YouTube atau TV ?
Dalam sebuah program talk-show, di akhir acara host meminta narasumber tamu menjawab secara cepat pilihan pertanyaan yang diajukan. Salah…
YouTube atau TV ?


Photo by Christian Wiediger & Fran Jacquier on Unsplash
Dalam sebuah program talk-show, di akhir acara host meminta narasumber tamu menjawab secara cepat pilihan pertanyaan yang diajukan. Salah satu pertanyaannya adalah YouTube atau TV? Sang tamu yang masih muda dengan cepat menjawab: YouTube.
Pertanyaan ini kemudian memancing saya dalam hati untuk ikut memilih salah satu diantara keduanya.
Sempat berpikir sesaat, saya awalnya agak bingung menentukan karena TV dan YouTube punya pros dan cons-nya masing-masing. Kalau pertanyaan ini diajukan ke generasi milenial, bahkan ke generasi sebelumnya, saya yakin jawabannya absolut YouTube. Tapi kalau saya terpaksa harus menjawab, maka TV adalah pilihan saya, paling tidak untuk saat ini, yaitu saat tulisan ini dibuat, karena beberapa tahun ke depan mungkin saja bisa berubah.
Bukan berarti saya tidak suka YouTube. Hampir setiap hari saya buka YouTube, menikmati perkembangan informatif dari Vice, Business Insider atau DW Indonesia, kanal olahraga seperti LFCTV, B/R & Tifo Football, hiburan kreator konten DDOI, Zach King, Fabio Wibmer, sampai yang menghangatkan hati di kanal The Dodo.
YouTube merupakan salah satu yang terbaik dalam ekosistem hiburan digital saat ini. Setiap orang yang punya akses ke YouTube bisa membagikan video seraya mencari informasi dan hiburan sekaligus menerima pendapatan dalam jumlah yang luar biasa, sesuatu yang belum mampu dilakukan aplikasi lain.
Tapi kenapa saya cenderung memilih TV, karena ada beberapa faktor subjektif yang akan saya coba paparkan sebagai pengingat buat saya di masa depan tentang apakah faktor-faktor ini tetap relevan nantinya.
KENAPA
Pertama, mungkin karena saya bukan (atau belum jadi) youtuber. Faktor ini jelas berpengaruh karena kalau saya memutuskan YouTube sebagai ladang mata pencaharian sekaligus hiburan maka fokus, prioritas dan pilihan utama saya jelas adalah YouTube.
Kedua, aksesbilitas & harga. Mengakses YouTube butuh akses ke jaringan internet, dan jaringan internet di Indonesia baik mobile maupun fixed-line selain belum tersebar merata juga harganya tidak murah, apalagi membuka konten video biayanya lebih besar ketimbang gambar atau teks. Di kota besar seperti Jakarta mungkin oke jaringannya, tapi bagaimana kalau saya ada di sebuah kota kecil di luar pulau Jawa?
Biarpun ada jaringan internet, berapa biaya data untuk memutar video sepanjang 15–30 menit atau 1 jam? Kalau ada tugas di luar kota, saya pilih menghabiskan waktu senggang dengan jalan-jalan atau hanya nonton TV di kamar hotel. Di Jakarta saja, saya menghindari buka video YouTube pakai jaringan internet seluler.
Sementara mengakses TV faktanya lebih simpel dan lebih terjangkau buat rakyat kebanyakan. Toh kalau misalnya jaringan internet mati cukup lama, TV akan menjadi salah satu hiburan yang paling dicari, kecuali kalau listrik padam, ambyar sudah semua.
Ketiga soal konten. TV telah dianggap sebagai media dari masa lalu, sedangkan YouTube mewakili media masa kini. Pernah saya menemukan netijen Indonesia bertanya di media sosial, “Masih ada yang nonton TV hari gini?”. Entah itu tanya serius, retoris atau sarkatis.
Konten TV terutama TV lokal sering dianggap tidak menarik, gitu-gitu aja, sebagian dinilai jelek. Sementara konten di YouTube sangat berwarna, variatif, dengan jumlah yang bertambah setiap saat. Hampir semua tema kehidupan untuk semua kelompok demografi rasanya ada videonya di YouTube, dan sebuah konten yang menarik dijamin mampu menarik bukaan cuma ratusan ribu atau jutaan tapi hingga miliaran jumlah tontonan.
Saat tulisan ini disusun Baby Shark Dance menjadi video yang paling banyak ditonton di YouTube hingga lebih dari 7,1 miliar. Di peringkat berikutnya ada video Despacito yang mengumpulkan 7 miliar lebih tontonan dan angka-angka itu akan terus bertambah, atau di kemudian waktu ada video-video baru yang mengalahkan pencapaian keduanya dengan jumlah tontonan yang mungkin lebih berlipat lagi.
