← Back to list

Menjemput Mimpi di Tepian Batanghari : Saat Langkah Terhenti di Jalanan Berlumpur

Saya baru saja menyelesaikan perjalanan pengabdian masyarakat di Jorong Tanah Galo, Nagari Lubuk Ulang Aling Tengah, Solok Selatan…

Farrel Alghassani · 2026-01-24 09:28 · 59 claps · 3.8 min read
#pendidikan #pengabdian-masyarakat #3t #social-justice #social-change
Open on Medium ↗
Wiki topics: SOC · Sociology & Politics 🔒 · Cybersecurity

Menjemput Mimpi di Tepian Batanghari : Saat Langkah Terhenti di Jalanan Berlumpur

Saya baru saja menyelesaikan perjalanan pengabdian masyarakat di Jorong Tanah Galo, Nagari Lubuk Ulang Aling Tengah, Solok Selatan, Sumatera Barat. Perjalanan ini saya tempuh sebagai relawan bersama komunitas Mahardika Muda Indonesia melalui program Mahardika Muda Mengajar. Sebuah wilayah di tepian Sungai Batanghari yang keindahan alamnya sangat mempesona, namun aksesnya menuntut perjuangan yang luar biasa. Di sana, saya menyaksikan sebuah peradaban kecil yang berdenyut kencang, namun seolah berjuang sendirian tanpa dukungan infrastruktur yang memadai.

Untuk mencapai tujuan kami ke Jorong Tanah Galo, perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah perjuangan. Medannya adalah kombinasi lumpur dalam, tanjakan terjal yang menguji mesin, hingga turunan licin yang menciutkan nyali. Saya dan team relawan saat itu sempat berjalan kaki ketika mobil sudah tidak mampu lagi untuk mengakses sebagian area. Saya bersama rekan relawan berjalan kaki melewati pendakian dan penurunan berlumpur hebat sambil membawa logistik, media ajar, serta alat alat lainnya penunjang kegiatan selama 10 hari di Jorong Tanah Galo dibantu juga oleh pemuda jorong, bahkan saya sendiri yang membawa media ajar pendidikan pun harus merelakan beberapa alat ajar yang terjatuh ke dalam lumpur ketika kotak berbahan kardus yang saya bawa telah basah dan robek sebagian akibat hujan. Melihat kondisi ini, muncul sebuah pertanyaan besar.

Mengapa masyarakat sekuat dan setangguh ini harus dibiarkan bertaruh tenaga setiap hari hanya untuk melewati akses utama untuk mobilitas keluar masuk jorong ?

©NWF 2026 Akses Menuju Jorong Tanah Galo

©NWF 2026 Akses Menuju Jorong Tanah Galo

Secara ekonomi, wilayah ini sebenarnya luar biasa produktif. Sejauh mata memandang, hamparan kebun sawit, karet, dan sawah padi menjadi bukti nyata bahwa penduduk Tanah Galo adalah masyarakat yang produktif dan pekerja keras. Namun, kemandirian ekonomi ini didapat dengan perjuangan yang tak terbayangkan oleh orang kota.

Untuk menggarap kebun dan sawah, warga tidak cukup hanya berjalan kaki. Mereka harus bertaruh dengan arus Sungai Batanghari, menyeberang menggunakan perahu motor kecil yang warga setempat sebut dengan “tempek”. Setiap hari, petani kita harus membelah sungai demi memastikan ketahanan pangan dan ekonomi keluarga terjaga. Namun ironisnya, produktivitas yang tinggi ini belum diimbangi dengan akses layanan publik yang setara dan disaat dunia luar bicara tentang digitalisasi, warga di sini bahkan masih harus menggunakan voucher berbayar yang terbatas dan internet dari starlink untuk mendapatkan sinyal internet.

