapa kalimat, terutama di bagian lirik yang mungkin related dengannya.

I never worry, life is a journey I just wanna enjoy the ride What is the hurry? it’s pretty early It’s okay, we’ll take our time The night is still young

Aku sedikit terkekeh, isi kepalaku tertuju pada bagaimana Miss Raya akan terus bernyanyi sambil berjingkrak ke kanan dan kiri seperti saat di Club malam pada acara ulang tahun Mbak Gisel.

Biasanya aku langsung menerobos masuk ke dalam unitnya, tetapi hari ini berbeda. Aku sedikit segan bertingkah lebih jauh, percakapan kami di room chat tadi cukup serius karena aku yang terus merengek meminta kepastian dan Miss Raya yang mengelak — masih meragukanku dalam hubungan ini.

Walau pada akhirnya, aku tetap menekan password unit itu, sebab sudah berapa kali lonceng belnya ku tekan, tapi tak ada tanda-tanda Miss Raya akan membuka pintu ini.

Untungnya aku sangat hapal kata sandinya. Tanggal lahirnya, 05 Maret dengan tambahan dua digit di tengah adalah ulang tahun Kak Juan, tanggal 04 tanpa diikuti digit bulan lahirnya, (050403). Yang kalau aku tidak salah dengar kemarin darinya, jika Kak Juan lahir di bulan Desember.

Pintu unit apartemen ini kemudian terbuka, dan benar saja suara nyaring dari speaker bluetooh yang Miss Raya nyalakan langsung bergema di telingaku. Aku langsung melepas kedua sepatu ini, kebetulan beberapa kali mendengar suara dari mesin penyedot debu juga seperti sedang dinyalakan olehnya.

Hal pertama yang aku sambangi adalah kamarnya, karena suara mesin itu ada di sana, “Miss, aku datang. Miss dimana?”

Hening, tak ada jawaban.

Aku kemudian bergegas ke arah dapur, dan benar saja, Miss Raya sedang cuci piring di balik wastafelnya sembari memakai celemek agar busanya tak mengenai baju kesayangannya.

Untungnya, speaker musik yang nyaring itu dekat dengannya, aku menekan tombol pause pada perangkat itu dan langsung beringsut memeluknya dari belakang.

“Lagi apa sih, cantik? Serius amat.” Aku menghirup aroma vanilla dari lehernya, sepertinya Miss Raya baru saja mandi. Wanginya terus menguar apalagi jika aku sengaja menggesekan pangkal hidungku pada leher mulusnya.

Dia kaget bukan main, melepaskan pelukanku dari belakang, lalu menyemprotkan busa cuci piringnya secara masif ke arahku. “ADUH! Kamu kenapa sih, Julian? Harusnya kamu pencet bel dulu baru masuk. Aku kaget!”

Aku tersenyum kikuk, ekspresinya sangat tidak bersahabat. Jauh dari senyuman yang selalu aku dambakan. Rahangnya mengeras, bibirnya cemberut, keningnya juga mengerut seperti sedang banyak hal yang ia pikirkan di benaknya, bukan hanya perihal tentang kami, tapi tentang pekerjaannya yang terus menumpuk di setiap minggunya.

“Aku udah pencet bel tiga kali, tapi kamu ngga nyaut terus. Ya sudah, akhirnya masuk. Lagian, Kakak juga kan udah kasih tahu kata sandinya, tempo hari.” Aku menyentuh tengkukku yang tidak gatal sama sekali, mencoba menahan kecanggungan di antara kami berdua.

“Makanya kalau lagi bersih-bersih, coba volume musiknya sedeng aja, kak. Kalau ada maling dan kamu ngga ngeuh, gimana?” Aku menambahkan beberapa kalimat, supaya situasi kami sedikit mencair.

“Yaudah, iya maaf tadi ngga kedengaran. Kamu duduk dulu aja di sofa, nanti aku bikinin teh.”

Ia lalu membereskan semua piring bersihnya ke darat, merapikan semua peralatan cuci piringnya dan melepaskan celemeknya dari badan.

“Kamu, tumben pagi banget dateng ke sini.” Teh manis yang sudah ia buat kemudian disimpan di depanku, meja berbentuk persegi panjang dengan sofa di belakangnya, di tengah-tengah ruang tamu tempat kami biasanya cuddle dan menonton netflix bersama.

“Aku khawatir.” Lalu aku berinisiatif untuk meraih tangannya, mengecup telapak tangannya supaya dia sedikit bersikap tenang dan ngga ngrasak-grusuk lagi.

Senyuman mulai merekah tercipta di ranum merah bibirnya yang hari ini agak pucat, “Kamu engga perlu sebegitunya, Julian. Aku cuman mabuk.”

Aku menggeleng, “Udah sarapan?”

Dia hanya menyengir kuda, “Baru makan roti, kebetulan ada sisa di lemari. Tadi cuci piring bukan karena udah sarapan, itu cucian yang kemarin belum sempat aku cuci.”