Sebuah pertanyaan di Quora tahun 2017 yang dijawab dengan perhitungan matematis secara rata-rata, memperkirakan YouTube punya lebih dari 7 miliar video. Bila betul, sekarang jumlahnya pasti bertambah lebih dahsyat. YouTube for Press yang saya cek terakhir (13/11/2020) tidak merilis data secara spesifik tentang berapa banyak video yang mereka miliki, namun menyebutkan ada lebih dari 500 jam konten video yang diunggah ke YouTube setiap menitnya.
Anggaplah video-video tersebut berdurasi rata-rata 30 menit, berarti ada 1000 video yang muncul di YouTube setiap menitnya. Bayangkan kalau durasi video cuma 10 menit, dan itu cuma dalam hitungan semenit, kalikan ke satu jam, satu hari, satu minggu dan seterusnya. Jadi tidak heran kalau video-video di YouTube bisa mencapai miliaran.
YouTube adalah jawara konten di aplikasi bebasnya. Tapi dengan miliaran konten YouTube yang ada, konten di TV baik Live TV maupun Paid TV tetap menjadi pilihan pertama saya. Ambil contoh konten Live TV. Saya masih nonton TV jaringan nasional spesifik ke berita, kadang olahraga kayak basket, bulu tangkis atau sepakbola (but definitely never ‘liga nganu’), atau sesekali komedi seperti Komeng. Dulu awal-awal saya suka stand-up comedy, tapi semakin kesini ….
Mayoritas saya nonton berita sambil menikmati makan siang atau malam. Saya punya pilihan untuk buka YouTube di TV yang sama, tapi saya tetap cenderung menonton berita atau sejenisnya. Di YouTube semua stasiun TV nasional juga punya kanal masing-masing, tapi setahu saya (koreksi kalau salah) tidak semuanya menyediakan live streaming. Lagipula lebih mudah berpindah dari satu kanal ke kanal lainnya di TV melalui alat pengendali ketimbang di YouTube yang lebih ribet kalau hanya untuk nonton TV berita.

Photo by cottonbro from Pexels
Untuk Paid TV buat saya konten-kontennya adalah pilihan utama tontonan hiburan terutama saat santai di malam hari. Saya selalu mendahulukan nonton episode terbaru TV-Show macam The Voice, American Ninja Warrior, Mom, The Good Fight dan sejenisnya, kalau sudah, baru saya berpindah ke YouTube.
Sebenarnya tidak fair untuk membandingkan apple to apple konten di YouTube yang diproduksi user (UGC) dengan konten di Paid TV yang diproduksi sindikasi atau jaringan. Karena sejatinya YouTube itu bukan TV. Baru kemudian YouTube di tahun 2017 meluncurkan layanan YouTube TV dan YouTube Premium setahun kemudian.
Sayangnya YouTube TV tidak tersedia di Indonesia, entah di masa mendatang. Kalau YouTube TV (dengan konten seperti di wilayah US) masuk ke Indonesia dan harga langganannya masuk ke kantong saya, saya pasti menempatkan YouTube sebagai pilihan utama, dan mungkin saya nonton TV nasional hanya kalau headline news atau breaking news saja.
YouTube Premium belum menarik buat saya, paling tidak untuk sekarang. Film-film orisinil yang dimiliki belum membuat saya mau berlangganan. Dari sekian film orisinil yang dilepas gratis (episode awal) di aplikasi YouTube, saya baru ketemu satu film yang saya suka, Sideswiped is funny af. YouTube Premium sepertinya belum punya konten orisinil yang mampu menandingi kepopuleran konten-konten di Netflix, Disney+, Amazon Prime atau Apple TV. Tapi kondisinya bisa saja berubah di hari depan, mengingat kekuatan uang Alphabet.
Sekedar saran, kenapa YouTube Premium tidak memulai langkah menjadi populer dengan membeli EPL Rights untuk disiarkan di wilayah Indonesia dengan harga terjangkau?
Keempat, masalah keamanan. Konten di TV pada dasarnya relatif aman. Di Indonesia ada lembaga yang mengawasi konten yang disiarkan stasiun TV. Pun begitu di luar negeri. Sekalipun di Indonesia ada tayangan sinetron yang sering dianggap ‘gak jelas, atau reality show yang ampas, toh materinya tidak akan melebihi batas menjadi provokatif, vulgar atau membahayakan.
Begitu juga dengan mayoritas Paid TV dari luar negeri yang isi kontennya dijamin ‘aman’ seperti Disney, National Geographic, HGTV, Hallmark Channel, Food Network, Discovery dan masih banyak lagi. Tapi tetap ada beberapa provider seperti Netflix, HBO atau Cinemax yang punya konten film dengan rating R hingga NC-17. Hanya saja konten seperti itu tidak akan bisa didapatkan secara mudah dan cuma-cuma.

