“Aku Tau Kebenaran” Adalah Delusi yang Terlalu Percaya Diri
debat bukanlah jalan menemukan kebenaran, melainkan hanya menunjukkan siapa yang paling siap berargumen. Apakah kita tau kebenaran absolut?
“Aku Tau Kebenaran” Adalah Delusi yang Terlalu Percaya Diri
Pada suatu hari yang cerah, dengan burung-burung berkicauan, dan awan bergerak dengan tenang, dalam sebuah gedung ada seorang pria memukul meja di sebuah ruang debat televisi dan berteriak, “Ini adalah fakta! Ini kebenaran!” Penonton bertepuk tangan. Lawannya membalas dengan suara yang tak kalah lantang juga, “Kau salah! Yang anda sampaikan itu bias!” Penonton kembali bertepuk tangan. Dua jam berlalu, debat selesai, rating tinggi, dan para pemirsa pulang membawa pemahaman baru yang mungkin hanya bertahan sampai besok pagi, ketika debat baru disiarkan. Ini bukan fiksi. Ini kita. Di tengah debat yang ramai di ruang publik, dari parlemen hingga media sosial, kita sering menyaksikan orang-orang bersitegang membela apa yang mereka anggap benar. Masing-masing bersandar pada moral, data, pengalaman, atau ideologi. Dan masing-masing menklaim diri sebagai “kebenaran” meskipun keduanya saling bertentangan. Bagaimana 2 kebenaran saling bertentangan? Sejak sekolah, saya selalu memiliki pemahaman bahwa debat berguna untuk menentukan, siapa yang benar dan bagaimana kebenaran yang sebenarnya. Setidaknya itulah yang saya pikirkan hingga beberapa tahun lalu, hingga saya tersadarkan akan sesuatu, ini tidak benar. Mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan mendasar: apakah kita sungguh mengetahui apa itu kebenaran yang benar-benar benar atau kebenaran absolut?

Foto mas Hegel, hehehe
Pemikir Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel (yang mungkin juga sering mengamati pertikaian dan perdebatan tetangga-tetangganya), menawarkan cara pandang menarik untuk menelaah ini. Melalui konsep dialektika, Hegel menjelaskan bahwa kebenaran bukanlah titik tetap yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari proses pertemuan antara tesis (sebuah ide), antitesis (ide yang berlawanan), dan kemudian sintesis (pemahaman baru yang lahir dari benturan keduanya). Namun, sintesis ini bukanlah akhir dari segalanya. Ia akan kembali menjadi tesis baru yang akan bertemu antitesis baru, dan terus berulang dalam siklus abadi.
Manusia: Makhluk yang Yakin Bahwa Ia Bisa Menentukan Kebenaran
Sebelum lebih jauh, saya ingin membuat disclaimer dulu: kita sedang berbicara mengenai kebenaran absolut dalam dunia sosial, bukan dunia eksakta seperti matematika (soalnya saya gapaham matematika heheh). Oke, mari kita lanjut.
Setiap manusia lahir dalam konteks yang berbeda — budaya, agama, kelas sosial, pendidikan — yang membentuk nilai dan persepsinya tentang benar dan salah. Nilai-nilai ini sering kali tidak dapat direduksi menjadi satu standar universal. Apa yang dianggap adil dalam satu masyarakat bisa dianggap kejam dalam masyarakat lain. Contohnya, sistem hukuman mati. Di beberapa negara, hukuman ini dianggap sebagai bentuk keadilan yang tegas dan pencegah kejahatan. Namun, di negara lain, ini dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak hidup manusia. Mana yang benar? Keduanya punya dasar moral dan hukum. Tapi tidak ada posisi yang mutlak benar dalam skala universal — karena “kebenaran” itu lahir dari dialektika nilai.
Georg Wilhelm Friedrich Hegel pernah menjelaskan bahwa kebenaran bukanlah entitas yang statis dan tunggal. Ia lahir dari benturan antara tesis dan antitesis, menghasilkan sintesis, yang akan kembali menjadi tesis baru — dan seterusnya, dalam siklus abadi. Namun mari kita beri catatan tambahan: kadang, tesis dan antitesis tidak melahirkan sintesis, tapi perang, cancel culture, atau pembantaian massal.
