Separuh Hati untuk Malang
#19: Saya tidak pernah tinggal di Malang tetapi separuh hati saya berada di Malang. Bagaimana bisa?
Separuh Hati untuk Malang
19: Saya tidak pernah tinggal di Malang tetapi separuh hati saya berada di Malang. Bagaimana bisa?
Foto oleh Silas Baisch di Unsplash
Saya sama sekali belum pernah tinggal di Malang. Bahkan, berkunjung pun hanya satu kali. Itu pun sudah belasan tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2014. Saat kunjungan pun terasa sebentar karena hanya singgah di sebuah museum sebelum pergi ke destinasi selanjutnya. Namun, bagaimana bisa separuh hati saya berada di Kota Malang?
Semuanya, berawal dari kegemaran saya menonton liga Indonesia. Dimulai pada awal musim 2009/2010, saat itu saya masih sebagai penonton netral tanpa punya tim kegemaran. Beberapa nama pemain yang masih saya ingat pada musim itu ialah, Andi Oddang (Persebaya), John Tarkpor (Persebaya), J. Lo (Persiba), Hilton Moreira (Persib), hingga Ronald Fagundez (Persisam). Mohon maaf jika terkesan random karena ketika teringat liga Indonesia musim 2009/2010, nama-nama itulah yang seketika muncul di kepala saya.
Lalu, mulai di pertengahan musim, saya melihat ada satu pemain dari Arema Indonesia yang selalu melakukan selebrasi unik setelah menciptakan gol ke gawang lawan, hingga selebrasi tersebut menginspirasi saya dan teman-teman saya untuk menirukannya. Nama beliau adalah Muhammad Fakhrudin atau biasa dikenal M. Fakhrudin. Pria kelahiran Sidoarjo tersebut bermain sebagai penyerang Arema sebanyak 52 kali dan sukses mencetak 12 gol untuk Arema. Aksi nyentrik M. Fakhrudin setelah menjaringkan gol ke gawang lawan dikenal sebagai selebrasi goyang gergaji.
[embed]Vidio profil M. Fakhrudin oleh LENSA OLAHRAGA di YouTube
Saya mulai mengikuti setiap Arema berlaga hanya untuk melihat goyangan gergaji dari M. Fakhrudin. Soalnya, setiap beliau selebrasi saya akan dengan segera berdiri dan menirukan goyangan gergaji beliau di depan TV, hahaha.
Lama-kelamaan, saya merasa Arema adalah tim yang bagus pada waktu itu. Gaya main apik yang diisi pemain-pemain asing berkelas, seperti Noh Alam Shah, M. Ridhuan, Pierre Njanka, Esteban Guillen, dan Roman Chmelo, membuat saya jatuh cinta dengan klub kebanggan arek Malang ini. Saat itu, Arema yang dinakhodai oleh Robert Rene Albert, mampu meraih gelar juara ISL (Indonesia Super League) musim 2009/2010. Satu gol berkesan yang saya ingat sampai kapanpun di musim itu ialah gol salto dari Noh Alam Shah saat laga derbi Malang yang mempertemukan Arema Indonesia Vs. Persema. Reaksi saya pada saat menonton gol tersebut adalah berteriak kagum karena jarang sekali saya melihat gol salto secara live. Biasanya saya hanya melihat melalui cuplikan highlight saja.
[embed]Cuplikan gol salto dari Noh Alam Shah oleh @footballfandom_id di TikTok
Rasa suka saya kepada Arema terus berlanjut, bahkan pasca kejadian dualisme saya masih setia menonton pertandingan Arema. Meski kata orang-orang, Arema yang asli adalah Arema Indonesia, selagi tim tersebut bermarkas di Stadion Kanjuruhan, Malang, saya tetap dukung tim tersebut.
Pada tahun 2014, saya membuat akun Facebook yang kebanyakan berisikan postingan informasi update Arema. Padahal, akun tersebut merupakan akun pribadi saya bukan akun yang dibuat sebagai akun komunitas. Saya bahkan mengajak pertemanan dengan beberapa Aremania di seluruh Indonesia hingga berkenalan dan saling follow-follow-an Instagram sampai sekarang. Tak jarang, malah saya yang menerima pesan permintaan pertemanan dari Aremania. Menurut saya, hal seperti ini patut dilestarikan karena hal inilah yang membentuk semangat kebersamaan suporter Aremania saat mendukung tim kebanggaan apapun kondisinya. Namun, tentunya harus tetap pada tindakan yang wajar dan sopan, ya, jangan sampai malah mengganggu privasi orang lain.
Berkat saling follow-follow-an, saya jadi sedikit tahu tentang kultur bahasa warga Malang yang ternyata agak berbeda jika dibandingkan dengan budaya Jogja, tempat saya tinggal. Saya jadi tahu bahwa ada basa walikan yang digunakan sebagai bahasa gaul arek-arek Malang. Bahasa ini awal mulanya merupakan bahasa sandi yang diciptakan untuk mengelabui Belanda pada situasi pasca kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1949. Namun, sampai sekarang basa walikan masih eksis digunakan sebagai dialek yang menjadi simbol kedekatan dengan lawan bicara. Beberapa contoh kosakata basa walikan yang saya tahu adalah sam=mas, rutam nuwus=matur suwun (terima kasih), umak=kamu, dan ayas=saya.
Rasa jatuh cinta saya dengan Malang semakin bertambah saat saya mengikuti study tour yang diadakan oleh SMP saya pada tahun 2014. Study tour waktu itu mengunjungi beberapa daerah di Jawa Timur, dari Batu, Malang, Pasuruan, hingga Madura. Ketika di Batu dan Malang, saya merasakan suasana yang sejuk, asri, dan santai membuat saya ingin kembali ke sana suatu saat. Ditambah, warganya yang ramah semakin membuat suasana di Malang menjadi hangat. Meski sampai sekarang saya belum kesampaian untuk mengunjungi Malang kembali, setidaknya saya punya dua teman akrab yang berasal dari Batu. Walaupun mereka bukan dari Malang, setidaknya mereka tahu banyak tentang Malang daripada saya yang orang Jogja, hehehe. Saya banyak bercerita dengan teman saya tentang kecintaan saya terhadap Malang. Bahkan, salah satu teman saya yang berasal dari Batu pernah membawakan saya oleh-oleh makanan ringan keripik apel khas Batu. Rasanya benar-benar membuat saya rindu dengan suasana Batu — Malang.
Dipertemukannya saya dengan dua orang berasal dari Batu tersebut seolah keinginan saya perlahan-lahan dikabulkan oleh tuhan. Mereka setidaknya memberikan saya gambaran terlebih dahulu tentang tempat-tempat yang suatu saat bisa saya kunjungi ketika di Malang. Huft, rasanya tidak sabar sekali menunggu kapan saya bisa ke Malang, hahaha.
메타데이터
- post_id
- acb3b4bb97d2
- slug
- separuh-hati-untuk-malang-acb3b4bb97d2
- url
- https://medium.com/@abdantrisnadi/separuh-hati-untuk-malang-acb3b4bb97d2
- canonical_url
- https://medium.com/@abdantrisnadi/separuh-hati-untuk-malang-acb3b4bb97d2
- author_url
- https://medium.com/@abdantrisnadi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 23:31:39