Photo by ben ali on Unsplash
Berbeda dengan konten di YouTube yang sangat terbuka, bisa diakses siapa saja dan ‘gratis’ sehingga faktor keamanan sering jadi sasaran kritik. Begitu banyak konten di YouTube yang menampilkan video kekerasan, penipuan, pelecehan, penghinaan, isu rasial, kebencian terhadap agama, propaganda terorisme, sampai yang selalu jadi bahan kontroversi yaitu tema seksual.
YouTube teramat sadar dengan masalah ini. Dari bulan Januari hingga Maret 2020, YouTube telah menghapus lebih dari 6 juta video, 700 juta komentar dan hampir 2 juta channel karena telah melanggar kebijakan dan pedoman keamanan. Yang mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa dari 6 juta video yang dihapus tersebut, 24,3 persennya berkaitan dengan keamanan pada anak.
Faktor keamanan yang rentan bahkan membuat CEO YouTube Susan Wojcicki tidak mengijinkan anak-anaknya yang masih kecil menelusuri video-video di aplikasi kecuali mereka menggunakan YouTube Kids, versi YouTube yang didisain secara aman untuk digunakan anak-anak dibawah umur 13 tahun. Konyolnya, YouTube Kids punya isu tersendiri karena versi ini ternyata sempat ikut dimanfaatkan para pedofil. Baru kemudian YouTube menerapkan proteksi yang lebih ketat lagi untuk platform ini.
Konten berbahaya akan selalu muncul dan ini telah menjadi sisi gelap yang dimiliki YouTube. Sehebat & secanggih apapun sistem yang dibuat administrator untuk memberangus konten-konten tersebut, tidak akan pernah bisa dijamin YouTube senantiasa aman sentosa. Bagi orang dewasa mungkin mudah buat memilih dan memilah. Tapi bagaimana dengan anak-anak yang naïf soal keamanan konten dan yang lepas dari pengawasan orangtua?
Terakhir tentang durasi. Mengonsumsi konten di TV buat saya selalu terasa cukup waktunya. Misalnya di malam hari saya nonton film Chicago PD, jeda sebentar kemudian lanjut nonton Amazing Race, setelah itu cukup sudah, lanjut tidur. Di YouTube pengalamannya bisa berbeda. Saya menikmati tontonan YouTube dengan loncat dari satu video ke video lain. Sekalipun durasi video hanya rata-rata 10–20 menit, tapi karena terus berlanjut tanpa sadar tiba-tiba jam berbunyi dan waktu telah menunjukkan tengah malam, dan saya cuma bisa mengumpat dalam hati: kampret!!
Saya lebih sering nonton YouTube di TV. Kelemahannya ada di mode pengaturan yang tidak punya fitur pengingat untuk berhenti sejenak atau waktunya tidur seperti yang ada di HP. Menikmati tontonan di YouTube tanpa kesadaran dan kontrol diri seolah terserap masuk ke pusaran waktu yang terus berputar tanpa henti dan untuk keluar dari pusaran kadang dibutuhkan pengingat.
Susan Wojcicki juga menyadari hal tersebut. Sebagai orangtua ia tidak hanya menentukan YouTube Kids yang harus digunakan anak-anaknya, tapi juga membatasi waktu penggunaan. Segala sesuatu yang berlebihan itu berbahaya, begitu katanya. Saya sangat setuju dengan hal itu.
Preferensi saya terhadap TV mungkin ada hubungannya dengan saya sebagai gen-x yang tumbuh bersama TV sebagai media informasi dan hiburan ketika media digital belum terbentuk. Ketika jaman berubah dan teknologi media berkembang, saya menikmati yang tersedia sambil mencari keseimbangan diantaranya.
Pilihan saya kepada TV semata dalam konteks hiburan film dan informasi secara langsung. Karena YouTube sendiri adalah gudang hiburan dan informasi, saya memanfaatkannya secara berbeda. Video tinjauan produk, instruksi manual atau how-to adalah informasi yang sulit didapatkan di TV, begitu juga dengan hiburan berupa cuplikan film, komedi dan olahraga.
Mungkin kalau diibaratkan, saya menganggap TV sebagai main course, sedangkan YouTube sebagai dessert. Keduanya sama bagusnya, sama enaknya, yang penting isinya aman dan dikonsumsi secara benar.
“That’s the end of this writing, I really hope you enjoyed, and I’ll see you guys again not that very soon… “
Later …
메타데이터
- post_id
- adb5ef7f1f9f
- slug
- youtube-atau-tv-adb5ef7f1f9f
- url
- https://medium.com/@FeliksRT/youtube-atau-tv-adb5ef7f1f9f
- canonical_url
- https://medium.com/@FeliksRT/youtube-atau-tv-adb5ef7f1f9f
- author_url
- https://medium.com/@FeliksRT
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-28 17:41:00