Memahat Waktu di Dunia yang Retak
Sinema 2025 mungkin tidak lagi memberi mimpi yang indah. Tapi ia memberi kita sesuatu yang lebih jujur: ruang untuk menatap luka.
Memahat Waktu di Dunia yang Retak
Kaleidoskop Sinema 2025: Sepuluh Film, Sepuluh Luka, Satu Zaman

“Cinema is the art of sculpting in time.” — Andrei Tarkovsky (1932–1986)
Tarkovsky pernah menulis itu bukan sebagai slogan, tapi sebagai peringatan. Bahwa film, ketika jujur, tidak sekadar bercerita. Ia memahat waktu, menahan sesuatu yang ingin cepat hilang. Sinema 2025 terasa tepat dibaca dari sana: sebagai upaya keras untuk menahan dunia yang terus runtuh ke depan, sambil menyeret masa lalu yang tak mau selesai.
Tahun ini, film tidak lagi tampak percaya diri dengan narasi besar. Yang muncul justru retakan. Tubuh yang bisa digandakan, ingatan yang terdistorsi, cinta yang datang dari masa depan, kekerasan yang diwariskan sebagai rutinitas, trauma yang tidak berteriak tapi mengendap.
Kamera seperti kehilangan kepercayaan pada kepastian, lalu memilih menatap lebih lama ke arah kegelisahan. Bukan untuk menyelesaikannya, tapi untuk mengakuinya. Sepuluh film berikut bukan yang “terbaik” dalam pengertian kanonik. Mereka adalah film-film yang paling lama tinggal. Yang tidak selesai saat kredit bergulir.
10. Homebound (dir. Neeraj Ghaywan, India)

Pulang di film ini bukan destinasi, melainkan beban. Homebound berbicara tentang kelas, persahabatan, dan mimpi yang selalu harus menawar dirinya sendiri. Tidak ada ledakan emosi, hanya percakapan yang tertahan. Justru di sanalah film ini jujur: tentang generasi yang ingin bergerak, tapi tahu setiap langkah selalu dibayang-bayangi asal-usul.
9. Train Dreams (dir. Clint Bentley, AS)

Film ini seperti doa yang diucapkan pelan. Seorang manusia kecil, hidup di antara alam dan sejarah yang tak ia pilih. Kesunyian di sini bukan kekosongan, melainkan sikap. Di tengah dunia yang obsesif pada kehadiran dan suara, Train Dreams mengingatkan bahwa menjadi tak terlihat juga sebuah pengalaman zaman.
8. Eddington (dir. Ari Aster, AS)

Jika ada film yang terasa seperti mimpi buruk sosial, ini salah satunya. Paranoia, maskulinitas rapuh, dan kekerasan tampil tanpa filter. Aster tidak menawarkan empati yang nyaman. Ia memaksa kita menatap wajah masyarakat yang kehilangan bahasa untuk berdebat, hanya mengenal teriak dan senjata.
7. Sentimental Value (dir. Joachim Trier, Swedia)

Trier kembali pada medan yang ia kuasai: keluarga, seni, dan kegagalan berkomunikasi. Film ini lembut, tapi menyakitkan. Tentang bagaimana cinta sering kalah oleh ego, dan bagaimana kata-kata yang tidak pernah terucap justru menjadi yang paling menentukan. Sangat personal, dan karena itu terasa universal.
6. Mickey 17 (dir. Bong Joon-ho, AS-Korea Selatan)

Di tangan Bong, tubuh manusia menjadi barang habis pakai. Satir ini lucu sekaligus dingin, berbicara tentang kapitalisme, AI, dan dunia kerja yang menghapus martabat tanpa rasa bersalah. Mickey 17 terasa seperti fiksi ilmiah, tapi terlalu dekat dengan kenyataan untuk ditertawakan sepenuhnya.
5. Sore: Wife from the Future (dir. Yandy Laurens, Indonesia)

Romantis, tapi tidak menipu. Fantasi waktu digunakan untuk membicarakan ketakutan paling manusiawi: kehilangan dan penyesalan. Film ini tidak sibuk menjadi besar. Ia memilih intim. Dan di sanalah kekuatannya. Sebuah pengingat bahwa masa depan sering datang bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk bertanya.
4. Sound of Falling (dir. Mascha Schilinski, Jerman)

Trauma di film ini tidak meledak. Ia jatuh perlahan, seperti suara yang terus menggema. Sound of Falling memperlakukan sejarah sebagai sesuatu yang hidup di tubuh, di gestur, di keheningan. Relevan di dunia yang baru mulai menyadari bahwa luka kolektif tidak pernah benar-benar usai.
3. Resurrection (dir. Bi Gan, Tiongkok)

Bi Gan kembali mengaburkan waktu, ruang, dan ingatan. Film ini menolak kejelasan instan. Ia mengajak tersesat. Di tengah dunia yang menuntut kecepatan dan kesimpulan, Resurrection memilih kontemplasi. Seperti mimpi yang tidak ingin diinterpretasikan, hanya dialami.
2. One Battle After Another (dir. Paul Thomas Anderson, AS)

PTA memotret kekerasan bukan sebagai peristiwa, tapi sebagai warisan. Maskulinitas, perang, dan ideologi bergerak dari generasi ke generasi tanpa pernah benar-benar dipertanyakan. Film ini marah, gelap, dan terasa sangat politis tanpa harus berpidato.
- It Was Just an Accident (dir. Jafar Panahi, Perancis-Iran)

Yang paling hening, sekaligus paling menghantam. Panahi berbicara tentang kekuasaan dan kekerasan struktural lewat hal-hal yang tampak sepele. “Kecelakaan” di sini bukan peristiwa, tapi sistem. Film ini terasa seperti bisikan yang terus mengikuti, lama setelah layar gelap.
Menulis tentang film-film ini terasa seperti menulis tentang dunia yang kelelahan, tapi belum menyerah. Tentang manusia yang mencari makna di tengah sistem yang semakin dingin.
Bergman pernah berkata bahwa film adalah mimpi, dan mimpi adalah musik bagi jiwa. Sinema 2025 mungkin tidak lagi memberi mimpi yang indah. Tapi ia memberi kita sesuatu yang lebih jujur: ruang untuk menatap luka, dan keberanian untuk tidak langsung menutup mata.
Sepuluh film ini adalah jejak. Bukan peta. Dan mungkin, di zaman yang penuh kebisingan dan kepastian palsu, sinema memang seharusnya kembali ke sana: memahat waktu, satu luka pada satu waktu.
메타데이터
- post_id
- aea490a0cc32
- slug
- memahat-waktu-di-dunia-yang-retak-aea490a0cc32
- url
- https://medium.com/@yogisyahputra01/memahat-waktu-di-dunia-yang-retak-aea490a0cc32
- canonical_url
- https://medium.com/@yogisyahputra01/memahat-waktu-di-dunia-yang-retak-aea490a0cc32
- author_url
- https://medium.com/@yogisyahputra01
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-09-10 21:47:05