← Back to list

Sisa-Sisa Langkah yang Tidak Dibawa Pulang : Berantakan, Ditata, Lalu Disembuhkan Kembali

Awal tahun ini dimulai dengan cara yang sangat tenang, hampir terlalu tenang. Ada kenangan manis yang masih tersisa dari tahun sebelumnya…

melorinee.d · 2025-12-31 15:58 · 0 claps · 3.4 min read
#desember #2025
Open on Medium ↗

Sisa-Sisa Langkah yang Tidak Dibawa Pulang : Berantakan, Ditata, Lalu Disembuhkan Kembali

December 31, 2025

December 31, 2025

Awal tahun ini dimulai dengan cara yang sangat tenang, hampir terlalu tenang. Ada kenangan manis yang masih tersisa dari tahun sebelumnya, ada buku kesukaan yang kembali dibaca dari halaman pertama, dan ada Januari yang dibuka dengan perasaan bahagia yang bisa dikatakan cukup sederhana. Bahagia yang tidak berisik. Bahagia yang tengah duduk diam di sudut hati, ditemani kekhawatiran kecil yang tidak pernah benar-benar pergi. Trauma lama masih dibawa, kenangan buruk masih ikut serta, seperti bayangan yang tidak selalu terlihat, tapi selalu terasa keberadaannya.

Di bulan yang sama, sebuah kesalahan terjadi. Tidak, kesalahan itu tidak dramatis, tidak pula yang meledak-ledak, tapi cukup untuk meninggalkan jejak kecewa. Seseorang mungkin merasa kecewa disini. Dan entah karena belum cukup dewasa, atau karena tidak tahu bagaimana harus menghadapi rasa bersalah itu, aku memilih mengabaikannya. Seolah diam adalah cara paling aman. Seolah waktu akan menyelesaikan semuanya tanpa perlu disentuh. Baru belakangan kusadari, tidak semua hal bisa pulih hanya karena dibiarkan berjalan sendiri.

Februari datang tanpa banyak perubahan, lalu Maret menyusul dengan ritme yang serupa. Keduanya berjalan seperti lintasan panjang yang melelahkan. Hari-hari dipenuhi rutinitas, tenaga terasa terkuras, dan kadang rasanya ingin berhenti sebentar. Tapi di sela kelelahan itu, ada rasa bangga kecil yang muncul diam-diam, karena ternyata semuanya bisa dilewati. Tidak dengan sempurna, tidak selalu dengan senyum, tapi tetap sampai ditempatnya. Dan saat itu, itu sudah lebih dari cukup.

April membuka dirinya dengan keadaan yang lebih berantakan. Banyak hal terasa tidak pada tempatnya, emosi naik turun tanpa peringatan, dan kendali atas diri sendiri terasa longgar. Seolah segala sesuatu berjalan sedikit di luar garis. Lalu Mei datang, Bulan yang terasa seperti diberi kesempatan kedua. Ada sesuatu yang pelan-pelan hidup kembali. Buku baru. Cerita baru. Ketertarikan baru. Hal-hal kecil yang memberi warna, yang membuat hari-hari tidak sepenuhnya abu-abu. Untuk pertama kalinya setelah lama, hidup terasa mau diajak berdamai.

Juni mengubah arah segalanya. Kehilangan datang tanpa aba-aba, tanpa tanda. Seseorang yang sempat berjanji akan tinggal, akan berjalan bersama, tiba-tiba menghilang. Tidak ada perpisahan yang jelas. Tidak ada penjelasan yang bisa digenggam. Hanya sunyi yang harus diterima apa adanya. Kehilangan itu tidak berisik — dan justru karena itulah rasanya menancap lebih dalam, menetap lebih lama.

Juli dijalani sebagai bulan belajar menerima. Pelan-pelan, aku mulai meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja. Dan untuk sesaat, perasaan itu terasa nyata, terasa bisa dipercaya. Agustus pun berlalu dengan tenang. Tidak ada gejolak besar. Tidak ada kekhawatiran yang mendesak. Seolah luka itu sudah cukup dijauhkan dari permukaan, meski belum sepenuhnya hilang.

