Ode To The Mets: Romanticizing The Red Flags of Our Own Unsolved Rubic’s Cube
Finding the hidden majesty in the deafening shameful roar of living things that were never meant to win.
Ode To The Mets: Romanticizing The Red Flags of Our Own Unsolved Rubic’s Cube

alamy.com
Introduction
Pernahkah kalian mencintai sesuatu dengan sebegitu kerasnya, sampai di satu titik kalian berhenti bertanya 'kenapa' dan mulai bertanya 'untuk apa'? Mencinta tanpa syarat seringkali terdengar mulia, tapi di baliknya ada rasa bingung yang sunyi, yakni sebuah kebodohan yang kita peluk erat-erat meskipun pada akhirnya terus-menerus memberikan kekecewaaan.
Sebagai analogi sederhana, di sekitar tahun 2012, entah apa alasannya, saya memilih Arsenal sebagai tim yang saya sukai dan banggakan. Padahal secara sejarah, statistiknya tidak bagus-bagus amat. Masih kalah dengan Real Madrid, Manchester United, atau Liverpool dari segi pencapaian atau historis. Sudah sekitar 14 tahun, saya belum pernah merasakan rasa bangga yang amat ketika mendukung Arsenal. Meskipun memenangkan beberapa gelar yang bisa dibilang piala ciki, tapi jika melihat tim lain yang memenangkan gelar yang lebih prestisius, rasanya agak bodoh saja kenapa memilih Arsenal sebagai bagian dari identitas.
Tulisan ini bukan sekadar tentang sepak bola atau musik. Ini adalah upaya saya membedah bagaimana unconditional love (cinta tanpa syarat) seringkali menjadi jalan tol menuju kekecewaan pada diri sendiri. Dengan ditemani melodi melankolis Ode to the Mets dari The Strokes, saya ingin bercermin: "mengapa kita memilih untuk tetap setia pada sesuatu yang tidak pernah benar-benar 'memenangkan' kita?"
The Tribe: Why We Find Comfort in Collective Suffering
Dalam perspektif Antropologi Sosial, Tribalisme seringkali dianggap memiliki konotasi negatif karena lekat dengan vandalisme atau radikalisme kelompok. Namun, jika kita melihat lebih dalam, tribalisme adalah manifestasi dari kebutuhan paling purba manusia, keinginan untuk menjadi bagian dari sesuatu.
Mengambil pemikiran Alan Weiss, sebuah 'tribe' atau suku bersifat eksklusif. Mereka memiliki latar belakang dan kepercayaan kolektif yang sama, sekaligus seringkali mendefinisikan dirinya melalui keberadaan 'musuh' di luar sana. Dalam dunia sepak bola, inilah identitas yang kita anut. Rivalitas Arsenal dan Spurs bukan sekadar soal skor, tapi soal benturan identitas dua suku yang berbeda.
Menjadi Gooner sejak 2012, bagi saya, adalah perjalanan tribalisme yang aneh. Meskipun Arsenal seringkali terseok-seok, ada rasa bangga yang sulit dijelaskan saat kita merasakan kekecewaan yang sama dengan jutaan orang lainnya. Esensinya bukan lagi pada seberapa banyak trofi yang diangkat, melainkan pada kebanggaan menjadi bagian dari 'tribe' tersebut. Seperti lirik Ode to the Mets, 'Old friends, long forgotten / They all wait at the bottom', kita memilih untuk tetap tinggal di dasar laut itu bersama-sama, daripada berenang sendirian di permukaan yang asing.
The Sunk Cost: Why Our 'I Can Fix Them' Energy Never Ends
Dalam psikologi dasar, ada bias kognitif yang disebut Sunk Cost Fallacy. Sederhananya, ini adalah kondisi di mana kita terus mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas merugikan, baik itu hubungan toksik atau investasi bodoh, hanya karena kita merasa sudah 'terlanjur' mengorbankan terlalu banyak waktu dan emosi di sana.
Hal ini diperparah dengan konsep Locus of Control dari Julian Rotter. Sebagai fans Arsenal, saya merasa External Locus of Control saya terlalu dominan. Saya membiarkan nasib dan suasana hati saya disetir sepenuhnya oleh hasil pertandingan di hari Minggu malam.
Dua konsep ini bertemu dengan sempurna dalam metafora Julian Casablancas, ’The Rubik’s cube isn’t solving for us.' Mendukung Arsenal sejak 2012 terasa seperti memutar-mutar kubik Rubik yang warnanya tak pernah selaras. Jengah? Pasti. Lelah? Jangan ditanya. Tapi apakah saya menyerah? Tidak. Bukan karena saya yakin besok akan menang, tapi karena saya merasa 'sayang' dengan pride, tenaga, dan air mata yang sudah saya investasikan selama 14 tahun terakhir. Saya adalah tawanan dari investasi emosi saya sendiri.