©AN 2026 Alat Transportasi “Tempek”

©AN 2026 Alat Transportasi “Tempek”

Selama menjalankan program Mahardika Muda Mengajar, saya menemukan sesuatu yang tidak kalah lebih berharga: semangat belajar anak-anak Tanah Galo yang melampaui keadaan mereka. Di tengah segala keterbatasan fasilitas sekolah dan minimnya alat peraga pendidikan, daya serap anak-anak ini sangat luar biasa. Saya sempat tertegun saat berinteraksi dengan anak-anak kelas 1–4 SD di sana. Di usia sedini itu, beberapa dari mereka sudah mahir melakukan perkalian tunggal di luar kepala — sebuah pencapaian akademis yang membuktikan ketajaman berpikir mereka. Semangat mereka untuk tahu lebih banyak sangatlah besar. Mereka adalah “permata” yang bersinar di tengah pekatnya lumpur. Ketajaman berpikir ini adalah bukti bahwa potensi intelektual anak bangsa tidak tersebar berdasarkan kualitas aspal jalan, melainkan tumbuh subur di mana pun ada niat yang tulus.

Namun, semangat ini menghadapi tembok raksasa bernama akses. Bayangkan, potensi cemerlang ini harus menghadapi kenyataan bahwa untuk melanjutkan ke jenjang SMA saja, mereka nantinya harus menempuh perjalanan sejauh 20 kilometer melewati jalanan tanah yang hancur. Perjuangan fisik yang begitu berat mulai dari menyeberangi sungai dengan “tempek” hingga menembus jalur berlumpur tentu menjadi ujian mental yang sangat berat bagi anak-anak yang sebenarnya memiliki modal kecerdasan luar biasa ini.

Kondisi ini menciptakan dilema yang berat bagi para orang tua. Ketika akses pendidikan dan jalan yang layak seolah menjadi kemewahan yang sulit digapai, masyarakat secara realistis memilih jalur yang paling mungkin untuk bertahan hidup. Pilihan untuk bekerja di usia dini bukan lahir dari kurangnya rasa cinta pada pendidikan, melainkan manifestasi dari adaptasi terhadap lingkungan yang sangat terisolasi.

Momen yang paling memukul hati saya adalah saat berbincang dengan salah satu anak yang mahir berhitung tadi. Dengan mata berbinar, ia bercita-cita menjadi seorang pilot. Ia ingin terbang sebuah metafora indah tentang keinginan untuk lepas dari kepungan lumpur tanpa harus terjatuh. Namun, belum sempat saya mengamini mimpinya, ia menunduk dan berbisik menggunakan bahasa minang logat khas daerahnya itu :

“Tapi susah Bang. Paling ujung-ujungnya nanti aku mungkin kerja cari uang di sini aja, membantu keluarga.”

©NLP 2026 Audiensi di SD Negeri 04 Tanah Galo

©NLP 2026 Audiensi di SD Negeri 04 Tanah Galo

Melalui tulisan ini, saya ingin mengetuk nurani para pengambil kebijakan. Jorong Tanah Galo bukan sekadar koordinat di peta yang hanya diingat saat butuh suara. Di sana ada anak-anak bangsa yang memiliki kapasitas otak yang hebat, namun haknya untuk maju terbelenggu oleh lumpur. Bagaimana kita bisa membiarkan kecerdasan anak-anak yang sudah bisa perkalian di kelas 2 SD ini menguap begitu saja hanya karena akses ke SMA berjarak 20 kilometer dengan kondisi jalan yang hancur lebur?

Saya pulang membawa beban di pundak. Pengalaman bersama Mahardika Muda Indonesia ini membuka mata saya bahwa kita sedang kehilangan calon-calon pilot, guru, dan pemimpin masa depan hanya karena mereka lahir di tempat yang aksesnya diabaikan. Sampai kapan kita membiarkan lumpur di tepian Batanghari menelan mimpi anak-anak bangsa? Mereka tidak butuh belas kasihan; mereka butuh akses, keadilan pembangunan, dan kesempatan yang sama untuk terbang tinggi.


메타데이터
post_id
ae0ae08ba2e9
slug
menjemput-mimpi-di-tepian-batanghari-saat-langkah-terhenti-di-jalanan-berlumpur-ae0ae08ba2e9
url
https://medium.com/@farelalghassani0/menjemput-mimpi-di-tepian-batanghari-saat-langkah-terhenti-di-jalanan-berlumpur-ae0ae08ba2e9
canonical_url
https://medium.com/@farelalghassani0/menjemput-mimpi-di-tepian-batanghari-saat-langkah-terhenti-di-jalanan-berlumpur-ae0ae08ba2e9
author_url
https://medium.com/@farelalghassani0
status
ok
fetched_at
2026-06-10 08:17:25