← Back to list

Mengatasi Kontradiksi dengan Toleransi Kreatif

Dalam sebuah pertemuan yang terncana antara saya bersama seorang teman, membawa kami berjumpa di sebuah kafe, sebuah tempat yang selalu…

Hendrik Maarang · 2025-06-12 04:15 · 0 claps · 2.9 min read
#toleransi #kontradiksi #mengatasi #kreatif
Open on Medium ↗

Toleransi Kreatif

Gambar oleh Elizabeth Sheridan

“Tolerance only for those who agree with you is no tolerance at all.”

~Ray Davis

Dalam sebuah pertemuan yang terncana bersama seorang teman, membawa kami berjumpa di sebuah kafe — tempat yang selalu ramai dipenuhi anak-anak muda. Letak tempatnya sangat strategis, dekat dengan sebuah kampus terkenal di Jogja. Karena tempat tersebut selalu ramai, kami janjian untuk bertemu lebih dini di jam 7 malam agar mendapat tempat.

Sebelum ketempat tersebut, saya bergegas makan, lalu mandi dan berjalan santai menuju tempat itu. Ketika tiba di sana, teman saya sudah memasang wajah serius di depan laptopnya. Ia sedang serius dan tampak sedikit stres dengan tugas akhir semester yang ia kerjakan. Saya pun menghampirinya dan duduk di kursi tepat berhadapan dengannya.

Kami pun saling menyapa dan melempar pertanyaan-pertanyaan awal yang tak penting. Setelah beberapa menit, saya pun meminta ijin untuk pergi memesan minuman dan teman-temanya. Setelah memesan, saya pun kembali dan kami melanjutkan obrolan.

Dalam obrolan tersebut, saya banyak memberi kesempatan untuk teman saya berbicara karena dia tampak membutuhkan seorang pendengar. Dalam perkiraan saya dia terihat sedang mengalami krisis eksitensial yang cukup serius dalam hidupnya.

Dia pun bercerita banyak hal tentang problemnya, termasuk hubungannya bersama kekasinya. Banyak ceritanya yang menurut saya sangat menarik. Namun yang membuat saya terkesan adalah ia kini telah berani jujur dengan dirinya sendiri. Ia berani untuk bercerita secara jujur apa saja yang menjadi pergulatan batinnya. Itu membuat saya turut senang karena ia teman baik saya sejak lama. Dan perihal bercerita secara jujur kepada teman, itu sebuah terapi batin yang sangat baik untuk menjaga kewarasan.

Karena telah lama mengenal saya, ia selalu beranggapan bahwa apa yang ia alami, sudah saya alami dan lewati sejak lama.Dalam pikirannya, saya sekarang sedang dalam kondisi yang stabil, baik secara emosional maupun pikiran. Saya sendiri merasa itu benar, meskipun itu tidak sepenuhnya. Saya sendiri masih menggulati beberapa persoalan walau pun tak begitu mengusik dan menguras energi seperti yang ia alami.

Percakapan kami berlanjut dengan jeda-jeda karena kami ingin serius juga mengerjakan tugas masing-masing. Saya pun menjadi jadi sangat konsen mengerjakan tugas akhir semester, karena beberapa waktu luang di hari kemarin kurang saya manfaatkan. Karena keseriusan itu saya jadi pengen merokok untuk mendukung ketahanan dalam mengerjakan tugas tersebut.

Saya pun meminta ijin kepadanya dan saya pun mulai merokok. Tetapi ketika asap saya mengepul dan mulai menyebar, dia mulai mengambil masker dan menutup hidungnya. Aksinya itu membuat saya jadi merasa tindakan saya kurang sopan. Tetapi karena ia juga tidak keberatan, saya pun berpikir tidak masalah bila saya teruskan merokok. Walaupun dengan rasa bersalah yang mengusik dalam dada.

Namun di sini saya melihat sikap toleran yang kuat darinya meskipun pun dia kurang nyaman. Tetapi ia tampak ingin tetap menghargai kebutuhan saya juga. Menurut saya seharusnya ia melarang, atau seharusnya saya yang berhenti merokok didekatnya. Tetapi itu tidak kami lakukan. Ia sendiri mencoba mencari solusi yang membuat kami bisa sama-sama nyaman dalam situasi tersebut.

Ia pun dengan tenang menutup hidungnya menggunakan masker lalu mengalasnya dengan tisu yang diteteskan pengharum. Tujuanya agar dapat memberi kesegaran dalam pernapasannya. Dan semua mulai tampak aman. Namun setelah asap rokok saya mengepul, saya melihat arah asap itu terus mengarah ke posisinya bahkan ingin menabrak wajahnya yang terbalut masker itu.

Karena merasa itu berbahaya untuknya, saya pun memutuskan untuk bertukar tempat duduk dengannya. Saya pindah ke posisinya dan dia berpindah juga ke posisi saya sebelumnya. Memang itu keputusan yang tepat karena arah kipas angin juga persis mengarah ke tempat duduk awal yang ia tempati.

Setelah itu semua tampak baik dan tak menjadi masalah yang menggangu lagi. Ia pun tidak terganggu lagi seperti di awal dan saya pun bebas untuk menyumburkan asap. Namun tetap dalam kontrol yang terjaga agar asap tidak menabrak wajahnya. Dengan demikian semua berjalan lancar dan saya pun akhirnya merokok dengan perasaan yang lebih legah.

Upaya yang kami lakukan demi kenyamanan bersama ini langsung saya katakan kepadanya bahwa itu dapat dikatakan sebagai “toleransi kreatif”. Sebuah upaya untuk menciptakan kenyamanan berasama tanpa mengorbankan kebutuhan dan kenyamanan masing-masing.

Saya pikir ini upaya teknis yang menarik ketika terjadi kontradiksi di dalam sebuah pertemuan. Bahkan dalam konteks yang lebih luas, tampaknya upaya-upaya untuk menciptakan kenyamanan bersama tanpa saling mengeliminasi kebutuhan satu sama lain menjadi menarik untuk ditempuh.

Sebab dengan demikian berbagai kontradiksi yang saling mengeliminasi dapat diakali demi kenyamanan bersama.


메타데이터
post_id
ad0901f0c39b
slug
mengatasi-kontradiksi-dengan-toleransi-kreatif-ad0901f0c39b
url
https://medium.com/@hendrikmaarang/mengatasi-kontradiksi-dengan-toleransi-kreatif-ad0901f0c39b
canonical_url
https://medium.com/@hendrikmaarang/mengatasi-kontradiksi-dengan-toleransi-kreatif-ad0901f0c39b
author_url
https://medium.com/@hendrikmaarang
status
ok
fetched_at
2026-07-11 12:10:32