← Back to list

Menjelang 21, Aku Kehabisan Tenaga

Tentang lelah yang tidak terlihat.

Temaram Ragu ;༊ · 2026-03-24 01:11 · 0 claps · 2.0 min read
#life #growth #pressure #strength #heavy
Open on Medium ↗
Wiki topics: 📰 · Journalism & News

Menjelang 21, Aku Kehabisan Tenaga

Temaram Ragu’s Journal

Temaram Ragu’s Journal

Orang bilang, seiring bertambah usia, kita akan lebih siap menghadapi banyak hal.

Namun semakin dekat usiaku yang 21, justru semuanya terasa semakin berat…

Aku tidak tahu kenapa semuanya terasa sangat sesak akhir-akhir ini. Seperti tidak ada ruang kosong untuk bernapas sedikit lebih lega.

Hari itu seharusnya dipenuhi oleh tawa. Aku duduk dan bercengkrama bersama orang-orang yang seharusnya membuatku lupa sejenak pada semua beban. Ada suara tawa, ada percakapan yang berjalan seperti biasanya. Tapi di tengah itu semua, secara tiba-tiba aku merasa kosong. Seperti ada sesuatu yang pelan-pelan muncul dan mengisi kepala. Beban yang tadinya sempat jauh, mendadak kembali terasa dekat mengelilingi sisa ruang di otak. Aku masih di sana. Masih ikut tersenyum, masih menanggapi obrolan dan masih menyelam dalam candaan. Tapi di dalam, rasanya sangat kosong.

Dan tiba-tiba saja air mataku jatuh, tepat saat aku menyuap makanan. Di antara tawa dan obrolan ringan, aku seperti sedang bercanda dengan keadaan yang seharusnya kutangisi dengan lantang.

Aku tidak sempat menjelaskan. I didn’t even have the words to make sense of what I was feeling.

Yang lebih menyakitkan bukan tangisnya. But the moment I tried to open up, ceritaku tidak benar-benar diberi ruang. It slowly shifted, disandingkan dengan pengalaman lain, lalu diarahkan ke sudut pandang yang bukan milikku. As if perasaanku cukup dipahami lewat perbandingan, without ever truly being heard.

Di situ aku merasa semakin jauh..

Is it wrong to just want to be heard, without being compared?

Is it too much to ask for someone to stay, even if only for a moment?

Aku tidak butuh jawaban cepat. Aku tidak butuh kesimpulan. Aku hanya ingin ada yang bersedia berhenti sebentar, memberi ruang, dan mendengarkan tanpa terburu merasa paling mengerti.

Karena jujur saja, aku sendiri masih berusaha memahami diriku.

Tentang kenapa hal kecil bisa terasa besar. Tentang kenapa aku mulai meragukan diriku sendiri. Tentang kenapa di tengah semua usaha yang sudah kulakukan, aku tetap merasa kurang.

Am I really lacking, or am I just too tired to see myself clearly?

Aku melewati dua puluh dengan terus mencari alasan untuk tetap tinggal, bahkan ketika rasanya ingin menyerah lebih besar.

Menjelang dua puluh satu, hidup tidak lagi terasa ringan seperti yang sering ku bayangkan. Dunia yang dulu luas dan ringan, kini terasa makin padat dan mendesak. Masalah yang dulu cuma jadi angan, sekarang berdiri tepat di hadapan tanpa memberi ruang untuk sembunyi. Rasanya seperti didorong untuk terus jalan tanpa sempat menoleh. Tanggung jawab mulai menetap, menagih komitmen yang sungguh-sungguh. Akhirnya, hidup bukan lagi soal bermain-main, tapi tentang keberanian menentukan langkah yang lebih nyata.

Dan untuk sekarang, aku hanya butuh berhenti sebentar tanpa merasa tertinggal.

I don’t know what comes next.

Tapi aku tahu satu hal, aku tidak berhenti di usia dua puluh.

Aku tetap tinggal, meski berkali-kali ingin pergi.

And maybe, without even realizing it, that’s already a form of courage I’ve been carrying all along.

-temaram ragu ;༊


메타데이터
post_id
abda0b49d3e7
slug
menjelang-21-aku-kehabisan-tenaga-abda0b49d3e7
url
https://medium.com/@temaramragu/menjelang-21-aku-kehabisan-tenaga-abda0b49d3e7
canonical_url
https://medium.com/@temaramragu/menjelang-21-aku-kehabisan-tenaga-abda0b49d3e7
author_url
https://medium.com/@temaramragu
status
ok
fetched_at
2026-06-24 04:09:36