← Back to list

The Daisy from Ubud | pt.5: Daisy

Sometimes, it has to end

panglimalembur · 2026-04-13 13:16 · 0 claps · 6.1 min read
#travel #travel-fling #solo-travel #love #daisy
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships ✈️ · Travel

The Daisy from Ubud | pt.5: Daisy

Sometimes, it has to end

Waktu berjalan lambat, detik demi detik aku usahakan untuk menyadari nafas, dan menyadari diriku disana. Keputusan untuk mengambil liburan panjang ke Bali kali ini adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah aku ambil. Termasuk, keputusan untuk menginap di Ubud Tropical didalamnya. Semua keputusan yang kuambil adalah keputusan yang cukup impulsif, mengingat perjalanan ini aku rencanakan dengan waktu yang singkat. Begitu pula pada akhirnya aku memilih Ubud Tropical, adalah sebuah ketidaksengajaan. Namun mungkin semua ini merupakan jalan dari Tuhan, untuk membuatku menyadari bahwa tidak ada kebetulan yang bukan berasal dari Tuhan.

Entah darimana datangnya, namun dua hari terakhir, adalah salah satu titik balik terpenting di hidupku. Aku benar-benar bisa merasakan ketenangan kembali, be mindful, menyadari diriku disana, dan menata pikiranku dengan tenang.

Until this time, I still grateful for God give myself back, after the storm again and again.

Jika memang pada akhirnya aku akan mendapatkan ketenangan seperti ini, aku akan ikhlas dan menunggu dengan sabar di setiap badai yang aku lewati. Namun kenyataannya, hidup tidak berjalan seperti itu, kan? Kita seringkali selalu bertanya-tanya, kenapa hal ini terjadi kepada kita? Kenapa kita yang menanggung beban seberat ini? Kapan kita akan hidup dengan perasaan yang lega? Semua pertanyaanku bertahun-tahun, dijawab dan dipatahkan hanya dalam semalam. Begitulah cara Tuhan bekerja. Diluar nalar manusia biasa.

Dan kali ini, aku hanya ingin menikmati sisa waktu-ku bersama Lanhua di Ubud Tropical ini. Walaupun pada akhirnya aku tau kita akan berpisah, dan ini mungkin terjadi beberapa saat lagi, namun tetap saja aku bersyukur atas terjadinya kenangan indah ini. Sehari sebelumnya, aku berniat untuk memberinya sebuah kenang-kenangan berupa surat yang mungkin bisa ia buka dan ia baca sewaktu-waktu. Namun, hujan turun dan menahanku untuk menemukan surat itu kemarin. Surat yang aku bayangkan adalah berupa postcard, dengan mungkin sentuhan bunga di bagian depan. Bisa bunga apapun, namun aku tetap ingin memberinya postcard dengan aksen bunga Daisy, sesuai dengan apa yang aku suka, dan cukup menggambarkan dirinya.

Waktu menunjukkan pukul 9 pagi dan kemudian, Lanhua beranjak dari kasur dan mengatakan padaku bahwa ia akan pergi menuju tempat gym. “oke!” jawabku.

Sejenak kupikirkan, waktu kosong ini bisa aku manfaatkan dengan mencari postcard yang sempat tertunda kemarin. Aku pun langsung bergegas keluar hostel dan tempat pertama yang aku kunjungi adalah minimarket, untuk membeli sepasang alat tulis. Setelah menyelesaikan misi pertama, aku langsung menuju kantor pos untuk menemukan postcard yang pas. Sesampainya di tempat pertama, sangat disayangkan ternyata tempatnya tutup. Aku pun bergegas untuk menuju ke tempat kedua yang jaraknya mungkin hanya sekitar 1km dari titik pertama. Sesampainya disana, aku tidak yakin bahwa tempat tersebut menjual hal yang aku cari. Dan benar saja, didalamnya hanya melayani pengiriman paket saja, tidak ada penjualan produk sama sekali.

Namun ternyata, tepat di sebrang nya, terdapat satu toko buku yang bernama Ganesha Bookshop. Secara tidak sengaja aku menemukan toko tersebut setelah kedua toko yang aku datangi tidak sesuai ekspektasiku. Aku memilih untuk langsung mendatangi toko tersebut, dengan perasaan yang tentu saja lega, lagi-lagi, Tuhan menunjukkan jalannya. Tidak lupa, sebelumnya aku memang berdoa kepada Tuhan agar aku bisa mendapatkan apa yang aku bayangkan, sebuah kartu pos dengan aksen bunga Daisy di tengahnya, dan lengkap dengan amplopnya.

