← Back to list

Sekolah Favorit: Pabrik Prestasi atau Kolektor Anak Pintar?

Dhimas Ari Yudha Pratama · 2026-06-27 04:38 · 0 claps · 3.5 min read
#education
Open on Medium ↗
Wiki topics: EDU · Education & Learning

Sekolah Favorit: Pabrik Prestasi atau Kolektor Anak Pintar?

Ada lelucon lama di kalangan guru: *“Cara tercepat membuat sekolah terlihat hebat bukan dengan mengajar lebih baik, tapi dengan menyeleksi murid yg d*ngo” Lucu, ya? Sayangnya ini bukan lelucon. Ini “business model”

Coba bayangkan begini: ada restoran yang mengklaim ahli membuat orang kenyang, tapi syarat masuknya adalah Anda harus sudah kenyang dulu. Anda harus lolos tes kekenyangan, membawa sertifikat gizi dari restoran sebelumnya, dan kalau perlu, orang tua Anda juga harus pernah kenyang secara turun-temurun. Begitu masuk, restoran ini bangga mengumumkan: “Lihat, 100% pelanggan kami kenyang!” Tentu saja. Anda menyeleksi orang yang sudah kenyang, lalu mengklaim keberhasilan karena mereka tetap kenyang.

Itulah, dengan sedikit bumbu sarkasme, cara kerja banyak sekolah “unggulan” hari ini.

Tpii Secara teori, sekolah ada untuk mengubah orang yang belum tahu menjadi tahu, yang belum bisa menjadi bisa. Ini logika dasar pendidikan sejak zaman pesantren, sejak Sokrates berkeliling Athena bikin orang bingung dengan pertanyaan (yang kemudian dia dihukum mati untuk itu, pelajaran pertama: jangan terlalu jujur ke institusi).

Tapi entah sejak kapan, ukuran keberhasilan sekolah diam-diam bergeser dari “seberapa jauh saya membawa murid ini” menjadi “seberapa tinggi murid ini sudah berdiri sebelum masuk gerbang.” Sekolah lalu berlomba bukan untuk menjadi tempat pertumbuhan terbaik, tapi gudang penyimpanan bakat terbaik yang sudah jadi. Persis seperti museum: tidak menciptakan lukisan, hanya mengumpulkan yang sudah indah, lalu memungut tiket masuk dari orang yang ingin berfoto di sebelahnya.

Pernah dengar istilah “creaming” dalam dunia pendidikan? Itu istilah teknis untuk “ambil yang di atas, biarkan sisanya tenggelam.” Kedengarannya seperti nama menu kopii, tapi sebenarnya ini strategi seleksi sekolah yang memilih murid berprestasi tinggi supaya angka rata-rata sekolah ikut terangkat, tanpa harus repot-repot mengangkat murid itu sendiri.

Sedikit Filsafat, Sebelum kmu Bosan

Paulo Freire pernah menyentil cara pendidikan sering dipakai untuk melestarikan ketimpangan, bukan membebaskannya, pendidikan yang menabung pengetahuan ke kepala murid seolah murid itu brankas kosong, lalu menentukan siapa yang “layak” ditabung lebih dulu berdasarkan isi rekening yang sudah ada. Murid yang datang sudah kaya pengetahuan, ditambah lagi. Murid yang datang kosong, dianggap bukan tugas sekolah ini.

Lalu ada Pierre Bourdieu dengan konsep modal kultural: anak yang tumbuh di rumah penuh buku, percakapan intelek, dan orang tua yang akrab dengan birokrasi pendidikan, otomatis datang ke sekolah dengan “kode rahasia” yang sudah dikuasai. Sekolah unggulan lalu menyeleksi berdasarkan siapa yang sudah hafal kode itu, bukan siapa yang paling butuh diajari membacanya.

Ironisnya, sistem ini tetap bisa berdiri tegak sambil berkata, “Lihat, metode kami terbukti efektif, muridnya pintar semua!” Ya, tentu saja. Anda menanam pohon yang sudah berbuah, lalu mengklaim diri tukang tani terbaik di kota.

