Pulang
Di malam yang sunyi, aku melangkah pelan. Menikmati setiap langkah seolah ingin meninggalkan jejak di setiap sisi yang kupijak. Udara…
Pulang
Di malam yang sunyi, aku melangkah pelan. Menikmati setiap langkah seolah ingin meninggalkan jejak di setiap sisi yang kupijak. Udara terasa dingin, syukurnya aku mengenakan baju yang dirajut oleh tangan ajaib seseorang hehee.
Kedua tangan ku lipat di atas perut, sementara pandanganku sibuk memperhatikan sekitar. Lampu jalan menerangi sudut-sudut yang kulewati, tumbuhan liar tumbuh acak namun tetap berseri. Langit malam ini pun begitu ramah sebab bulan tidak sendiri, ada banyak bintang menemani. Itulah alasanku tak ingin terburu-buru. Rasanya sayang sekali jika harus melewatkan momen seperti ini begitu saja.
Entah kenapa, setiap kali berada di momen yang membuat hatiku terasa penuh, aku selalu berpikir, “alangkah indahnya jika kebahagiaan ini tidak kurasakan sendirian”. Ada keinginan kuat untuk mengajak satu orang. Seseorang yang mampu merasakan bahagia yang sama denganku. Bahagia yang tidak harus mewah, tidak harus mahal, dan tidak harus besar. Bahagia yang lahir dari hal-hal kecil, dari rasa syukur, dari kesederhanaan, dari jiwa-jiwa yang peka dan tulus terhadap sekitarnya.
Mungkin seseorang itu benar-benar ada, hanya saja tak semua pertemuan bisa terjadi segera. Aku percaya, manusia itu seperti magnet, yang akan saling tarik-menarik jika berada pada medan yang sama. Jarak dan perbedaan lainnya bukanlah penghalang, karena pada akhirnya, waktu akan mengambil perannya sendiri, menjadi saksi bagaimana dua orang menemukan jalan menuju satu sama lain.
Seperti khayalanku malam ini, ingin mengajak satu orang untuk bahagia bersama. Mungkin langit sedang menertawakanku, menyaksikan betapa rapi skenario itu tersusun di kepalaku. Menertawakan caraku meromantisasikan keadaan yang ada. Mungkin terdengar lucu, sebab romantis sering kali identik dengan mereka yang berpasangan. Sementara aku di sini, sendirian hehe.
But, i’m totally okay. Karena bahkan dalam kesendirian pun, bahagia itu tetap utuh dan terasa penuh. Jika sendiri saja rasanya sudah sejauh ini, maka setelah berpasangan mestinya bahagianya double dong. Setujuuu kan? Yaaa meski hidup tidak melulu berisi bahagia, aku percaya kebahagiaan tak akan hilang selama dua hati saling menjaganya. Cie ciee..
Btw, langkah-langkah ini bukan tanpa tujuan. Aku sedang melatih mata dan kakiku agar akrab dengan tempat-tempat yang kulewati di masa-masa sendiriku. Seolah sedang menciptakan kenangan tanpa perlu persetujuan siapa pun selain diriku sendiri. Beberapa kali aku memotret sisi jalan, juga langit malam ini. Sempat terlintas ingin selfi dengan bulan, sayang sekali karena jarak tak bersahabat membuat hasilnya not good. But still okay, toh ini hanya untuk konsumsi pribadi saja.
Mungkin aku bukan sosok yang ramai disukai banyak orang, tapi bukan tidak mungkin aku akan sangat dikenang oleh orang yang tepat.
Dan akhirnya, langkah-langkah itu berhenti pada satu tujuan akhir, rumah.
Jumat, 30 Januari 2026 Pukul 12:19 — Kembali Pulang
메타데이터
- post_id
- acebbfc9aab9
- slug
- pulang-acebbfc9aab9
- url
- https://medium.com/@zheassaa/pulang-acebbfc9aab9
- canonical_url
- https://medium.com/@zheassaa/pulang-acebbfc9aab9
- author_url
- https://medium.com/@zheassaa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13