Di sisi luar toko tersebut, terdapat rak khusus yang berisi kartu pos. Namun, aku tidak menemukan apa yang aku cari. Lalu aku pun memasuki toko tersebut dan mendapati bahwa ini merupakan toko yang cukup unik dan membuatku damai, entah darimana asalnya. Tepat di depan pintu masuk, terdapat satu rak yang penuh dengan berbagai jenis kartu pos, kartu ucapan, dan juga buku catatan. Setelah mungkin sekitar 10 menit aku mencari, lalu lagi-lagi dengan restu Allah, aku dapatkan apa yang aku cari! Tepat seperti apa yang aku bayangkan di benakku.

Kartu pos ini hanyalah kartu pos biasa, namun merupakan satu dari edisi khusus berupa bunga yang diawetkan. Setelah aku buka beberapa kartu pos dengan edisi khusus ini, aku temukan satu bunga Daisy. Lalu aku bergumam, “yaAllah, doaku terkabul lagi kali ini.”

Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil satu kartu pos tersebut dan satu kartu pos lainnya, berupa aksen bunga namun kali ini dilengkapi dengan amplop. Aku pun membayar keduanya dan bergegas untuk menuju hostel kembali, dan tidak sabar untuk menuliskan pesan kesan dan harapanku untuk diberikan kepada Lanhua.

Setelah aku kembali, suasana kolam renang masih sama. Masih diliputi beberapa orang yang sedang bersantai disana, dan juga udara pagi yang tidak kalah menenangkan. Aku pun duduk di salah satu kasur depan kolam renang, memilih untuk langsung menuliskan harapanku di kartu pos tersebut. Saat aku masih merenung memikirkan tulisan yang tepat, Lanhua pun telah kembali dari gym dan duduk di depan kamarnya, menyantap sebuah cemilan. Kali ini dia tidak menyapaku, namun mengirimkan sebuah pesan di Instagram,

“I want to go to Old Friends Coffee — Bali Coffee Farmer & Roaster”

Aku langsung sigap membalas dan menawarkan untuk berangkat ke tempat itu bersama, namun ia menolaknya. Ia bilang telah memesan grab untuk pergi kesana. Dan kebetulan, hari ini pun aku harus checkout dari tempat ini. Tempat yang memberiku nafas, memberiku harapan baru, serta kekuatan untuk melepaskan apa yang sudah seharusnya ditinggalkan. Dengan berat hati, aku berkemas dan bersiap-siap karena Lanhua telah berangkat ke tempat mungkin sekitar 10 menit lalu.

Aku pun bergerak menuju meja resepsionis dan dengan berat hati meninggalkan tempat ini, sejujurnya, aku masih ingin extend semalam lagi disini setelah mengetahui bahwa Lanhua masih punya dua malam disini, hahahaha. Namun, aku hanya memiliki dua malam lagi di Bali, dan lusa merupakan jadwal flight menuju Jakarta. Beberapa kali pun ia bertanya, apakah aku akan checkout, atau extend lagi di Ubud Tropical.

Kenyataan seringkali tidak sesuai harapan. Jadi, mari kita berkemas dan kembali ke kenyataan. Namun sebelum itu, tentunya aku ada jadwal penting! Yaitu menikmati segelas kopi bersama Lanhua di hari terakhirku di Ubud ini.

Ia telah menuju tempat sekitar 20 menit lalu, langsung aku susul menggunakan motor ke tempat tujuan. Hari ini sangat panas, dan suasana lalu lintas di sekitaran Ubud pun cukup padat membuatku sangat berkeringat di jalan, apalagi menggunakan motor. Daerah yang aku datangi cukup menyenangkan, membuatku nyaman, persis seperti bayanganku tentang “Ubud.” Ya, ini kali pertama aku berada di Ubud setelah beberapa kali menginjakkan kaki di Bali.

