Ketika Pertanyaan Tidak Lagi Membosankan
#1232: Dari Letih Menjawab ke Ingin Memahami
Jurnal
Ketika Pertanyaan Tidak Lagi Membosankan
#1232: Dari Letih Menjawab ke Ingin Memahami

Di balik pertanyaan yang berulang, selalu ada orang yang baru pertama kali merasa ragu. (Ilustrasi: ChatGPT Images)
Mas Hafizh dari Mizan bertanya, “Apa pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang, tetapi sebenarnya sudah bosan banget menjawabnya?” Saya terhenti sejenak. Biasanya saya bisa langsung menjawab pertanyaan seperti ini, tetapi kini ada sesuatu yang berbeda. Saya tidak bingung, tetapi menyadari bahwa jawabannya sudah berubah. “Sekarang tidak ada lagi yang membosankan,” kata saya akhirnya.
🔑 Terhalang payar? Klik tautan teman ini. 🔑
Pewawancara tampak sedikit terkejut. Wajar. Saya pun sedikit terkejut dengan jawaban saya sendiri. Sejak 2010, saat saya mulai aktif di Twitter (X), orang selalu menanyakan kapan di harus dipisah dan kapan di- harus dirangkai. Mereka pun masih bertanya soal penulisan ucapan Idulfitri menjelang Lebaran. Tahun demi tahun, pertanyaan yang sama datang dari orang yang berbeda. Dahulu jawaban saya sudah siap sebelum pertanyaan selesai diucapkan, lengkap dengan rasa lelah yang ikut menyertai.
Pertanyaan-pertanyaan itu memang berulang, tetapi pengulangan itu bukan sesuatu yang aneh. Penutur bahasa Indonesia terus berganti. Generasi yang belum pernah bertanya akan tiba pada saatnya dan mereka akan menanyakan hal yang sama dengan generasi sebelumnya. Siklus itu bukan tanda bahwa bahasa tidak maju, melainkan tanda bahwa bahasa terus hidup bersama penggunanya yang selalu baru.
Saya tidak belajar linguistik secara formal. Pengetahuan kebahasaan saya tumbuh dari pengalaman bertahun-tahun sebagai penerjemah dan editor. Dua pekerjaan itu menuntut kepatuhan pada aturan. Salah kata atau tanda baca bisa mengubah makna atau merusak kesan teks. Sikap preskriptif saya terbentuk dari sana. Ada yang benar, ada yang salah, dan tugas saya adalah memastikan bentuk yang benar dipakai.
Untuk konteks pekerjaan tersebut, sikap itu memang perlu. Namun, ia membawa konsekuensi. Setiap penyimpangan terasa seperti pelanggaran dan pelanggaran yang berulang terasa seperti kegagalan yang tidak kunjung usai. Ketika ada yang bertanya hal yang sama untuk kesekian kalinya, yang saya rasakan bukan keinginan untuk membantu, melainkan letih yang bercampur dengan sedikit heran. Masa belum tahu juga?
Kebosanan itu pernah saya tuliskan. Pada Agustus 2024, seorang wartawan menghubungi saya untuk meminta tanggapan tentang kesalahan penggunaan kata “dirgahayu” menjelang HUT ke-79 RI. Saya menulis terus terang bahwa saya bosan. Topik itu sudah dibahas Pak J.S. Badudu di koran Sinar Harapan pada 1991, tetapi masalah yang sama masih terjadi 33 tahun kemudian. Di akhir tulisan, saya pasrah dengan kalimat pendek: “Aku rapopo.”
Perubahan datang perlahan lewat bacaan. Ketika mempelajari linguistik secara autodidaktik, saya menemukan cara pandang yang berbeda. Para linguis tidak berdiri di depan fenomena bahasa dengan daftar pelanggaran di tangan. Mereka mengamati, mencatat, dan berusaha menjelaskan. Pertanyaan mereka bukan “Mengapa orang salah?” melainkan “Mengapa orang cenderung melakukan ini, bukan itu?” Pertanyaan itu terasa jauh lebih hidup.
