Aku Jarang Kesal, Tapi Kali Ini Sudah Keterlaluan
Refleksi bagi kita yang terlanjur hidup di Bumi
Aku Jarang Kesal, Tapi Kali Ini Sudah Keterlaluan
Photo by Tim Gouw on Unsplash
Disclaimer: Tulisan ini emang tidak bertujuan menyenangkan hati pembaca. Tapi mau bagaimanapun, ini mendesak untuk disampaikan. Penyandang masalah mental sangat tidak dianjurkan membaca tulisan ini.
Aku tak merasa bahwa diriku adalah orang yang hebat, atau — setidaknya — aku tak merasa diriku ini seperti kebanyakan orang. Meskipun, boleh jadi itu memang benar adanya: bahwa aku memang hebat. Dan sebagaimana layaknya orang hebat, sudah barang tentu aku tak seperti orang pada umumnya.
Istilah “hebat” memang tak mungkin dipakai ketika semua orang — atau mayoritas — memiliki kapasitas yang sama. Bukankah begitu? Jika semua orang memiliki kapasitas alias kehebatan yang sama, maka tak ada lagi orang hebat di dunia ini, karena itu sudah menjadi standar. Betul begitu, bukan?
Well, hebat pun bisa diukur dengan dua cara: yakni subjektif dan objektif. Anggaplah hebat secara subjektif berarti menjadi: hebat menurut siapa? Yang jawabannya, tentu bisa sangat bervariasi. Tapi secara objektif, mudah saja. Silakan saja diukur dengan berapa banyak jumlah pujian hebat yang diperoleh dan bandingkan dengan jumlah celaan yang diperoleh? Mana yang jumlah yang paling banyak? maka itulah hasilnya.
Namun, apa pentingnya membicarakan diri sendiri? Mengaku-ngaku diri ini hebat, menjilati, memuji-muji layaknya kebanyakan orang yang merasa perlu memvalidasi diri sendiri, buat apa? Bukankah itu malah menjadikan diri ini sama saja dengan mereka yang krisis identitas sehingga harus divalidasi oleh dirinya sendiri?
Bicara benar atau salah, lagi-lagi bukan tentang itu. Ini masih membahas soal kehebatan diri. Poinnya, ketimbang disebut yang paling hebat, aku lebih suka disebut sebagai yang paling semangat — setidaknya semangat untuk terus belajar dan berkembang menjadi lebih baik.
Namun, sayangnya pola pikir itu bukan pola pikir yang digunakan banyak orang (setidaknya di lingkunganku). Meski ada baiknya, menggunakan pola pikir itu di tengah-tengah orang yang tak punya semangat rasanya seperti menyiksa pikiran, jiwa, dan batin. Mayoritas orang di lingkupku bukan hanya malas belajar dan berkembang lagi, melainkan bahkan tak punya semangat hidup.
Entah sudah berapa banyak, aku terus saja menjumpai keluhan orang yang menyebut ingin memiliki wawasan yang luas, bisa menulis, piawai dalam mengelola diri, waktu, dan emosi, hingga yang paling fundamental: bisa berpikir kritis. Tak masalah jika itu semua bisa kelar dengan menerapkan nasihat yang kuberikan.
Nyatanya? Oh, tentu tidak. Yang ada, mereka seolah kecanduan nasihat yang menampar dan sarat dengan sarkasme. Ini gila! Do fukcin’ deal with your own mess, Motherfucker!
Ada disonansi kognitif pada pola pikir mereka. Keinginan memiliki wawasan yang luas bertabrakan dengan perilaku yang ogah membaca buku, ogah mendengarkan siniar berdurasi satu jam, dan ogah mengaktualisasi berita terbaru. Keinginan bisa menulis yang baik bertabrakan dengan perilaku yang ogah menambah perbendaharaan kata dari membaca, serta ogah menambah jam terbang menulis secara intens. Oh, Tuhan, ini sungguh menjengkelkan.
Namun, jengkel saja jelas tak akan pernah ada gunanya. Usut punya usut, yang menjadi akar masalah sebetulnya sama sekali bukan pada ketidaktahuan cara untuk melakukan sesuatu, melainkan ketiadaan motivasi untuk melakukan sesuatu. Rumus destruktifnya sederhana: tak ada motivasi, tak ada pula semangat untuk bertindak.
Entah mengapa, ini sangat tidak nyambung dengan diriku yang selalu punya alasan untuk melakukan segala kehendakku. Aku selalu punya motivasi saat berkuliah, itulah kenapa aku nyaris tak pernah bolos. Bahkan saat bolos pun, aku selalu punya alasan dan siap dengan konsekuensi ketinggalan materi dan tetek bengek lainnya. Aku selalu punya motivasi untuk bergerilya dalam berorganisasi karena itu akan menunjang nasibku di masa mendatang.
Ketiadaan motivasi pada banyak orang ini sungguh mengherankan bagiku. Bisa-bisanya orang tak punya motivasi hidup? Bisa-bisanya orang tak punya semangat untuk menjalani hidup yang lebih baik? Bisa-bisanya orang tak punya rencana untuk menyiapkan masa depan yang layak? Bagi yang sudah mapan pun, bisa-bisanya seyakin itu kemapanannya tak akan bisa sirna?