Analogi Gym, Karena Kenapa Tidak, Bayangkan gym yang hanya menerima member dengan badan sudah atletis. Lalu gym itu pasang baliho besar: “98% Member Kami Berbadan Ideal!” Anda akan tertawa. Tapi giliran sekolah melakukan hal yang sama persis, menyeleksi murid dengan nilai sudah tinggi lalu memamerkan tingkat kelulusan 100%, kita malah memberi tepuk tangan dan menjadikannya rebutan orang tua se-kota.

Pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan: siapa yang sebenarnya berprestasi di sini , sekolahnya, atau muridnya sebelum bertemu sekolah itu?

Adil rasanya menyebut argumen pembelanya juga. Sekolah untuk murid berkemampuan tinggi punya alasan masuk akal: anak-anak ini perlu tantangan yang sepadan, supaya tidak bosan menunggu teman sekelas mengerti hal yang sudah mereka pahami sejak tiga bulan lalu. Ada logikanya, sama seperti perenang level nasional butuh kolam yang lebih dalam, bukan kolam anak balita.

Masalahnya bukan keberadaan sekolah semacam ini. Masalahnya adalah ketika keberadaan mereka menyedot guru terbaik, dana terbesar, dan reputasi tertinggi, sementara sekolah “biasa” di sebelahnya kebagian sisa-sisa, lalu disalahkan karena “kurang berprestasi.” Persis seperti memberi pupuk terbaik ke satu pohon di taman, sambil menyalahkan pohon-pohon lain karena tidak tumbuh setinggi itu.

Lagi-lagi bertanya

Pertanyaan “mengapa sekolah hanya menerima yang sudah pintar?” sebenarnya pertanyaan yang agak malas, karena jawabannya gampang: karena itu menguntungkan secara statistik dan reputasi. Pertanyaan yang lebih menggigit adalah:

Mengapa pendidikan terbaik justru diberikan kepada mereka yang paling sedikit membutuhkannya?

Anak yang sudah pintar, sudah punya buku di rumah, sudah punya orang tua yang paham cara mengisi formulir pendaftaran, anak inilah yang kemudian dihadiahi guru terbaik dan fasilitas termewah. Sementara anak yang justru butuh tangan paling kuat untuk diangkat, sering kali dapat kelas paling penuh, guru paling lelah, dan fasilitas paling minim.

Ivan Illich, dalam kritiknya terhadap sistem persekolahan, menyebut institusi pendidikan formal kadang lebih sibuk menyediakan KERTAS sertifikat ketimbang benar-benar mendidik. Sertifikat itu kemudian menjadi tiket sosial, dan tiket termahal selalu jatuh ke tangan yang sudah punya tiket lain sebelumnya.

Aku menutup dengan (Mencoba) Tidak Sok Bijak

Jika pendidikan memang hak, bukan hadiah untuk yang sudah unggul, maka pertanyaan paling jujur yang harus diajukan setiap sekolah bukan “siapa murid terbaik yang bisa kita rekrut?” tapi “siapa murid yang paling akan berubah karena kehadiran kita?”

Sekolah yang hanya mengumpulkan bintang tidak menciptakan galaksi baru, ia cuma bikin observatorium mahal untuk melihat bintang yang sudah ada sejak awal. Dan kalau begitu, mungkin yang pantas diberi nama “sekolah unggulan” bukan yang muridnya paling unggul saat masuk, tapi yang paling besar jaraknya antara murid saat masuk dan saat lulus.

Kalau tidak, ya sudah, ganti saja namanya jadi “Museum Anak Pintar.” Setidaknya lebih jujur, dan tiket masuknya bisa dipajang di brosur tanpa perlu berbohong soal siapa yang sebenarnya bekerja keras: muridnya, atau institusinya.


메타데이터
post_id
ad0462d3ced5
slug
sekolah-favorit-pabrik-prestasi-atau-kolektor-anak-pintar-ad0462d3ced5
url
https://medium.com/@Dhimas_/sekolah-favorit-pabrik-prestasi-atau-kolektor-anak-pintar-ad0462d3ced5
canonical_url
https://medium.com/@Dhimas_/sekolah-favorit-pabrik-prestasi-atau-kolektor-anak-pintar-ad0462d3ced5
author_url
https://medium.com/@Dhimas_
status
ok
fetched_at
2026-07-09 16:18:44