Saya mulai memandang pertanyaan berulang dengan perspektif linguis. Orang yang bertanya soal perbedaan di dan di- bukan orang yang malas belajar. Mereka pengguna bahasa yang sadar bahwa ada sesuatu yang perlu dipastikan, lalu mencari jawabannya. Kaidah bahasa formal agaknya jarang diajarkan secara mendalam di sekolah sehingga selalu ada yang baru sampai pada titik merasa ragu. Saya justru beruntung menjadi salah satu tempat mereka mencari jawaban.
[embed]Dirgahayu #601: Mengapa masih banyak yang salah menggunakan kata?ivanlanin.medium.com
Ketika sesi wawancara itu selesai, saya masih memikirkan jawaban saya sendiri. “Tidak ada yang membosankan” bukan berarti semua pertanyaan mudah atau semua topik selalu segar. Ada hari-hari ketika energi saya rendah dan jawaban saya lebih singkat daripada biasanya. Kutukan pengetahuan kadang masih menghantui. Namun, kebosanan itu—yang lahir dari harapan bahwa orang seharusnya sudah tahu—kini perlahan sirna.
Yang tersisa adalah rasa ingin tahu. Mengapa pertanyaan ini muncul? Apa yang bisa saya katakan agar orang benar-benar memahami, bukan sekadar mendapat jawaban? Selama pertanyaan itu masih muncul, saya tahu bahwa bahasa masih bergerak dan saya masih diberi kesempatan untuk ikut memahaminya.
[embed]Kutukan Pengetahuan #666: Keengganan menjelaskan sesuatu yang dikuasaiivanlanin.medium.com
Jurnal dan Kenangan
Sabtu kemarin, kantor Narabahasa kedatangan tim Mizan yang terdiri atas Mas Hafizh (editor), Teh Asyila (kreator konten), dan Kang Yoka (videografer). Mereka membawa buku Recehan Bahasa #1 dan #2 untuk ditandatangani sambil mengambil beberapa stok foto dan video untuk promosi. Saya agak kikuk ketika membubuhkan tanda tangan sambil mengisi siaran langsung di Instagram. Ternyata, lontaran pertanyaan dari orang lain sangat membantu menjaga siaran langsung tetap hidup. Acara itulah yang mengilhami tulisan ini.
Tahun lalu, saya mengulas buku *Sepasang Antagonis yang Pernah Saling Mencintai* karya Aprilia Kumala, teman yang pernah bekerja di Narabahasa. Buku itu saya baca setelah teringat utang lama sekaligus ulang tahun penulisnya. Dari tulisan-tulisan pendek tentang patah hati, saya menemukan ketegaran, kelembutan, dan ajakan untuk menerima bahwa, dalam perpisahan, kita bisa menjadi antagonis dalam cerita orang lain.
Dua tahun lalu, saya mengisi bimtek bahasa Indonesia baku dalam naskah dinas bagi staf Polda Metro Jaya di Hotel Belleza Permata Hijau. Sejumlah keunikan tata naskah dinas Polri terlihat dari sesi singkat itu, mulai dari tujuan surat di kanan, paragraf bernomor, sampai penutup khas. Pengalaman ini juga mengingatkan saya bahwa aturan khusus tetap perlu ditopang oleh kalimat yang jelas dan efektif.
[embed]Naskah Dinas Polisi #502: Beberapa perbedaan dengan naskah dinas instansi lainivanlanin.medium.com
Ingin lebih terampil berbahasa? Kunjungi toko 🏪, ikuti kelas 👨🏫, atau hubungi 📞 Narabahasa.
메타데이터
- post_id
- ae6f0aaf6d90
- slug
- ketika-pertanyaan-tidak-lagi-membosankan-ae6f0aaf6d90
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/ketika-pertanyaan-tidak-lagi-membosankan-ae6f0aaf6d90
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/ketika-pertanyaan-tidak-lagi-membosankan-ae6f0aaf6d90
- author_url
- https://medium.com/@ivanlanin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 18:03:05