Pada akhirnya, Sunk Cost Fallacy mengubah cinta yang tulus menjadi sebuah kewajiban yang menyiksa, namun anehnya, kita tetap menikmatinya.
Sisyphus in the Emirates: Romanticizing the Infinite Loop of Hope
Sebagai penutup, saya teringat pada salah satu konsep filsafat yang paling terkenal tentang kehidupan, yaitu The Myth of Sisyphus. Bagi yang akrab dengan akun-akun filsafat di media sosial, kisah ini adalah simbol dari 'absurditas’. Sisifus dihukum oleh dewa untuk mendorong batu besar ke puncak gunung, hanya untuk melihat batu itu menggelinding jatuh kembali ke bawah tepat sebelum sampai di puncak. Dan ia melakukannya terus-menerus, selamanya.
Ada satu kutipan provokatif dari Albert Camus tentang kisah ini:
"One must imagine Sisyphus happy"
(Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia).
Jika ditarik ke pengalaman saya sebagai Gooner sejak 2012, benang merahnya terlihat sangat jelas. Setiap bulan Agustus, saya mendorong 'batu harapan' itu ke puncak dengan penuh optimisme. Namun, setiap bulan Mei tiba, batu itu selalu kembali menggelinding ke dasar, menyisakan kekecewaan yang sama. Anehnya, di bulan Agustus berikutnya, saya kembali berjalan ke bawah, mengambil batu itu, dan mendorongnya lagi.
Inilah absurditas yang juga saya temukan dalam Ode to the Mets. Lagu ini bukan sekadar ratapan tentang kekalahan, melainkan sebuah pengakuan bahwa kekecewaan bukanlah akhir. Kekecewaan adalah bahan bakar yang terus terakumulasi, yang entah bagaimana, justru membuat 'kesetiaan' kita terasa lebih nyata dan berharga. Kita tidak lagi mencintai demi trofi, kita mencintai karena kita memilih untuk terus mendorong batu tersebut.
Conclusion
Jika kita menarik benang merah dari ketiga perspektif di atas, kita akan menemukan sebuah realitas yang pahit, cinta tanpa syarat sering kali adalah penjara yang kita bangun dan kunci sendiri dari dalam.
Secara antropologis, Tribalisme memberikan kita alasan untuk bertahan karena kita merasa memiliki "rumah" dan teman dalam penderitaan. Namun, secara psikologis, Sunk Cost Fallacy dan external locus of control mengubah rumah tersebut menjadi jebakan; kita terjebak pada investasi emosi masa lalu yang membuat kita takut untuk melangkah keluar. Kemudian dalam perspektif filosofis, Mitos Sisifus memberikan kita pembenaran filosofis untuk terus melakukan pengulangan yang absurd tersebut. Kita tidak lagi sekadar mendukung sebuah tim atau mencintai seseorang; kita sedang merayakan keteguhan hati kita yang keras kepala, yaitu sebuah upaya untuk menemukan makna di tengah kekecewaan yang datang bertubi-tubi.
Implication
Pada akhirnya, Ode to the Mets bukan hanya tentang sebuah tim bisbol di New York, atau tentang jatuh bangunnya Arsenal sejak 2012. Lagu ini adalah lagu kebangsaan bagi siapa saja yang pernah atau masih mencintai sesuatu yang tidak pernah bisa ia miliki sepenuhnya.
Ini adalah tentang kita yang masih sering memeriksa kabar seseorang dari masa lalu, meski tahu ia sudah bahagia di tempat lain. Ini tentang kita yang tetap menyimpan rahasia dan harapan pada sebuah mimpi yang secara logika sudah mati. Kita semua adalah penonton di stadion yang sudah kosong, menunggu sebuah kemenangan yang mungkin tidak akan pernah dijadwalkan.
Ada rasa malu yang samar saat kita menyadari betapa lamanya kita telah menunggu, namun ada juga keagungan di sana. Seperti lirik penutup Julian Casablancas, kekecewaan itu akhirnya berubah menjadi "a deafening, painful, shameful roar", sebuah raungan yang memekakkan telinga, menyakitkan, sekaligus memalukan. Namun, di dalam raungan itulah kita merasa paling hidup. Karena ternyata, mencintai sesuatu sampai hancur adalah cara paling jujur untuk membuktikan bahwa kita manusia.
메타데이터
- post_id
- aeba48a0d100
- slug
- ode-to-the-mets-romanticizing-the-red-flags-of-our-own-unsolved-rubics-cube-aeba48a0d100
- url
- https://medium.com/@malfanhidayatullah/ode-to-the-mets-romanticizing-the-red-flags-of-our-own-unsolved-rubics-cube-aeba48a0d100
- canonical_url
- https://medium.com/@malfanhidayatullah/ode-to-the-mets-romanticizing-the-red-flags-of-our-own-unsolved-rubics-cube-aeba48a0d100
- author_url
- https://medium.com/@malfanhidayatullah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-16 07:30:59