Bermain Hujan
Termenung, tenggelam dalam pikiran
Bermain Hujan
Kapan terakhir kali kamu berdiam diri, seorang diri, di tengah tengah tempat yang tidak ada seorangpun mengenalmu?
Kapan terakhir kali, kamu berdiam diri, mengobservasi sekelilingmu. Memperhatikan dedaunan yang jatuh dari rantingnya, motor yang berlari lari di atas aspal hitam, atau sekedar menerka mengapa teriakan seorang anak kecil menggangu telingamu.
Foto oleh Tīna Sāra di Unsplash
Untukku, itu terjadi beberapa pekan yang lalu. Dan itu, merubah persepsiku tentang Hujan.
Sabtu pagi, aku hanya bermalas malasan di atas kasur biru dengan benda panjang nan tipis memberikan warna warni kecil yang mereka sebut ‘dumbscrolling’.
Sejenak, mata melihat ke arah jendela berdebu. Langit begitu biru dengan awan putih ke abu-abuan.
Perutku meminta di isi, sedang aku berpikir tentang saldo ATM apakah terisi? Tak lama notifikasi muncul dari benda tipis yang mereka sebut handphone tentang saldo yang ternyata sudah terisi.
Aku telah lelah dengan benda tipis itu, akhirnya aku hanya membawa dompet berisikan kartu tipis yang membawa semua uang yang aku punya.
Perjalanan itu sederhana, perjalanan itu penuh nolstagia. Hanya mengenakan sendal jepit berwarna biru dan fashion sekenanya, kaos biru bertuliskan “Hard Rock” dan celana olahraga SMA yang masih aku simpan.
Apakah aku sudah menjadi dewasa seperti yang aku inginkan 10 tahun lalu? Ataukah aku terlalu sibuk menjadi seorang dewasa untuk bisa bersenang senang seperti dulu.
Masa itu, setumpuk pasir cukup membuat Zharfan kecil dan teman temannya kegirangan.
Masa itu, sebuah majalah mainan cukup untuk membuat percakapan antara Zharfan dan temannya terasa panjang.
Masa itu, permainan ucing sumput cukup membuat Zharfan dan teman kompleknya berlarian dan tertawa bahagia.
Setiap rumah, masjid, posyandu, ruko, dan bentangan sawah yang kini berubah menjadi perumahan membawaku pada memori memori yang sebagian besarnya telah hilang oleh waktu.
Ternyata, tempatku dilahirkan dan dibesarkan telah berubah sejauh ini. Sedangkan aku, bagaimana?
Indomaret selalu menjadi opsi terbaik untuk aku memberi hadiah pada diriku sendiri. Kali ini, aku membebaskan diriku membeli apapun yang aku mau. Dan berencana duduk duduk santai di depan parkiran.
10 tahun lalu, indomaret adalah tempat paling istimewa yang bisa aku kunjungi. Tempat dimana setiap mainan, makanan dan minuman yang enak bisa aku temukan disana.
Sendal hitam membawaku ke tempat itu. 20 menit aku berada di dalam, awan ke abu-abuan itu kini berubah semakin gelap. Matahari tidak lagi terlihat. 20 menit itu cukup untuk membuatku memilih teh pucuk harum, makanan berat yang sedikit, juga keripik singkong rasa balado.
Foto oleh Fawwaz Ali di Unsplash
Di depan kasir sambil menunggu makananku di panaskan, orang orang mulai berdatangan. Bukan untuk membeli, tapi untuk berteduh karena air dari langit mulai turun. Setelah makananku siap, aku berjalan keluar, mencari meja kosong.
“Pak, ikut duduk di sini ya” ucapku pelan.
Pria tua yang bahkan aku tidak melihat wajahnya itu mengiyakan dengan segengam kopi panas yang ia pesan di dalam. Aku membuka makananku, menyantapnya dan melihat sekitar.
Hujan mulai lebat, parkiran mulai ramai hanya untuk sekedar berteduh.
Aku melihat anak kecil berlari kegirangan, keluar dari mobil menembus hujan lebat. ibunya tak kuasa menahan kegirangannya, karena tak sempat membawakan payung untuk anaknya.
Mungkin 15 tahun lalu, anak kecil yang berlari kegirangan itu aku. Melihat Indomaret sebagai taman bermain serba ada nan dingin. Bagian favoritku adalah lemari Eskrim, Kumpulan mainan dan tentu saja kasir agar semua hal yang aku beli bisa menjadi milikku sendiri.
Tepat di depan Indomaret ini berdiri, terdapat kampus Negeri ternama di Bandung. Yang sejak aku kecil, ia masih saja tidak berubah sama sekali.
Yang berubah justru tempat yang kini menjadi mini market. Dulu, tempat ini adalah halaman luas dengan rumah sederhana di dalamnya. Di lindungi pagar hijau nan tinggi, di luarnya terparkir motor motor tukang ojek dan penjual koran.
Setiap pagi, bahkan mungkin hingga hari ini. Sepanjang jalan akan ramai dipenuhi siswa / siswi mulai dari Taman Kanak Kanak hingga Mahasiswa.
Halaman terakhir koran selalu menjadi favoritku, terapat komik yang bisa aku nikmati gambarnya tanpa mempedulikan isinya. Sebagai anak kecil, melihat warna warni di tumpukan hitam putih koran adalah hal istimewa.
Foto oleh Mr Cup / Fabien Barral di Unsplash
Berdiam diri tanpa gadget ternyata ada gunanya. Banyak memori yang ternyata menyenangkan untuk di ingat kembali.
Hujan masih belum juga habis. Bapak bapak yang duduk di depanku sudah pergi, bapak bapak lainnya yang merokok sudah menghabiskan 2 batang sambil berdiri melihat jalanan yang basah karena hujan.
Parkiran makin penuh, banyak yang berteduh bahkan datang untuk membeli yang mereka butuh.
Tidak semua yang aku pikirkan ketika melamun adalah hal yang menyenangkan. Badanku berdiri seketika, membawa sampah Minuman,Makanan dan Snack yang sudah habis.
Di saat itu juga, aku kehilangan tempat duduk. Menyaksikan hujan yang turun mulai perlahan, membangkitkan keinginan masa kecil.
Aku berjalan menuju tempat sampah, membuangnya. Kemudian mempertimbangkan keinginan masa kecil itu. “Gaskan saja” yakinku.
Aku bergegas, berjalan tanpa perlindungan. Tidak mempedulikan orang orang yang kebingungan. Dan sesaat setelah aku pergi, hujan semakin lebat.
Aku pasrah, membiarkan setiap tetes yang jatuh membasahi baju yang aku kenakan. Jalanan tidak ramai, ingatan demi ingatan mulai muncul kembali.
Kembali mengingat mengapa dulu aku tidak ingin pergi dan pulang naik sepeda ketika SD, kembali mengingat bagaimana aku menunggu Teteh pulang di taman depan SD Labschool, mengingat kembali Tempat cuci mobil yang menjadi tempatku menyalakan kembang api tahun baru.
“Langsung Mandi”.
Kalimat pertama yang muncul dari seorang orang tua yang khawatir anaknya sakit karena hujan.
메타데이터
- post_id
- af07d201cd21
- slug
- bermain-hujan-af07d201cd21
- url
- https://medium.com/@narasaif/bermain-hujan-af07d201cd21
- canonical_url
- https://medium.com/@narasaif/bermain-hujan-af07d201cd21
- author_url
- https://medium.com/@narasaif
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 04:09:36