Destroyed
Wira Jayendra ; Nayara Prameswari
Destroyed
Wira Jayendra ; Nayara Prameswari

Aku merarangkak di kasur, lutut dan tangan gemeteran menahan badan. Tangan ku mencengkeram sprei erat-erat sampe jari-jari aku memutih, napas ku sudah ngos-ngosan meski belum apa-apa.
Tiba-tiba tangan Wira yang besar dan kasar langsung menyambar rambut aku dari belakang. Wira tarik kepala ku ke belakang keras sekali, sampai leher ku melengkung sakit dan aku cuma bisa mendongak menatap langit-langit kamar yang gelap.
“Kau minta kasar kan, Nayara?” suaranya rendah, berat, dan penuh ancaman di belakang telinga aku. Aku bisa ngerasain bibirnya menyentuh daun telinga.
Belum sempat aku jawab, kontol Wira yang udah keras, tegang, dan panas langsung nyodok masuk dalem dengan satu hentakan brutal. “Aaaahhh!!” jerit ku pecah. Rasanya seperti robek. Dia masuk terlalu dalam, terlalu kasar, mendorong dinding dalam ku yang belum siap.
Badan ku tersentak maju, tapi tangan Wira langsung mencengkeram pinggul ku kuat-kuat. Jari-jarinya nancep dalam di daging pinggul, pasti akan meninggalkan bekas memar besok.
“Wira ahh.. sayangg… sakit… pelan please…” suaraku gemetar, tapi dia malah nyengir di belakang. Dia mulai gerak. Tiap dorongan keras dan cepat.
plak plak plak
Suara tabrakan kulit ku dan Wira memenuhi kamar. Kontolnya ngehantam dalam sampai aku merasa perut bawah aku kena sodokan terus-menerus. Setiap kali dia mundur, kepala kontolnya nyaris keluar, trus langsung nyodok lagi lebih dalam.
Klitoris aku bergesek kasar ke kasur tiap hentakan, bikin sensasi panas yang campur aduk sama rasa perih. Napas Wira panas dan kasar di punggung ku. Tangan kirinya masih ngegenggam rambut ku, tangan kanannya naik ke leher. Dia cekek pelan tapi kuat, bikin kepala ku pusing dan napas tersendat.
“Lo basah banget, jalang… suka dikentot kasar gini ya? Pacar aku emang murahan, memek lo enak banget sayanggg” ejeknya sambil ketawa rendah.
Tiap kata dia diucapin bareng dorongan yang makin ganas. Aku cuma bisa menggeleng lemah sambil nangis, “Nggak… Wira ahh… aku nggak kuat shh ahh sayanggg…” tapi tubuh aku berkhianat.
Vagina ku semakin banjir, cairan aku meleleh di paha dalam, suara “plak plak”-nya semakin mesum dan basah. Wira tambah cepat. Dia angkat satu kaki ku sedikit lebih tinggi, membuat sudutnya lebih dalam.
Sekarang setiap dorongan benar-benar kena titik paling sensitif di dalem. Aku merasa kaki ku gemeteran hebat, perut ku kram, mata ku berkunang-kunang. Kadang Wira berhenti sejenak sambil kontolnya nempel full di dalam, muter pinggulnya pelan-pelan, ngeganjel dinding aku dari segala arah.
Tiba-tiba dia tarik pinggul aku ke belakang dan ngepukul lagi dengan keras banget. Sekali, dua kali, tiga kali berturut-turut.
“Aaahh! Wiraaaa!!” jerit aku nggak karuan. Dia lepas cekekan di leher, tapi langsung ganti remas payudara ku dari belakang sambil cubit puting ku keras.
Badannya nindih punggung ku, aku hampir ambruk ke kasur. Gerakannya semakin liar, cepat, dan brutal. Aku ngerasa dia semakin besar di dalem memek ku.
“Aku mau keluar di dalem ya, sayangg,” desahnya di telinga aku.
“Aku… aku nggak mau hamil… tarik aja…” aku memohon sambil isak, tapi Wira malah tertawa.
“Terlambat.”
Beberapa detik kemudian dia mendesah panjang dan kasar. Tubuhnya mengejang. Aku merasa kontolnya berdenyut-denyut di dalem, lalu semprotan panas dan tebal menyembur kuat-kuat memenuhi rahim aku. Panas. Banyak. Dia terus dorong pelan sampe tetes terakhir.
Aku ambruk ke kasur dengan napas tersengal, badan aku berkeringat, selangkangan aku perih, lengket, dan berdenyut-denyut. Cairan campurannya meleleh keluar dari lubang aku yang masih terbuka lebar.
Wira masih di atas aku, napasnya berat. Dia cium punggung aku pelan, kontras banget sama tadi.
