← Back to list

Lelaki, Kawan, dan Perpisahan

Lelaki, menurut cerita yang aku dengar, tidak boleh membiarkan matanya meneteskan kesedihan. Mereka makhluk logis yang mempersoalkan dunia…

Achrory23 · 2026-05-28 19:54 · 17 claps · 3.1 min read
#lelaki #teman #perpisahan
Open on Medium ↗

Lelaki, Kawan, dan Perpisahan

Lelaki, menurut cerita yang aku dengar, tidak boleh membiarkan matanya meneteskan kesedihan. Mereka makhluk logis yang mempersoalkan dunia apakah berjalan dengan benar, atau terbalik. Lelaki bukan perempuan, dan artinya, mereka tidak berpikir dengan perasaan. Kalau jatuh jangan menangis, tertawalah! Kalau sakit jangan merengek, bangun! Kalau cape jangan mengeluh, istirahat dan lanjut lagi! Begitulah… sepertinya kepala lelaki hanya diisi antara masalah dan solusi. Kalau pun mau lebih luas ya hanya berkisar di antara visi, hobi, dan ideologi. Adapun hal-hal sentimental adalah sesuatu yang asing, patut dikubur di relung terdalam yang hanya didengar diri sendiri.

Aku begitu percaya cerita itu, dulunya. Dulu sekali sebelum kakiku menjejak di tempat ini. Akh. Aku jadi teringat masa-masa itu. Bagaimana menghirup suasana yang masih terasa menyegarkan. Aku memasuki lingkungan baru. Kamarnya, kantinnya, musollahnya, pepohonannya, orang-orangannya, kucingnya, dan semuanya adalah baru. Mereka pun melihatku sebagai manusia baru di sini. Kami sama-sama terdampar ke sirkus ‘perkenalan’ yang penuh tawa. Mereka individu yang berbeda dengan latar belakang berbeda. Tapi kami tahu, impian kami sama. Dan waktu, secara perlahan, mulai memutar perjalanannya.

Tahun pertama, kedua, ketiga, lalu terakhir keempat. Terlalu panjang untuk hanya disederhanakan jadi empat paragraf. Dan biarpun ada tangan yang bisa merekam perjalanan empat tahun itu, tetap akan cukup susah untuk menyebut apa saja yang tumbuh seperti kesadaran, kedewasaan, dan hal lain yang juga terdengar hebat. Setiap individu berperang dengan dirinya, sama-sama memiliki kerikil di dalam sepatunya masing-masing. Langkah kami tak selalu beriringan, namun kami saling menguatkan.

Lalu waktu yang tak singkat itu, tanpa disadari, menciptakan kerak sialan di dinding-dinding hati. Seolah di antara kami telah terikat benang tak kasat mata. Padahal dulu kami hanya segerombol manusia yang terdampar bersamaan. Benarkah lelaki makhluk logis? Aku tak tahu. Sulit untuk menebak-nebak apa yang sebetulnya saat ini aku percaya. Kalau sakit ya gampang, tinggal berobat. Lalu apa yang dilakukan lelaki kalau sedih? Menangiskah? Anjing. Aku selalu berusaha mengusir ‘hal asing’ itu yang mulai menggelayut, lantas bersembunyi di balik ucapan sarkastik “Halah, ngapai orang rekom ditangisi.” Sungguh tak masuk akal merasa sedih ketika melihat si A menyeret koper lalu menggenggam tangan kita erat, “Aku mau pulang, Boy.” Hidup empat tahun bersama manusia-manusia absurd ini membuat kalimat mau pulang menjelma kehilangan. Ah Taik.

Lelaki tidak boleh cengeng, katanya. Maka aku tertawa. Kami semua tertawa. Menepuk bahu satu sama lain. “Titip, di luar sana, jangan hamili anak orang.” Ha ha ha… “Jangan ke sini lagi kecuali bawa empat istri.” Ha ha ha… “Sukses, Bung. Terus besar burungnya.” Ha ha ha… Mulut kami ringan-ringan. Padahal dalam hati mungkin sedang sibuk merapikan sesuatu yang agak berlepotan. Karena nyatanya, perpisahan lelaki tetaplah bernama perpisahan. Bagaimana pun, aku tak bisa melepas diri sebagai manusia, dan akhirnya sulit juga untuk tidak manusiawi.

Lelaki tak membiarkan matanya meneteskan kesedihan. Itu benar. Kami tak punya waktu untuk bersedih. Tapi kami punya waktu untuk mengenang. Kesibukan akan menggerus kesedihan. Namun kenangan akan terus tersimpan di loker-loker ingatan, yang nanti bakal dibuka-buka lagi kapan kami bersua kembali. Dan tetap saja, perpisahan bernama perpisahan. Kau akan merasa aneh ketika detak jam yang sebetulnya biasa saja tiba-tiba menjadi malas ber”tik-tik”. Nah keanehan itu persis sama dengan ini tapi dengan versi yang lebih deep lagi.

Aku sering bilang, semakin sedikit orang maka semakin baik. Karena akan semakin minim tingkahku dikomentar orang lain. Toh kalau pun teman-temanku berhenti, mereka pulang, ya itu hanya pindah tempat saja. Sementara perpindahan tempat bukan akhir segalanya. Jadi tak perlu ada acara melamun massal. Awalnya aku yakin dengan teoriku ini. “Yang mau pulang silakan. Bawa barangnya, biar nggak sesak dunia.” Celakanya, kesadaran lain perlahan muncul. Aku yakin kesadaran ini muncul dari deru kipas yang terasa lebih nyaring. Bahwa ini adalah sepi yang tidak menengangkan. Ini sepi yang kosong setelah sebelumnya terisi. Huh Taik Taik!

Sudahlah. Bukankah setiap awal memang harus berakhir? Benar. Aku sudah paham, bahkan sudah mempersiapkannya. Hanya saja aku tidak menyangka, ditinggal atau meninggalkan kawan itu lumayan ’anjing’. Memang tidak memar-memar, apa lagi sampai berdarah-darah. Cuma sedikit gatal. Tapi siapa pun pasti merasa terganggu dengan itu.

Lucu juga ya. Dulu aku ingin cepat-cepat selesai dari tempat ini. Ingin buru-buru pergi, buru-buru bebas, buru-buru sampai pada hidup yang katanya “nyata”. Tapi sekarang ketika gerbang itu benar-benar terbuka, kakiku malah terasa berat.

Barangkali manusia memang begitu. Saat berada di suatu tempat, ia sibuk ingin pergi. Saat benar-benar pergi, ia sibuk ingin kembali.

Dan mungkin lelaki juga begitu. Katanya makhluk logis. Tapi diam-diam bisa menyimpan satu lorong, satu kamar, satu tongkrongan kecil, dan beberapa manusia absurd di dalam dadanya bertahun-tahun. Tanpa pernah benar-benar bisa membuangnya.


메타데이터
post_id
aecf7c333de1
slug
lelaki-kawan-dan-perpisahan-aecf7c333de1
url
https://medium.com/@achrory23/lelaki-kawan-dan-perpisahan-aecf7c333de1
canonical_url
https://medium.com/@achrory23/lelaki-kawan-dan-perpisahan-aecf7c333de1
author_url
https://medium.com/@achrory23
status
ok
fetched_at
2026-06-26 06:47:43