Living An Unserious Life
Sebuah catatan manusia ngawur yang sedang gencar mempelajari kehidupan
Living An Unserious Life
Sebuah catatan manusia ngawur yang sedang gencar mempelajari kehidupan

Sebuah suguhan pandang rupawan yang kudapatkan dari depan gerbang kos -Neo1024-
Aku kepikiran untuk menulis ini di perjalanan pulangku menuju kos. Menceritakan sebuah kejadian unik yang dialami manusia ngawur macam diriku. Makanya kuberi judul tulisan ini; living an unserious life.
Di hari minggu yang indah kemarin, aku pergi ke Taman Balekambang, sebuah public space berupa taman rindang penuh pepohonan yang berada di tengah kota Solo. Aku pergi untuk mengikuti sebuah book club yang lumayan eksis di kota ini. Perjalanan begitu lancar, walaupun jalannya baru saja dipakai untuk CFD di Minggu pagi. Tepat satu kilo sebelum aku benar-benar sampai di taman itu, aku mampir di sebuah ATM. Mengingat aku hanya memiliki uang cash terbatas, jadi aku mengambilnya saja daripada repot jika sinyal hilang saat melakukan pembayaran. Atau lebih buruknya, aku melakukan transaksi yang mereka tidak menyediakan pembayaran e-wallet dan aku tidak memiliki cash. Sebuah potret mimpi buruk bagi Gen Z.
Kini dua lembar uang lima puluh ribuan itu resmi masuk di dalam dompetku. Semoga aku bisa memakainya dengan irit, batinku. Aku melajutkan perjalananku ke Balekambang dan bertemu dengan salah satu kawanku di parkiran sana. Kemudian, kami pergi ke tempat yang sudah diumumkan untuk berkumpul dan memulai kegiatan book club.
Book club berlangsung sangat menyenangkan. Membaca bersama, mendengarkan penjelasan buku yang mereka baca satu sama lain, kemudian berakhir makan bersama sembari mengenal lebih jauh orang-orang yang baru kutemui di book club itu.
Saat makan, kami melakukan pemesanan bersama melalui satu orang, dan dia memasrahkan semua pembayaran makanan lewat rekeningku. Aku sedikit menggerutu dan nyeletuk; tau gitu tadi ga usah ambil cash. Kawan-kawanku tertawa. Satu dari mereka menimpali; ya udah, abis ini dimasukin lagi aja duitnya. Kami kembali tergelak.
Sembari menghabiskan makanan, kami ngobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal. Mulai dari buku, kisah nabi, pendakian ke gunung, perihal English grammar lalu berputar ke penggunaan EYD, hingga sereceh membahas konteks meme yang membuat Kak Ami benar-benar tergelak parah. Aku menikmati hariku.
Oiya, saat kami menuju tempat makan tersebut, aku menawari tebengan ke salah satu kawanku yang datang ke book club dengan ojol. Daripada kamu menyusul dengan ojol, mending bareng aku aja, kak, kataku. Begitupun saat pulang dari tempat makan, aku menawarkan tumpangan lagi padanya karena kebetulan kami searah. Dia mengiyakan. Maksudku daripada dia memesan ojol lagi, barangkali dia bisa menggunakan uang ojolnya hari itu untuk hal lain atau untuk menghemat.
Namun hari sial memang tidak pernah tertulis di kalender. Bahkan siapapun sepertinya akan merasa najis untuk menjadwalkannya dalam kesempatan manapun. Di penghujung jalan sebelum benar-benar sampai di kos temanku, sebuah mobil mengerem dadakan tepat di depan motorku. Sebenarnya aku tidak menyentuhnya saat itu walaupun memang hitungannya aku benar-benar mepet, namun aku tidak berusaha mundur karena aku sebetulnya terhimpit oleh mobil belakangku. Kejadiannya tepat setelah itu, tiba-tiba dia mundur ke belakang. Aku tidak memperhatikannya, jadi itu membuatku terkejut dan tanpa sengaja malah menarik gasku saat aku berusaha menahan motorku agar tidak jatuh. Yah, jadinya aku juga tanpa sengaja menabrak bemper belakang mobil itu hingga meninggalkan bekas baret. Anjay, mati gue, batinku.
