Merawat Mimpi Literasi: Sinergi Komunitas untuk NTT Berdaya
Cuaca Kupang yang berawan namun terik tak mampu mengalahkan panasnya api semangat literasi yang dibawa oleh para manusia berdaya dengan…
Merawat Mimpi Literasi: Sinergi Komunitas untuk NTT Berdaya

Dokumentasi kegiatan (Dok. Balai Bahasa Provinsi NTT)
Cuaca Kupang yang berawan namun terik tak mampu mengalahkan panasnya api semangat literasi yang dibawa oleh para manusia berdaya dengan mimpi besar. Pada 10 Desember 2025, ruang aula Hotel On the Rock Kupang mulai diisi oleh para penggiat dari 31 komunitas yang tersebar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ruangan dipenuhi meja-meja bundar yang menopang gelas-gelas kaca, alat tulis, serta ide-ide peserta yang terus mengalir seiring kegiatan berlangsung. Meskipun datang dengan kisah yang berbeda-beda, para peserta kompak memiliki satu kerinduan: kerinduan untuk belajar.
Kegiatan Pendampingan Komunitas Penggerak Literasi yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi NTT, berlangsung pada 10–12 Desember 2025 dibuka dengan kata sambutan dari Bapak Herry Budhiono selaku Kepala Balai Bahasa Provinsi NTT. Kata sambutan dipenuhi dengan apresiasi bagi para pegiat komunitas serta kerinduannya bagi dunia literasi melalui peran komunitas di NTT. Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari 2 malam ini dibawakan oleh para narasumber yang kompeten di bidangnya masing-masing. Para peserta disuguhi sesi-sesi ‘berdaging’ dengan topik yang telah dirancang sedemikian rupa dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan para peserta.
Hari Pertama.
Hari pertama dimulai dengan sesi bertopik “Kebijakan Balai Bahasa Provinsi NTT tentang Literasi sebagai Program Prioritas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa” yang dibawakan oleh Ibu Christina T. Weking, Kepala Subbagian Umum Balai Bahasa Provinsi NTT. Beliau memaparkan peran Balai Bahasa dalam pembangunan literasi dan kebahasaan di Indonesia melalui program-program berkelanjutan. Program-program ini bertumpu pada Trigatra Bahasa: utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing. Sesi diikuti dengan antusias dan disambut pertanyaan-pertanyaan dari peserta.
Pada malam hari, para peserta mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan profil dari komunitas masing-masing yang mereka ampu. Kegiatan hari pertama kemudian ditutup dengan penampilan berpuisi oleh beberapa peserta yang disambut tepuk tangan meriah, serta pengarahan singkat mengenai agenda hari kedua.
Hari Kedua
Hari baru, semangat baru. Setelah beristirahat dan mengisi perut, para peserta berbondong-bondong memasuki ruang aula untuk menyantap hidangan sesi berdaging selanjutnya. Sesi pagi dimulai dengan topik “Menyusun Profil Komunitas Literasi dan Proposal Kegiatan”, dibawakan oleh Bapak Zuddi Ichwan Priyana, Ketua Panitia kegiatan. Beliau memaparkan informasi serta tips penting yang perlu ada saat menyusun profil komunitas yang baik dan terarah.
Suasana kian hidup ketika dimulainya sesi bertopik “Menulis Berita sebagai Media Sosialisasi Komunitas Literasi” oleh Ibu Haniva Leo yang berbagian dalam tim redaksi KBBI daring. Melalui belasan studi kasus yang interaktif, peserta diajak memahami kaidah penulisan bahasa Indonesia dalam penulisan berita. Diskusi mengalir, tawa sesekali pecah, dan catatan kembali diisi dengan informasi baru.
Menjelang siang, sesi dibawakan oleh Bapak Pangkul Ferninandus, pegiat revitalisasi yang berfokus pada bahasa daerah di provinsi NTT, dengan topik “Komunitas Literasi: Rumah bagi Budaya dan Penutur Bahasa Daerah”. Bapak Pangkul juga membagikan fenomena semakin langkanya penutur bahasa daerah dan risiko kepunahannya apabila tidak terus dilestarikan. Pada titik ini, literasi tak lagi terasa abstrak — ia hadir sebagai warisan, identitas, dan keberlanjutan budaya.
Sesi tak kalah menarik selanjutnya dibawakan oleh Bapak Rafly Ubit Pinka selaku Widyabasa Ahli Pertama Balai Bahasa Provinsi NTT dengan topik “UKBI: Bukti Kecintaan Terhadap Bahasa Nasional”. UKBI merupakan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia yang memiliki 5 dimensi yang diukur, yakni: mendengarkan, merespons kaidah, membaca, menulis, dan berbicara. Teknis pelaksanaan serta peran komunitas dalam pelaksanaan di sekolah-sekolah pun turut dipaparkan oleh beliau.
Kegiatan pada hari kedua ditutup dengan sesi berbagi oleh Ibu Paulina M. Y. Kosat yang merupakan pendiri Yayasan Literasi Aksara Budaya. Ia membagikan kisah berdirinya yayasan yang diampu serta informasi berharga terkait dengan proses legitimasi suatu yayasan ataupun komunitas literasi. Kisah yang disampaikan bukan hanya tentang keberhasilan semata, melainkan sebuah proses panjang penuh kendala yang membutuhkan segudang keberanian untuk bertahan. Hari yang panjang namun tak satupun terasa sia-sia. Semua pencerahan yang didapatkan siap dibawa pulang untuk kemudian diimplementasikan dalam pengembangan setiap komunitas.
Hari Ketiga.
Hari terakhir, hari penutupan kegiatan. Keseluruhan kegiatan ditutup dengan tepuk tangan panjang, mengumandangkan tekad yang diperbarui. Satu per satu peserta meninggalkan bangku, ada pula yang saling bertukar kontak dengan janji kolaborasi. Ruangan kembali lengang, menyisakan beberapa kertas catatan yang tertinggal. Pendampingan ini bukan hanya sekadar sebuah pelatihan, melainkan tempat berkumpulnya kisah dan mimpi. Mimpi dan keberanian untuk terus menjangkau lebih jauh serta menggali lebih dalam, demi lahirnya masyarakat NTT yang lebih berdaya — pelan, namun pasti.
메타데이터
- post_id
- ad80f8e7dec8
- slug
- merawat-mimpi-literasi-sinergi-komunitas-untuk-ntt-berdaya-ad80f8e7dec8
- url
- https://medium.com/@kupangbookparty01/merawat-mimpi-literasi-sinergi-komunitas-untuk-ntt-berdaya-ad80f8e7dec8
- canonical_url
- https://medium.com/@kupangbookparty01/merawat-mimpi-literasi-sinergi-komunitas-untuk-ntt-berdaya-ad80f8e7dec8
- author_url
- https://medium.com/@kupangbookparty01
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13