Contohnya Revolusi Kebudayaan Tiongkok (1966–1976). Mao Zedong menyerukan “kebenaran” versi ideologinya: bersihkan negara dari pengaruh borjuis dan kapitalis. Antitesis datang dari para cendekiawan, guru, dan pemikir yang dianggap ‘kontra-revolusioner’. Hasilnya? Bukan sintesis, tapi kematian jutaan orang, kehancuran institusi pendidikan, dan generasi yang trauma. Dialektika berubah menjadi distorsi. Kebenaran hanyalah kedok ideologi yang berhasil merebut pengeras suara.
Atau contoh lainnya yang paling dekat dengan saya adalah ketika saya kuliah. Ketika ada pihak yang mengungkapkan pendapatnya yang tentu kontra dengan pendapat arus utama sehingga ia menjadi antitesis, tidak jarang ia akan mendapat hadiahnya: cancel culture. Diakui atau tidak, ini juga dilakukan oleh mahasiswa yang mengklaim sebagai gerakan progresif. Sepertinya saya pernah membahas ini dalam tulisan saya berjudul “Kanan dalam Kiri: Konservatifisme dalam Progresifisme”.
Debat: Pertunjukan Sirkus yang Dipoles Sebagai Pencari Kebenaran
Kembali sebentar soal debat. Kita diajarkan sejak sekolah bahwa debat adalah cara elegan untuk menemukan kebenaran. Tapi semakin dewasa, saya menyadari bahwa itu hanyalah mitos yang disulap rapi dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam praktiknya, debat lebih mirip kontes retorika — ajang siapa yang paling pandai merangkai kata, bukan mana yang paling mendekati kebenaran. Atau kalau kita ingin sedikit berbaik sangka, debat hanya menunjukkan siapa yang paling siap dengan argumennya, bukan siapa yang paling dekat dengan kebenaran. Seseorang yang memegang kebenaran sejati pun sangat mungkin kalah dalam debat, hanya karena ia tidak sempat menyiapkan argumen yang cukup. Sementara seseorang yang hanya punya potongan logika yang rapi, bisa tampil seolah-olah paling benar. Seperti seorang pengacara licin yang membela klien bersalah dan tetap menang karena ahli memutarbalikkan narasi hukum.
Saya tahu ini karena saya pernah mengalaminya. Dulu saya sangat menyukai debat, dengan idealisme ala bocil yang merasa sok pintar: untuk menunjukkan kebenaran. Tapi satu waktu, saya kalah. Ada satu pertanyaan dari lawan debat yang tidak bisa saya jawab saat itu. Bukan karena saya salah, melainkan karena saya belum siap. Argumen saya terpental, dan dari titik itu, argumen saya dihajar habis-habisan. Kekalahan pun datang tanpa ampun. Tapi yang paling menarik bukan kekalahan itu, melainkan apa yang terjadi setelahnya.
Sesudah debat usai dan sorak-sorai menghilang, saya termenung. Di tengah kontemplasi itulah saya akhirnya menemukan jawabannya — jawaban yang seharusnya saya ucapkan tadi. Jawaban yang dapat meng-counter pertanyaan yang membantai saya tadi. Jawaban dari pertanyaan yang menyebabkan kalahnya saya dalam debat. Tapi sayangnya, debat telah selesai. Sorotan telah padam. Dan di situlah saya sadar: itulah debat. Ia bukan pengadilan kebenaran, melainkan panggung kesiapan. Apa yang benar hari ini bisa terdengar salah, hanya karena kita belum tahu cara mengatakannya. Seperti kata filsuf Michel Foucault, “Setiap wacana adalah kekuasaan.” Maka, siapa yang memegang kontrol atas bahasa dan narasi, sering kali dianggap sebagai pemilik kebenaran — padahal belum tentu demikian.
