Jare Uwong-uwong, Cinta Itu Lebih Penting daripada Uang, Tapi Opo Yo Enak Tuku Mie Ayam Terus…
Jare Uwong-uwong, Cinta Itu Lebih Penting daripada Uang, Tapi Opo Yo Enak Tuku Mie Ayam Terus Bayare Ngambung Bakule?

Sumber foto: https://x.com/masclink_/status/1734102721031196963?s=46
Dari dulu, sudah banyak yang bilang kalau cinta itu lebih penting daripada uang. “Duit bisa dicari, tapi cinta sejati sulit ditemukan,” kata orang-orang bijak yang sering nongkrong di warung kopi. Ya, mungkin ada benarnya juga, tapi coba kita pikir ulang. Cinta memang bikin hati hangat, tapi opo yo iso hangate perut yang lagi keroncongan? Ketika laper melanda, meskipun kamu punya pasangan yang perhatian, tetep wae, yang diidamkan itu mangkok mie ayam panas yang sedap.
Bayangkan skenario ini: kamu dan pasangan lagi nongkrong romantis di warung mie ayam favorit. Udara sore sejuk, angin sepoi-sepoi, dan di depan kalian ada dua mangkok mie ayam yang masih mengepul. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah pasanganmu. Tapi pas mas bakulnya datang buat tagih bayar, masa kamu jawab, “Mas, aku cinta banget sama kamu. Gimana kalo bayarnya pake kecupan manis aja?” Wah, bisa-bisa kamu sama pasanganmu digiring ke belakang gerobak buat cuci piring.
Di dunia nyata, cinta memang nggak bisa dipakai buat bayar tagihan. Apalagi kalau udah masuk ke urusan perut, tagihan listrik, cicilan motor, dan kontrakan. Sebesar apapun cinta yang kamu punya, kalo pas awal bulan dompet kosong, ya tetep aja bikin kepala pusing. Bahkan ada yang bilang, kalau cinta bisa diuji dengan isi dompet. Bukan karena cinta itu materialistis, tapi realita hidup yang butuh biaya.
Masalahnya, orang-orang sering terlalu romantis dalam memandang cinta. Padahal, coba saja diinget-inget, berapa banyak pasangan yang putus gara-gara masalah finansial? Bukannya nggak romantis, tapi percakapan tentang duit itu sering bikin suasana jadi tegang. Misalnya, pas lagi jalan-jalan di mall, pasanganmu ngelirik tas branded yang harganya ngalah-ngalahi gaji sebulan. Kamu bilang, “Nanti ya, sayang, kita nabung dulu.” Dan jawaban seperti itu bisa bikin malam yang harusnya romantis jadi penuh dengan keheningan.
Banyak yang berargumen, kalau cinta sejati itu bisa bikin orang bertahan dalam susah dan senang. Iya, betul sih. Tapi jangan lupa, kenyataan hidup ini lebih kejam daripada skenario drama percintaan. Cinta bisa bikin bahagia, tapi ketika nasi sudah tinggal kerak di rice cooker dan mie instan habis, pertanyaan yang datang bukan lagi soal “Kamu masih sayang aku?” tapi lebih ke “Besok kita makan apa, ya?” Kalau mau romantis terus tapi rekening tabungan udah menipis, lama-lama yang ada malah saling nyalahkan.
Dan di sini lah cinta dan uang sering berbenturan. Misalnya, pasangan yang baru nikah pasti sering punya ekspektasi bahwa cinta mereka akan bisa menghadapi segala rintangan. Tapi ketika mereka mulai menghitung-hitung pengeluaran setiap bulan, dari biaya rumah tangga, cicilan rumah, sampai pengeluaran tak terduga, barulah mereka sadar bahwa mengandalkan cinta saja itu sulit. Cinta memang bisa bikin kita sabar dan bertahan dalam keadaan susah, tapi ya tetap saja, isi perut nggak bisa diisi dengan rasa sayang.
Lalu, bagaimana seharusnya cinta dan uang berjalan beriringan? Nah, ini pertanyaan besar yang jawabannya kadang berbeda-beda untuk setiap orang. Ada yang bilang, “Duit itu penting, tapi bukan segalanya.” Itu benar, tapi ya tetep saja, cinta tanpa ada kepastian finansial rasanya seperti rumah tanpa fondasi – bisa roboh kapan saja. Yang bijaksana itu, mungkin, adalah bagaimana kita menyeimbangkan keduanya. Biar nggak terlalu romantis tapi juga nggak terlalu matre.