Aku berdoa semoga dia orang baik, sehingga setidaknya dia tak menuntutku banyak atas ketidaksengajaanku akibat kesalahannya. Nahas, dia ngamuk. Bahkan memaki supir yang mengendarai mobil di belakangku yang berusaha membelaku. Yah, uang cash yang kuambil itu malah terpakai untuk mengganti baret mobilnya. Kenapa aku tidak melawan? Takut anjir, dia ngamuk seperti orang habis minum dan memaki semua orang di jalan dengan teriakannya yang tidak pantas.
Aku merasa tidak enak dengan kawanku. Karena saat mengganti, aku hanya mau memberinya separuh dari yang dia minta. Sebab itu, dia malah meminta uang dari kawanku yang untungnya kawanku tidak pegang uang cash. Dan yap, aku juga perlu membenahi plat depanku yang patah dan besinya yang bengkok. Aku benar-benar merasa tidak enak dengan kawanku (2) karena harus mengalami kejadian seperti ini bersamaku.
Setelah aku mengantarkannya ke kosnya, aku langsung pulang setelah berpamitan. Rasanya dongkol sekali. Sudahlah itu di siang hari yang sangat panas di Solo, motor depanku rusak, mengeluarkan uangku untuk hal yang barangkali seharusnya tak kukeluarkan, dan dimarahi orang aneh di tengah jalan, rasanya segala emosi kesedihan bercampur aduk. Aku sudah merasa mau nangis saja karena perasaan dongkol itu.
Tapi yang kulakukan bukanlah segera pulang ke kosanku. Aku menelepon teman dekatku yang kampusnya tak jauh dari kampus kawanku tadi. Kubilang aku mau mampir, rasanya awikwok karena aku baru saja mengalami hal yang tidak menyenangkan. Aku berpikir, aku nangis di sana aja karena setidaknya aku tidak sendirian. Di tengah perjalanan, aku berpikir kalau sepertinya aku tidak akan sempat sholat kalau sampai di kosan temanku. Kebetulan aku belum sempat sholat dhuhur, sehingga kuputuskan untuk mampir di masjid dulu saja, keburu waktu sholat habis.
Setelah selesai sholat, aku duduk diam di tangga luar masjid sebelum memakai sepatu. Tiba-tiba juga, sebuah mobil ambulan masuk ke pelataran masjid dan ia berhasil membuyarkan lamunanku. Sebuah peti mati dikeluarkan dari dalam ambulan itu. Boleh jadi (dan itu kemungkinan besarnya) mereka mau menyolatkan jasad tersebut di masjid tempatku sholat. Perasaanku langsung tidak enak. Maksudku, rasa aneh segera saja menyerangku setelah aku melihat peti mati itu keluar. Biasanya memang begitu, kan? Kalian pernah merasakannya, bukan?
Begitu lamunanku buyar karena peti mati itu, aku teringat lagi dengan celetukanku dalam hati saat aku tidak sengaja menabrak mobil di depanku tadi yang; mati aku. Bukannya setidaknya kecelakaan itu tidak membuatku betulan mati, ya. Entah apakah aku harus bersyukur karena kecelakaan (kuanggap begitu) yang tidak parah atau bagaimana, aku bingung. Karena yang kulakukan setelahnya adalah berdoa untuk orang yang meninggal itu dan juga bersyukur bahwasanya Tuhan masih memberiku hidup.
Sampai di kosan temanku, dia segera memberondongku dengan pertanyaan seputar kecelakaanku tadi. Kuceritakan sedemikian rupa, dan dia berkata; untung kamu tidak kenapa-napa. Oh, iya juga ya. Yang berikutnya terjadi saat aku di kosan temanku adalah; bercerita banyak hal, tertawa ngakak parah, makan-makan, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Niatku untuk menangis padanya sirna dan malah baru teringat saat aku mau pulang ke kosanku. Aku berpamitan padanya karena kebetulan dia mau pergi kencan dan kubilang padanya; terima kasih ya, sudah menghiburku. Padahal aku tadi ke sini karena mau nangis karena merasa dongkol, tapi kita malah bersenang-senang yang membuatku lupa akan sedihku. Dia bilang bahwa dia tak melakukan apapun. Namun kujawab; kamu melakukan banyak hal yang membuatku tertawa, makanya kuanggap saja ini sebuah penghiburan. Dia tertawa dan menyuruhku berhati-hati saat pulang.
Barangkali sedih itu masih membekas sedikit berbalut perasaan dongkol, jadi aku memutuskan untuk membeli es krim agar aku tidak begitu sedih. Sampai di kos, aku menghabiskan dua es krim yang kubeli tadi di supermarket.
