← Back to list

Dibalik Diagnosis Bernama BPD

Tulisan ini bukan merupakan artikel medis. Tulisan ini merupakan catatan seseorang yang hidup dengan diagnosa BPD

Thea in Berbagi & Berdampak · 2026-06-06 08:13 · 249 claps · 5.4 min read paywalled
#mental-health #borderline-personality #berbagi-dan-berdampak #bahasa-indonesia #refleksi
Open on Medium ↗
Wiki topics: CLI · Clinical Medicine PSY · Mental Health & Psychiatry

Di Balik Diagnosis Bernama BPD

Photo by Timon Studler on Unsplash

Photo by Timon Studler on Unsplash

Tulisan ini bukan sebuah artikel medis, melainkan catatan seseorang yang hingga kini hidup dengan diagnosis Borderline Personality Disorder (BPD) dan ingin membantu orang lain memahami seperti apa gemuruh gelisah yang dihadapi dan sering tidak terlihat.

Klik di sini untuk membaca melalui link pertemanan.

Banyak orang sudah tidak asing mendengar istilah Borderline Personality Disorder atau yang sering disingkat menjadi BPD. Ada yang mendefinisikan BPD sebagai sosok yang meledak-ledak. Ada pula yang menganggap orang dengan BPD sulit berhubungan dengan orang lain bahkan sulit ditebak. Saya sendiri dulu hanya mengerti BPD berdasarkan istilah yang secara umum diterima oleh masyarakat luas. Sampai suatu hari istilah itu menjadi bagian dari diri saya sendiri.

Borderline Personality Disorder (BPD) merupakan gangguan kesehatan mental yang memengaruhi cara seseorang dalam mengatur emosi, memandang citra diri sendiri dan membangun hubungan dengan orang lain. BPD sendiri sering kali dikaitkan dengan emosi yang intens, ketakutan akan penolakan atau kehilangan, serta perubahan suasana hati yang cepat. Namun, definisi klinis kadang kala tidak mampu menggambarkan bagaimana rasanya menjalani semua hal itu dari dalam.

Pejuang yang Sering tidak terlihat

Acap kali kita menjumpai orang yang memiliki ledakan amarah yang cukup besar, mudah tersinggung, atau bahkan tampak sangat sedih dalam waktu yang lama. Sebagai manusia, kita cenderung dengan mudah melabeli apa yang terlihat di permukaan sebagai “Si Pemarah”, “Drama Queen”, “Manipulatif”, dsb. Tulisan ini bukan membenarkan setiap perilaku yang menyakiti orang lain. Bukan juga mewajarkan segala perilaku yang salah atau menyimpang dari norma masyarakat. Namun, tidak semua hal dapat dipahami dari yang tampak saja. Kita tidak pernah tahu seutuhnya apa yang telah mereka lewati dan apa yang sedang mereka hadapi di dalam dirinya sendiri.

Di balik perilaku yang terlihat, bisa jadi seseorang sedang berusaha keras mengendalikan emosi yang terasa terlalu besar. Bahkan, dia sangat berusaha untuk dapat memahami pikirannya sendiri. Manusia-manusia ini terkadang sedang berjuang melawan sisi lain diri mereka sendiri yang tentu tidak mudah agar dapat bertahan melewati hari. Kadang perjuangan itu bahkan tidak terlihat oleh orang-orang yang paling dekat dengan mereka.

Yang Terlihat, namun Sering Membuat Salah Paham

Banyak orang mengira bahwa BPD hanya berkaitan erat dengan emosi yang meledak-ledak. Namun, hal yang paling melelahkan bukan apa yang terlihat, melainkan pertarungan emosi dengan diri sendiri.

