← Back to list

[OPINI] Budaya Ngalemboro Penduduk Wonogiri, Demi Penghidupan Lebih Layak

Wonogiri, kabupaten seluas 1.904,32 km² di penghujung selatan Jawa Tengah yang berbatasan dengan Samudera Hindia telah lama dikenal sebagai…

Wulan Eka Handayani · 2026-04-20 10:48 · 10 claps · 1.8 min read
#opinion #wonogiri #kaum-boro #umk #wulanekah
Open on Medium ↗

[OPINI] Budaya Ngalemboro Penduduk Wonogiri, Demi Penghidupan Lebih Layak

Mengembara demi hidup lebih layak. (Foto : Wulan Eka Handayani).

Mengembara demi hidup lebih layak. (Foto : Wulan Eka Handayani).

Wonogiri, kabupaten seluas 1.904,32 km² di penghujung selatan Jawa Tengah yang berbatasan dengan Samudera Hindia telah lama dikenal sebagai wilayah pemasok Kaum Boro, atau perantau. Kata Boro berasal dari singkatan ngalemboro, artinya mengembara. Perantau dari Wonogiri pergi untuk mencari nafkah di daerah lain.

Dengan penduduk sejumlah 1,057 juta jiwa, 35% di antaranya merupakan perantau. Angka tersebut cukup tinggi, sebab daerah Wonogiri masih berada pada tingkat ekonomi rendah. Dengan infrastruktur dan sumber daya ekonomi yang minim.

Secara struktural, Kabupaten Wonogiri merupakan daerah pertanian. Dengan didominasi lulusan pendidikan Sekolah Dasar (SD) sebanyak 50%, sektor pertanian masih menjadi penerap paling banyak bagi tenaga kerja produktif di Wonogiri.

Penduduk dengan tingkat pendidikan menengah banyak bekerja di industri manufaktur. Seperti tenaga produksi di pabrik garmen yang tersebar di beberapa kecamatan di Wonogiri. Tiga pabrik garmen besar, yakni PT Nesia Pan Pacific Clothing, PT Top And Top Aparrel, PT Liebra Permana menyerap tenaga kerja hingga 10 ribuan lulusan sekolah menengah.

Sementara itu, penduduk dengan tingkat pendidikan tinggi kesulitan bekerja di Wonogiri. Joko Pramono Kepala Bidang Pelatihan Produktivitas Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnaker) Kabupaten Wonogiri menyatakan penyerapan angkatan kerja untuk lulusan perguruan tinggi masih relatif kecil. Penyerapan tenaga kerja di Wonogiri tiap tahunnya 7000-an. Lulusan D1-S1 rata-rata baru 200-an.

Dengan jumlah angkatan kerja pada tahun 2023 dan 2024 sejumlah 1,7 juta penduduk untuk semua jenjang pendidikan, angka penyerapan tenaga kerja di lapangan sejumlah 19 ribu orang dari 2023 hingga awal 2025. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja yang tersedia di Wonogiri tak sebanding dengan jumlah angkatan kerja. Minimnya kesempatan kerja di Wonogiri ini mengakibatkan banyak penduduk yang memilih mencari kerja di wilayah luar Wonogiri atau mengembara.

Siti Zuhariah, akademisi Sosiologi asal Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengisahkan bahwa tren Kaum Boro di Wonogiri sudah ada sejak tahun 1970-an. Kebanyakan perantau menuju kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya untuk berdagang, misalnya bakso atau mie ayam.

Upah Minimum Kabupaten (UMK) Wonogiri kedua terbawah se-Indonesia, sekitar Rp 2 jutaan juga dinilai tidak memenuhi ekspektasi standar pendapatan gaji yang diharapkan penduduk Wonogiri. Kota-kota besar seperti wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi menawarkan gaji UMK lebih tinggi daripada Wonogiri.

Mobilitas sosial yang kian tinggi berkat era globalisasi juga mendukung penduduk Wonogiri untuk melakukan penjelajahan ke luar daerah. Dengan bekerja di daerah yang UMK lebih tinggi, mereka berharap akan mendapat penghidupan yang lebih baik dari generasi keluarga sebelumnya. Status dan tingkat ekonomi sosial meningkat. Status sosial tersebut ditunjukkan pada masyarakat di tempat asal sekali setahun saat mudik lebaran.


메타데이터
post_id
ad5326c2de8d
slug
opini-budaya-ngalemboro-penduduk-wonogiri-demi-penghidupan-lebih-layak-ad5326c2de8d
url
https://medium.com/@wulanekah/opini-budaya-ngalemboro-penduduk-wonogiri-demi-penghidupan-lebih-layak-ad5326c2de8d
canonical_url
https://medium.com/@wulanekah/opini-budaya-ngalemboro-penduduk-wonogiri-demi-penghidupan-lebih-layak-ad5326c2de8d
author_url
https://medium.com/@wulanekah
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13