A Review: The Great Reclamation by Rachel Heng
“Set against a changing Singapore, a sweeping novel about one boy’s unique gifts and the childhood love that will complicate the fate of…

from Pinterest
The Great Reclamation by Rachel Heng
“Set against a changing Singapore, a sweeping novel about one boy’s unique gifts and the childhood love that will complicate the fate of his community and country.”
Menceritakan tentang seorang bungsu bernama Ah Boon yang lahir di kampung nelayan, tahun 1941. Seluruh desa dan keluarganya mencari ikan sebagai mata pencaharian. Namun Ah Boon tidak begitu tertarik dan tidak memiliki bakat dalam mencari ikan, kata keluarga Lee. Jadi Ah Boon disekolahkan oleh ibunya, meski cuma di sekolah dasar yang ada di kampung. Dengan syarat Ah Boon tetap harus membantu keluarga melaut selama akhir pekan. Berangkatlah Ah Boon ke sekolah. Di sana Ah Boon bertemu dengan Siok Mei, keponakan dari salah satu orang di kampung itu. Sejak itu hari-hari Ah Boon dipenuhi oleh Siok Mei. Siok Mei yang membuat Ah Boon semakin berminat dengan sekolah dan belajar.
Suatu hari, Ah Boon menemukan pulau misterius dan menunjukkannya pada Pa dan Hia. Di sana mereka mendapatkan banyak tangkapan. Dijual lah tangkapan itu selama beberapa waktu hingga orang-orang kampong pun tau. Pulau itu ada beberapa, dan sering kali hanya Ah Boon yang sanggup menemukannya.
Aku tidak banyak tau mengenai sejarah Singapore, jadi membaca buku ini memberi aku pengalaman baru. It’s kinda fun because I did watch reels from Singaporean (and Malaysian) creator, so when it comes to reading the dialogue, I read it with the so-called Singlish accent. Like hokkien english.
Ah Boon begitu menyukai Siok Mei, bahkan ketika Siok Mei sudah menolaknya beberapa kali. Meski Siok Mei dekat dengan yang lain pun, Ah Boon masih memendam dan memupuk perasaan itu. Entah karena perasaan itu atau karena hal lain, Ah Boon memilih untuk bekerja dengan Gah Men (the goverment) sementara Siok Mei adalah… apa, orang kiri?
Membaca buku ini benar-benar membuatku berpikir, apakah ini yang harus dibayar untuk mempunyai negeri yang maju dan modern? Begitu banyak yang dikorbankan. Meski bagi per orang secara materi tidak begitu banyak, tapi rasanya yang hilang begitu besar. Sungguh-sungguh besar. Kira-kira, apa yang ada di pikiran orang sana? Apakah mereka membenci pemerintah? Ataukah mereka berterima kasih?
Faktanya, “Singapura telah dan terus melakukan pengerukan pantai melalui proyek reklamasi untuk memperluas wilayah daratannya, yang dilakukan dengan menimbun dasar laut menggunakan pasir. Indonesia pernah menjadi pemasok pasir laut terbesar bagi Singapura.” The Great Reclamation masih berlangsung hingga sekarang, bahkan ada oknum kapal keruk Singapura yang ketahuan menambang pasir laut secara ilegal di perairan Indonesia. Nelayan di Malaysia pada tahun 2002 dan 2023 juga pernah melakukan protes akan hal ini. Bukankah yang seperti ini semestinya disudahi? Mau sampai kapan?
메타데이터
- post_id
- ae22aa1a2e0e
- slug
- a-review-the-great-reclamation-by-rachel-heng-ae22aa1a2e0e
- url
- https://medium.com/@menangis/a-review-the-great-reclamation-by-rachel-heng-ae22aa1a2e0e
- canonical_url
- https://medium.com/@menangis/a-review-the-great-reclamation-by-rachel-heng-ae22aa1a2e0e
- author_url
- https://medium.com/@menangis
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13