← Back to list

The Pen Test

Jessica Jung memiliki ritual kecil yang tidak pernah ia akui kepada siapa pun.

Panggil aku Kewvv · 2026-02-10 12:49 · 0 claps · 3.2 min read
#fanfiction #fanfic #snsd #girls-generation
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✍️ · Writing & Creative

The Pen Test

Jessica Jung memiliki ritual kecil yang tidak pernah ia akui kepada siapa pun.

Setiap kali ia mendapatkan pulpen baru, entah itu Montblanc mahal dari mitra bisnis, pulpen murah berlogo hotel, atau bahkan stylus untuk tabletnya, ia akan mencari selembar kertas dan menulis sebuah nama.

Tiffany Hwang.

Huruf ‘T’ yang melambung tinggi dengan ekor anggun, ‘i’ dengan titik berbentuk hati kecil (kebiasaan lama yang tidak bisa ia hilangkan), dua ‘f’ yang bersebelahan seperti dua sosok yang berdekatan, dan ‘y’ terakhir yang melengkung turun dengan lembut, seperti akhir dari sebuah senyuman.

Itu adalah cara ujinya. Jika sebuah pulpen bisa menulis nama itu dengan sempurna — dengan lancar, tanpa tersendat, meninggalkan jejak tinta yang konsisten dan elegan — maka pulpen itu layak digunakan. Jika tidak, ia akan masuk ke laci yang berisi pulpen-pulpen gagal lainnya.

Hari ini, di meja kerjanya yang minimalis di lantai 18 gedung perkantoran miliknya, ia memutar-mutar pulpen jet black terbaru. Sebuah hadiah untuk menandai kesepakatan merger yang sukses. Ia merobek selembar kertas dari notepad di sampingnya, kertas berwarna gading yang mahal dan halus.

Napasnya tertahan sejenak, selalu. Lalu, ujung pulpen itu menyentuh kertas.

Tiffany Hwang.

Tinta hitam pekat mengalir sempurna. Setiap lekukan, setiap tekanan, terasa seperti melukis sebuah mantra yang akrab. Sebuah pengakuan yang tidak pernah disuarakan. Pulpen itu lulus ujian dengan nilai sempurna. Tapi Jessica tidak merasa puas. Rasa hampa yang biasa justru datang menyergap.

Dia memandangi nama yang terpampang di atas kertas, sendirian. Seperti Tiffany di hidupnya sekarang: sebuah tanda yang elegan, indah, tapi terpisah dari konteksnya. Sebuah nama tanpa cerita yang berlanjut.

Tiba-tiba, teleponnya berdering. “Ms. Jung, Ms. Hwang dari tim kreatif ada di sini untuk berdiskusi tentang collab musim semi.”

Dadanya sesak. “Suruh dia masuk.”

Pintu terbuka, dan dunia yang tadinya datar tiba-tiba penuh warna. Tiffany masuk dengan blazer merah muda lembut, senyumnya masih sama memancar, meski matanya sekarang lebih sering menyimpan cerita yang tidak lagi mereka bagi.

“Jessi,” sapa Tiffany, suaranya seperti bel yang sudah lama tidak berbunyi di telinganya.

“Fany,” Jessica membalas, berusaha tenang. “Silakan duduk.”

Diskusi berjalan lancar, profesional. Mereka membahas mood boards, palet warna, target pasar. Kata-kata mereka saling menyambung dengan sempurna, sebuah chemistry bisnis yang tak terbantahkan. Tapi ada jarak yang jelas, sebuah kaca pembatas yang tak terlihat yang mereka ciptakan bersama sejak pilihan-pilihan hidup mereka mulai berbeda.

Saat diskusi hampir berakhir, mata Tiffany tertuju pada selembar kertas di samping keyboard Jessica. Kertas itu terbalik, tapi dari punggungnya yang tembus pandang, Tiffany bisa melihat bayangan tulisan. Sebuah bentuk yang terlalu akrab untuk tidak dikenali.

Tiffany membeku. Lalu, tanpa sepatah kata pun, dia meraih pulpen tinta merah dari tempat pensil di meja Jessica. Sebuah pulpen biasa yang diberikan hotel. Dengan gerakan yang lancar dan penuh keyakinan, dia membalik kertas itu.

Di sana, di bawah tulisan “Tiffany Hwang” yang ditulis dengan tinta hitam elegan, dengan pulpen yang sama mahal dan sempurna dengan hidup Jessica sekarang, Tiffany menulis sebuah nama lain.

Jessica Jung.

Tapi tulisannya berbeda. Tinta merahnya sedikit berantakan, ‘J’ yang terlalu besar, garis pada huruf ‘s’ yang gemetar. Pulpen hotel itu jelas-jelas murah dan tidak sempurna. Tapi ada sebuah kehangatan, sebuah kenekatan, di coretan-coretan itu. Sebuah pengakuan yang justru terasa lebih hidup.

Mereka diam, memandangi dua nama mereka yang berdampingan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. Hitam dan Merah. Sempurna dan Berantakan. Terkendali dan Spontan.

“Kau tahu,” bisik Tiffany akhirnya, tidak menatap Jessica, tapi menatap kedua nama itu. “Aku juga punya kebiasaan aneh. Aku selalu menulis nama seseorang untuk menguji sebuah perasaan. Bukan pulpen.”

Jessica menatapnya, jantungnya berdegup kencang di dalam sangkar tulang rusuknya. “Dan… bagaimana hasil ujinya sekarang?”

Tiffany akhirnya menatapnya. Di matanya ada kerinduan, kehati-hatian, dan sedikit keberanian yang dulu menjadi ciri khasnya. “Pulpennya jelek. Murahan. Sering macet.” Dia tersenyum kecil. “Tapi tintanya… tintanya terasa benar. Masih mengalir.”

Jessica melihat pulpen jet black mahalnya, lalu melihat pulpen hotel merah murahan di tangan Tiffany. Dia meraih pulpen merah itu dari genggaman Tiffany. Tangannya yang biasa stabil terasa gemetar. Dia mengambil kertas baru, dan dengan pulpen yang “jelek” itu, dia mulai menulis.

Kali ini, dia tidak hanya menulis satu nama.

Dia menulis: Jessica Jung & Tiffany Hwang.

Garis ‘&’-nya tidak sempurna. Tinta merahnya tidak konsisten. Tapi itu adalah tulisan paling jujur yang pernah dia buat dalam satu dekade terakhir.

“Ujiannya bukan pada pulpennya,” ucap Jessica, suaranya serak. “Tapi pada apakah kita masih mau menggoreskan nama itu di kertas yang sama, meski alatnya sudah tidak sempurna lagi.”

Tiffany menatap tulisan itu, lalu menatap Jessica. Sebuah pemahaman melintas di antara mereka, sunyi namun menggema.

Dua nama. Dua warna. Satu halaman yang baru saja mereka mulai, dengan alat yang sederhana dan berani, namun penuh makna.

Dan untuk pertama kalinya, Jessica merasa, inilah ujian sesungguhnya yang berakhir dengan kemungkinan.


메타데이터
post_id
abed94e4aaa2
slug
the-pen-test-abed94e4aaa2
url
https://medium.com/@dannkoes/the-pen-test-abed94e4aaa2
canonical_url
https://medium.com/@dannkoes/the-pen-test-abed94e4aaa2
author_url
https://medium.com/@dannkoes
status
ok
fetched_at
2026-06-21 12:17:11