Lalu September datang membawa rindu yang tidak diminta. Rindu itu menyelinap lewat hal-hal kecil, lagu, tempat, potongan kenangan yang muncul tiba-tiba. Di waktu yang sama, aku bertemu orang-orang yang tanpa sadar menjadi tempat singgah. Bersama mereka, rindu itu tidak terasa sendirian. Ada tawa, ada cerita, ada momen-momen sederhana yang membuat kehilangan tidak terasa terlalu sunyi, meski tetap ada.

Oktober dan November berjalan dengan cara yang menyenangkan. Meski banyak hal berat tetap harus dihadapi, kebersamaan membuat semuanya terasa lebih ringan. Hari-hari diisi dengan kehadiran, dengan rasa ditemani. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, kesepian tidak lagi mendominasi. Ada rasa nyaman. Ada tempat untuk duduk tanpa perlu menjelaskan terlalu banyak tentang siapa diri ini dan bagaimana luka-luka itu terbentuk.

Dan kemudian, Desember datang. Bulan yang selalu membuat perasaan bercabang dua. Ada benci, ada cinta. Trauma terbesarku bermula di bulan ini, itulah sebabnya Desember selalu terasa sedikit menakutkan. Tapi di bulan yang sama, pertemuan pertama dengannya pernah terjadi. Ada dingin yang menusuk, tapi juga kehangatan yang sulit ditolak. Seperti hujan Desember. Dingin, tapi dibungkus suasana yang hangat dan akrab.

Aku melewati Desember ini dengan pura-pura baik-baik saja. Tetap berjalan, tetap tersenyum, tetap menjalani hari seolah tidak ada apa-apa. Padahal ada kewaspadaan yang diam-diam menetap di dalam dada. Ada rasa takut yang tidak sepenuhnya hilang, tapi juga ada cinta pada suasananya. Pada dingin yang jujur. Pada kehangatan yang singkat, tapi nyata.

Di penghujung tahun, keinginanku tidak berubah, tetap sederhana. Bukan tentang memulai sesuatu yang besar, bukan tentang berharap terlalu jauh. Yang ingin kulakukan hanya berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan melihat sisa-sisa langkah yang tidak sempat dibawa pulang. Langkah-langkah yang tertinggal di bulan-bulan sebelumnya. Yang pernah berantakan. Yang sempat diabaikan. Yang tidak selesai, tapi tetap meninggalkan bekas.

Satu per satu, sisa langkah itu kupungut. Tidak semuanya rapi. Tidak semuanya mudah dihadapi. Ada yang masih terasa berat, ada yang harus ditata ulang dengan hati-hati. Bukan untuk disesali, hanya untuk dipahami. Karena tidak semua langkah perlu diulang, sebagian hanya perlu diterima sebagai bagian dari perjalanan.

Dan di titik ini, kesembuhan tidak lagi terasa seperti tujuan besar yang harus dikejar. Ia hadir sebagai proses yang pelan. Sebagai keberanian untuk membereskan yang berantakan, menata yang tersisa, lalu membiarkan waktu melakukan sisanya. Aku tidak menuntut diriku untuk sudah sampai disana atau menuntut diriku untuk datang pada kesembuhan itu tepat waktu. Aku hanya mencoba memastikan bahwa langkah-langkah berikutnya tidak lagi berjalan tanpa arah.

Mungkin belum sepenuhnya pulih. Mungkin masih ada yang tertinggal. Tapi setidaknya, kali ini, tidak ada langkah yang dibiarkan hilang begitu saja.


메타데이터
post_id
ae4cfcda12da
slug
sisa-sisa-langkah-yang-tidak-dibawa-pulang-berantakan-ditata-lalu-disembuhkan-kembali-ae4cfcda12da
url
https://medium.com/@erinita28/sisa-sisa-langkah-yang-tidak-dibawa-pulang-berantakan-ditata-lalu-disembuhkan-kembali-ae4cfcda12da
canonical_url
https://medium.com/@erinita28/sisa-sisa-langkah-yang-tidak-dibawa-pulang-berantakan-ditata-lalu-disembuhkan-kembali-ae4cfcda12da
author_url
https://medium.com/@erinita28
status
ok
fetched_at
2026-09-10 07:46:36