Aku mencerna kembali semua kejadian yang kualami di hari itu. Apa ya, aku tidak tahu apakah ini termasuk di toxic positivity atau seharusnya bukan, tapi aku berakhir untuk tidak bersedih di malam itu alih-alih meratapi nasibku serta uangku yang melayang sia-sia. Maksudku, di hari itu, aku lebih banyak menemui hal-hal yang membuatku bahagia dibandingkan hal-hal yang membuatku sedih. Aku merasa, aku tidak ingin perasaan senangku ini terhapus karena aku bersedih. Di book club, aku bertemu dengan orang-orang baru yang menyenangkan, mendengarkan cerita-cerita buku yang sangat seru dari semua yang datang, makan dengan perasaan bahagia atas segala obrolan receh yang berhasil membuatku tergelak di tengah-tengah pernghabisan makanan, dan banyak hal menyenangkan lainnya. Setelahnya pun aku masih bertemu dengan teman dekatku dan secara tak langsung mengobati segala sedihku atas kejadian sialan itu.
Bahkan setelah pulang, kawanku yang kutebengin tadi mengirimkanku setengah uang yang kuberikan kepada mas-mas aneh tadi. Aku baru mengetahuinya saat mengecek mutasi keuanganku di e-wallet yang kupunya, kebetulan saat dia mentransferku, tidak masuk notifikasi apapun terkait uang masuk. Aku bilang padanya kalau tidak usah mengganti uangku yang kuberikan pada orang aneh tadi. Aku sangat tidak enak (3) padanya, padahal aku tak berniat mengajaknya mengalami hal menyedihkan itu. Tapi dia bilang tidak usah sungkan. Kak Aisya, kubilang padamu lewat tulisan ini; semoga harimu selalu terlewati dengan baik, semoga hal-hal indah mengerubungimu, semoga rezekimu selalu lancar dan berlimpah. Aku begitu tidak enak (4) padamu kak, padahal dengan uang yang kamu berikan padaku, kamu bisa pergi ke mana-mana lebih dari dua kali. Tapi kamu bilang, musibah gak ada yang tahu. Semoga setelah ini muncul seribu buku gratis yang tetiba mencuat di hadapanmu, kak.
Kalimat yang kupikirkan saat mencerna kejadian malam itu adalah;
aku bisa memilih mau berlarut dalam sedih atas hal kecil yang terjadi hari ini, atau tetap merasa senang atas banyak hal yang terjadi di hari ini.
Pernyataan itu pernah kubaca dalam salah satu buku yang pernah kubaca tapi aku lupa judulnya. Namun aku memilih untuk didominasi atas hal-hal bahagia yang banyak kutemui hari ini. Kesedihan itu tetap ada, dan akan kujadikan pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam hal apapun. Semoga uang yang kukeluarkan bernilai baik di mata Tuhan. Semoga Ia menggantinya dengan rezeki berlipat-lipat dengan jalan tak terduga.
Tulisan ini kuselesaikan di sebuah kafe sembari menyeruput kopi susu dengan frappe di atasnya. Sedikit sial malam ini karena frappe di kopiku terasa asam seperti basi. Namun senangnya aku saat baristanya meminta maaf dan mengganti kopiku dengan menu yang sama setelah aku komplain atas rasa di frappe-ku. Ternyata ada sedikit kesalahan yang tidak mereka sengaja dan itu berimbas pada kopi yang kupesan. Semoga para barista di kafe ini diberikan rezeki yang melimpah atas keramahan dan tanggung jawab yang kalian berikan padaku malam ini.
Semoga semua yang membaca tulisanku dikelilingi hal-hal baik dalam hidup kalian. Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan manusia ngawur ini. Dan mungkin yang akan kuakukan setelah ini adalah hidup dengan tidak begitu serius atas dalil “aku akan lebih memilih hidup dalam euforia senang jika senang lebih banyak terjadi daripada kesedihan di hari yang sama.”
메타데이터
- post_id
- abbbc3bcc883
- slug
- living-an-unserious-life-abbbc3bcc883
- url
- https://medium.com/@neo.1024/living-an-unserious-life-abbbc3bcc883
- canonical_url
- https://medium.com/@neo.1024/living-an-unserious-life-abbbc3bcc883
- author_url
- https://medium.com/@neo.1024
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 21:39:52