Aku langsung menyodorkan kotak makan bertingkat yang berisi masakan Mama. Bohong, kalau aku meminta Mama untuk masak buat Miss Raya. Aku bilang, ini sarapan yang akan aku santap bersama Danu Rendana karena kami harus mengerjakan project demi menyelesaikan tugas di semester pendek sekarang.

Miss Raya tersenyum hangat dan cukup teduh, urat-uratnya mulai rileks, lalu ia mendekati presensiku yang masih duduk di sofa. “Makasih,” Tanpa banyak bertanya tentang Mama, mungkin ia juga sudah muak karena aku masih akan terus berbohong pada Mama dan Mbak Egi ke depannya tentang hubungan kami berdua, yang sepertinya akan terlihat bagai sebuah anomali bagi orang-orang di sekitar kami.

“Aku suapin, ya?” Dia menggeleng, sepertinya nafsu makannya belum bangkit seperti semula.

“Aku mau kita ngobrol, dulu.” Jika aku seperti anak kecil yang menghindar ketika dihadapkan masalah, Miss Raya adalah penyeimbang yang sempurna. Dia selalu to the point untuk menyelesaikan semua yang ia kira adalah sebuah penghalang ataupun krisis yang perlu diselesaikan dalam hidupnya. Aku pun mengangguk dengan cepat.

“Aku sayang sama kamu, kak. Bohong kalau aku ngga berharap lebih sama presensi kamu. Setelah apa yang kita lakukan, termasuk yang semalam, kamu yakin kalau kita cuma teman? Aku udah nggak bisa melihat kamu sebagai tutor english course ku lagi kaya dulu, Kak.

I’m deeply fallin’ in love with you. Kamu mungkin merasa bisa atasi semuanya sendirian, tapi seperti kejadian kemarin malam, kamu bisa banget loh Kak minta tolong aku buat selalu ada buat kamu, selalu jaga kamu dari semua hiruk-pikuk semesta, dari orang-orang yang sekiranya pernah dan akan selalu jahat sama kamu. Aku di sini, ngga akan kemana-mana.

Aku tahu, mungkin bener apa kata Mas Gani — mantan kamu, waktu kemarin dia menyulut emosi kamu karena dia bilang, sekarang kamu malah pacaran sama bocah ingusan, i am. Aku ngga bisa janji banyak sama kamu, seolah-olah kita bakal baik-baik aja ke depannya, seolah-olah aku bisa sekaligus provide semua hal atas nama kebahagiaan buat kamu, tapi seenggaknya aku berusaha, seenggaknya aku mencoba, senggaknya aku — “

Cup!

Raya Kenindya, perempuan yang di luarnya selalu bersikap seperti perempuan independen itu, dia mencium ranum bibirku di kala aku masih berusaha menjelaskan.

Tanpa basa-basi, Kak Raya menekan tengkuk ku supaya bisa memperdalam ciuman dan lumatan yang ia mulai. Sesaat kemudian, dia menyerah, karena aku nggak berusaha membalas ciuman itu.

Aku bukan ngga mau membalas, hanya menahan diri, takut hilang kendali atas kontrol diri sendiri seperti kala itu di basement parkiran. “Julian, aku nggak nuntut kamu untuk seperti Gani atau seperti siapapun. I liked the way you are. Apa adanya kamu, lucunya kamu, seriusnya kamu, manjanya kamu, aku tahu kita berdua enggak sempurna, tapi bukan itu masalahnya.”

“Apa masalahnya, Kak? Kasih tahu aku, semuanya.”

Aku menuntut akan penjelasannya yang masih terasa gamang dan terkesan ambigu.

“Kamu, Kakak kamu, keluarga kamu, semuanya. Aku merasa hubungan kita akan banyak rintangannya daripada keuntungannya, entah buat kamu atau buat aku. Kita seharusnya engga pernah ketemu in the first place, Julian.”

Matanya sedikit berkaca-kaca, helaan nafasnya jelas berulang kali tertangkap oleh netraku sebagai lawan bicaranya. Aku masih diam, bingung harus membalas apa. “Belum lagi akhir hubungan aku sama Gani yang masih berbekas. Kamu tahu?

Satu-satunya hal terbajingan yang mereka berdua lakukan adalah, mereka mengadakan pertunangan di kala aku, Kak Wregas, dan Mbak Irena ditugaskan ke hutan belantara demi membuka kasus penjualan satwa langka.

Gani dan Gisel, kenangan dari keduanya sama-sama menyakitkan. Aku pantas dapet penghargaan itu di tempat kerjaku, awalnya penghargaan itu akan mereka ambil, untuk mewakili aku sebagai jurnalis junior di sana. Tapi engga, aku ambil sendiri pada akhirnya. Aku tahu, aku pantas untuk itu.