Saya jadi teringat Hegel. Baginya, satu sesi debat bukanlah jalan menuju kebenaran. Debat hanyalah bagian kecil dari proses panjang bernama dialektika: tesis, antitesis, dan sintesis. Dan proses itu tak pernah selesai. Ia terus berulang, seperti roda pemikiran yang tak henti berputar. Pertanyaan yang tidak bisa saya jawab hari ini, bisa jadi akan saya jawab besok — ketika kesadaran saya telah tumbuh. Tapi jawaban itu pun mungkin kelak dipatahkan oleh argumen baru, yang menuntut saya untuk memikirkan ulang segalanya.
Itulah dialektika. Ia mengajarkan kita bahwa kebenaran tidak pernah berdiri tegak hanya karena kita menang debat hari ini. Tapi ia tumbuh bersama waktu, berkembang lewat kegagalan, dan kadang muncul dari kekalahan yang menyakitkan. Jadi, ketika hari ini saya kalah, saya tahu: itu bukan akhir. Itu hanya tanda bahwa tesis saya sedang mencari antitesisnya. Dan siapa tahu, dalam kontemplasi malam yang hening, saya bisa menulis sintesisnya.
Keadilan: Nama Lain dari Kemenangan yang Dilegalisasi
Manusia begitu percaya diri pada konsep keadilan adalah kebenaran, sampai mereka melupakan bahwa keadilan hanyalah konsensus mayoritas yang sedang berkuasa. Ketika Nelson Mandela dipenjara 27 tahun oleh rezim apartheid Afrika Selatan, sistem hukum menyebutnya pengacau. Tapi setelah rezim tumbang, ia menjadi simbol keadilan. Mana yang benar? Apakah keadilan berubah karena esensi moralnya, atau karena kekuasaan berganti tangan?
Contoh lainnya: Julian Assange. Ia membocorkan dokumen yang memperlihatkan kebohongan dan kejahatan negara adidaya. Apakah dia pahlawan? Atau kriminal? Jawabannya tergantung siapa yang duduk di kursi jaksa. Di sinilah hukum dan moral seperti sepasang aktor di panggung yang berbeda, saling pura-pura tidak kenal.
Kita sering percaya bahwa hukum adalah representasi dari keadilan. Namun, hukum pun dibentuk oleh manusia — dengan nilai, bias, dan kepentingannya. Hegel sendiri tidak percaya bahwa negara atau hukum bisa sepenuhnya netral. Maka, mengejar keadilan melalui hukum adalah seperti mengejar bayangan: selalu bergerak, selalu bergantung pada cahaya nilai yang menyinarinya.
Kebenaran dalam Dunia yang Relatif, Tapi Masih Suka Ngotot
Di media sosial, seseorang menulis “Semua manusia setara.” Lalu komentar datang: “Tapi dia LGBT.” Komentar lain: “Tapi dia PKI.” “Tapi dia nggak seagama.” “Tapi dia korban hoaks.” Kebenaran telah menjadi komoditas yang bisa dibatalkan kapan saja sesuai kebutuhan algoritma.
Di India, hukum melarang pernikahan beda kasta. Di Iran, keadilan bisa berarti merajam perempuan yang dianggap berzina. Di Norwegia, mencambuk anak bisa dianggap kekerasan. Di banyak negara, hukuman mati masih dianggap sah. Mana yang paling adil? Mana yang benar?
Jawaban resminya: tergantung. Tapi dalam praktiknya: tergantung siapa yang punya senjata hukum dan moral saat itu. Tapi yang menjadi permasalahan bukan itu, tapi ketika kita ngotot seolah kita yang paling benar. Saya sering melihat seseorang yang seperti ini di dunia nyata maupun maya: seseorang yang selalu memaksakan nilai yang ia percaya sebagai kebenaran pada orang lain. Mencekoki orang lain untuk memaksanya menelan kebenaran versinya. Tunggu, apakah kita juga bagian dari itu? entah soal ideologi, standar moral, budaya, atau bahkan agama.
Apakah Relativisme Membuat Kita Putus Asa? Tidak. Justru Membuat Kita Rendah Hati
Menurut saya, secara singkat, manusia tidak akan pernah tau apa itu kebenaran absolut.