Logikaku sungguh keberatan dengan keberadaan orang-orang seperti mereka yang mengitari hidupku. Yakni mereka yang memiliki mental block dan penyandang fix mindset. Sebab, mau tak mau aku seperti harus turut bertanggung jawab atas diri orang lain.
Malahan, orang yang punya semangat besar, kemauan untuk berbenah, belajar, dan terus berkembang justru disebut sebagai ambisius. Astaga, entah bajingan macam apa lagi yang bisa-bisanya menciptakan pola pikir seperti itu?
Masalahnya, cap “ambisius” ini ternyata mengundang kebencian bagi mereka yang tak punya ambisi, tak punya rencana masa depan, tak punya motivasi, dan tak punya sebatas semangat untuk hidup. Lingkungan yang mendukung untuk berkembang dan memaksa menjadi lebih baik justru dinilai sebagai tekanan yang toksik.
Alangkah herannya aku ketika seseorang hanya berpikir jika berkuliah itu yang penting bisa lulus cepat dan cum laude, kemudian bisa bekerja kantoran dengan gaji yang cukup. Itu naif sekali. Mungkin ia tak sadar jika kredo itu sudah lama usang karena pendahulunya — para alumni yang sekarang menganggur karena sulit mendapat pekerjaan — sudah pernah menggunakan kredo itu untuk menjadi landasan saat masih berkuliah.
Kuliah seolah seperti bagian trajektori kehidupan pasca-SMA, kemudian dilanjut dengan mencari nafkah, menikah, berkembang biak, menua, dan mati sambil menunggu kebangkitan di hari akhir. Seolah hidup harus demikian karena sistem yang ada telah menelungkupkan kemampuan berpikir yang menutup adanya kemungkinan lain.
Padahal sejatinya, sistem itu bisa diubah jika kita bersedia mengupayakannya. Untuk membuka mata dan bisa melihat banyak kemungkinan lain, seseorang sejatinya hanya perlu menambah referensi. Pasalnya, referensi hanya diperoleh jika seseorang sudi mendongkraknya — entah dengan membaca buku, menonton video panjang, atau apa pun itu yang bisa menunjang wawasan yang luas.
Mereka terlalu silau dengan kondisi orang yang sudah di puncak dengan seabrek kompetensi yang dimiliki sampai-sampai disebut orang hebat. Padahal di balik itu, ada nilai yang diperjuangkan, ada keyakinan yang terus dipupuk, ada semangat yang terus dikobarkan, ada tenaga yang dikerahkan, ada otak yang bengkak karena terus dicekoki pengetahuan, dan ada ikhtiar yang tak pernah menyenangkan saat dilalui. Tapi itu semua jelas membuahkan hasil.
Segala upaya itu tujuannya sederhana: agar nanti, di saat kita kehilangan segala kesempatan itu (muda, senggang, dan sehat), kita tidak menyesal karena telah mengikhtiarkannya dengan maksimal. Sudah terlalu banyak orang yang kehilangan ketiga hal itu dan hanya bisa menyesalinya di waktu tua.
Cukuplah penyesalan itu dialami oleh mereka yang sudah-sudah. Kita, yang masih muda, tak perlu meneladani mereka yang berujung pada penyesalan. Sungguh tak terbayang betapa tololnya mereka yang tidak belajar dari kesalahan di masa lalu (apalagi yang dilalui orang lain) dan malah diulangi di masa mendatang.
Malas belajar sekarang, ujungnya adalah menerima pahitnya kebodohan di masa tua. Malas menjaga kesehatan sewaktu masih muda, ujungnya adalah sakit-sakitan di masa mendatang. Malas berpikir kritis di masa muda, ujungnya adalah mudah diperdaya orang lain karena otak yang tumpul. Malas memahami politik, berujung ditindas oleh penguasa, bahkan tanpa disadari sekalipun.
Kondisi di masa kini bukan memaksa kita agar menjadi hebat, melainkan memaksa untuk bisa bertahan di segala kondisi, tanpa merepotkan orang lain. Diri sendiri adalah tanggung jawab diri sendiri pula. Hidup ini adalah soal tanggung jawab dan nantinya — setidaknya bagi umat muslim — akan dimintai pertanggungjawaban.
Maka, teruslah belajar dan latihan bertanggung jawab. Tak ada pilihan bagi siapa pun yang terlanjur hidup di dunia ini selain bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
메타데이터
- post_id
- ae991169e33e
- slug
- aku-jarang-kesal-tapi-kali-ini-sudah-keterlaluan-ae991169e33e
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/aku-jarang-kesal-tapi-kali-ini-sudah-keterlaluan-ae991169e33e
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/aku-jarang-kesal-tapi-kali-ini-sudah-keterlaluan-ae991169e33e
- author_url
- https://medium.com/@hanabadie
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-15 12:52:19