Ada saat-saat saya berusaha keras tetap berpikir jernih dalam situasi yang tidak menyenangkan. Namun, emosi lebih menguasai tubuh dan mengambil alih seluruh ruang pikiran. Sehingga yang muncul di permukaan adalah kemarahan, kesedihan, dan respons yang bahkan tidak saya inginkan. Setelah meledak, mungkin orang lain berpikir bahwa “Si Pemarah” sedang melampiaskan emosi dan melanjutkan hidup seperti biasa. Namun yang terjadi pada saya adalah sebaliknya. Pikiran saya justru penuh dengan pertanyaan apa yang telah saya katakan, siapa saja yang telah saya sakiti, dan mengapa saya gagal mengendalikan diri. Tidak jarang saya kemudian memberi label yang sangat buruk pada diri sendiri. Pada fase ini akan timbul proses menyalahkan diri sendiri yang berlarut-larut dan sulit dikendalikan dalam waktu singkat.

Selain itu, ada dua kekuatan kontradiktif yang berjalan beriringan dan sangat erat kaitannya dengan BPD. Saya sangat takut menyakiti orang lain atas emosi yang tidak dapat saya kendalikan. Namun di saat yang sama, saya sangat takut untuk ditinggalkan. Kedua hal tersebut akan selalu hadir bersamaan, berisik di dalam kepala, saling bertabrakan dan menciptakan pergulatan yang sulit dijelaskan.

Pada akhirnya, menarik diri dirasa menjadi solusi tercepat untuk menghentikan itu semua. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena pikiran dipenuhi berbagai kemungkinan, kekhawatiran, dan penilaian terhadap diri sendiri. Di dalam kondisi seperti ini, pikiran dapat berubah dengan sangat cepat dan sangat fluktuatif serta impulsif.

Sekali lagi, tulisan ini bukan membenarkan hal yang keliru. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa yang tampak di permukaan sering kali berbeda dengan apa yang terjadi di dalam diri seseorang yang hidup dengan BPD.

Yang sebenarnya dirasakan di dalam

Ada saat-saat logika dan kekhawatiran akan suatu hal muncul secara bersamaan dan saling memperebutkan tempat. Ketika sebuah pesan belum dibalas, muncul logika bahwa mungkin saja seseorang di sana tenggelam dalam kesibukannya. Namun, di satu sisi muncul kekhawatiran berlebih yang sedikit demi sedikit memenuhi ruang pikir. Apakah saya melakukan kesalahan, apakah saya terlalu banyak bicara, atau mungkinkah saya akan ditinggalkan. Kedua hal tersebut saling bergemuruh satu sama lain di dalam pikiran seseorang yang hidup dengan BPD. Contoh lain ketika akhirnya ada di suatu titik bahwa ada seseorang yang dekat dan berarti di dalam kehidupan kita. Semakin dekat hubungan tersebut semakin besar pula ketakutan yang muncul disertai kemungkinan buruk yang memengaruhi pikiran. Ironisnya, ketakutan yang sulit dikendalikan tersebut sering mendorong tindakan impulsif seperti menarik diri atau menjaga jarak terlebih dahulu. Pada dasarnya bukan karena tidak peduli, melainkan bentuk perlindungan diri otomatis atas ketakutan kehilangan seseorang.

Saya sadar bahwa terkadang reaksi diri yang timbul justru lebih besar dari logika yang ada, dan saya berusaha untuk menghentikannya. Namun tidak semua usaha membuahkan hasil. Gagal dalam pengendalian diri menjadi masalah tersendiri bagi saya. Citra diri yang buruk serta perasaan menyalahkan diri terus-menerus akan menimbulkan ketakutan utama berikutnya, yakni ketakutan menyakiti orang lain sekaligus ketakutan ditinggalkan orang lain. Saya sering menghabiskan waktu dan tenaga untuk bergumul dengan kedua hal tersebut. Sering kali saya tahu bahwa apa yang saya pikirkan dan saya khawatirkan belum tentu benar dan terjadi. Namun, mengetahui dan memercayai adalah dua hal yang berbeda.

Berjuang untuk Bertahan

Adu argumen dengan diri sendiri merupakan makanan sehari-hari. Bukan untuk mencari kemenangan, tapi untuk bertahan melewati hari demi hari. Saya menyadari ada sesuatu dalam diri saya yang tidak dapat saya pahami. Pada titik itulah, saya memutuskan meminta bantuan profesional. Tentunya untuk pertama kali, akhirnya saya menyadari bahwa saya hidup dengan BPD melalui diagnosa psikiater. Dari diagnosa tersebut, saya memahami bahwa cara kerja diri saya cukup berbeda dari kebanyakan orang. Saya mempunyai tempo yang berbeda, namun dapat menghasilkan produk yang sama.