Kita bayangkan saja, ada 2 orang yang berbeda pandangan tentang suatu hal. Mereka berdialektika. Mereka berdiskusi. Ingat, 1x debat tidak akan menentukan siapa yang benar, debat hanya menetukan siapa yang paling siap dengan argumennya. Ini adalah proses panjang dan berulang dari tesis-antitesis-sintesis-repeat. Katakanlanlah mereka akhirnya sepakat (walaupun saya yakin, di antara mereka berdua, akan muncul antitesis baru dari kesepakatan mereka). Untuk menemukan kebenaran dari dua orang saja sudah memakan waktu sangat lama. Padahal setiap orang yang dibentuk dari lingkungan sosial berbeda, keluarga berbeda, agama berbeda, budaya berbeda, akan memiliki nilai kebenaran yang berbeda pula. Berapa miliar manusia di bumi? Tidak mungkin menemukan kebenaran absolut dengan berdialektika dengan semua manusia. Belum lagi kemungkinan munculnya antitesis dari setiap manusia atas sintesis yang sudah terbentuk. Dengan kata lain, menemukan kebenaran absolut bagi manusia itu mustahil.
“Loh agama itu kebenaran absolut!!!!”
Yah, semua agama juga bilang hal yang sama meskipun saling bertentangan. Agamamu paling benar itu menurutmu, tapi tidak begitu bagi orang lain. Hal paling masuk akal buatmu dari agamamu saja bisa menjadi hal yang ga masuk akal buat orang lain di agama berbeda.
Kita tidak sedang berkata bahwa semua nilai sama. Kita hanya menyadari bahwa nilai kebenaran tidak pernah bisa dihakimi dari menara gading yang mengklaim kebenaran absolut. Bahkan para filsuf besar tidak sepakat soal apa itu kebenaran. Nietzsche menyebut kebenaran sebagai “ilusi yang telah dilupakan bahwa itu ilusi.” Foucault bilang bahwa kebenaran itu produk dari relasi kuasa. Habermas mencoba membangun kesepakatan etis, namun tetap tidak bisa lari dari dinamika budaya.
Kita tidak tahu kebenaran absolut, dan tak akan pernah tahu. Tapi kita bisa tahu satu hal: bahwa mengklaim memilikinya justru tanda kita belum cukup memahami kerumitannya, atau bahkan tanda bahwa kita masih sangat jauh darinya.
Menuju Kesadaran Bahwa Kita Tidak Tahu
Mungkin yang paling mendekati kebenaran adalah Socrates, ketika ia berkata, “Satu-satunya hal yang kutahu adalah bahwa aku tidak tahu.” Pernyataan ini bukan sikap skeptis, melainkan sikap yang paling etis: menerima bahwa kebenaran adalah proyek kolektif yang tak pernah rampung.
Jadi, ketika seseorang berkata bahwa mereka membela “kebenaran” mungkin kita patut bertanya: kebenaran versi siapa? kebenaran untuk siapa? Dan jika mereka marah karena ditanya, itu bukan karena mereka benar — tapi karena mereka terganggu, bahwa kebenaran mereka ternyata bukan kebenaran kita semua.
Dalam dunia yang kompleks ini, mungkin sudah saatnya kita menerima bahwa tidak ada satu kebenaran tunggal yang bisa mewakili semua manusia. Yang ada adalah kebenaran yang terus lahir dari percakapan, perdebatan, dan konflik nilai. Dialektika bukan sekadar metode berpikir, tapi juga pengakuan bahwa menjadi manusia berarti terus bergulat — dengan orang lain, dan dengan diri sendiri. Dan dalam pergulatan itulah, manusia menjadi makhluk yang sungguh hidup.
메타데이터
- post_id
- ac7a1df7f94a
- slug
- aku-tau-kebenaran-adalah-delusi-yang-terlalu-percaya-diri-ac7a1df7f94a
- url
- https://medium.com/@okikbaskara/aku-tau-kebenaran-adalah-delusi-yang-terlalu-percaya-diri-ac7a1df7f94a
- canonical_url
- https://medium.com/@okikbaskara/aku-tau-kebenaran-adalah-delusi-yang-terlalu-percaya-diri-ac7a1df7f94a
- author_url
- https://medium.com/@okikbaskara
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16