Sebuah Eksperimen Pikiran: Apakah Ada Waktu dan Cara yang Tepat Untuk Golput?
Lanjutan dari tulisan “minus mallum” vs golput
Sebuah Eksperimen Pikiran: Apakah Ada Waktu dan Cara yang Tepat Untuk Golput?
Lanjutan dari tulisan “minus mallum” vs golput
Photo by Hobi industri on Unsplash
Belum berlangganan Medium? Baca tulisan ini secara gratis di sini.
Tulisan mengenai “minus mallum” vs golput dapat dibaca di tautan di bawah ini:
Per hari ini (29 November 2024), di beberapa kanal berita, dituliskan bahwa banyak terjadi sekali orang yang menjadi golput (golongan putih) di dalam Pilkada 2024. Alasannya bermacam-macam, ada yang disebabkan oleh pilkada yang terjadi pada tengah minggu (hari Rabu) sehingga orang pun “malas” untuk pulang, apalagi mereka yang tinggal jauh dari daerah tempat mereka memilih. Ada juga yang lebih “idealis”: calon pemimpin di daerahnya tidak ada yang mereka kenal ataupun tidak cukup “baik” untuk dipilih, bahkan ketika mempertimbangkan faktor “minus mallum” (yang lebih sedikit keburukannya) sekalipun.
Ada dua cara orang melakukan golput, sejauh yang kuamati:
- Sengaja tidak datang ke TPS
- Sengaja tidak memberikan suara sah, entah dengan mencoblos dengan salah ataupun hanya memasukkan surat suara langsung tanpa dicoblos (yang kadang juga sudah dicoret-coret dengan alat tulis)
Lalu, bagaimana dengan waktu dan caranya?
Waktu Untuk Golput
Sejatinya, golput sebaiknya dilakukan ketika tidak ada calon baik yang bisa dipilih. Di sisi inilah, orang bisa “menyuarakan” protes akan kondisi yang sangat tidak ideal yang terjadi pada pemilu. Bila orang yang melakukan hal ini banyak, maka hal ini jelas akan diperhatikan oleh media massa dan pemerintah. Buktinya bisa dilihat di beberapa kanal berita yang memuat hal ini.
Akan tetapi, bisa terjadi kemungkinan yang kurang baik:
- Pemerintah tetap tidak peduli mengenai hal ini
- Aturan pemilu menyatakan bahwa pemilu ditentukan oleh suara sah, tanpa melihat berapa jumlah suara sah tersebut. Akibatnya, seperti yang aku sudah tulis di tulisan sebelumnya, sekalipun negara ini ditentukan oleh 5 orang, pemilu akan tetap menghasilkan para kepala pemerintahan
Semoga pemimpin kita cukup baik dan peduli mengenai hal ini, sehingga menjadikan mereka bekerja lebih baik. Jika benar demikian, maka kepercayaan rakyat pada pemerintah pun meningkat. Hal ini bisa jadi, entah langsung ataupun tidak langsung, dapat menyebabkan jumlah golput berkurang.
Lalu, bagaimana mengenai caranya? Ada dua cara, meskipun cara kedua bukanlah “golput” dalam arti yang sesungguhnya.
Cara Pertama
Lakukan golput seperti yang sudah disampaikan di atas: sengaja tidak datang ke TPS atau memberikan suara yang tidak sah.
Cara Kedua
Jika calon pemimpin yang ada merupakan calon tunggal, lawan yang ada tentulah berupa kotak kosong. Jika calon pemimpin yang ada tidak “sebaik” itu, kotak kosong bisa menjadi pilihan. Jika kotak kosong yang menang, maka calon pemimpin itu tidak akan diangkat menjadi pemimpin.
Jika demikian, apa yang akan terjadi?
- PJS (Penanggung Jawab Sementara) untuk daerah tersebut akan diangkat
- Pemimpin yang “sebenarnya” akan dipilih tahun depan ataupun sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Hal ini bisa jadi akan memacu calon pemimpin lain, yang bisa jadi lebih baik, untuk maju
Terdapat beberapa kemungkinan yang kurang baik:
- PJS daerah yang ditunjuk bisa jadi lebih buruk dari calon pemimpin yang tidak jadi diangkat
- Tidak ada calon pemimpin lain yang lebih baik dan maju di pemilu ulang
- Biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan pemilu juga tidaklah sedikit sehingga dapat memperbesar pengeluaran daerah tersebut
Jika Demikian, Harus Bagaimana?
Tulisan ini tidak dituliskan untuk menghalangi orang untuk menjadi golput. Sekali lagi, menjadi golput ataupun tidak merupakan hak politik setiap orang. Tulisan ini hanya bertujuan untuk mencari kemungkinan-kemungkinan yang bisa jadi akan terjadi kalau kita memutuskan untuk menjadi golput.
Jika memang harus golput, silakan saja.
Hidupilah pilihanmu.
Hai, para pembaca yang budiman. Tidak apa-apa untuk mengomentari tulisan ini bahkan untuk mempromosikan tulisan sendiri. Kita bersama-sama dalam mendukung satu sama lain di Medium. Jika berkenan, setidaknya bacalah tulisan ini minimal 30 detik, bertepuk tangan (sebaiknya 50 kali), menandai apa yang menarik/penting, ataupun berkomentar.
메타데이터
- post_id
- ae8a6e151e9c
- slug
- sebuah-eksperimen-pikiran-apakah-ada-waktu-dan-cara-yang-tepat-untuk-golput-ae8a6e151e9c
- url
- https://medium.com/@artjo26/sebuah-eksperimen-pikiran-apakah-ada-waktu-dan-cara-yang-tepat-untuk-golput-ae8a6e151e9c
- canonical_url
- https://medium.com/@artjo26/sebuah-eksperimen-pikiran-apakah-ada-waktu-dan-cara-yang-tepat-untuk-golput-ae8a6e151e9c
- author_url
- https://medium.com/@artjo26
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 23:13:50