Dalam prosesnya, tidak hanya bantuan profesional yang dibutuhkan. Namun, juga bantuan atas diri sendiri. Sejauh mana diri ini mau dibantu dan sejauh mana diri ini mau berjuang untuk menghadapi sisi lain tersebut. Terkadang saya harus menyelam jauh untuk mengenali siapa diri saya ini sebenarnya. Karena kembali lagi, citra yang dibangun kepada diri sendiri lebih banyak buruknya ketimbang baiknya. Sehingga untuk kembali mengenali diri, terkadang kita membutuhkan orang lain untuk menjadi cermin. Semakin saya memahami diri saya sendiri, saya paham pengobatan atau terapi apa yang tepat untuk saya dan apa saja langkah-langkah yang menghasilkan hasil efektif. Ini juga didukung dengan adanya orang-orang terdekat yang tidak hanya mendengar namun mampu menahan diri untuk tidak menghakimi.

Saya tidak bangun secara tiba-tiba dalam kondisi sembuh. Namun, saya menyadari saya semakin mengenali diri saya sendiri lebih baik dibanding sebelumnya. Tidak sepenuhnya membuat pulih, namun cukup untuk bertahan sehari-hari dengan adanya konsistensi waktu dan usaha dalam prosesnya.

BPD Bukan Seseorang, namun di Luar Sana Seseorang Hidup dengan BPD

Saya memahami bahwa tidak semua orang mengerti tentang BPD. Namun, saya percaya bahwa sebagian besar dari kita ingin memahami orang lain dengan lebih baik, termasuk orang yang hidup dengan BPD. Tidak jarang perilaku yang muncul membuat orang lain menyimpulkan bahwa seseorang dengan BPD hanya sedang mencari perhatian. Kesimpulan tersebut sangat bertolak belakang dengan fakta yang dirasakan dari dalam. Bahkan saya sangat tidak menikmati emosi yang intens. Saya juga tidak merasa memiliki kekuatan ketika timbul reaksi berlebihan. Justru yang terjadi adalah ketika reaksi tersebut muncul, saya lebih sering menghukum diri saya jauh lebih keras dibanding orang lain menghukum saya. Namun di balik itu semua, semakin saya memahami diri saya sendiri, semakin saya berusaha untuk mempertanggungjawabkan atas perilaku saya yang mungkin timbul di luar kendali saya.

BPD bukan hanya sekedar diagnosis. Mereka bisa saja menjadi teman, saudara, dan orang-orang yang sedang berusaha keras menjalani kehidupan sebaik mungkin. Berusaha untuk menjadi berguna dengan adanya keterbatasan kendali diri. Berusaha untuk tidak merepotkan dengan adanya emosi intens yang muncul tiba-tiba. Tidak semua perjuangan terlihat dari luar. Terkadang yang dibutuhkan bukan jawaban sempurna, melainkan ruang untuk dipahami. Terkadang yang dibutuhkan bukan kesembuhan, namun sedikit rasa legowo untuk memahami bahwa hidup dengan BPD bukan hal yang mudah, namun pantas untuk diperjuangkan.

Tulisan ini lahir dari pengalaman pribadi, tidak dimaksudkan sebagai dasar untuk melakukan self-diagnosis. Jika Anda memiliki pergulatan yang serupa atau merasa memiliki pengalaman yang sama, jangan terburu-buru menyimpulkan apa yang sedang Anda alami. Mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah awal untuk memahami diri sendiri secara utuh.


메타데이터
post_id
ad17c67fa818
slug
dibalik-diagnosis-bernama-bpd-ad17c67fa818
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/dibalik-diagnosis-bernama-bpd-ad17c67fa818
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/dibalik-diagnosis-bernama-bpd-ad17c67fa818
author_url
https://medium.com/@thea24
status
ok
fetched_at
2026-06-12 07:40:50