“Bagus banget tadi, sayang,” bisiknya sambil tangannya mengusap pinggul aku yang memar.
Aku masih tergeletak lemas di kasur setelah Wira crot dalem banget. Tapi dia belum puas. Kontolnya yang masih setengah keras dicabut kasar, bikin cairan campuranku langsung muncrat keluar.
“Nayara sayang ku, jalang kecil. Belum selesai,” katanya sambil nyengir mesum.
Dia balik badan aku kasar jadi telentang. Langsung buka lebar kedua kakiku sampe lutut aku nyentuh dada. Tanpa ampun, kontolnya yang udah licin cairan masuk lagi dengan satu hentakan kuat.
“Aaahhh Wiraa!!” jerit ku.
“Memek lo enak banget, Naya. Mesum, sempit, suka ngisep kontol pacar sendiri,” ejek Wira menghentak dalam-dalam. Matanya gelap penuh nafsu. Tiap dorongan bikin payudara ku goyang-goyang liar. Tangan dia nindih leher aku lagi, mencekik lebih kuat dari tadi.
“Bilang lo pelacur gue Naya. Bilang memek lo cuma buat kontol gue doang!”
“A-aku… pelacur kamu Wi…ahh Wi..ra… ahh! Memek aku cuma buat Wira ahh…” suaraku pecah-pecah karena dorongannya yang brutal. Setelah beberapa menit menghentak kontol di dalam memek ku di posisi missionary, Wira narik kontolnya keluar dengan bunyi plop yang mesum.
Dia duduk di kepala kasur, tarik rambut ku kasar.
“Sekarang lo yang kerja, jalang. Naik!” Dia paksa aku naik ke atas, posisi cowgirl. Tangan dia pegang pinggul aku kuat, lalu dorong aku turun kasar sampe kontolnya nyodok sampe pangkal.
“Nggak!! Terlalu dalem eunghh!!” aku menjerit, tapi Wira malah ngacungin pinggulnya dari bawah, ngepukul memek aku dengan ganas.
“Gerak, Lonte! Goyang memek lo yang basah itu. Bayangin lo cuma sperm toilet aku,” katanya sambil tampar payudara aku keras. Aku terpaksa naik turun, tiap kali kontolnya ngehantam rahim bikin mata aku mendelik.
Wira tambah kotor, “Lihat memek lo lonte ngocor di kontol gue. Murahan banget. Pacar orang aja nggak sebasah ini.” Aku sudah nggak kuat, kaki gemeteran. Wira kesal, dia angkat badan aku lalu balik posisi lagi jadi prone bone, badan aku ditindih sepenuhnya, muka aku ditindih ke kasur.
Kontolnya masuk lagi dari belakang, lebih dalam dari sebelumnya. Wira menghentak ganas, cepet, dan brutal. Setiap hentakan bunyinya basah dan keras.
“Desah yang keras lo di kasur, jalang. Memek lo udah rusak ya? Masih aja ngejepit kontol gue ahh,” desahnya sambil gigit bahu aku sampe memar. Tangan dia merayap ke depan, jari tengahnya ngesek klitoris dengan kasar sambil tetep hentak memek dari belakang.
“Gue mau cum lagi. Kali ini lo harus minta dengan suara lo jalang, ahh lonte cepet anjing” perintahnya.
“Wiraa ahh… cum di dalem lagi… tolong… isi memek aku… gue ahh gue lonte lo…” aku menangis sambil memohon, suaraku sudah serak. Wira ketawa puas. Wira menghentak makin cepat, tangannya mencekik leher aku dari belakang lagi. Napas aku hampir putus, badan aku kejang-kejang hebat.
“Nihh nihh lontee ini ahh, keluar anjing shh!” Tubuh Wira mengejang. Semprotan panas ketiga kalinya menyembur deras di dalem rahim ku.
Banyak banget sampe meleber keluar tiap kali dia dorong pelan. Aku ikut orgasme hebat, memek ku berdenyut-denyut menjepit kontolnya, cairan ku muncrat basahin kasur. Kami berdua ambruk.
Wira masih di dalem aku, kontolnya pelan-pelan lembek tapi dia sengaja ngeganjel biar spermanya nggak keluar banyak. Dia bisik di telinga aku dengan suara puas.
“Besok malam lo siapin lubang pantat juga ya, Sayang. Aku mau rusak semua lubang pacar aku yang murahan ini.”
메타데이터
- post_id
- adeea346d239
- slug
- destroyed-adeea346d239
- url
- https://medium.com/@jiyunverse/destroyed-adeea346d239
- canonical_url
- https://medium.com/@jiyunverse/destroyed-adeea346d239
- author_url
- https://medium.com/@jiyunverse
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 19:22:58