Walaupun keberadaan mereka bagaikan “Dua Matahari” dalam perusahaan kami, tapi aku survived. Aku bangga, Julian, ternyata aku bisa melanjutkan hidup dan liputan tanpa harus sama Ganindra Gani, ternyata aku ngga bodoh, ternyata aku mampu. Aku terlalu dimanipulasi sampai terlalu banyak meragukan kualitas diri aku sendiri selama ini sama dia.”

Miss Raya terisak, sangat dalam. Tangisannya membuatnya terlihat semakin ringkih, aku peluk presensinya, menepuk-nepuk bahunya dengan sigap, meluapkan semua kasihku padanya, memastikan kalau sekarang ia sudah aman dan berada di dalam dekapan paling tepat di antara orang yang bisa ia percaya di semesta ini, siapa lagi kalau bukan aku.

“Maaf Kak, mungkin kesannya aku ngga memberi jeda supaya kakak bisa sendiri ya? Maaf, aku udah ngga sabaran, maaf aku merengek terus, aku terlalu egois, maaf ya Kak.

Harusnya aku sadar, masih banyak luka yang harus kamu obati dari Gani, harusnya aku bisa lebih sedikit pengertian sama kamu, Raya Kenindya i am really sorry to hear your pain after all of this shits goin’ on . Maaf, aku baru muncul sekarang, harusnya dari tahun-tahun yang lalu aku temani kamu dan bukan Gani.”

Dia menggeleng berulang kali, “Enggak, enggak apa-apa. Ini bukan salah kamu, bukan salah aku juga. It is what it is.

Tubuh Raya sepertinya masih kelelahan, pelukan kami terlepas, dan Raya akhirnya membentangkan tubuhnya di pahaku. Memeluk pahaku, masih sambil menangis. Poni rambutnya basah karena air mata, jeansku juga basah karena air matanya merembes di pahaku, tapi nggak apa, karena bukan itu yang penting sekarang.

Aku masih mengusap-usap punggungnya pelan, berusaha menghiburnya lewat sentuhan. Asalnya dia memunggungiku, tapi lalu dia akhirnya menghadap ke arah wajahku, membelai pipiku. Aku pun mengusap air matanya yang masih berderai, memastikan bahwa tangisannya tak perlu keluar lagi, sekejap kemudian dia mendorong kepalaku mendekat, adegan selanjutnya pasti sudah bisa kalian tebak, kami berciuman, lag, untuk ke sekian kalinya.

Ciuman saat ini lebih lembut, lebih tulus dan terkesan ngga menuntut untuk aku membalasnya. Raya terpejam lama, aku membalas ciumannya yang begitu tulus dan lembut itu dengan memakai tempo yang sama. Raya tersenyum, aku lega.

Aku rasa semua unek-unek yang coba ia sampaikan padaku sudah tandas hari ini. Dia melepas pagutan kami, lalu Raya bangkit dari posisi tidurnya di pahaku, ia memelukku spontan, namun isak tangisnya masih terdengar,

“Selama ini, aku selalu jadi umpan orang lain untuk berusaha mendengar dan mengerti perspektif mereka tentang masalahnya. Hari ini, aku baru ngerti rasanya didengarkan secara penuh, secara sadar, sama kamu, Julian. Makasih sudah jadi muara dukaku, you are more than enough to be my lover.

“Kak Raya, kamu harus tahu, kesempurnaan dalam hubungan itu nggak ada, Kak. Sifatnya semu, fluktuatif, dan nggak menentu.

Justru itu, kita perlu sama-sama mengisinya bersama, sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit. Kebahagiaannya kita bangun sama-sama dari nol, ya?” Aku mencoba menenangkannya lagi, mengusap punggungnya, mengecup pundaknya lama.

Tak lama kemudian, Raya melepas pelukan ini, lalu mengecup pipi kiriku lama.

“Sekarang aku sudah siap bangun kebahagiaan sama kamu, Julian Ananta. Makasih untuk penantiannya.”

Pagi itu, semua yang buram menjadi jelas di kepalaku. Aku senang, karena Miss Raya terlihat optimis tentang kita berdua.

Namun, aku juga sedikit segan karena aku benar-benar harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku ucapkan kepadanya per hari ini hingga mungkin selamanya, sampai kami menikah, sampai kami resmi menjadi pasangan di mata Tuhan, sampai kami membangun keluarga kecil kami nantinya, bahkan sampai kami beruban dan mempunyai cucu yang banyak.

— Chapter Clarity; FIN.


메타데이터
post_id
ab719eaa4ab5
slug
clarity-ab719eaa4ab5
url
https://medium.com/@rinavvrites/clarity-ab719eaa4ab5
canonical_url
https://medium.com/@rinavvrites/clarity-ab719eaa4ab5
author_url
https://medium.com/@rinavvrites
status
ok
fetched_at
2026-07-24 08:42:33