← Back to list

Pengemban Amanah Bumi Tengah: Menolak Penjarahan, Memilih Penjagaan

Kita kerap bertingkah laku layaknya raja diraja di atas muka bumi. Kita mengeruk perut pegunungan, membabat tegakan hutan, dan meracuni…

Widiana Safaat · 2026-07-10 01:38 · 0 claps · 1.7 min read
#sunda #khalifah #doughnut-economics #biocentrism #lingkungan
Open on Medium ↗
Wiki topics: ECO · Economy · General

Pengemban Amanah Bumi Tengah: Menolak Penjarahan, Memilih Penjagaan

Kita kerap bertingkah laku layaknya raja diraja di atas muka bumi. Kita mengeruk perut pegunungan, membabat tegakan hutan, dan meracuni aliran air sungai demi mengejar target angka pertumbuhan ekonomi. Kita menganggap tanah dan air di sekeliling kita murni sebagai barang dagangan yang bebas ditukar dengan uang kertas.

Cara pandang yang berpusat pada keserakahan manusia ini telah memicu kehancuran lingkungan hidup di mana-mana. Kita lupa bahwa tubuh raga kita dibentuk dari unsur-unsur dasar bumi yang sama .

Naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian meluruskan kekeliruan berpikir kita. Para leluhur mengajarkan bahwa tanah (pretiwi), air (apah), cahaya (teja), angin (bayu), dan langit (akasa) adalah satu kesatuan milik bersama yang menopang kehidupan kita (eta keh drebya urang).

Manusia ditempatkan di bumi tengah (Buana Panca Tengah) bukan sebagai penguasa mutlak, melainkan sebagai pengemban amanah penjaga keselamatan semesta.

                    [ BUANA NYUNGCUNG (Zenith / Atas) ]
                                 |
                                 v
    [ ATAP EKOLOGIS ] <--- [ MANUSIA PANCA TENGAH ] ---> [ LANTAI SOSIAL ] 
(Batasan Hutan Larangan)                           (Sandang, Pangan, Papan)
                                 |
                                 v
                 [ BUANA LARANG (Nadir / Bawah) ]

Tugas kita di madyapada dirumuskan dengan sangat indah: ngretakeun bumi lamba. Kita diwajibkan memelihara dunia nyata agar seluruh makhluk, mulai dari rumput, pepohonan, hewan, hingga sesama manusia dapat hidup rukun dan subur bersama.

Pesan etis ini sejalan dengan kerangka Doughnut Economics (Ekonomi Donat) yang digagas oleh Kate Raworth. Raworth memandu arah pembangunan manusia lewat gambar donat dengan dua lingkaran konsentris.

Lingkaran dalam adalah batas minimum sosial, seperti hak mendapatkan pangan, pendidikan, dan kesehatan bagi setiap jiwa. Lingkaran luar adalah batas maksimum lingkungan, yaitu ambang batas aman ekologis planet agar bumi tidak mengalami kerusakan sistemik.

Tujuan utama kita adalah membawa seluruh warga masuk ke dalam ruang tengah donat yang adil dan aman tersebut.

Kearifan lokal tatar Sunda memperkuat batas-batas donat ini menjadi sebuah tanggung jawab spiritual. Kesejahteraan alam dan kesentosaan bumi tengah ditentukan secara langsung oleh mutu perilaku raga kita harian:

Mana kreta na bwana, mana hayu ikang jagat, kena twah ning janma kapahayu. (Sentosa dunia, selamat jagat raya, karena perbuatan manusia yang selamat).

Ketika kita menjaga keutuhan hutan larangan, kita sedang melindungi batas atap ekologis bumi dari kerusakan parah. Ketika kita berbagi hasil tani secara adil lewat upacara redistribusi pangan, kita sedang mengangkat sesama warga dari lantai kemiskinan sosial.

Hentikan kebiasaan memperlakukan alam sekeliling sebagai komoditas industri. Berdirilah dengan tegak sebagai pelindung sirkuit kehidupan yang dipercaya oleh semesta untuk menjaga kelestarian bumi tengah harian.


메타데이터
post_id
ae600643bc7d
slug
pengemban-amanah-bumi-tengah-menolak-penjarahan-memilih-penjagaan-ae600643bc7d
url
https://medium.com/@widianasafaat/pengemban-amanah-bumi-tengah-menolak-penjarahan-memilih-penjagaan-ae600643bc7d
canonical_url
https://medium.com/@widianasafaat/pengemban-amanah-bumi-tengah-menolak-penjarahan-memilih-penjagaan-ae600643bc7d
author_url
https://medium.com/@widianasafaat
status
ok
fetched_at
2026-07-23 10:02:57