Daerah sekitar coffeeshop yang akan aku datangi cukup rindang, adem, banyak pepohonan, jalanannya pun sepi, namun tetap dipadati oleh pengunjung yang kebanyakan berjalan kaki. Suasana siang itu, apabila tidak diliputi banyak pikiran, mungkin aku akan lebih mindful. Sayangnya, yang aku ingat hanyalah memori tentang Lanhua, dan bagaimana perasaanku akan berpisah dengannya disitu. Aku tidak fokus dengan scenery yang ada di depan mata. Suatu saat, akan ku ulang dengan mengunjungi tempat itu kembali, hanya untuk menikmati suasana sekitar dengan keadaan yang lebih mindful.

Sesampainya disana, aku melihat dia telah fokus belajar seperti biasa. Aku menyapanya dan memesan segelas kopi lalu duduk persis di depannya. Perbincangan kita tidak banyak disitu, dan kita mungkin berada disana untuk satu jam lebih. Kita hanya menikmati kopi, suasana Old Friends Coffee yang ternyata nyaman, lingkungan dan situasi sekitar nya pun yang membuat nyaman, dan juga dengan kesibukan kita masing-masing. Kadang aku pun berusaha untuk fokus dengan beberapa hal yang harus aku bereskan disitu.

Namun, untuk beberapa momen disitu, aku gunakan untuk memperhatikannya. Bagaimana ia fokus mempelajari sesuatu, ia perhatikan dan ia catat dengan seksama.

No, maybe it’s not love after all. It’s how she makes me find myself again, after the storm, by just looking at her.

Sengaja aku beberapa kali memperhatikannya, karena aku ingin mengingat persis momen ini. Aku masih tidak menyangka dan masih memproses apa yang terjadi dua hari terakhir, dimana aku berhasil untuk membalikkan keadaan secepat ini, setelah semua yang terjadi. Tentu, ada peran Lanhua disitu, namun aku rasa peran Allah sangatlah besar dan membantuku untuk melewati ini semua. Sejak saat itu, tiada hari aku lewatkan untuk selalu bersyukur atas apa yang terjadi.

Waktu pun terasa cepat dengan gelas kopi kita yang hampir kosong. Setelah beberapa kali aku pun mengambil foto dan video dengannya, kita berbincang santai mungkin untuk terakhir kali disitu. Aku menanyakan apakah ia akan kembali lagi ke Indonesia, Bali, atau ke kota lain. Satu yang aku ingat bahwa ia akan kembali, tapi dengan teman-temannya dan tidak sendirian seperti sekarang. Tidak lupa aku pun menanyakan di kota mana ia tinggal, dan ia bilang Hangzhou. Sebuah kota dekat dengan Shanghai.

Ia pun menanyakan apa yang akan aku lakukan di sisa hari ini, dan aku biliang akan kembali ke Kuta sebelum pada akhirnya aku kembali ke Jakarta. Di sela-sela perbincangan kita, aku mencoba memastikan tentang obrolan kami di direct message Instagram. Karena setauku, negara asalnya cukup terkenal dengan pembatasan sosial media. Namun ia bilang, ia bisa saja mengakses Instagram dan membalas pesanku. Dan ia pun berdiri untuk bersiap-siap pergi ke tempat lainnya hari itu.

Sesaat sebelum kita berpisah, akhirnya aku memberanikan diri untuk memberikan sepucuk surat dan kartu pos yang telah aku siapkan tadi. Ohiya, sebelumnya, aku cukup ragu untuk memberikan surat tersebut karena aku hanya takut dia merasa risih atau sebagainya. Seperti biasa, ini overthinking-ku saja. Namun aku memberanikan diri karena aku telah membeli kartu pos nya dan menulis pesan disitu. Lalu aku tulis di google translate:

“I have something for you, you can open it later.”

“ah okay, okay”

Lalu amplop yang berisi surat dan kartu pos bergambar bunga Daisy tadi aku serahkan kepadanya. Ternyata, ia cukup antusias menerima hadiah tersebut. Ia bilang, akan membukanya ketika ia telah menyelesaikan makan siang nanti.

The Postcard with a Daisy flower in the middle.

The Postcard with a Daisy flower in the middle.


메타데이터
post_id
ac4c0e372ffb
slug
the-daisy-from-ubud-pt-5-daisy-ac4c0e372ffb
url
https://medium.com/@panglimalembur/the-daisy-from-ubud-pt-5-daisy-ac4c0e372ffb
canonical_url
https://medium.com/@panglimalembur/the-daisy-from-ubud-pt-5-daisy-ac4c0e372ffb
author_url
https://medium.com/@panglimalembur
status
ok
fetched_at
2026-06-23 03:48:11