Contohnya, kamu bisa tetap mencintai pasanganmu dengan tulus, sambil berusaha bareng-bareng buat nyari rezeki. Ketika hubungan dibangun di atas pemahaman bahwa keduanya harus bekerja keras dan saling mendukung, maka cinta itu akan lebih realistis dan kuat. Kalau cinta itu ibarat api, maka uang bisa dibilang seperti kayu bakar yang menjaga api itu tetap menyala. Api yang terlalu besar tanpa kayu bakar bisa padam, begitu pula cinta yang hanya diisi dengan kata-kata manis tapi nggak ada usaha untuk menghadapi kenyataan hidup bersama.
Bayangin lagi, seandainya kamu ada di posisi mas bakul mie ayam. Tiap hari muter-muter dorong gerobak, menghadapi panas dan hujan demi mencari nafkah. Terus ada pasangan yang dateng ke warungmu, mesra banget sambil pesan dua mangkok mie ayam ekstra bakso. Tapi begitu tiba waktunya bayar, mereka malah senyum dan bilang, “Kita berdua cinta banget sama sampean, mas. Bisa nggak bayarnya pakai doa aja?” Wah, kamu pasti pengen jawab, “Matur nuwun doanya, tapi saya butuh duit buat modal besok dagang lagi!”
Realita seperti ini kadang memang bikin kita ketawa getir. Bukan karena cinta itu nggak penting, tapi lebih karena sering kali kita melupakan bahwa cinta dan kenyataan harus berjalan seimbang. Mie ayam, nasi padang, dan kopi susu di kafe favorit memang nggak bisa dibayar pakai rasa cinta. Tapi bukan berarti cinta jadi nggak berharga. Justru, cinta yang dewasa adalah cinta yang paham bahwa perut yang kenyang akan bikin hati lebih tenang.
Memang, banyak pasangan yang memilih bertahan meskipun kondisi finansial lagi sulit. Mereka saling menguatkan dan berjuang bersama-sama. Tapi sering juga kita dengar cerita pasangan yang akhirnya memilih menyerah karena tekanan ekonomi. Bukannya mereka nggak saling cinta, tapi kebutuhan hidup memang nggak bisa dibayar dengan kata-kata manis. Di sini kita bisa belajar bahwa cinta itu memang harus realistis, karena kalau terlalu melayang-layang di awang-awang, nanti malah jatuh sakit pas ketemu dengan kenyataan.
Mungkin, yang paling penting adalah memahami bahwa cinta dan uang bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua hal yang harus saling melengkapi. Memang benar, cinta yang tulus adalah yang bisa bertahan di tengah segala kesulitan. Tapi lebih baik lagi kalau cinta itu bisa membawa kita untuk bekerja lebih keras, saling mendorong, dan meraih masa depan yang lebih baik. Dengan begitu, kita bisa bilang bahwa cinta dan uang sama-sama penting, bukan sebagai saingan, tapi sebagai tim yang saling membantu.
Jadi, buat kamu yang masih bingung antara memilih cinta atau uang, coba tanya lagi pada diri sendiri: “Apakah saya sudah cukup realistis dalam mencintai?” Karena pada akhirnya, cinta yang baik adalah yang mampu membuat kita lebih kuat dalam menghadapi hidup. Bukan hanya cinta yang membuat kita bermimpi tinggi, tapi juga yang mengajarkan kita untuk tetap menapak di bumi.
Dan tentu saja, kalau nanti kamu duduk lagi di warung mie ayam bersama pasangan, ingatlah satu hal: bayarlah pakai uang, jangan pakai janji manis atau kecupan. Karena meskipun mas bakul mie ayam mungkin bisa tersenyum menerima cintamu, tapi besok paginya dia tetap butuh beli bahan baku buat dagang lagi. Cinta memang hebat, tapi perut kenyang itu juga perlu.
메타데이터
- post_id
- aca072811ef2
- slug
- jare-uwong-uwong-cinta-itu-lebih-penting-daripada-uang-tapi-opo-yo-enak-tuku-mie-ayam-terus-aca072811ef2
- url
- https://medium.com/@ardiansyahkhafid/jare-uwong-uwong-cinta-itu-lebih-penting-daripada-uang-tapi-opo-yo-enak-tuku-mie-ayam-terus-aca072811ef2
- canonical_url
- https://medium.com/@ardiansyahkhafid/jare-uwong-uwong-cinta-itu-lebih-penting-daripada-uang-tapi-opo-yo-enak-tuku-mie-ayam-terus-aca072811ef2
- author_url
- https://medium.com/@ardiansyahkhafid
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 19:05:56